Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Friday, August 2, 2019



Kamis malam 1 Agustus 2019, Baiq Nuril tentu kaget bercampur haru. Bagiamana tidak, di malam itu ia mendapat kabar yang mengejutkan sekaligus bisa membuatnya menangis bangga. Ia diundang ke Istana untuk bertemu Presiden Joko Widodo.

Jumat pagi sekitar pukul 11.00 waktu Indonesia tengah, ia terbang dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Lombok NTB.

Belum kering tangisnya, saat akhirnya DPR dalam sidang paripurnanya 25 Juli 2019 menyetujui pertimbangan Presiden untuk memberikan amnesti ke Baiq Nuril. Tangisnya pecah. Dan kini, setelah Keputusan Presiden atau Keppres amnesti dia resmi dikeluarkan pada 27 Juli 2019, sudah langsung diajak bertemu oleh Presiden.

Berbaju putih dan berkerudug merah, wajah ceria Baiq Nuril terlihat jelas ketika menaiki tangga Istana Bogor, sore sekitar pukul 15.08 WIB. Senyumnya terpancar saat melewati barisan wartawan. Sejenak, ia menunggu di ruang tunggu sebelum masuk ke Ruang Kerja Presiden Jokowi, yang telah menantinya.

Ruang kerja yang biasa menerima tamu negara itu, kali ini kedatangan seorang warga biasa dari Lombok NTB, yang sempat mencuri perhatian masyarakat atas kasus yang menimpanya. Dihukum enam bulan penjara dan denda Rp500 juta potong masa tahanan, karena jeratan UU ITE. Padahal, dia adalah korban dari kekerasan seksual.

“Saya gugup,” begitu kata mantan pegawai di SMAN 7 Mataram itu.

Masuk ke ruangan dan sempat menyalami Jokowi, Nuril memang tampak gugup. Ada Mensesneg Pratikno dan Menkumham Yasonna H Laoly. Presiden Jokowi memulai percakapan, menanyakan kabarnya. Nuril tidak banyak bicara. Bahkan ia sempat keliru begitu ditanya oleh Presiden soal jarak dari rumahnya di Lombok Tengah dengan bandara.

Memegang sebuah map putih berisi Keppres Nomor 24 tahun 2019 tentang Pemberian Amnesti, Nuril tak kuasa menahan haru. Ia sesekali tersendat dalam berbicaranya. Air matanya ingin tumpah, tapi coba dia tahan.

“Saya Cuma bilang terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Presiden yang dengan senang hati beliau mau menerima saya di Istana Bogor ini. Dan saya sangat bangga punya Presiden seperti Bapak Jokowi. Karena saya cuma rakyat biasa,” ujar Nuril.

Tidak banyak yang bisa ia sampaikan uneg-uneg ke Jokowi. Padahal keinginannya adalah agar negara membentuk semacam lembaga di setiap daerah, untuk menerima pengaduan kasus serupa dirinya. Agar para korban, tidak takut dan berani bersuara. Nuril mengakui ia gugup. Karena gugup itu, keinginannya tersebut tidak bisa tersampaikan.

“Mungkin karena saya gugup, jadinya saya cuma bisa bilang terima kasih atas perhatiannya sampai saya diberikan amnesty dan tidak banyak yang saya (sampaikan),”.


Wednesday, July 31, 2019




Kamis pagi, 1 Agustus 2019, aroma-aroma Hari Ulang Tahun (HUT) RI sudah mulai terasa. Ditandai dengan Membatik Kemerdekaan, sebuah acara yang dihadiri Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana.

Acara yang digelar di Stasiun MRT Bundaran HI itu, sebagai rangkaian awal Bulan Kemerdekaan, yang memeriahkan HUT ke-74 RI.

Jam masih menunjukkan 08.48 WIB. Tetapi Pak Jokowi dan Ibu Iriana, sudah tiba. Lebih cepat dari jadwal, yakni 09.00 WIB. Ya kadang begitu kalau beliau. Bisa lebih cepat, atau kadang molor hingga berjam-jam.

Pak Jokowi seperti biasa, berbaju kerah warna putih. Sementara Bu Iriana lebih necis dengan tampilan baju putih dan bawahan berbatik biru. Nampak lebih casual dengan balutan shal berwarna sama.

salah seorang pembatik (dok pribadi)
Keduanya kemudian berjalan, menuju tempat yang disiapkan untuk membatik. Pak Jokowi nampak lebih serius, sementara Bu Iriana lebih luwes ketika menggoreskan canting batik ke kain.
“Motif Garuda Nusantara, Gurdo,” kata Jokowi.

Ada 74 pembatik, dengan panjang arena membantik 74 meter. Jumlah dan panjang pembatik itu, menandakan tahun kelahiran republik ini, yaitu 74 tahun. Apa harapan Jokowi dengan batik ini?

“Kita berharap warisan pusaka batik ini yang sudah tercatat di UNESCO bisa menjadi sebuah brand Indonesia di kancah internasional dan kita harapkan juga generasi pembatik-pembatik, dari angkatan dewasa ke angkatan remaja, anak-anak, semua teregenerasi dengan baik. Saya harapkan batik semakin bisa dikembangkan sebagai sebuah brand Indonesia,” jelasnya.


Seperti biasa, tidak akan cukup bagi wartawan jika hanya bertanya satu tema saja. Usai soal batik itu, berondong pertanyaan mengudara, dan akhirnya terdengar soal kapan Peraturan Presiden atau Perpres tentang mobil listrik diteken.

Jokowi menjelaskan berbagai hal yang ditanyakan, tidak cuma soal batik (dok. pribadi)
Normatif beliau menjawab menunggu masuk ke mejanya. Hingga pernyataan Pak Jokowi mengarah ke polusi udara dimana salah satu cara mengatasinya adalah dengan pengembangan mobil listrik. “Saya lihat ke depan semua negara mengarah ke sana semuanya, nggak polusi dan penggunaan bahan bakar non-fosil, arahnya ke sana,”.


Pernyataan itu menyulur pertanyaan lanjutan wartawan mengenai polusi Jakarta. Selama lebih sepekan ini, persoalan polusi di Ibu Kota ini terus diangkat. Tingkat polusi bahkan sudah disebut sebagai yang terburuk di dunia. Awan pekat dan terlihat kotor, sudah banyak diunggah di media sosial sebagai gambaran kalau udara Jakarta benar-benar kotor dan buruk.

Warga menyambut Jokowi di Stasiun MRT Bundaran HI (dok. pribadi)

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, menjadi sasaran empuk kritikan, risiko pemimpin. Banjir pun, pasti gubernurnya yang akan dikritik hingga dicaci maki. Demokrasi khas ala Indonesia sepertinya.

Nah, pengembangan kendaraan berbasis listrik ini, menurut Jokowi adalah solusi efektif dalam mengatasi masalah polusi Ibu Kota. Tak pelak melihat kondisi ini, Pak Jokowi mengaku turun tangan juga, dan berkoordinasi dengan Pak Anies.

“Nanti akan saya sampaikan ke gubernur, bus-bus listrik dan taksi listrik, sepeda motor yang sudah kita bisa produksi mulai listrik, skemanya seperti apa terserah gubernur. Apakah lewat electronic road pricing (ERP) yang segera dimulai sehingga orang mau tidak mau masuk ke transportasi umum missal,” begitu kata Pak Jokowi.


Sunday, July 28, 2019

Harta Tahta Berita? Bagian belakang dari kaos jurnalis yang dibuat @kaosjurnalis 
"Mana beritanya? Sudah siang nih?" pesan dari redaktur  di grup WA kantor, terpampang jelas. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB. 

"Bisa naikkan berita ini nggak? 'aman' lah," pesan pribadi masuk, tertera nama dan foto di kontak WA yang sudah dikenal. 

"Anda nulis berita ini? Saya tak pernah berbicara demikian!," seorang narasumber, memprotes judul berita yang menurutnya tidak sesuai. 

"Sayang, kamu main HP melulu? kan lagi sama aku. Ngetik berita lagi?". Sang pacar judes melihat kita tak mengangkat kepala dari layar smartphone di tengah remang-remang taman kota di Ibukota.

Banyak ungkapan-ungkapan lain, yang menunjukkan bahwa kata 'berita' adalah bagian terpenting dari wartawan. Di manapun, kapanpun, berita adalah nomor wahid. 

Maka jangan heran, kalau melihat wartawan sedang serius melihat layar smartphone, sebenarnya antara dua. Ia membaca berita atau mengetik berita. 

"Harta, Tahta dan Wanita" adalah tiga kata yang selalu disematkan pada orang-orang dalam mengejar kenikmatan dunia. Rasanya semua akan mencari itu. 

Bagi wartawan, harta tentu saja dicari. Namun sebagian mengatakan "kalau mau kaya jangan jadi wartawan". Setiap manusia, sudah pasti akan mengejar harta. Tentu dengan trik yang berbeda-beda. Tapi tak jarang juga mengejarnya tanpa mempedulikan hak-hak orang lain.

Tahta bagi dunia wartawan, bisa saja diibaratkan jabatan di lingkungan kerja, keredaksian. Tapi rasanya, banyak juga yang enggan mengejar jabatan itu. "Aduh gue mau dikantorin nih, gimana dong", keluh seorang teman. Dikantorin sebenarnya otomatis dia naik pangkat, menjadi editor atau asisten redaktur. 

Namun, banyak yang mengatakan dunia wartawan adalah lapangan. Ketika sudah terbiasa dengan kerja lapangan, lalu tiba-tiba kerja di balik meja di dalam kantor, rasanya ada perubahan 180 derajat. Dunia lapangan adalah ketidak teraturan. Mulai dari jam kerja, makan, hingga tidur sekalipun. Sementara dunia kantor adalah keteraturan, masuk jam berapa, pulang jam berapa dan seterusnya.

Berita. Ini yang harus dikejar, akan terus dikejar-kejar, tanpa mengenal kita sedang berlibur, beristirahat, atau sedang asyik bersama sang kekasih pujaan hati. 

Kadang karena sudah mendarah daging (lebay ya hahaha), mengetik berita akan selalu dilakukan jika menemukan momentumnya. Saat asyik berkendara, ada peristiwa kecelakaan, naluri mengetik langsung jalan. 

Ketika berlibur, melihat pemandangan yang indah, naluri menulis berita langsung muncul. Berita dalam bentuk soft, feature, bukan hardnews. 

Aktivitas saya ini juga, bukankah naluri menulis berita?! 


Di Manapun Jadi Berita

Handhpone atau laptop dan sejenisnya, adalah bagian yang tak bisa terpisahkan dari wartawan. Gara-gara berita, kadang bisa menjadi asosial. Benarkah? Begini penjelasannya:

Ketika seorang wartawan berjalan, atau duduk bersama teman-teman atau saudaranya, lalu ada peristiwa atau pernyataan dari narasumber terpercaya yang mengharuskan ia membuat berita, maka ia akan bergelut di depan layar smartphone miliknya. 

Asosial bukan arti yang sebenarnya. Bukan berarti dia anti-sosial. Karena wartawan adalah seorang yang harus pintar bersosial. Dia dituntut untuk mampu mengenali dan memahami lingkungan tempat ia dimana ditugaskan. 

Kan saya libur? Sejak kapan ada kata libur dalam membuat berita? 

"Saya lagi liburan," atau "Saya lagi di pinggir jalan", bukan alasan untuk tidak membuat berita. Apalagi sebagai wartawan yang bekerja dalam dunia yang serba cepat, online.

Berikan wartawan ruang, space, di manapun, maka anda akan melihat wartawan bekerja. Di tempat teduh ber-AC? Alhamdulillah. Di pinggir jalan? Ayo ayo saja, kenapa tidak. 

Mengetik di pinggir trotoar di kawasan Menteng Jakarta
dalam acara pembubaran TKN
Pada suatu acara Presiden RI di ICE BSD beberapa tahun lalu, puluhan wartawan menunggu wawancara todong alias doorstop. Karena masih lumayan lama, jadilah ramai-ramai wartawan duduk selonjoran di lantai. 

Aneh? Yang jelas banyak mata memandang, dan mungkin mereka berbisik ke temannya, "Lihat mereka, duduk di sembarang tempat,". Yang berbisik itu adalah mereka menggunakan batik yang harganya di atas Rp1 juta. Area itu memang bukan tempat duduk, karena tempat orang berlalu lalang. Kadang ingin bilang, jangankan di tempat bersih seperti ini, bahkan di pinggir jalan raya pun, jadi tempat untuk duduk.

Untung pak PM-nya tak melarang kap mobilnya buat mengetik
Beberapa orang, nampaknya dari luar negeri, memilih berfoto dengan menampilkan baground wartawan yang duduk selonjoran menunggu Presiden keluar untuk diwawancara todong. 

Seorang teman juga pernah menulis berita di tempat dan waktu yang terbilang ekstrim. Dia telat bangun, sementara agenda pagi, pukul 09.00 WIB. Jam segitu tentu sangat pagi, karena juga harus bergelut dengan macetnya Ibukota. 

Dia baru jalan, saat agenda itu baru mulai. Dengan berbekal sedikit pernyataan dari narasumber yang diperoleh dari teman yang hadir duluan, ia mengetik berita. Tapi mengetik di jalan, sembari mengendarai motor seorang diri. 

"Pas macet gue sempatin ngetik. Di lampu merah (traffic light maksudnya) gue lanjutin,".


Friday, July 12, 2019




Sinetron Keluarga Cemara, begitu populer di akhir tahun 1990-an. Ia mulai tayang pada 1996. Sosok Abah dan Emak, serta anak-anaknya, menyentuh hati masyarakat Indonesia.

Sejak tidak tampil lagi sebagai sinetron, pada 2019 Keluarga Cemara kembali hadir, namun dalam format film. Tentu Abah dan Emak tetap menjadi simbol penting dari film yang tayang di bioskop itu.
Abah diperankan oleh Ringgo Agus Rahman, sementara Emak diperankan oleh Nirina Zubir. Penampilan apik mereka di bioskop-bioskop, mampu membawa film ini dalam deretan terlaris.

Dalam versi film itu, Abah awalnya adalah seorang pengembang di kota, Jakarta. Namun seluruh hartanya hilang dalam sekejap, akibat bangkrut. Ia ditipu. Bahkan untuk menghadirkan sisi dramatisnya, kebangkrutan itu timbul di hari ulang tahun anak pertamanya.

Singkat cerita (karena bisa ditonton sendiri ya, hehehe) Abah dan Emak kemudian memilih mengungsi ke desa. Rumah tua dan tidak terawat. Hanya itu yang bisa mereka gunakan dengan kondisi keuangan yang tidak mencukupi untuk menyewa rumah di kota besar. Itu adalah warisan terakhir.

Dari sinilah mulai pertarungan konflik. Terutama anak-anak Abah dan Emak. Mereka harus bisa tampil sebagai orang yang tidak mampu. Padahal, sejak mereka lahir hingga bersekolah, fasilitas dan kekayaan sudah mereka peroleh.

Abah pun harus menyesuaikan diri. Sebagai bos property, kini ia harus menjadi pegawai. Bahkan, buruh kasar. Menjadi kuli bangunan, ia lakoni. Hingga akhirnya menjadi tukang ojek.
Riak-riak konflik seperti itu dalam rumah tangga, akan selalu ada. Bagi siapapun yang sudah atau akan dan sedang mengarungi kehidupan dalam keluarga kecil. Terpenting, bagaimana menyikapinya. 

Tetapi, bagaimana kalau keluarga itu jauh lebih besar? Bukan hanya orangtua dan anak-anaknya? Tetapi hingga ke cucu dan cicitnya? Adakah keluarga besar seperti itu tetapi mampu menjaga kekompakan, memanagemen konflik dengan baik dan merawat kebersamaan?

Jawabannya ADA! 
(cek keseruannya di link ini: Liburan Asyik Keluarga Zekoso) juga (Link; Tempat Liburan Asyik Keluarga)

Sebagian Keluarga Zekoso, ikut berpartisipasi
dalam acara pernikahan salah satu keluarga.
Ya, namanya Keluarga Zekoso. Zekoso adalah penggabungan dua kakak-beradik. Yakni (alm) H.Djakariah dan (alm) H.Mansyur. Kedua lelaki itu berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Tepatnya di salah satu desa, yakni Desa Dena.Keduanya bukan berasal dari orang kaya seperti Abah dan Emak. 

Tetapi mereka hanya seorang petani miskin di desa terpencil itu. Mereka memiliki anak-anak. Berpendidikan tinggi, adalah dorongan utama dari kedua orang itu untuk anak-anaknya.

Tidak salah. Anak-anak mereka kemudian menempuh pendidikan yang tinggi, walau dengan susah payah. Susah untuk mendapatkan biaya, dan susah karena fasilitas pendidikan zaman dulu, apalagi di daerah terpencil. Tidak seperti di kota yang begitu mudah diperoleh.

Anak-anak dari mereka berdua, merantau ke Ibukota. Mereka mengabdi di Jakarta dan sekitarnya. Beragam profesi, pelukis, wiraswasta, guru, hingga pegawai pemerintahan. Di Ibukota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri itu, anak-anak mereka ini menghuni wilayah yang berbeda-beda, berpencar-pencar, tidak seperti Abah dan Emak yang satu rumah.

Singkat cerita, anak-anak H.Djakariah dan H.Mansyur itu tumbuh. Berkeluarga, memiliki anak, dan saban waktu berkumpul bersama, sebagai satu keluarga dari darah dan rahim yang sama, dari satu rumpun pada kakek-buyut yang sama.

Makin besarnya Keluarga Zekoso ini, kedua orang itu (H.Djakariah dan H.Mansyur) menjelma menjadi kakek, hingga buyut dan entah apa namanya setelah itu. Karena semakin besar keluarga ini, maka muncullah inisiatif membuat arisan keluarga.

"Arisan pertama itu dimulai tahun 1985," ujar H.Yunus H.Djakariah. Beliau adalah kakak tertua dari Keluarga Zekoso yang ada di Jakarta. Sebagian memilih tetap di kampung halaman, Desa Dena, Bima.

Rentan 1985 hingga 2019 ini, arisan sebagai wadah berkumpul rutin tiap bulan itu tetap berjalan. Tidak pernah berhenti sedikit pun. Dan anggota inti, yakni dari Keluarga Zekoso, tetap eksis di dalamnya.Cucu-cucu dari H.Djakariah dan H.Mansyur, bahkan kini sudah berkeluarga, memiliki anak keturunan. Artinya, Keluarga Zekoso saat ini sudah berada di generasi ketiga. Bayangkan betapa besarnya.

Mungkin banyak keluarga yang sudah pada generasi ketiga, keempat atau seterusnya. Tetapi, adakah yang bisa tetap bersama dalam satu wadah berkumpul yang rutin?

Arisan yang dirintis sejak 1985, adalah wadah utama dalam berkumpul. Tentu hubungan kekeluargaan di luar urusan arisan, juga tetap terjalin bahkan jauh lebih akrab juga.

Arisan Bukan Oreantasi Uang
Cara berpikir kebanyakan orang, bahwa arisan adalah salah satu upaya dalam mendapatkan kapital, uang. Ya, itu bisa dimaklumi dan paham mindstream adalah demikian. Tapi tidak untuk arisan Keluarga Zekoso.

Uang arisan memang dan pasti diperoleh. Tapi bukan itu tujuan utamanya. Maka arisan ini tidak dikocok, tetapi diatur penjadwalannya. Bulan ini misalnya siapa yang dapat, bulan depan siapa. Perputarannya bahkan sampai dua tahun. Saking besarnya keluarga ini.

Bagi yang butuh di tengah-tengah perjalanan arisan, bisa bertukar dengan yang lain. Misalnya, karena dia butuh untuk bayar kuliah atau sedang membangun rumah, sementara jadwal dia masih berbulan-bulan lagi, maka ia bisa bertukar dengan keluarga yang mendapat jatah di bulan terdekat. Begitu seterusnya.

Oreantasi utama dari arisan Zekoso adalah kekeluargaan. Berkumpul sebagai sesama Keluarga Zekoso, itu yang utama. Karena tuan rumah bergilir, di tempat yang mendapatkan jatah pada bulan itu.

Millenial di Zekoso harus dirawat
Arisan Keluarga Zekoso, juga tidak semata-mata selesai dapat uang langsung pulang, tidak. Akan ada pembicaraan-pembicaraan lain yang dilakukan. 

Terutama jika ada agenda keluarga, seperti pernikahan atau yang lainnya. Maka bukan sekedar arisan tapi juga bermusyawarah untuk agenda itu. Jika hanya ingin beroreantasi pada mendapatkan uang, anda salah tempat kalau hadir di Keluarga Zekoso!!

Rasanya tidak ada di dunia ini, sebuah arisan keluarga yang bisa membawa keluarga besarnya hangout (biar kerena dikit) ke villa. 
Diantara generasi ketiga Zekoso

Bahkan, tidak hanya satu villa yang disewa. Berapa uang patungannya? Nothing alias tidak ada. Anggota Keluarga Zekoso tinggal datang ke lokasi, makan dan tidur gratis. Dari mana ongkosnya? Silahkan pembaca cari tahu jika penasaran dengan ini.

Pada 2017, bahkan Keluarga Zekoso berhasil membuat program mudik alias pulang kampung ke Bima NTB. Program ini dinamakan lamba rasa (menyambangi kampung halaman). Sebab ada anggota keluarga yang belum pernah ke sana, atau bahkan puluhan tahun tidak menginjakkan kaki lagi ke kampung kakek buyutnya.

Dengan program itu, mereka bisa pulang kampung di saat Idul Fitri.Pasti mahal? Tentu tidak. Bahkan, bisa menghemat 50 persen lebih anggaran kalau pulang mandiri. Meskipun menggunakan bus dan memakan waktu hingga 3 hari, tetapi di situlah makna kekeluargaannya. Bukan soal ongkos yang murah meriah saja.

Tapi tak apa kita kupas sedikit soal ongkos. Ongkos yang kurang 50 persen dari harga normal kalau pulang ke Bima, ditambah dengan konsumsi gratis selama perjalanan. Lalu, keunggulan lainnya adalah di dalam bus satu keluarga semua sehingga kita bebas bertukar, bahkan tidur di lorong bus pun bisa. Rasanya, susah mendapatkan keluarga besar yang sudah sampai generasi ketiga, untuk tetap akur dan mampu membangun kebersamaan tanpa oreantasi materi. Mampu bergotong royong dengan pemahaman bahwa 'Dia adalah keluarga kita', 'Kami adalah keluarga harus saling menolong', kami dan kami, bukan ke-aku-an sebagai sikap individualisme.

Konflik
Rasanya agak angker kalau kita mendengar satu kata ini. Tetapi, dimanapun, dalam komunitas apapun, konflik pasti akan selalu muncul. Seperti tadi, Keluarga Cemara yang tergolong kecil dibandingkan Keluarga Zekoso karena hanya Abah, Emak dan anak-anaknya saja ada konfliknya. 

Menyatu sebagai bagian yang tak terpisahkan 
Apalagi Keluarga Zekoso yang tiga turunan ini.Tapi harus kita sadari, konflik bukan sesuatu yang perlu disembunyikan. Tapi tidak bisa dibiarkan juga. Yang paling benar adalah mengurai konflik dan mencarikan solusinya. Artinya, managemen konflik.

Dalam perkumpulan, organisasi, hingga perusahaan sebesar apapun, pasti akan ketemu konflik, apakah itu skalanya besar atau kecil. Indonesia sebagai negara besar dengan beragam suku, agama dan budaya, juga tidak terlepas dari konflik.

Namun, selama konflik itu tidak sampai merusak rumah besarnya, itu berarti masih pada level terkendali dan managemen konfliknya bisa dibilang berjalan dengan baik.

Sebagian perempuan Zekoso 

Keluarga Zekoso bukan berarti tidak ada konflik. Ada, dan bahkan riak-riak itu tanpa disadari muncul seketika. Kadang muncul ke permukaan dan meletus, setelah terendus-endus di bawah, dari pribadi-pribadi. Terlebih perselisihan itu menyangkut rasa, menyangkut hati, bahkan prasangka-prasangka. 

Kadang dari sinilah timbul konflik yang membesar. Sebuah prasangka yang terus dirawat dipelihara, dan endapannya bisa menjadi lahar yang jika keluar susah untuk ditutup kembali. Walau kadang, prasangka itu tidak benar, salah kaprah, atau sebenarnya bisa diurai hingga kemudian diselesaikan dengan segera.

Riak-riak itu sebenarnya bisa menjadi sumber perpecahan yang dahsyat. Bisa menghancur leburkan rumah besarnya, jika semua yang menanam prasangka itu memilih menutup diri.
Bisa membuyarkan Keluarga Zekoso jika tidak ada yang menjadi penengah, atau setidaknya ada pihak-pihak yang bisa menahan diri, tidak ikut terlibat dalam kubu-kubu yang berkonflik.

Lempar-lempar happy
Toh, di tengah riak-riak konflik itu, Keluarga Zekoso masih full team jika berkumpul untuk arisan keluarga. Bahkan, saat hangout dua hari di kawasan Sentul Bogor beberapa pekan lalu. Artinya, konflik itu masih bisa di-managemen dengan baik, karena tidak merusak rumah besarnya yakni Keluarga Zekoso.

Tidak mudah untuk mempertahankan ini. Di tengah-tengah jiwa sosial yang mulai meredup seperti di kota-kota besar, Keluarga Zekoso masih bisa mempertahankan kekeluargaan yang berasaskan gotong royong dan sebagai satu keluarga itu.

Keluarga Gotong Royong
Sikap gotong royong, adalah nilai dasar yang digali dan diangkat oleh founding fathers, bapak bangsa kita. Namun disadari atau tidak, sifat-sifat ini mulai redup. Redup oleh sikap materialistik akut. Hampir tidak ada ruang kompromi untuk yang namanya gotong royong, bersama-sama. Semua dinilai dari sisi kapital, uang.

Tapi untungnya, Keluarga Zekoso masih bisa mempertahankan yang namanya gotong royong itu. Ah yang benarkah? Masa sih??

Saat ada anggota keluarga meninggal atau sakit, maka Keluarga Zekoso turut memberi santunan. Hal sederhana tapi bentuk perhatian seperti ini yang semakin mengakrabkan. Itu tadi, bukan soal materi yang diberikan tapi justru perhatian sebagai sesama keluarga, itulah yang lebih membekas.

Kadang kita terpukau dengan materi yang banyak, padahal tidak selamanya membahagiakan. Artinya, materi bukan faktor penentu. Mengingat manusia tetaplah manusia, yang memiliki sifat dasar sebagai mahluk sosial. 

Dan sebagai mahluk sosial, maka manusia itu membutuhkan manusia lain dalam organisasi yang bisa menghargai keberadaannya, eksistensinya.Ada hajatan seperti nikahan atau acara lain yang serupa misalnya. Tidak perlu ragu. 

Because we are the big family
Maka otomatis Keluarga Zekoso akan membentuk panitia, bak penyelenggara acara atau event organizer (EO) profesional, memainkan perannya mengatur dan merancang sebuah acara. Bayaran? Tentu tidak. Karena kami keluarga besar.

Walau sudah ada EO sekalipun, Keluarga Zekoso tetap ikut menjadi bagian. Minimal mengorganisir internal agar tetap kompak, bersama-sama. 

Membantu hal-hal yang rasanya tidak bisa mengandalkan EO semata. Karena bagaimanapun, kita memiliki ciri khas, budaya, yang tidak bisa diatur dan ditiru oleh pihak lain. Itu fakta.



Monday, June 24, 2019

Foto Biro Pers Sekretariat Presiden

Tepat 25 Juni 1936, tepat 83 tahun lalu, pria yang biasa disapa Rudy, itu dilahirkan. Nama aslinya Bacharuddin Jusuf Habibie. Dari seorang ibu bersuku Jawa dan ayah yang Sulawesi.

Bagi saya, lahirnya beliau adalah titik awal yang penting bagi Indonesia dalam menapak perkembangan teknologi. Bagaimana tidak, dengan kemampuan intelektualnya yang tinggi, ia berhasil memukai negara Eropa seperti Jerman, tempat ia menuntut ilmu hingga sempat mengabdi di industri kedirgantaraan di sana.

Presiden RI ke-2 Soeharto, memanggil Rudi muda untuk mengabdi. Cita-cita Rudi cuma ingin, agar pemerintah memperhatikan industri dirgantara, pembuatan pesawat. Pak Harto mengamini, hingga kemudian ia mengabdi ke Indonesia. Selama Orde Baru, pria yang kemudian lebih akrab dipanggil Habibie itu, tidak tergoyahkan posisinya sebagai Menteri Riset dan Teknologi atau Menristek.

Pesawat N-250 yang mulai terbang 1995, adalah buah pengabdian dan kerja kerasnya dalam membangun Indonesia. Walau akhirnya keinginan membawa Indonesia sebagai salah satu produsen pesawat dunia kandas, lantaran krisis ekonomi 1997-1998.

Itu sekelumit kisah beliau yang setidaknya sudah menjadi pengetahuan umum. Namun kisah itu tidak berhenti. Meski pertanggungjawabannya sebagai Presiden RI menggantikan Pak Harto yang berhenti, ditolak oleh DPR pada 1999, tapi beliau tetap tak tergoyahkan dalam mengabdi untuk Indonesia.

Jumat siang, 24 Mei 2019 lalu, Eyang Habibie, begitu mungkin layaknya kami generasi muda memanggilnya, menemui Presiden Joko Widodo. Berbatik coklat, eyang sempat menunggu di ruang, tak lama Pak Jokowi menghampiri.

Senyum khasnya terlihat dari jauh, dari sudut sempit bagian pintu yang terbuka. Eyang tampak menghormati Pak Jokowi, sebagai Presiden RI, begitu juga sebaliknya.

Sebulan jelang ulang tahunnya ke-83, eyang tetap seperti biasa. Tampak sehat, bugar, berjalan beriringan dengan Pak Jokowi. Lebih kurang 30 menit kedua tokoh beda generasi itu, bercengkrama.

"Anda ini anak dari cucu intelektual semua. Nah kalau mau anggap saya berhasil, anda juga harus lebih hebat dari pada saya. Itu tolak ukurnya," kata Eyang Habibie kepada kami. Beliau menjelaskan dengan penuh semangat, khas seorang BJ Habibie.

Saya hampir tidak melihat, sikap pesimis dari beliau. Baginya, generasi sekarang adalah ujung tombak untuk seterusnya. Eyang memberi semangat bahwa kita generasi yang ikut menentukan Indonesia ke depan.

Berpikiran sehat, berjiwa sehat, terlihat jelas dari kata demi kata yang eyang ucapkan ke kami.

"Saya bulan depan (Juni) sudah 83 (umur). Sepuh ya," katanya sembari tersenyum.

Sehat eyang?, tanya kami.

"Sehat. Sehat nggak kelihatannya," beliau melanjutkan, dengan senyum yang selalu memancarkan optimisme di hati para generasi, para cucu-cucunya itu.

Selamat ulang tahun Eyang BJ Habibie. Angka 83 bukanlah angka yang muda lagi bagi usia umat manusia. Tapi eyang Habibie terlihat lebih muda dari sekedar angka itu.

Thursday, June 6, 2019

Sekitar 2009 akhir, nekat kembali ke Ibukota Jakarta. Bukan pertama kali, namun kesekian kalinya baik sebelum menyandang gelar sarjana maupun sesudahnya. Sebelumnya mencoba peruntungan di Madura dan Kediri.

Hampir satu tahun, hingga diberi kesempatan bekerja di perantauan yang katanya Ibukota lebih kejam daripd ibu tiri. Entahlah.

Semenjak itu, mudik lebaran yg katanya adalah tradisi, seolah bukan menjadi tradisi bagi saya. Orang-orang mudik, berdesakan antri beli tiket di Stasiun Senen (sebelum sistem online masuk, yg membuat tradisi antri dan bermalam hanya untuk antri), terminal antarkota antarprovinsi, hampir meluber melayani pemudik menuju luar Jawa. Saya dan kebanyakan yg lain, hanya bisa melihat dan meliput.

Bukan tidak mau pulang. Bukan tidak rindu. Bukan itu yang menjadi alasan.

Hingga 2017, keluarga besar di Jabodetabek yg juga anggota arisan, menggelar mudik yg kami sebut 'Lamba Rasa' (menyambangi kampung halaman). Lamba Rasa menggunakan bus, kami menyewa bus besar untuk puluhan keluarga. Untuk pergi ke Bima dan lanjut pulang. Butuh tiga hari perjalanan, begitu juga baliknya.

Tapi saya tak bisa ikut di bus, karena sudah berangkat dari Jakarta pada sekitar H-5 Ied Fitri 2017. Saya masih harus bertugas. Dan H-1 baru bisa pulang menggunakan pesawat.

Takeoff dari Soekarno-Hatta malam hari, baru tiba di Bandara Internasional Lombok NTB sekitar pukul 22.00 WITA. Sudah sampai rumah? Belum!! Butuh 45 menit lagi menggunakan pesawat kecil baling baling atau ATR. Atau kalau mau darat, butuh sekitar 7-8 jam, masih menyeberang Pelabuhan Khayangan Lombok Timur ke Poto Tano Sumbawa yg memakan waktu sekitar 2 jam.

Semua alternatif itu, tidak bisa digunakan. Pesawat ke Bandara Sultan Salahuddin Bima hanya ada flight pagi dan siang. Pesawatnya pun terbatas. Jadi alternatif ini gugur, harus menunggu keesokan harinya. Alternatif darat atau bus pun gugur, karena keberangkatannya siang hingga sore.


Jadilah menginap di salah satu hotel, yg letaknya di pusat kota. Itupun atas kebaikan teman kuliah yg kini menjadi wartawan di negeri seribu masjid itu.

Saya baru bisa flight ke Bima sekitar pukul 14.00 WITA dan landing hampir sejam kemudian, di hari H Ied Fitri 2017 M. Sore di Bima, kamping halaman, nuansa lebaran hampir sudah selesai. Tak sedikit yang kembali beraktifitas di sawah, atau menghabiskan waktu di tempat wisata.

Hanya sekitar 3 hari di kampung, harus kembali ke Jakarta. Lebih cepat, karena menggunakan bus dengan rombongan keluarga besar yang memakan waktu 3 hari. Itulah sekelumit (bukan) tradisi mudik, bagi saya.

Monday, February 11, 2019

Ina Dijo yang sudah sepuh, terkaget ketika sesosok pria berpakaian seragam polisi lengkap, menaiki tangga rumahnya. Saat itu, ia bersama anak perempuannya, Teti.

Ipda M.Sofyan, ketiga dari kiri. (sumber: akun facebook Phian Baraduta)

Rumah yang mungkin cukup teduh bagi mereka, hanya berupa rumah panggung dengan ukuran sekitar 3x4 meter dan beralaskan bale-bale. Dindingnya hanya berupa anyaman bambu, yang beberapa bagiannya sudah bolong.

Sosok polisi itu adalah Kapolsubsketor Soromandi, Ipda M.Sofyan Hidayat. Ia datang bersama beberapa anggotanya dan masyarakat setempat, di Dusun Mangge Ule Desa Wadukopa Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dalam bahasa Indonesia, Ina Dijo adalah Ibu Dijo, panggilan pemilik nama lengkap Hadijah. Anaknya, bernama lengkap Rosteti. Mereka hanya hidup berdua, dalam kemiskinan. Ina Dijo sudah renta, tidak mampu bekerja lebih keras lagi. Sementara sang anak, mengalami keterbelakangan mental.

"Bantuan dan uluran tangan kita semua sangat diharapkan oleh Ina Dijo dan anaknya Teti yang mengalami keterbelakangan mental. Barangkali kita bisa membantu memperbaiki rumah, membelikan tempat tidur, pakaian, alat masak maupun kebutuhan pokok lainnya," ujar Ipda Sofyan.

Senyum hangat Teti yang mengenakan sarung, tampak jelas. Mungkin baru kali ini, ia melihat seorang pejabat yang mau bersusah-susah datang ke kediamannya. Ina Dijo, nampak raut mukanya penuh haru. Beberapa bantuan yang dibawa Ipda Sofyan dan anggotanya itu, setidaknya memberi rasa optimis mereka untuk menyambung hidup jauh lebih baik lagi ke depannya.

Sembako yang dibawa, mungkin tidak banyak. Dua kardus mie instan, dan beberapa plastik bahan pangan lainnya untuk kebutuhan sehari-hari kedua orang ini.

"Daripada sibuk mencari kesalahan orang lain, saling mencaci bahkan menghujat lebih baik kita luangkan waktu untuk hal-hal yang lebih bermanfaat," ujar alumni SMAN 1 Kota Bima itu.

Jiwa sosial yang tinggi seperti ini, membuat banyak orang terkagum, terharu dan tidak sedikit yang turut mendoakan sosok perwira polisi asal Desa Dena Kecamatan Madapangga tersebut. Bahkan, ada yang menyandingkan Ipda Sofyan dengan mantan Kapolda NTB yang kini menjadi Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Umar Septono.

"Teringkat dgn sosok Bapak Kapolda sulsel Irjen Umar septono. Salut buat pak Phian Bharaduta (Ipda Sofyan) sukses terus buat karirnya pak," kata Didi Budiyanto, mengomentari jiwa sosial Ipda Sofyan.

Irjen Umar dalam tugasnya, baik ketika di NTB maupun kini di Sulawesi Selatan, memang terkenal sangat berjiwa sosial. Bahkan, beras yang ingin diberikan ke rakyat, ia gotong sendiri. Tak jarang, ia memunguti sendiri sampah yang ada di jalan yang ia lewati.

Jiwa sosial Ipda Sofyan, di wilayah hukum Kecamtan Soromandi ini, bukanlah pencitraan. Sebab gaya seperti ini, sudah dilakoninya sejak bertugas di Polres Dompu. Di sana, tidak hanya ikut mengamankan konflik atau perang antar kampung, tapi juga masuk ke kampung-kampung untuk membantu keluarga miskin dan renta. Bantuan-bantuan, bahkan ia bawa sendiri.


Pendekatan Keamanan dengan Merangkul
Aparat kepolisian, sejatinya memang ditugaskan mampu memberi rasa aman kepada masyarakat. Cara pandang keamanan bukan saja dari sisi kekerasan, tetapi juga persuasif. Di era demokrasi saat ini, menuntut aparat keamanan untuk bisa bersikap persuasif, pendekatan dengan jalan damai.

Terkadang, mengantisipasi peluang konflik bukan saja dengan pengamanan aparat dalam jumlah besar. Tetapi membangun pendekatan sosial yang lebih komprehensif. Menjemput bola, mendatangi masyarakat yang menjadi wilayah kekuasaannya, adalah cara efektif dalam meminimalisir potensi konflik yang tidak terkendali.

sumber: akun facebook Phian Baraduta

Setidaknya, itu terlihat dari cara yang dilakukan oleh Ipda Sofyan. Dari rumah ke rumah, dari tempat warga bercengkrama, didatanginya. Untuk memperkenalkan diri, untuk membangun keakraban. Membawa fungsi keamanan dengan perspektif persuasif yang cukup efektif.

"Ini harusnya dicontohi oleh polisi-polisi yang lain. Pak Polisi ini, hanya manusia biasa seperti kita semua, tapi memiliki hati layaknya malaikat. Semoga Pak Polisi Muhammad Sofyan Hidayat selalu diberi kesehatan, kekuatan dan umur panjang agar bisa berbuat lebih banyak untuk kebaikan orang banyak," kata Rangga Dhena.

Pemimpin adalah pelayan, begitu yang dipahami Ipda Sofyan. Dan pendekatan ini dianggapnya jauh lebih efektif, ketimbang menunggu di kantor. Tidak ingin berdiam diri, tidak ingin sekedar menunggu ada masalah. Dalam pemahamannya, suatu masalah di masyarakat akan efektif ditangkis ketika terbangun kedekatan antara pemimpin, aparat keamanan dengan masyarakat yang dilayaninya.

"Ajaklah mereka bicara, dengarkan keluh kesahnya dan jadilah konsultan yang solutif," tutur alumni SMPN 1 Madapangga itu.


Menyentuh Sisi Idiologis
Agama adalah fondasi dasar dan sangat penting, dalam kehidupan sosial di Indonesia. Termasuk Bima. Agama bukan hanya ritual, tetapi juga masuk dalam sendi-sendi kehidupan, hingga menjadi suatu budaya dalam kelompok masyarakat atau individu tertentu.

Bahkan, agama adalah idiologi yang kuat. Menyentuh ranah itu, menjadi sensitif jika dilakukan dengan kontroversi. Tetapi agama itu menjadi pelindung, pemecah solusi dalam kehidupan masyarakat. Ini pula yang dilakukan Ipda Sofyan.

Tidak tanggung-tanggung, ia bahkan sampai masuk ke masjid untuk mensosialisasikan kerja dan diri mereka, selaku pengayom masyarakat dalam sisi keamanan. Masyarakat akan semakin cinta, ketika ada orang yang menyentuh mereka dari sisi yang fundamental, agama tentunya.


"Alhamdulillah masyarakat bisa menerima baik kehadiran kami. Semoga ke depan kami bisa lebih baik lagi. Amiiin. Belajar dan terus belajar," katanya.


Sampai ke Perbatasan
Banyak pemimpin yang tidak berlaku adil. Mereka hanya membangun di wilayah pusat, tetapi terkesan abai di wilayah terluar, terdepan. Kadang, wilayah terluar, terdepan atau terpencil, hampir tidak tersentuh oleh kekuasaan.

Apalagi dengan akses yang susah. Untuk menuju ke wilayah yang jauh itu, dibutuhkan suatu tekad dan keihlasan dalam berjuang. Ihlas sebagai abdi negara. Ihlas sebagai abdi sosial, dengan jiwa sosial yang mungkin bisa diklaim sebagai paripurna.

Ipda Sofyan, memulai dari awal. Kecamatan Soromandi, adalah wilayah percobaan untuk menjadi Polisi Sektor atau Polsek. Maka ia disebut Sub Sektor. Dan, Ipda Sofyan memulai itu, maka ia harus membangun fondasi yang kuat. Yakni polisi sebagai abdi masyarakat. Polisi harus selalu ada di hati masyarakat.


Maka tak heran, ia tidak hanya menyapa warga yang terjangkau di wilayah Soromandi tersebut. Bahkan sampai ke wilayah terdepan, yang hanya sejengkal jaraknya dengan kabupaten tetangga. Yakni di Desa Sampungu. Desa ini, adalah ujung paling barat Kabupaten Bima, yang berbatasan langsung dengan Desa Kiwu Kecamatan Kilo Kabupaten Dompu.

"Jarak yang cukup jauh bukanlah halangan untuk bersilaturrahmi demi terjalinnya komunikasi yang baik sehingga tercipta situasi kamtibmas yang kondusif," tuturnya.

Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler