Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Monday, April 11, 2016

Ujung timur Pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat (NTB), adalah  Kabupaten Bima. Daerah yang memiliki sejarah panjang nusantara, dan kini masih mempertahankan keberadaan kesultanan Bima atau Mbojo.

Melalui Kesultanan Bima juga, didapatkan banyak dokumen catatan sejarah meletusnya Gunung Tambora pada April 1815. Melalui naskah kuno Bo Sangaji Kai, letusan dahsyat itu digambarkan secara dekat.

Karena letak kerajaan Bima saat itu dekat. Sementara Kerajaan lainnya yakni Kerajaan Pekat, Kerajaan Sanggar dan Kerajaan Tambora, hilang tertutup letusan terbesar dalam sejarah dunia.

Oke, bukan soal Tambora yang kita bicarakan. Tetapi, eksotiknya pemandangan alam di Kabupaten Bima. Sebenarnya banyak sisi-sisi eksotik alam di Bima. Hanya belum tereksploitasi dengan luas, sehingga tidak tergarap.

Salah satunya, adalah Pantai Dumu. Lokasinya berada di ujung timur Kabupten Bima atau pulau Sumbawa.

Kami berangkat dari Desa Dena Kecamatan Madapangga, yang lokasinya di ujung barat Bima. Perjalanan menggunakan kendaraan roda empat, melewati Kecamatan Belo, hingga Monta.

Lalu mulai menyusuri daerah pegunungan, dan melewati Desa Ngali dan Ncera, hingga menyisir lagi pinggir pegunungan yang hampir tidak ada pemukiman. Medan yang sedikit susah karena jalan raya tidak mulus, memang menjadi kendala. Hampir semua tempat wisata alam, kendala pada infrastruktur yang kurang mendukung.

Walau begitu, pemandangan hijaunya hutan membuat kelelahan berjam-jam di mobil sedikit terobati. Beberapa kendaraan roda dua, sering berpas-pasan, namun sangat jarang. Pemandangan dari puncak, sangat indah (lihat video: Pantai Dumu Dari Atas)

Sebelum memasuki Pantai Dumu, sepanjang pesisir terdapat tempat pelelangan ikan atau TPI. Sepanjang itu juga, rumah warga yang rata-rata rumah panggung, terlihat berjejer.

Banyak yang mengatakan, kawasan ini juga rawan kejahatan terutama yang tidak ada perkampungannya. Banyak yang memilih untuk tidak lewat sore hingga malam hari. Faktor ini juga yang harusnya diperhatikan, untuk menarik wisatawan berkunjung. Tentu tugas pemerintah.

Selama ini, pemerintah daerah terkesan tidak respek dengan sektor ini. Padahal kalau secara teori saja, sektor wisata bisa menambah income atau pemasukan daerah. Bisa membangkitkan ekonomi rakyat, sebab ada orang luar daerah datang dan mereka butuh penginapan, butuh makanan, butuh souvenir, butuh transportasi, hingga butuh guide atau pramuwisata.

Memasuki kawasan Pantai Dumi di sisi utara, terhampar luas pasir pantai yang putih dan belum terjamah dengan baik. Pandangan mata tertuju ke arah selatan, semacam teluk yang menghubungkan langsung ke lautan lepas Samudra Hindia.
Pinggir Pantai Dumu (dok: pribadi)

Eksotiknya Pantai Dumu (dok pribadi)
Di sana, ternyata masih ada pemukiman warga. Tapi aksesnya juga tidak mudah. Janji seorang warga, membawa ke sana menggunakan perahu yang tidak terlalu besar. Ke arah timur, terhampas pantai dengan pasir putih yang luas.

Pepohonan yang tidak terlalu tinggi di pinggir pasir, semakin menambah eksotiknya pantai itu. Warga di situ mengatakan, garis pantai ini sangat jauh, dan masih terhampar jauh hingga ke utara. Belum terjamah, itulah kesimpulan setelah melihatnya. Dari kejauhan, jernihnya air pantai sangat jelas terlihat.

Beberapa perahu para nelayan, terparkir di pinggir. Namun tidak merusak eksotisnya pantai ini. Begitu juga saat memasuki perairan dalam. Beberapa jaring warga dipasang. Ini salah satu cara menangkap ikan, karena ikan akan terperangkap kalau menabrak jaring tersebut.

Walau begitu, perhatian para nelayan terhadap terumbu karang juga sudah tinggi. Keberadaan jaring, tidak merusak terumbu karang (lihat video: Terumbu Karang Pantai Dumu). Bahkan, dirawat dan tidak merusaknya. Ini yang membuat ekosistem di dalamnya juga berjalan. Selain, menambah indah pantai itu.

Seharusnya, pemerintah juga harus hadir. Kesadaran para nelayan sudah bagus, tinggal meningkatkannya sehingga kehidupan di dalam laut semakin eksotik. Sayang, perahu kami tidak bisa melanjutkan perjalanan karena mesin mati. Ombak yang mulai sedikit tinggi untuk ukuran perahu kecil, sempat mengombang-ambingkan perahu. Untung berhasil di halau secara manual, dan kami berada di perairan dangkal. Di situ terlihat terumbu karang yang sangat indah.

Menikmati Pantai Dumu dari tengah-tengah (dok pribadi)



Pinggir Pantai Dumu yang indah (dok pribadi)


Mengakhiri petualang, kami pulang tidak melewati jalan yang tadi kamai datang. Tetapi terus ke timur hingga menembus Kecamatan Sape. Melewati bendungan Sumi. Sedikit mirip dengan bendungan-bendungan besar lainnya seperti Jatiluhur.

Sebenarnya, sepanjang Bendungan Sumi ini juga indah dan potensi wisatanya sangat bagus. Tapi lagi-lagi faktor keamanan, faktor akses ke lokasi, hingga faktor alam.

Ya, lagi-lagi faktor klasik yang tidak pernah ada political will dari pemerintah untuk membenahi, untuk berbuat. Sangat disayangkan kalau sektor pariwisata ini tidak tergarap dengan baik.

Makan ikan pinggir pantai, nikmatnya

Usai mandi, langsung makan ikan bakar di Pantai Dumu

Beli ikan langsung dari nelayannya, jadi murah (dok pribadi)


Terlalu banyak objek wisata di Bima atau Mbojo, untuk sekedar dibiarkan menganggur tanpa kehadiran pemerintah. Mulai dari wisata alam, hingga wisata sejarah, rasanya Bima memenuhi kriteri itu.

2 comments:

Muhammad Eko Supriyadi said...

Bagus pantainya mas rahmat, tapi yang disayangkan masih banyak tempat wisata di indonesia yang masih rawan..
Semoga pemerintah bisa mensejahterakan rakyatnya agar tidak ada ketimpangan sosial ekonomi..

Agus Rahmat said...

Iya mas Muhammad Eko Supriyadi.. Faktor keamanan menjadi kendala. Padahal potensinya luar biasa.

Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler