Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Sunday, March 20, 2016

Rabu 16 Maret 2016, suasana Istana Negara yang terletak di belakang Istana Merdeka, sibuk dengan berbagai persiapan. Protokoler Istana, sibuk mengatur persiapan jalannya upacara pelantikan.

Tamu-tamu berbadan tegap dan kekar, menggunakan batik hingga jas berdasi lengkap, juga sudah memenuhi Istana Negara. Orang-orang penting di republik ini, seperti ketua DPR, ketua DPD, ketua MPR, para menteri hingga jajaran petinggi Polri dan TNI, sudah berjejer rapi.

Saat itu, prosesi yang akan dilakukan adalah pelantikan Ketua Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irjen Polisi Tito Karnavian, dan Ketua Badan Keamanan Laut (Bakamla) Laksda TNI Arie Soedewo.

Pelantikan Irjen Tito Karnavian dan Laksda Arie Soedewo
oleh Presiden Jokowi. (doc: pribadi)
'Bintang' bagi media dalam prosesi itu, harus diakui adalah sosok Tito. Ya, ada sisi kontroversinya. Mengingat, Tito belum genap satu tahun menjabat Kapolda Metro Jaya.

Sorotan lain terhadap Tito, mengingat dia memang akrab dalam dunia terorisme. Sejak 1999, hingga operasi selama 1,5 tahun di Poso Jawa Tengah, pernah dilakoninya. Kepala Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti-Teror Mabes Polri, pernah ia jabat. Sebelum menjadi Kapolda Papua dan ditarik menjadi Kapolda Metro Jaya.

Sorot kamera dan recorder, tentu yang paling utama akan siap diarahkan ke Tito. Dan benar saja, puluhan wartawan langsung mengerubuti Tito usai pelantikan. Kontras dengan situasi pada Arie Soedewo, yang sepi wartawan.

"Saya seperti kembali ke rumah," kata Tito, menyikapi penunjukan dirinya sebagai Kepala BNPT menggantikan seniornya Saud Usman Nasution. Tito mengaku senang, karena 'habitat' dia memang soal terorisme.

Namun, di balik itu tiba-tiba muncul sosok Komisaris Besar Krishna Murti, Direktur Reserse dan Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya.

Kombes Krishna Murti meladeni permintaan foto, doc: pribadi

"Ayo foto sama Krishna yuk," ajak seorang teman wartawan yang sedang menyodorkan recordernya ketika dorstop (istilah wawancara bersama) Tito.

Saya hanya tersenyum, mendengar keinginan itu. "Banyak juga ya yang ingin berfoto dengan orang ini" gerutu ku di dalam hati.

Namun, konsentrasi tidak lagi ke arah Tito. Tetapi, sudah ke Krishna yang sedari tadi sibuk melayani permintaan berfoto bersama. Baik itu dari sesama instansinya di Polda Metro, hingga beberapa undangan yang ikut dalam pelantikan ini.

Sosok Krishna Murti dan beberapa anggotanya di Reskrimum Polda Metro Jaya mulai naik daun adalah 'berkah' dari aksi terorisme di Jalan MH Thamrin atau Pos Polisi Sarinah pada Kamis 14 Januari 2016 pagi.

Aksi teror berhasil dilumpuhkan hanya dalam hitungan jam. Sore sekitar jam 15.00 WIB, kawasan sekitar Sarinah sudah dianggap steril dan bisa dibuka untuk akses umum.

Kombes Krishna Murti meladeni selfie seorang fotografer di Istana Negara

Ketika itu, bukan soal aksi terorisme yang heboh. Tetapi justru, aksi-aksi polisi ganteng dan fashionable. Mulai dari kacamatanya, kostumnya, topinya, hingga tas dan sepatu, menjadi sorotan di media. Tentu sorotan positif. Bukan sekedar menjadi konsumsi media polhukam, tetapi juga menjadi konsumsi entertainment.

Sejak itu, sosok polisi laki-laki menjadi idola. Apalagi, Krishna Murti sendiri sangat aktif dan rajin update status terutama di akun facebook miliknya. Beberapa media, sering mengutip itu.

Sejumlah foto Krishna dengan anak buahnya alias polisi-polisi ganteng, turut menghiasi jagad media sosial.

Terus meladeni foto walau sudah hampir puluhan kali. doc: pribadi

"Selfie dulu pak" ajak seorang perempuan

Seorang wartawan Istana tak mau ketinggalan berfoto dengan Krishna Murti
Entah ini sebagai cara polisi untuk menghilangkan image menakutkan bagi publik atau karena memang mereka fashionable, tetapi yang jelas Kombes Krishna Murti yang jadi idola Istana.

0 comments:

Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler