Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Saturday, January 25, 2020


Maafkan kami telah membuat heboh pada 21 Januari 2020 lalu. Apalagi, selain peristiwa tenggelamnya kapal yang kami tumpangi, 7 wartawan, seorang pendamping Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden, driver yang mengantar kami selama mengikuti kunjungan kerja Pak Jokowi di Labuan Bajo, Manggarai Barat NTT, serta para ABK kapal itu. Soal bagaimana kisahnya, silahkan di googling ya. Banyak kok penjelasannya, hehehe…

Usai tek-tak-tok ngetik berita agenda terakhir Pak Jokowi, pembagian 2.500 sertifikat tanah untuk warga Kabupaten Manggarai Barat, NTT pagi itu di halaman Kantor Bupati, kami diajak berlayar. Siapa yang tidak senang.

Berlayarlah kami di tengah udara bersih dan hamparan pemandangan yang sangat indah. Berfoto-foto, mengambil stok gambar, dan tentu mejeng di media sosial. Di tengah-tengah berlayar itu, sembari berbincang, mewawancarai nahkoda kapalnya.

Tibalah kapal mendekat di Pulau Bidadari. Kami mengambil gambar foto, video dan sedikit menggali informasi yang ada. Hingga waktunya untuk berputar, kembali ke dermaga awal. Maklum, pesawat kami jam 15.20 waktu Indonesia tengah.

Dalam perjalanan pulang itulah, tragedi itu. Sangat cepat, sekali hempasan langsung oleng ke kiri, dan kami tercebur bersamaan dengan kapal itu.

Masih teringat jelas dalam ingatan. Saat tercebur itu, saya meraih bagian kapal yang masih terapung. Memegangnya dan memastikan tidak ikut tertarik ke dalam.

“ID ku mana,” begitu dalam pikiran saya ketika itu. Saya rogoh kantong baju, yang biasa diselipkan di situ. 

Dan ID pers bertuliskan ‘ID Harian’ itu aman di kantong, talinya tergantung di leher. Lalu aku cek handphone. Handphone satunya, aman di tangan. Ku rogoh kantong celana, kiri dan kanan, tidak ada. Handphone satunya, positif jatuh tenggelam. Itu milik kantor. Tas kamera Canon M100 yang masih terselempang di bahu, saya lepas karena lumayan memberatkan.

Peristiwa itu tentu sangat membekas. Alhamdulillah bukan soal trauma, bukan. Tetapi sedikit demi sedikit, membuat aku tersenyum. Kok bisa dalam keadaan antara hidup dan mati, justru yang dicari pertama adalah ID pers. Mengingat itu, kadang tersenyum sendiri, bahkan saat cerita ke teman-teman, malah menimbulkan tawa.

Kenapa yang pertama saya cari itu ID harian? Seberapa pentingnya sih?

Hampir di tanggal yang sama, tapi bulan berbeda, Desember 2019, saya kehilangan tas. Bukan sekedar tas dan laptop bekas yang mungkin secara nilai masih bisa ditanggulangi. Tetapi isinya. Data-data di laptop, hingga kartu-kartu identitas semua di tas itu. Termasuk ID Pers Istana Kepresidenan. Dengan hilangnya itu, otomatis saya tidak bisa masuk meliput di Istana. Jalan satu-satunya, adalah menggunakan ID Harian. “Ini jangan sampai hilang ya,” begitu wanti-wanti saat ID Harian diserahkan ke saya.

Untuk cerita lengkap mengenai tas hilang itu, silahkan baca di sini.

Wednesday, December 25, 2019





Siang menjelang hujan turun, terlihat beberapa muda-mudi Gereja Santo Paulus Desa Mbawa Kecamatan Donggo Kabupaten Bima NTB, sedang beraktivitas.

Ada yang sedang membuat dan merangkai beberapa helai pita berwarna untuk dijadikan hiasan interior gereja, sebagian lagi sedang memasang umbul-umbul warna-warni di pintu masuk gereja.

Suara merdu Vicky Salamor dari speaker HP dengan tembang-tembang Natalnya, mengiringi aktivitas mereka. Sesekali bercanda dan meledek dengan Bahasa Bima dan dialek Mbawa yang khas.

Kepada saya mereka bercerita bahwa Natal kali ini harus meriah dari tahun sebelumnya.

Jemaat Gereja di Mbawa setiap tahunnya tetap melaksanakan rutinitas keagamaan, baik hari biasa maupun di hari Istimewa. Sebagai Minoritas di Bima, tentu saja mereka punya hak untuk mengekspresikan dan merayakan kebahagiaan pada hari-hari Istimewa.

Mereka juga punya hak untuk dikunjungi oleh pejabat-pejabat baik tingkat desa, kecamatan maupun kabupaten pada saat perayaan seperti ini. Karena di Mbawa sana adalah 'Dou Mbojo' (Orang Bima) yang memilih keyakinan berbeda dari mayoritas 'Dou Mbojo' lainnya. Mereka bukan orang lain, mereka adalah saudara kita.

Akhirnya karena tidak sempat MENGUCAPKAN, maka saya hanya MENULISKAN "SELAMAT HARI NATAL KEPADA JEMAAT DI MBAWA". Mudah-mudahan Natal kali ini bisa menjadi SAHABAT BAGI SEMUA ORANG.

Wallahul Muwaffiq ila Aqwamit Tharieq
Billahi fii Sabilil Haq, Fastabiqul Khairat.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh

Penulis: Syaifulah H Anwar




Kemeriahan Natal bagi warga negara Indonesia, tidak hanya terlihat di Tanah Air. Bahkan di beberapa negara. Termasuk di Selandia Baru, tepatnya di Wellington.

Lebih dari 300 WNI dari Wellington dan sekitarnya, pada siang ini waktu setempat, Rabu 25 Desember 2019 memadati Wisma Duta.

Wisma Duta adalah kediaman Dubes RI, yang kini dijabat oleh Tantowi Yahya. Politisi yang juga seniman itu, menggelar acara Open House Natal.


Untuk diketahui, Selandia Baru adalah negara paling awal menyongsong fajar Natal 2019. Untungnya, cuaca di sana sangat bersahabat.

Warga hadir setelah selesai misa di gereja. Mereka berbondong datang disertai anak dan keluarga. Di Wisma mereka disambut Dubes Tantowi dan isteri, Dewi Yahya.

Dubes dan istri kompak memakai batik dan kebaya dengan corak warna merah. Acara dibuat sederhana tapi penuh kekeluargaan. Juga diisi dengan ramah tamah.

Dalam kesempatan itu, Dubes Tantowi menyampaikan Selamat Natal kepada seluruh warga yang merayakannya. Ia juga senang, karena open house dalam rangka Natal ini juga dihadiri oleh mereka yang non-Kristiani.

Menurutnya ini adalah manifestasi dari kerukunan dan sikap saling menghormati sebagai sesama warga Indonesia.

Tantowi mengajak seluruh WNI terutama di Selandia Baru untuk terus menjaga kekompakan dan kekeluargaan yang telah terbina selama ini.

"Bangsa kita selama ini dikenal dengan kebhinekaan dan persatuannya. Kita harus mempertahankannya" katanya.

Warga yang datang dalam open house Natal ini, dimanjakan dengan sajian hidangan yang menggugah selera. Kali ini, spesial masakan khas Manado, Sumatera Utara.


Mulai ikan rica-rica, ayam woku sampai dengan kue klapertat. Nikmatnya hidangan itu, membuat para WNI yang datang begitu menikmatinya.

Semakin hangat dan nikmat suasana, setelah hiburan musik juga diperdengarkan. Bahkan, Tantowi yang dikenal juga sebagai maestro lagu-lagu country, turut menyumbangkan suaranya.

Monday, December 23, 2019




Aku terdiam beberapa saat. Usai masinis kereta listrik Bogor-Jakarta itu mengumumkan sedang antri masuk Stasiun Manggarai.

Aku ingin membenarkan sadarku. Benarkah ini sadarku? Atau aku sedang bermimpi seperti sedia kalanya? Kupandangi lagi ke rak atas. Kosong. Tas besar warna hijau yang di Stasiun Citayam aku simpan, raib.

Seketika aku berdiri. Kembali menatap rak tepat di depan ku. Lagi-lagi tak berubah. Tas itu raib. Setelah napas kembali terkendali, sesaat itu ku berinteraksi.

"Lihat tas di atas ini," tanyaku ke perempuan paruh baya yang duduk di sebelah. Seketika yang lain bereaksi, berbisik dan sedikit heboh. Ada yang kemalingan. Begitu rasanya mereka bersikap. Aku menjadi pusat perhatian.

Dalam hati berharap, si maling belum turun. Secepat kilat ku telusuri gerbong-gerbong itu. Kiri dan kanan, atas dan bawah, setiap orang ku cermati. Setiap sudut ku tatap tajam. Tapi tak ada.

Petugas keamanan yang menjaga gerbong khusus, ku mintai tolong. Dia bereaksi cepat. Terimakasih mas petugas. Walau rasanya mustahil kembali. Saya respek atas sikapmu.

Di Stasiun Manggarai, aku melapor. Selayaknya di BAP.

Sejenak aku tertegun. Laptop itu. Bukan harganya. Tapi isi di dalamnya. Dejavu. Aku pernah merasa hal serupa. Dulu, usai ujian skripsi di kampus, dosen pembimbing meminta naskah itu diedit lagi. Hendak dicetak buku. Senang hatiku mendengarnya.

Setiap malam, pagi dan kapan saja ada waktu, ku buka lagi naskah itu. Ku cari lagi buku-buku referensinya. Aku sempat pulang kampung, lama tak melihatnya. Tapi ternyata, di sana musibahnya. Laptop berisi data-data tadi tak terselamatkan. Hilang sudah naskah yang hendak diberikan untuk mungkin menjadi sebuah buku.

Tak ku risaukan berapa rupiah kerugian. Tapi masih tak bisa terima data-data itu hilang lagi. Ada yang baru dimulai, ada yang sudah rampung tinggal dicetak. Termasuk naskah sejarah kampung kami. Ah sedih rasanya.

Kalau seandainya bisa memohon, izinkan data-data itu aku ambil dulu. Setelahnya silahkan ambil barangnya. Silahkan kuras isi dompetnya.

Ling, kamu tak butuh data-data itu kan? Balikin itu saja lah. Silahkan ambil semua yang lain. Lumayan buat hidup mu kalau kamu jualin semuanya.

Oh ya, di situ ada KTP ku, ID pers ku, dan identitaa yang lain. Kalau kamu lihat, tolong kabari ya. Aku akan berterima kasih padamu jika data-data itu kamu izinkan untuk aku ambil dulu. Setelahnya, aku tak akan persoalkan. Ini janjiku ling.

Saturday, December 14, 2019




(Judul Asli: DUA PENULIS SILUMAN MELAWAN SATU GURU BESAR)

Oleh Fahd Pahdepie*

Dua tulisan gegabah karya Nasrudin Joha dan Agung Wisnuwardana belakangan beredar di sejumlah grup WhatsApp warga Muhammadiyah dan memicu polemik. Pasalnya, mereka menuduh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, telah menyudutkan umat Islam dalam makalah dan pidato pengukuhan jabatan guru besar yang diterimanya Rabu lalu (12/12) di Yogyakarta.

Secara serampangan Agung Wisnuwardana dan Nasrudin Joha menuduh Prof. Haedar telah memfitnah Hizbut Tahrir (HT) kerena mengkategorikannya sebagai salah satu kelompok radikal. Padahal, yang dilakukan Prof. Haedar adalah menyajikan pernyataan akademik yang bersifat referensial untuk memulai argumen utamanya yang justru hendak mengoreksi kesalahan kita selama ini dalam menggunakan term ‘radikal’, ‘radikalisme’, dan ‘deradikalisasi’.


Sesat Pikir Dua Penulis Siluman

Sebagai seorang akademisi yang ketika itu menerima penyematan gelar akademik tertinggi untuk menjadi guru besar, pernyataan Prof. Haedar tentu bukan berasal dari argumen yang tak berdasar. Secara hati-hati dan bertanggung jawab ia menuliskan referensi yang diacunya. Ketika menyebutkan Hizbut Tahrir (bukan Hizbut Tahrir Indonesia—HTI), Prof. Haedar sedang membahas sejumlah kelompok radikal sebagaimana dikemukakan intelektual Turki Ă–mer Taspinar sebagai kelompok yang melakukan gerakan bernuansa kekerasan (violent movement).

Prof. Haedar sama sekali tak menyebut Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebagaimana dituduhkan Nasrudin Joha, baik dalam makalah maupun pidatonya. Ia menyebut Hizbut Tahrir sebagai salah satu organisasi yang secara faktual dikategorikan sebagai kelompok radikal dalam berbagai referensi akademik, menyusul fakta bahwa Hizbut Tahrir memang tercatat terlibat melakukan upaya kudeta di sejumlah negara.

Mesir membubarkan Hizbut Tahir pada tahun 1974 lantaran diduga terlibat upaya kudeta dan penculikan. Di Suriah, organisasi ini dilarang lewat jalur ekstra-yudisial pada 1998 karena terbukti menyusun kekuatan bersenjata. Percobaan kudeta juga pernah dilakukan di Yordania pada pertengahan tahun 60-an. Fakta-fakta inilah yang membuat sejumlah riset akademik mengkategorikan Hizbut Tahrir sebagai salah satu kelompok radikal.

Namun, sebenarnya ketika Prof. Haedar menuliskan Hizbut Tahrir secara berurutan dalam kategori kelompok radikal bersama Al-Qaeda dan Jamaah Islamiyah, ia sebenarnya sedang menyusun argumen kritis dengan mengacu pada kategorisasi yang dilakukan John L. Esposito dan Iner Deyra (‘Islamophobia and Radicalization: Breeding Intolerance and Violence’, 2019). Kedua intelektual ini meyakini bahwa penyematan kata radikal lebih sering diikuti dengan bias islamofobia.

Di sini jelas sekali bahwa Agung Wisnuwardana dan Nasrudin Joha gagal faham pada maksud Prof. Haedar. Selain bahwa mereka terbaca sama sekali tidak familiar dengan cara bagaimana sebuah tulisan akademik membangun argumen ilmiahnya.

Maka ketika keduanya menuduh Prof. Haedar justru mengokohkan ‘framing’ Barat yang menyudutkan Islam, apalagi diikuti dengan penekanan bahwa Prof. Haedar memberi legitimasi pada narasi mendzholimi umat Islam sebagaimana dilakukan pemerintah, semua itu merupakan tuduhan serampangan yang berasal dari sesat pikir yang akut.

Nasrudin Joha bahkan memberikan pelabelan yang lebih parah. Ia melakukan insinuasi bahwa Prof. Haedar merupakan antek Barat yang menyudutkan umat Islam. Sambil berusaha mengutip ayat al-Quran di tempat yang salah, ia bahkan menuduh Prof. Haedar ‘memakan bangkai saudaranya sendiri’. Dengan alasan bahwa makalah dan pidato akademik Prof. Haedar tak melakukan mengkonfirmasi kepada HTI, yang sebetulnya sama sekali ‘nggak nyambung’ paling tidak dengan dua alasan.

Pertama, Prof. Haedar sama sekali tidak menyebut atau menyinggung Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) baik dalam makalah maupun pidatonya. Kedua, pengutipan yang dilakukan Joha sama sekali salah. Ia menyebut makalah Prof. Haedar sepanjang 54 halaman, padahal sebenarnya 84 halaman. Terbaca jelas bahwa Joha tidak memahami secara memadai argumen yang dibangun Prof. Haedar, bahkan jangan-jangan tidak membacanya secara utuh hingga tuntas.

Sejatinya baik tulisan Agung Wisnuwardana maupun Nasrudin Joha sama sekali tidak layak ditanggapi. Namun, penyesatan opini yang dilakukan keduanya belakangan terus disebarkan dan menimbulkan kesalahpahaman di sejumlah kalangan yang tidak bisa mengakses makalah Prof. Haedar secara utuh. Apalagi, di tengah era media sosial dan banjir informasi seperti saat ini, tulisan Agung dan Joha yang pendek bisa jadi lebih cepat tersebar dan dianggap kebenaran daripada makalah utuh Prof. Haedar yang berjumlah 84 halaman.


Memahami Pemikiran Sang Profesor

Di bagian akhir ini, sebagai upaya untuk melakukan pencerahan dan pelurusan penyesatan opini yang dilakukan Joha dan Agung terhadap Prof. Haedar Nashir, izinkan saya sedikit menjelaskan pokok argumen Prof. Haedar tentang moderasi Indonesia dan keindonesiaan sebagaimana disampaikan dalam pidato pengukuhan guru besar sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Rabu (12/2) lalu. Hari itu saya mendengarkan secara utuh isi pidato Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut, juga membaca serta menelaah isi makalahnya hingga tuntas.

Pertama-tama, Prof. Haedar menyoal pelabelan kata ‘radikal’ dan ‘radikalisme’ yang sering dilakukan secara salah kaprah di tengah masyarakat. Apalagi jika upaya lebelisasi itu diiringi narasi yang berusaha menempatkan benar-salah secara diametral. Prof. Haedar terasa sangat keberatan dengan monopoli tafsir yang dilakukan pihak manapun—bahkan ketika itu dilakukan oleh negara sekalipun—sebab jika hal itu terjadi maka yang muncul adalah upaya melawan satu kutub ‘radikal’ dengan cara melahirkan radikalisme di kutub yang lain.

Di sinilah Prof. Haedar mengajukan keberatannya tentang istilah atau upaya ‘deradikalisasi’ atau ‘deradikalisme’. Baginya, deradikalisasi justru akan menciptakan relasi oposisional yang bersifat biner. Secara sosiologis, apa yang terjadi di Indonesia belakangan ini justru adalah munculnya radikalisme baru yang diawali oleh sikap perlawanan terhadap radikalisme di pihak yang lain. Jika ini terus dibiarkan, yang akan muncul di kemudian hari adalah konflik dan perpecahan.

Akhirnya, Prof. Haedar mengangajukan satu solusi untuk menghindari situasi tersebut. Ia mengajukan ‘moderasi Indonesia dan keindonesiaan’ untuk mengganti narasi deradikalisasi. Sebab, baginya, yang harus dilakukan justru adalah membawa masyarakat Indonesia kembali ke karakter aslinya yang moderat, yang ‘wasathiyah’, yang tengahan, sesuai dengan nilai-nilai yang sudah disepakati para pendiri bangsa dalam sebuah konsensus bersama yang diberi nama Pancasila.

Jika kita berhasil memahami argumen utama Prof. Haedar ini, sesungguhnya ia ingin menghentikan semua narasi yang selama ini justru sedikit banyak merugikan Islam—juga merugikan Indonesia. Seandainya kita berhenti menggunakan istilah ‘deradikalisasi’, dan menggantinya dengan istilah ‘moderasi’, sebagai ‘quick win’ ini akan mendorong masyarakat Indonesia untuk lebih guyub, toleran, bersatu dan damai.

Akhirnya, mari kita hindari serta lawan bersama narasi-narasi sesat dan menyesatkan sebagaimana dilakukan Agung Wisnuwardana dan Nasrudin Joha. Lagipula, kedua penulis ini tidak jelas rimbanya, mereka hanya menggunakan nama samaran untuk mengemukakan argumen yang seringkali provokatif dan tak berdasar. Bila polemik ini berlanjut, saya kira layak untuk kita terus persoalkan ke level yang lebih serius. Karena Agung dan Joha bukan hanya menyerang Prof. Haedar secara pribadi, tetapi juga telah menuliskan opini menyesatkan yang berpotensi memicu perpecahan.

Barangkali balada dua penulis siluman yang menyalahpahami satu guru besar ini pada awalnya terasa lucu dan menggelikan. Tetapi sejatinya mengganggu dan berbahaya jika tidak diluruskan.

Tabik.

FAHD PAHDEPIE – Intelektual muda Muhammadiyah

Monday, November 25, 2019

Seketika se isi kelas II-A hingga II-G berhamburan keluar di pagi itu. Tanpa komando, langsung memungut dedaunan yang jatuh karena dimakan usia. Beberapa sampah plastik bekas makanan kecil, juga nampak berada di antaranya.

Tahu kenapa kami, dari kelas II-A sampai II-G berhamburan keluar dan membersihkan halaman kelas? Karena dari kejauhan, nampak Pak Khalik. Kami memanggilnya Pak Helo.

Beliau berdiri di ruang depan ruang guru, menghadap ke lapangan yang dikelilingi kelas-kelas. Hanya dengan begitu, kami tanpa dikomando langsung bergerak. Pak Helo memang terkenal keras dan tanpa segan menampar.

Di ruangan, Pak Helo juga keras tapi disiplin. Hafalan sejarah, matapelajaran yang beliau ajarkan, harus benar-benar nyantol di otak kami. Dari situ, saya sendiri mengakui sangat menyukai sejarah setelah puluhan tahun dididik beliau.

Di kelas, saya masih ingat. Di antara tiga tempat duduk kami, ada dua orang yang membuat kegaduhan. Seketika, Pak Helo datang dan menampar mereka yang ribut, serta kami yang ada di dekatnya. Kenapa harus kami yang tak ribut ditampar juga? Saya mengerti kini. Kami punya tanggungjawab untuk mengingatkan, sebagai tetangga duduk terdekat.

Ah pelajaran itu.. Kini baru ku sadari..

H. Abdul Wahab namanya. Jenggot panjang dan tipis di dagunnya adalah ciri beliau. Itu mengingatkan pada sosok H. Agus Salim. Celananya juga cingkrang. Bukan, dia bukan guru agama. Beliau adalah guru matematika. Sebenarnya, matapelajaran yang tidak aku suka. Tapi di tangan beliau, tak bosan kami belajar itu.

Cara beliau mengajari matematika, benar-benar dari hati. Pak Wahab paham, tiga jam pelajaran itu membuat kami bosan. Maka saat melihat kebosanan kami, beliau mengalihkan dengan bercerita. Bercerita soal agama yang lebih sering. Ah inilah dakwah yang efektif. Beliau juga kadang bercerita soal sejarah, sejarah tempat kami bersekolah di SMPN 1 Madapangga, Kabupaten Bima NTB. Dulu sekolah ini bernama SMPN 2 Bolo.

Pak Tasrif. Dulu guru PPKN. Entah sekarang nama matapelajaran itu masih sama atau sudah diubah. Beliau mengajar saat kelas III SMP (Sekarang mungkin kelas 9). Cara belajarnya pun menarik. Membahas isu-isu kekinian. Saya masih terkenang. Saat itu, sedang proses Reformasi, sidang Istimewa MPR kalau tak salah. Sejak itu, ketertarikan saya pada dunia politik, terbentuk. Di kampus, politik menjadi bagian tak terpisahkan. Hingga kini bekerja.

Mereka adalah diantara sekian banyak guru kami di kampung, sebuah desa bernama Dena. Mereka mengajar dengan menambahkan nilai-nilai, yang kami pegang hingga kini. Walau dulu, fasilitas yang diajarkan ke kami terbilang minim. Buku-buku latihan kerja yang sudah bertahun-tahun, wajib dirawat untuk generasi di bawah kami. Entah kami generasi ke berapa sebagai pengguna buku lembar kegiatan itu.

Tapi nilai-nilai yang diajarkan mereka, kekal. Semoga beliau-beliau selalu dilimpahkan rezeki dan pahala, serta kesehatan. "Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa" begitu bait terakhir lagu Hymne Guru.

Selamat Hari Guru 2019.

Sunday, November 17, 2019

Fahd Pahdepie (instagram)
Hari ini Muhammadiyah merayakan hari lahirnya yang ke 107 tahun. Izinkan saya bercerita untuk memahami apa sebenarnya yang sedang diperjuangkan oraganisasi ini? Mengapa ia hadir untuk memberikan pencerahan peradaban umat, mencerdaskan kehidupan bangsa? Mengapa KH Ahmad Dahlan adalah Sang Pencerah? Mengapa gerakan ini memperjuangkan Islam Berkemajuan?

Hierarki Realitas

Ada sebuah dongeng filsafat yang dikenal dengan sebutan alegori gua Plato. Tentang bagaimana manusia melihat realitas di sekelilingnya, memahami dan memaknai kebenaran, serta bagaimana membebaskan manusia dari belenggu kebodohan.

Melalui dongeng ini, Plato menggambarkan setidaknya empat tingkatan realitas. Yang pertama adalah orang-orang yang duduk menghadap ke dinding gua, seumur hidup tangan dan kaki mereka terpasung. Orang-orang ini melihat bayangan-bayangan di dinding gua itu dan menganggap bahwa bayangan-bayangan itulah realitas dan kebenaran.

Padahal, aneka bayangan itu dihasilkan dari benda-benda yang terpapar cahaya dari sebuah api unggun besar yang terdapat di belakang orang-orang yang terpasung tadi. Di antara api unggun dan orang-orang pasungan itu, ada sekelompok orang lain yang membawa benda-benda mirip wayang-wayangan.

Sayangnya ‘dalang-dalang’ ini tak bisa berkomunikasi dengan orang-orang pasungan tadi, mereka hanya bisa menganggap orang-orang pasungan itu bodoh karena mempercayai bayangan sebagai realitas bahkan kebenaran. Bagi mereka yang membawa wayang-wayangan, realitas adalah aneka benda yang mereka pegang. Namun, kaki orang-orang ini juga terikat, apalagi mereka takut melewati api unggun raksasa yang membatasi gerak mereka.

Nyatanya, di sebalik api unggun itu ada orang-orang lain yang, meski masih terikat kakinya, bisa mencapai mulut gua. Bagi orang-orang ini, ternyata ada cahaya yang lebih terang dari sekadar cahaya yang dihasilkan api unggun: Cahaya yang memancar dari mulut gua. “Betapa bodoh mereka yang percaya bahwa cahaya berasal dari api unggun!” Kata mereka.

Tapi sialnya orang-orang ini juga tak bisa pergi lebih jauh dari mulut gua itu, karena kaki mereka masih terantai. Sementara mereka belum bertemu orang-orang dari kelompok keempat: Orang-orang yang sudah berhasil keluar dari gua dan melihat realitas yang lebih kompleks. Di luar gua ternyata begitu indah. Ada langit, laut, gunung, bukit, sungai, burung-burung yang terbang, aneka binatang dan tumbuhan.

Kerja Pembebasan

Plato hanya bercerita sampai dimensi keempat, meski sebenarnya cerita masih bisa kita lanjutkan dengan sejumlah elaborasi. Bayangkan jika kita memasukkan unsur-unsur lain ke dalam cerita ini, ketika orang-orang yang berhasil keluar dari dalam gua itu berjalan-jalan dan ternyata mereka menemukan peradaban, teknologi, dan lainnya. Bahkan mereka bisa pergi ke luar angkasa!

Namun, alegori gua Plato ini cukup untuk kita pakai menggambarkan betapa realitas memiliki hierarkinya sendiri. Betapa pengetahuan dan pemahaman tentang kebenaran sangat ditentukan oleh hierarki realitas itu. Filsuf muslim Yahya Ibn Habash Suhrawardi bahkan membagi realitas ke dalam sepuluh tangga akal. Akal pertama hinggal akal kesepuluh atau akal kudus.

Bayangkan jika orang-orang yang telah berhasil keluar dari gua memberitahukan apa yang mereka lihat di luar gua kepada orang-orang di dalam gua? Apakah mereka bisa langsung mengerti dan percaya? Bayangkan jika orang di mulut gua memberi tahu kepada para dalang bahwa api unggun bukan sumber cahaya? Bayangkan jika orang-orang yang seumur hidupnya terpasung dan menghadap ke dinding gua diberi tahu bahwa bayangan yang mereka lihat setiap hari bukanlah kebenaran?

Filsuf Prancis Michel Foucault melihat bahwa perbedaan pengetahuan dan pemahaman ini erat hubungannya dengan pengaruh dan kekuasaan di dalam masyarakat. Mereka yang tahu lebih banyak cenderung lebih mudah mengatur dan menentukan banyak hal, sementara yang paling tahu sedikit adalah yang paling menderita. Masayarakat kemudian membentuk strukturnya sendiri berdasarkan akses dan relasi pengetahuan tadi, mereka yang terdidik ada di puncak piramida sosial sementara mereka yang bodoh tersungkur dan berdesak-desakan di dasar piramida itu.

Satu-satunya cara untuk membebaskan orang dari kutukan struktur sosial adalah dengan memberi mereka pendidikan. Agar orang bisa memanjat dari lantai dasar piramida sampai ke puncaknya. Sama seperti upaya membebaskan orang-orang di dalam gua Plato dari aneka rantai yang memasung, agar mereka bisa bergerak dari satu tangga realitas ke tangga yang lain untuk menemukan pencerahan di luar gua.

Karena cerita dari luar gua begitu memikat dan kisah dari lantai atas piramida sosial begitu menggiurkan, setiap orang ingin mendapatkan pencerahan dan akses pendidikan, bukan? Pengetahuan lantas menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan. Maka sekolah-sekolah dibuka agar orang bisa bebas dari pojokan gua sampai ke luar, agar mereka yang hampir mati terhimpit di lantai dasar piramida bisa naik ‘lift’ ke status sosial lain yang lebih tinggi.

Apakah benar semudah itu? Sayangnya tidak. Manusia didesain untuk bertahan hidup dan bersaing untuk egois mempertahankan posisi dan status sosialnya masing-masing. Sekolah-sekolah dan universitas tidak benar-benar didesain secara setara agar orang bisa terbebas dari kebodohan dan kemiskinannya. Apalagi dengan cara berpikir kapitalistik, sekolah didesain untuk memiliki tarif yang berbanding lurus dengan kualitas. Sekolah mahal akan menawarkan pendidikan terbaik, di saat yang sama sekolah yang murah menawarkan layanan dan fasilitas pendidikan seadanya.

Akhirnya, hierarki realitas dan struktur sosial justru dijaga dan dilanggengkan. Sekolah untuk orang di pojokan gua hanya akan menghasilkan lulusan yang paling jauh hanya bisa mengintip aktivitas para dalang. Universitas yang diselenggarakan oleh mereka yang berada di puncak piramida, kenyataannya tak bisa diakses dan dibayar oleh mereka yang berada di dasar piramida. Yang bodoh akan terus bodoh, yang miskin akan tetap miskin, begitu juga sebaliknya.

Gerakan Pencerahan

Hari ini Muhammadiyah merayakan hari lahirnya yang ke 107 tahun. Bagi saya, inilah cara terbaik untuk memahami KH. Ahmad Dahlan dan gerakan Muhammadiyah. Ahmad Dahlan muda adalah seorang progresif yang mendambakan pencerahan yang setara untuk semua orang. Baginya pengetahuan harus bisa diakses oleh semua pihak dan bahkan memberikan dampak sosial kemasyarakatan yang berarti, agar orang terbebaskan dari belenggu struktur.

Maka lihatlah ketika Ahmad Dahlan muda 107 tahun lalu, yang sudah melanglang buana di luar gua, memutuskan untuk kembali ke bagian paling dalam gua dan menawarkan pencerahan pengetahuan. Ia didik lagi anak-anak di kampung-kampung, ia dekati dengan penuh kesabaran, ia komunikasikan kepada mereka tentang dunia di luar gua dengan segala kemajuan peradabannya.

Melalui gerakan Muhammadiyah, Ahmad Dahlan juga ingin membongkar kutukan struktur sosial. Pendidikan harus bisa diakses semua pihak dari semua kalangan. Pendidikan harus bersifat egaliter dan progresif, memiliki semangat pembebasan. Inilah sebabnya mengapa corak gerakan Muhammadiyah berakar kuat pada teologi pembebasan yang diinspirasi oleh tafsir surat al-Ma’un.

Dalam 107 tahun, spirit inilah yang dibawa oleh Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, gerakan dakwah, gerakan pembaharuan (tajdid). Maka tak heran jika Muhammadiyah terus memberikan pencerahan dan dampak nyata bagi umat dan bangsa. Selama kiprahnya, Muhammadiyah dan Aisyiah telah membangun lebih dari 30.125 TK dan PAUD, 2.766 SD dan MI, 1.826 SMP dan MTs, 1.407 SMA dan MA sederajat, 165 perguruan tinggi, dan 50 SLB. Bayangkan berapa juta orang yang telah tercerahkan dan terbebas dari belenggu strukturnya?

Belum lagi jika kita melihat kiprah Muhammadiyah di bidang lain. Ada 583 rumah sakit dan klinik di seluruh Indonesia, 384 panti asuhan, 20.198 masjid dan mushala, serta masih banyak lagi. Ini baru berangkat dari tafsir kontekstual KH. Ahmad Dahlan terhadap surat Al-Ma’un saja. Bagaimana dan apa jadinya jika kita mengoperasionalisasikan tafsir dari seluruh ayat al-Quran? Di sanalah Muhammadiyah terus bergerak ke masa depan dengan spirit Islam Berkemajuan-nya.

Selamat milad ke-107 untuk Persyarikatan Muhammadiyah. Teruslah mencerahkan ummat dan bangsa!

FAHD PAHDEPIE
Kader Muhammadiyah


Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler