Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Tuesday, March 10, 2020

Apa kaitan Istana Kepresidenan Bogor dengan pernyataan Raja Belanda Willem Alexander, yang meminta maaf atas penjajahan yang dilakukan negaranya?
Istana Kepresidenan Bogor 2020

Mungkin tidak langsung. Tapi nampaknya, ada semacam simbol. Istana Kepresidenan Bogor adalah sebuah simbol, yang tentu simbol bersejarah, akan eksistensi Belanda di Tanah Air. Proses penjajahan hingga tiga abad setengah itu, melahirkan banyak simbol-simbol diantaranya Istana ini.

Istana Kepresidenan Bogor, bermula dibangun pada 1744. Daerah yang dulu bernama Buitenzorg ini, memang cukup indah sehingga Gubernur Jenderal saat itu, Gustaaf Willem Baron Van Imhoff, membangun rumah peristirahatan bagi gubernur jenderal. Juga menjadikan kawasan itu sebagai daerah pertanian.

Awalnya dibangun sebagai rumah dengan tiga tingkat. Yakni pembangunannya memakan waktu lima tahun, 1745 hingga 1750. Namun gempa yang terjadi di kawasan itu, meluluh lantahkan bangunan tersebut. Hingga pada 1850 dibangun ulang, dengan konsep menyerupai Eropa abad ke-19 dan tidak bertingkat.

Penanaman pohon cendana, 
oleh Raja Willem dan Ratu Maxima,
 disaksikan Presiden Jokowi dan Ibu Iriana
Bangunan itu terus berkembang, termasuk kawasan hutan di dekat Istana itu. Kini dikenal sebagai Kebun Raya Bogor. Tentu, bangunan yang kini menjadi Istana Kepresidenan Bogor dan sejak 2014 digunakan sebagai kediaman Presiden RI ke-7 Joko Widodo, memiliki sejarah yang kuat dengan Belanda.

Dalam catatan sejarah, setidaknya ada 38 Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menghuni Istana Bogor ini. Termasuk dua nama yang sangat terkenal, Herman Daendels dan Stamford Raffles. Sebelum Belanda menyerah pada Jepang, Istana Bogor ditempati Gubernur Jenderal bernama Tjarda van Starkenborg Stachourwer. Sebelum diambil alih oleh Jenderal Imamura setelah Jepang menduduki Tanah Air.

Istana Bogor adalah salah satu simbol sejarah keberadaan Belanda di Tanah Air. Dari tujuan berdagang melalui VOC-nya, hingga kemudian berangsur-angsur menguasai wilayah dan mengukuhkan kekuasaannya. Monopoli perdagangan, hingga kekuatan politik menyertai keberadaan Belanda di Tanah Air. Bahkan, hingga Bung Karno dan Bung Hatta membacakan teks Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Belanda masih berupaya masuk.

Agresi militer I tahun 1947 dan agresi II pada 1948 hingga awal 1949, melahirkan peperangan lanjutan. Walau dalam rentan waktu itu juga, perundingan demi perundingan dilakukan. Tetapi kekerasan hingga munculnya korban jiwa, tidak dapat dihindari.

"Di tahun-tahun setelah diumumkannya Proklamasi, terjadi sebuah perpisahan yang menyakitkan dan mengakibatkan banyak korban jiwa. Selaras dengan pernyataan pemerintahan saya sebelumnya, saya ingin menyampaikan penyesalan saya dan permohonan maaf untuk kekerasan yang berlebihan dari pihak Belanda di tahun-tahun tersebut. Saya melakukan ini dengan kesadaran penuh bahwa rasa sakit dan kesedihan keluarga-keluarga yang terdampak masih dirasakan sampai saat ini," begitu pidato Raja Willem Alexander, saat join press statemen di Istana Bogor, Selasa siang 10 Maret 2020.

Upacara kenegaraan menyambut 
RajaWillem Alexander dan Ratu Maxima.
Seperti sebuah pengakuan, bahwa antara Belanda dengan Indonesia pernah berhadap-hadapan dalam pihak yang saling berlawanan. Bukan perkara mudah memang bagi Belanda, untuk mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia. Bahkan, baru tahun 2005, Belanda memberi pengakuan proklamasi itu. Belanda menerima secara politik dan moral bahwa Indonesia merdeka sejak 17 Agustus 1945.

Itu pun dipertegas kembali oleh Raja Willem. Bahwa Proklamasi RI pada 1945 itu, merupakan tonggak sejarah yang tak bisa lepas dari terbebasnya Tanah Air dalam imperialisme.

"Hari ini kami dengan penuh kehangatan mengucapkan selamat pada rakyat Indonesia pada saat perayaan 75 tahun kemerdekaan,".

Presiden Joko Widodo, pun tak ingin melupakan sejarah Indonesia dengan Belanda ini. Memang, pasca pengakuan politik dan moral kemerdekaan pada 2005 lalu itu, semakin meningkatkan hubungan kerjasama kedua negara. Bayangkan, Belanda adalah negara mitra investasi terbesar pertama Indonesia di Eropa. Sektor pariwisata juga tak kalah, urutan keempat, sementara Belanda menjadi mitra dagang terbesar kedua bagi Indonesia di Eropa.

Masih dalam hitung-hitungan ekonomi. Nilai bisnis kedua negara, juga tidak kecil. Yakni mencapai USD 1 miliar. Raja Willem bahkan menyebut, meski Indonesia dan Belanda sempat berlawanan dalam sejarahnya, tetapi kini, "Menjalin hubungan yang semakin erat dan mengembangkan sebuah hubungan baru berdasarkan rasa hormat, saling percaya dan persahabatan,".

Nilai-nilai sejarah yang telah tertoreh, seperti apapun kelamnya masa lalu itu, tentu tidak akan bisa dihapus. Namun setidaknya, Indonesia dan Belanda sudah keluar dari sejarah itu. Permintaan maaf bisa jadi tidak menghapus luka, dan tentu tidak bermaksud menghapus sejarah. Biarlah itu menjadi bagian dari cerita bangsa ini.

Istana Kepresidenan Bogor, yang menjadi salah satu simbol keberadaan Belanda dalam menguasai Tanah Air, menjadi saksi bahwa penerus kerajaan menyampaikan permohonan maaf atas masa lalu itu.

"Dan sebagai penutup, saya ingin menyampaikan bahwa kita tentu tidak dapat menghapus sejarah. Namun kita dapat belajar dari masa lalu. Kita jadikan pelajaran tersebut untuk meneguhkan komitmen kita untuk membangun sebuah hubungan yang setara, yang saling menghormati dan saling menguntungkan," kata Presiden Jokowi.

Thursday, February 27, 2020

Pernahkah anda berada dalam satu mobil dengan hantu? Tidak lama sih, sekitar 1,5 jam saja!

Suatu malam, dengan ojek online saya bergegas menuju salah satu rumah sakit swasta di daerah, Jakarta Utara. Pekerjaan tersisa digarap cepat, jarum jam terus berputar. Hingga melewati pukul 19.00 WIB. Hujan terpaksa diterobos, demi cepat sampai. Maklum jarak ke sana lumayan jauh. Saya dari wilayah Jalan Veteran Raya Jakarta Pusat. Cukup dekat dengan Monas, apalagi Istana.

sumber: wolipop.detik.com
Untung motor yang membawa saya, melaju cepat. Hampir pukul 8 malam, tiba di rumah sakit itu. Di sana, mobil kecil berwarna merah, kami parkirkan. Sedari pagi, pukul 07.00 WIB terparkir bersama beberapa mobil lainnya yang datang lebih pagi lagi.

Siangnya, istri memang sempat meminta izin apakah bisa nambah satu orang lagi untuk ikut di mobil. Rencana awal, selain kami berdua, ditambah ibu mertua. Maka kalau tambah satu lagi, jadi empat orang, dua di depan dan dua di belakang. Tambahannya tak lain adalah kakak sepupu kami. Saya pun mengiyakan.

Tiba di salah satu rumah sakit di Jakarta Utara itu, saya langsung menuju tempat mobil diparkir pagi tadi. Dari jarak 5 meter, sudah terdengar mesinnya dinyalakan. Sekilas tampak terlihat orang di dalam.

Saya membuka pintu depan, tempat mengemudi. Pandangan mata saya arahkan ke belakang. Ibu yang berbaring di kursi belakang itu, duduk tak lama setelah saya membuka pintu. Sementara di sebelahnya, hanya duduk diam dengan jilbab hitam. Tatapan ku datar saja, sedikit senyum. Ada rasa bersalah karena membuat mereka menunggu lama.

Tentu yang di samping ibu mertua, di kursi belakang, adalah kakak sepupu, yang tadi siang diberitahu kalau akan ikut dalam kendaraan kami. Perut lapar, membuat saya juga tidak bergairah untuk berbincang dengan mereka, walau sekedar menanyakan kabarnya.

"Langsung jalan aja ya," ujarku ke istri yang duduk di samping. Karena diwaktu bersamaan saya juga lapar, akhirnya istri menyuapi saat saya sembari membawa mobil.

Makan malam saya di mobil itu adalah 'Oha Mina', jenis makanan khas Bima/Mbojo. Apa itu 'Oha Mina' mungkin butuh penjelasan di tulisan yang lain.

Beberapa menit berselang, kami sudah meninggalkan rumah sakit itu. Meluncur pelan, dengan petir menyambar di selatan Jakarta. Kami baru kebagian gerimisnya.

Baru beberapa meter meninggalkan rumah sakit itu, istri kemudian bercerita. Karena rombongan ibu mertua, kakak sepupu, dan anggota keluarga lainnya, juga ingin ke Depok. Namun sedikit ribet karena perdebatan-perdebatan yang tidak penting.

Sampai tiba dia menyinggung soal kakak sepupu, yang siang tadi dia bilang ikut bersama kami dalam satu mobil. Yang saat saya membuka pintu mobil di rumah sakit tadi, terlihat duduk berdiam di belakang, samping ibu mertua.

"Ini si bunda kok malah cerita di depan orangnya langsung sih" begitu gumam ku dalam hati, tidak merespon ceritanya.

Aku tak meladeni topik itu. Bayangkan saja, apa nggak tersinggung orang kita bicarakan di depan orangnya langsung? Aku tak habis pikir dengan sikap istri saat itu. Beda kayak biasanya.

"Pantas mungkin si kakak diam saja. Tidak biasanya nggak ngobrol. Biasanya juga ketawa ketiwi," begitu pikirku, saat kendaraan sudah melaju di tol.

Sesekali aku menengok melalui kaca dalam yang ada di depan bagian atas ku. Agak samar karena gelap, tapi tidak bisa terlihat semua yang duduk di belakang. Maka separoh ibu saja yang terlihat, sambil terdengar sesekali kalimat istighfar dari mulutnya. Selalu begitu saat berada di dalam mobil.

Dalam hati muncul kekhawatiran, si kakak tersinggung dengan pernyataan istri tadi. Walau sebenarnya, tidak ada yang layak membuatnya marah. Hanya menceritakan keribetan ketika memilih roda dua atau roda empat untuk ke Depok.

Separuh perjalanan, tersisa aku sendiri. Istri di samping sudah terlelap tidur. Tak enak membangunkan, mungkin dia sangat lelah. Tetapi dalam hati aku sedikit masih penasaran dengan bangku belakang. Si kakak belum juga angkat bicara.

"Apa dia sudah tidur?".

Tapi saat aku tengok lewat kaca, hampir tak ada aktivitas. Walau aku tak bisa memastikan posisi dua orang di belakang. Ibu mertua pun hanya terdengar samar suaranya.

"Mungkin mereka duduk di sisi pinggir,".

Hingga akhirnya, kami tiba di Depok, rumah keluarga. Mobil saya bawa sampai ke dekat rumah. Istri turun terlebih dahulu. Menyusul ibu mertua setelah pintunya dibukakan oleh istri dari luar.

Tapi aku terkaget setengah mati. Heran tak bertepi. Pintu yang dibuka oleh istri adalah posisi duduk si kakak sepupu itu. Tapi yang justru keluar adalah ibu mertua. Di luar, tidak ada sosok si kakak yang saat di rumah sakit tadi aku lihat duduk diam dengan jilbab hitam. Tapi justru ibu mertua yang keluar walau duduk di bagian sebelah si kakak sepupu itu.

Dan setelah ibu mertua turun, tidak ada lagi yang ada di mobil selain aku. Dan yang berjalan turun hanya dua perempuan itu, ibu mertua dan istri.

"Oke, siapa dia?"

Aku parkir mobil di lahan yang dikhususkan untuk parkir, di perumahan yang ada di depan salah satu SMP di Kota Depok itu. Setelah itu, berjalan ke dalam rumah. Beliau adalah kakak dari bapak kandung ku.

Tiba di dalam, aku kaget. Si kakak ternyata sudah sampai. Sudah dengan pakaian biasa. Dengan tawa-tawa. Yang ternyata sudah jalan terlebih dahulu sore harinya, sebelum kami berangkat tentunya. Dan tidak jadi menumpang mobil kami.

"Iya tadi lupa ngasi tahu, si kakak nggak jadi naik mobil kita," istri memberi klarifikasi.

lalu, siapa orang keempat di dalam mobil kami?

Saturday, January 25, 2020


Maafkan kami telah membuat heboh pada 21 Januari 2020 lalu. Apalagi, selain peristiwa tenggelamnya kapal yang kami tumpangi, 7 wartawan, seorang pendamping Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden, driver yang mengantar kami selama mengikuti kunjungan kerja Pak Jokowi di Labuan Bajo, Manggarai Barat NTT, serta para ABK kapal itu. Soal bagaimana kisahnya, silahkan di googling ya. Banyak kok penjelasannya, hehehe…

Usai tek-tak-tok ngetik berita agenda terakhir Pak Jokowi, pembagian 2.500 sertifikat tanah untuk warga Kabupaten Manggarai Barat, NTT pagi itu di halaman Kantor Bupati, kami diajak berlayar. Siapa yang tidak senang.

Berlayarlah kami di tengah udara bersih dan hamparan pemandangan yang sangat indah. Berfoto-foto, mengambil stok gambar, dan tentu mejeng di media sosial. Di tengah-tengah berlayar itu, sembari berbincang, mewawancarai nahkoda kapalnya.

Tibalah kapal mendekat di Pulau Bidadari. Kami mengambil gambar foto, video dan sedikit menggali informasi yang ada. Hingga waktunya untuk berputar, kembali ke dermaga awal. Maklum, pesawat kami jam 15.20 waktu Indonesia tengah.

Dalam perjalanan pulang itulah, tragedi itu. Sangat cepat, sekali hempasan langsung oleng ke kiri, dan kami tercebur bersamaan dengan kapal itu.

Masih teringat jelas dalam ingatan. Saat tercebur itu, saya meraih bagian kapal yang masih terapung. Memegangnya dan memastikan tidak ikut tertarik ke dalam.

“ID ku mana,” begitu dalam pikiran saya ketika itu. Saya rogoh kantong baju, yang biasa diselipkan di situ. 

Dan ID pers bertuliskan ‘ID Harian’ itu aman di kantong, talinya tergantung di leher. Lalu aku cek handphone. Handphone satunya, aman di tangan. Ku rogoh kantong celana, kiri dan kanan, tidak ada. Handphone satunya, positif jatuh tenggelam. Itu milik kantor. Tas kamera Canon M100 yang masih terselempang di bahu, saya lepas karena lumayan memberatkan.

Peristiwa itu tentu sangat membekas. Alhamdulillah bukan soal trauma, bukan. Tetapi sedikit demi sedikit, membuat aku tersenyum. Kok bisa dalam keadaan antara hidup dan mati, justru yang dicari pertama adalah ID pers. Mengingat itu, kadang tersenyum sendiri, bahkan saat cerita ke teman-teman, malah menimbulkan tawa.

Kenapa yang pertama saya cari itu ID harian? Seberapa pentingnya sih?

Hampir di tanggal yang sama, tapi bulan berbeda, Desember 2019, saya kehilangan tas. Bukan sekedar tas dan laptop bekas yang mungkin secara nilai masih bisa ditanggulangi. Tetapi isinya. Data-data di laptop, hingga kartu-kartu identitas semua di tas itu. Termasuk ID Pers Istana Kepresidenan. Dengan hilangnya itu, otomatis saya tidak bisa masuk meliput di Istana. Jalan satu-satunya, adalah menggunakan ID Harian. “Ini jangan sampai hilang ya,” begitu wanti-wanti saat ID Harian diserahkan ke saya.

Untuk cerita lengkap mengenai tas hilang itu, silahkan baca di sini.

Wednesday, December 25, 2019





Siang menjelang hujan turun, terlihat beberapa muda-mudi Gereja Santo Paulus Desa Mbawa Kecamatan Donggo Kabupaten Bima NTB, sedang beraktivitas.

Ada yang sedang membuat dan merangkai beberapa helai pita berwarna untuk dijadikan hiasan interior gereja, sebagian lagi sedang memasang umbul-umbul warna-warni di pintu masuk gereja.

Suara merdu Vicky Salamor dari speaker HP dengan tembang-tembang Natalnya, mengiringi aktivitas mereka. Sesekali bercanda dan meledek dengan Bahasa Bima dan dialek Mbawa yang khas.

Kepada saya mereka bercerita bahwa Natal kali ini harus meriah dari tahun sebelumnya.

Jemaat Gereja di Mbawa setiap tahunnya tetap melaksanakan rutinitas keagamaan, baik hari biasa maupun di hari Istimewa. Sebagai Minoritas di Bima, tentu saja mereka punya hak untuk mengekspresikan dan merayakan kebahagiaan pada hari-hari Istimewa.

Mereka juga punya hak untuk dikunjungi oleh pejabat-pejabat baik tingkat desa, kecamatan maupun kabupaten pada saat perayaan seperti ini. Karena di Mbawa sana adalah 'Dou Mbojo' (Orang Bima) yang memilih keyakinan berbeda dari mayoritas 'Dou Mbojo' lainnya. Mereka bukan orang lain, mereka adalah saudara kita.

Akhirnya karena tidak sempat MENGUCAPKAN, maka saya hanya MENULISKAN "SELAMAT HARI NATAL KEPADA JEMAAT DI MBAWA". Mudah-mudahan Natal kali ini bisa menjadi SAHABAT BAGI SEMUA ORANG.

Wallahul Muwaffiq ila Aqwamit Tharieq
Billahi fii Sabilil Haq, Fastabiqul Khairat.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh

Penulis: Syaifulah H Anwar




Kemeriahan Natal bagi warga negara Indonesia, tidak hanya terlihat di Tanah Air. Bahkan di beberapa negara. Termasuk di Selandia Baru, tepatnya di Wellington.

Lebih dari 300 WNI dari Wellington dan sekitarnya, pada siang ini waktu setempat, Rabu 25 Desember 2019 memadati Wisma Duta.

Wisma Duta adalah kediaman Dubes RI, yang kini dijabat oleh Tantowi Yahya. Politisi yang juga seniman itu, menggelar acara Open House Natal.


Untuk diketahui, Selandia Baru adalah negara paling awal menyongsong fajar Natal 2019. Untungnya, cuaca di sana sangat bersahabat.

Warga hadir setelah selesai misa di gereja. Mereka berbondong datang disertai anak dan keluarga. Di Wisma mereka disambut Dubes Tantowi dan isteri, Dewi Yahya.

Dubes dan istri kompak memakai batik dan kebaya dengan corak warna merah. Acara dibuat sederhana tapi penuh kekeluargaan. Juga diisi dengan ramah tamah.

Dalam kesempatan itu, Dubes Tantowi menyampaikan Selamat Natal kepada seluruh warga yang merayakannya. Ia juga senang, karena open house dalam rangka Natal ini juga dihadiri oleh mereka yang non-Kristiani.

Menurutnya ini adalah manifestasi dari kerukunan dan sikap saling menghormati sebagai sesama warga Indonesia.

Tantowi mengajak seluruh WNI terutama di Selandia Baru untuk terus menjaga kekompakan dan kekeluargaan yang telah terbina selama ini.

"Bangsa kita selama ini dikenal dengan kebhinekaan dan persatuannya. Kita harus mempertahankannya" katanya.

Warga yang datang dalam open house Natal ini, dimanjakan dengan sajian hidangan yang menggugah selera. Kali ini, spesial masakan khas Manado, Sumatera Utara.


Mulai ikan rica-rica, ayam woku sampai dengan kue klapertat. Nikmatnya hidangan itu, membuat para WNI yang datang begitu menikmatinya.

Semakin hangat dan nikmat suasana, setelah hiburan musik juga diperdengarkan. Bahkan, Tantowi yang dikenal juga sebagai maestro lagu-lagu country, turut menyumbangkan suaranya.

Monday, December 23, 2019




Aku terdiam beberapa saat. Usai masinis kereta listrik Bogor-Jakarta itu mengumumkan sedang antri masuk Stasiun Manggarai.

Aku ingin membenarkan sadarku. Benarkah ini sadarku? Atau aku sedang bermimpi seperti sedia kalanya? Kupandangi lagi ke rak atas. Kosong. Tas besar warna hijau yang di Stasiun Citayam aku simpan, raib.

Seketika aku berdiri. Kembali menatap rak tepat di depan ku. Lagi-lagi tak berubah. Tas itu raib. Setelah napas kembali terkendali, sesaat itu ku berinteraksi.

"Lihat tas di atas ini," tanyaku ke perempuan paruh baya yang duduk di sebelah. Seketika yang lain bereaksi, berbisik dan sedikit heboh. Ada yang kemalingan. Begitu rasanya mereka bersikap. Aku menjadi pusat perhatian.

Dalam hati berharap, si maling belum turun. Secepat kilat ku telusuri gerbong-gerbong itu. Kiri dan kanan, atas dan bawah, setiap orang ku cermati. Setiap sudut ku tatap tajam. Tapi tak ada.

Petugas keamanan yang menjaga gerbong khusus, ku mintai tolong. Dia bereaksi cepat. Terimakasih mas petugas. Walau rasanya mustahil kembali. Saya respek atas sikapmu.

Di Stasiun Manggarai, aku melapor. Selayaknya di BAP.

Sejenak aku tertegun. Laptop itu. Bukan harganya. Tapi isi di dalamnya. Dejavu. Aku pernah merasa hal serupa. Dulu, usai ujian skripsi di kampus, dosen pembimbing meminta naskah itu diedit lagi. Hendak dicetak buku. Senang hatiku mendengarnya.

Setiap malam, pagi dan kapan saja ada waktu, ku buka lagi naskah itu. Ku cari lagi buku-buku referensinya. Aku sempat pulang kampung, lama tak melihatnya. Tapi ternyata, di sana musibahnya. Laptop berisi data-data tadi tak terselamatkan. Hilang sudah naskah yang hendak diberikan untuk mungkin menjadi sebuah buku.

Tak ku risaukan berapa rupiah kerugian. Tapi masih tak bisa terima data-data itu hilang lagi. Ada yang baru dimulai, ada yang sudah rampung tinggal dicetak. Termasuk naskah sejarah kampung kami. Ah sedih rasanya.

Kalau seandainya bisa memohon, izinkan data-data itu aku ambil dulu. Setelahnya silahkan ambil barangnya. Silahkan kuras isi dompetnya.

Ling, kamu tak butuh data-data itu kan? Balikin itu saja lah. Silahkan ambil semua yang lain. Lumayan buat hidup mu kalau kamu jualin semuanya.

Oh ya, di situ ada KTP ku, ID pers ku, dan identitaa yang lain. Kalau kamu lihat, tolong kabari ya. Aku akan berterima kasih padamu jika data-data itu kamu izinkan untuk aku ambil dulu. Setelahnya, aku tak akan persoalkan. Ini janjiku ling.

Saturday, December 14, 2019




(Judul Asli: DUA PENULIS SILUMAN MELAWAN SATU GURU BESAR)

Oleh Fahd Pahdepie*

Dua tulisan gegabah karya Nasrudin Joha dan Agung Wisnuwardana belakangan beredar di sejumlah grup WhatsApp warga Muhammadiyah dan memicu polemik. Pasalnya, mereka menuduh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, telah menyudutkan umat Islam dalam makalah dan pidato pengukuhan jabatan guru besar yang diterimanya Rabu lalu (12/12) di Yogyakarta.

Secara serampangan Agung Wisnuwardana dan Nasrudin Joha menuduh Prof. Haedar telah memfitnah Hizbut Tahrir (HT) kerena mengkategorikannya sebagai salah satu kelompok radikal. Padahal, yang dilakukan Prof. Haedar adalah menyajikan pernyataan akademik yang bersifat referensial untuk memulai argumen utamanya yang justru hendak mengoreksi kesalahan kita selama ini dalam menggunakan term ‘radikal’, ‘radikalisme’, dan ‘deradikalisasi’.


Sesat Pikir Dua Penulis Siluman

Sebagai seorang akademisi yang ketika itu menerima penyematan gelar akademik tertinggi untuk menjadi guru besar, pernyataan Prof. Haedar tentu bukan berasal dari argumen yang tak berdasar. Secara hati-hati dan bertanggung jawab ia menuliskan referensi yang diacunya. Ketika menyebutkan Hizbut Tahrir (bukan Hizbut Tahrir Indonesia—HTI), Prof. Haedar sedang membahas sejumlah kelompok radikal sebagaimana dikemukakan intelektual Turki Ă–mer Taspinar sebagai kelompok yang melakukan gerakan bernuansa kekerasan (violent movement).

Prof. Haedar sama sekali tak menyebut Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebagaimana dituduhkan Nasrudin Joha, baik dalam makalah maupun pidatonya. Ia menyebut Hizbut Tahrir sebagai salah satu organisasi yang secara faktual dikategorikan sebagai kelompok radikal dalam berbagai referensi akademik, menyusul fakta bahwa Hizbut Tahrir memang tercatat terlibat melakukan upaya kudeta di sejumlah negara.

Mesir membubarkan Hizbut Tahir pada tahun 1974 lantaran diduga terlibat upaya kudeta dan penculikan. Di Suriah, organisasi ini dilarang lewat jalur ekstra-yudisial pada 1998 karena terbukti menyusun kekuatan bersenjata. Percobaan kudeta juga pernah dilakukan di Yordania pada pertengahan tahun 60-an. Fakta-fakta inilah yang membuat sejumlah riset akademik mengkategorikan Hizbut Tahrir sebagai salah satu kelompok radikal.

Namun, sebenarnya ketika Prof. Haedar menuliskan Hizbut Tahrir secara berurutan dalam kategori kelompok radikal bersama Al-Qaeda dan Jamaah Islamiyah, ia sebenarnya sedang menyusun argumen kritis dengan mengacu pada kategorisasi yang dilakukan John L. Esposito dan Iner Deyra (‘Islamophobia and Radicalization: Breeding Intolerance and Violence’, 2019). Kedua intelektual ini meyakini bahwa penyematan kata radikal lebih sering diikuti dengan bias islamofobia.

Di sini jelas sekali bahwa Agung Wisnuwardana dan Nasrudin Joha gagal faham pada maksud Prof. Haedar. Selain bahwa mereka terbaca sama sekali tidak familiar dengan cara bagaimana sebuah tulisan akademik membangun argumen ilmiahnya.

Maka ketika keduanya menuduh Prof. Haedar justru mengokohkan ‘framing’ Barat yang menyudutkan Islam, apalagi diikuti dengan penekanan bahwa Prof. Haedar memberi legitimasi pada narasi mendzholimi umat Islam sebagaimana dilakukan pemerintah, semua itu merupakan tuduhan serampangan yang berasal dari sesat pikir yang akut.

Nasrudin Joha bahkan memberikan pelabelan yang lebih parah. Ia melakukan insinuasi bahwa Prof. Haedar merupakan antek Barat yang menyudutkan umat Islam. Sambil berusaha mengutip ayat al-Quran di tempat yang salah, ia bahkan menuduh Prof. Haedar ‘memakan bangkai saudaranya sendiri’. Dengan alasan bahwa makalah dan pidato akademik Prof. Haedar tak melakukan mengkonfirmasi kepada HTI, yang sebetulnya sama sekali ‘nggak nyambung’ paling tidak dengan dua alasan.

Pertama, Prof. Haedar sama sekali tidak menyebut atau menyinggung Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) baik dalam makalah maupun pidatonya. Kedua, pengutipan yang dilakukan Joha sama sekali salah. Ia menyebut makalah Prof. Haedar sepanjang 54 halaman, padahal sebenarnya 84 halaman. Terbaca jelas bahwa Joha tidak memahami secara memadai argumen yang dibangun Prof. Haedar, bahkan jangan-jangan tidak membacanya secara utuh hingga tuntas.

Sejatinya baik tulisan Agung Wisnuwardana maupun Nasrudin Joha sama sekali tidak layak ditanggapi. Namun, penyesatan opini yang dilakukan keduanya belakangan terus disebarkan dan menimbulkan kesalahpahaman di sejumlah kalangan yang tidak bisa mengakses makalah Prof. Haedar secara utuh. Apalagi, di tengah era media sosial dan banjir informasi seperti saat ini, tulisan Agung dan Joha yang pendek bisa jadi lebih cepat tersebar dan dianggap kebenaran daripada makalah utuh Prof. Haedar yang berjumlah 84 halaman.


Memahami Pemikiran Sang Profesor

Di bagian akhir ini, sebagai upaya untuk melakukan pencerahan dan pelurusan penyesatan opini yang dilakukan Joha dan Agung terhadap Prof. Haedar Nashir, izinkan saya sedikit menjelaskan pokok argumen Prof. Haedar tentang moderasi Indonesia dan keindonesiaan sebagaimana disampaikan dalam pidato pengukuhan guru besar sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Rabu (12/2) lalu. Hari itu saya mendengarkan secara utuh isi pidato Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut, juga membaca serta menelaah isi makalahnya hingga tuntas.

Pertama-tama, Prof. Haedar menyoal pelabelan kata ‘radikal’ dan ‘radikalisme’ yang sering dilakukan secara salah kaprah di tengah masyarakat. Apalagi jika upaya lebelisasi itu diiringi narasi yang berusaha menempatkan benar-salah secara diametral. Prof. Haedar terasa sangat keberatan dengan monopoli tafsir yang dilakukan pihak manapun—bahkan ketika itu dilakukan oleh negara sekalipun—sebab jika hal itu terjadi maka yang muncul adalah upaya melawan satu kutub ‘radikal’ dengan cara melahirkan radikalisme di kutub yang lain.

Di sinilah Prof. Haedar mengajukan keberatannya tentang istilah atau upaya ‘deradikalisasi’ atau ‘deradikalisme’. Baginya, deradikalisasi justru akan menciptakan relasi oposisional yang bersifat biner. Secara sosiologis, apa yang terjadi di Indonesia belakangan ini justru adalah munculnya radikalisme baru yang diawali oleh sikap perlawanan terhadap radikalisme di pihak yang lain. Jika ini terus dibiarkan, yang akan muncul di kemudian hari adalah konflik dan perpecahan.

Akhirnya, Prof. Haedar mengangajukan satu solusi untuk menghindari situasi tersebut. Ia mengajukan ‘moderasi Indonesia dan keindonesiaan’ untuk mengganti narasi deradikalisasi. Sebab, baginya, yang harus dilakukan justru adalah membawa masyarakat Indonesia kembali ke karakter aslinya yang moderat, yang ‘wasathiyah’, yang tengahan, sesuai dengan nilai-nilai yang sudah disepakati para pendiri bangsa dalam sebuah konsensus bersama yang diberi nama Pancasila.

Jika kita berhasil memahami argumen utama Prof. Haedar ini, sesungguhnya ia ingin menghentikan semua narasi yang selama ini justru sedikit banyak merugikan Islam—juga merugikan Indonesia. Seandainya kita berhenti menggunakan istilah ‘deradikalisasi’, dan menggantinya dengan istilah ‘moderasi’, sebagai ‘quick win’ ini akan mendorong masyarakat Indonesia untuk lebih guyub, toleran, bersatu dan damai.

Akhirnya, mari kita hindari serta lawan bersama narasi-narasi sesat dan menyesatkan sebagaimana dilakukan Agung Wisnuwardana dan Nasrudin Joha. Lagipula, kedua penulis ini tidak jelas rimbanya, mereka hanya menggunakan nama samaran untuk mengemukakan argumen yang seringkali provokatif dan tak berdasar. Bila polemik ini berlanjut, saya kira layak untuk kita terus persoalkan ke level yang lebih serius. Karena Agung dan Joha bukan hanya menyerang Prof. Haedar secara pribadi, tetapi juga telah menuliskan opini menyesatkan yang berpotensi memicu perpecahan.

Barangkali balada dua penulis siluman yang menyalahpahami satu guru besar ini pada awalnya terasa lucu dan menggelikan. Tetapi sejatinya mengganggu dan berbahaya jika tidak diluruskan.

Tabik.

FAHD PAHDEPIE – Intelektual muda Muhammadiyah

Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler