Ber-IMM Ala Renaissance FISIP

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), tentu tidak bisa lepas dari Persyarikatan Muhammadiyah. Ya, sebagai organisasi otonom yang dibentuk 14 Maret 1964, IMM menjadi salah satu kaki dan tangan rekrutmen kader persyarikatan.

Namun, ber-IMM terutama di tingkat komisariat (fakultas), tidak akan sama. Kultur kampusnya, kultur universitasnya, hingga kultur daerahnya sangat mempengaruhi bagaimana cara kita ber-IMM.

Mungkin ini pengalaman pribadi, sebagai orang yang pernah 'terjerumus' ke dalam IMM. Saya di-bai'at menjadi kader IMM, secara formal dengan mengikuti pengkaderan tingkat pertama yakni Darul Arqom Dasar (DAD) pada tahun 2003. Komisariat saat itu dinamai 'Renaissance' FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.

Bakti sosial
Konon, penggunaan kata 'Renaissance' ini karena era 1990-an IMM FISIP sangat tidak berdaya dengan organisasi ekstra lainnya seperti HMI, PMII dan organisasi pergerakan lainnya.

Sehingga semangat Renaissance atau abad pencerahan, ini yang ingin diambil. Dan terbukti, dengan pergulatan panjang di intra FISIP hingga universitas, sejumlah kader IMM Renaissance berhasil menjadi ketua BEM Fakultas hingga BEM Universitas dan Senat Universitas.

Berbicara FISIP UMM, tidak bisa dipisahkan dengan Jurusan Ilmu Komunikasi, yang memang menjadi jurusan favorit. Saat saya masuk, ada 6 kelas di Komunikasi. Sementara lainnya seperti Ilmu Pemerintahan hanya 2, dan fakultas-fakultas lainnya di bawah itu.

Tetapi, mahasiswa yang masuk di FISIP bukan berarti semuanya berjilbab. Ada yang berjilbab tapi mungkin ketat. Sementara prianya, tidak semuanya berlatar belakang Muhammadiyah.

Naik gunung di sela-sela aktivitas komisariat
Maka tak heran, saat pertama aktiv di IMM Renaissance saat itu, banyak kader terutama immawati (sebutan untuk kader perempuan), tidak berjilbab dan cenderung berpakaian kurang longgar.

Terkadang, situasi itu juga banyak mendapat kritikan. Baik sesama IMM maupun dari organisasi lainnya yang mereka punya latarbelakang Muhammadiyah. Saya hanya bisa bilang, beginilah SDM yang ada di FISIP. Kalau calon kader yang hendak direkrut hanya berdasarkan fisik yang berjilbab, pakaian longgar dan lainnya, saya yakin IMM Renaissance FISIP hanyalah sebuah nama.

Begitu juga dengan immawan (kader pria) yang direkrut. Tidak semuanya mereka adalah orang yang paham agama. Bahkan, dari pengalaman pribadi saya juga, ada beberapa kader yang masih menjadi alkoholic.

Banyak penilaian, kader-kader IMM Renaissance ini tidak mencerminkan Islam, tidak mencerminkan sebagai kader persyarikatan. Bagi saya, penilaian itu benar. Karena mereka dan saya masuk ke IMM Renaissance tanpa pernah mengecap sebelumnya apa itu ber-Muhammadiyah atau mungkin ber-Islam. Sehingga, masuknya mereka dan saya, bukan lagi menjadi orang yang langsung fasih tentang persyarikatan dan Islam, tapi sebenarnya kami belajar.

Kader Renaissance di acara IMM Malang
Beberapa kader di fakultas atau komisariat lain, banyak diantara mereka berlatar belakang pesantren. Sehingga, membentuk karakter religi, sudah kuat. Sementara di Renaissance, alumnus pesantren atau dengan basis agama yang kuat sebelum di Renaissance, bisa dihitung jari.

Di sinilah perlu strategi kami, yang kebetulan berada di pengurus harian. Tidak bisa kita langsung mendakwah dengan kaku, mereka pasti lari. Tidak bisa juga kita membiarkan begitu saja, karena ini adalah IMM.

Akhirnya, pendekatan pribadi yang digunakan. Mulai dari kebersamaan di komisariat, dari hal-hal kecil seperti futsal bersama, main PS bersama, hingga sekedar ngopi dan ngobrol ringan. Saya termasuk salah seorang kader yang senang, karena ternyata mereka yang tadinya berpakaian ketat, kini berjilbab. Kader yang dulunya alkoholic, kini sudah meninggalkan itu dan terbebas dari minuman serupa. Memang butuh waktu yang tidak sebentar.

Kultur di Renaissance FISIP, memang beragam. Ada yang lebih suka hal-hal ringan seperti ngopi-ngopi, jalan-jalan, futsal, hingga ngobrol tak jelas atau yang kami sebut saat itu 6 SKS.

Jalan-jalan selalu menyenangkan
Tapi ada juga yang lebih suka diskusi ilmiah, kajian-kajian kontemporer, maupun aktivitas keagamaan. Maka tak jarang, banyak kader yang memilih 'mundur' dari IMM Renaissance FISIP dan memilih aktivitas lainnya yang menurut mereka lebih cocok.

Bagi mereka, IMM Renaissance tidak senafas layaknya organisasi mahasiswa Islam di bawah naungan persyarikatan. Bahkan ada yang menyebut IMM Renaissance tidak sejalan dengan Tri Kompetensi Dasar Ikatan (Itelektualitas, Religiusitas, dan Humanitas). Ya penilaian itu muncul tiap tahun. Sehingga, rekrutan kader yang mencapai 70-100 mahasiswa, yang aktif tidak lebih dari 50 persen nya. Ini yang menjadi masalah dan selalu dipersoalkan ketika Musyawarah Komisariat atau Musykom, dengan pertanyaan besar "KADER HILANG!!".

Ber-IMM di Renaissance FISIP, dengan kultur dan SDM seperti itu tetap lah harus berpatokan pada Tri Kompetensi Dasar. Lalu, bagiamana menerjemahkan dalam bentuk aksi nyata? Bagi saya, membangun religiusitas memang bukan hal mudah. Di sini memang banyak lemahnya.

Serah terima jabatan ketua umum. Itu menangis bahagia lho
Untuk intelektualitas, bagi saya kader-kader IMM Renaissance FISIP tidak bisa diragukan lagi. Di internal IMM Malang, kader-kader banyak yang tampil dalam mengutarakan ide dan gagasan bahkan konsep. Bahkan tak jarang, seperti dalam arena Musyawarah Koordinator Komisariat atau Musykorkom UMM, kader-kader Renaissance bahkan saling berdebat dalam mengajukan konsep dan gagasan mereka.

Di tataran Malang juga demikian. Apalagi di intra kampus. Mendelegasikan kader ke lembaga intra seperti HMJ, Senat Fakultas hingga Presiden Mahasiswa atau Presma, keberadaan kader IMM Renaissance FISIP selalu diperhatikan baik internal IMM hingga kawan-kawan di organisasi lainnya.

Bahkan untuk organisasi intra di fakultas, IMM Renaissance FISIP pernah mengukir sejarah dengan sapu rata lembaga intra. Termasuk merebut Presma dan Senat Universitas.

Nuansa lain saat Musykom
Tapi itulah Renaissance FISIP. Saya bisa membahasakan, tidak akan ada pernah ketua umum yang 'berhasil' di Renaissance. Boleh lah komisariat lain bilang hebat Renaissance merebut seluruh lembaga intra. Tetapi bagi kader Renaissance, itu berarti melepas kader-kader. Mereka akhirnya sibuk di intra. Bahkan hilang dan tidak kembali lagi ke komisariat saat diberi kepercayaan menjabat di intra.

Bagi saya, itulah uniknya Renaissane FISIP. Selalu ada diskursus dari sebuah hasil yang dicapai. Boleh pengurus bilang 'kami sukses dan kami berhasil'. Tapi tidak bagi kebanyakan kader. Tak jarang, saat LPJ bagi IMM Renaissance, adalah momen yang paling ditunggu dan melelahkan. "Ajang pembantaian," begitu ujar seorang kader dulu.

LPJ IMM Renaissance sangat lama, biasanya dari Jumat sekitar pukul 08.00 WIB, dan baru berakhir subuh esok harinya. Itupun bukan karena persoalan waktu. Alot, keras dan penuh emosi bahkan ricuh dan air mata, itu yang terjadi ketika LPJ berlangsung.

"Iya saya gagal membawa IMM," teriak salah satu Ketum Renaissance saat LPJ yang diwarnai tangis para kader dan pengurus.

"Saya siap jadi ketua umum lagi," teriaknya lagi sembari meneteskan air mata, saat seorang kader menantang para kader yang berani menjadi ketua umum Renaissance.

Disela-sela acara Renaissance di Batu
LPJ itu juga sering diwarnai emosi-emosi tingkat tinggi. Tensi ketegangan meningkat. Bahkan beberapa kali meja terbanting, saat emosi dan tangis mencapai puncaknya.

Tapi setelah itu semua tuntas, pelukan air mata dan permintaan maaf mengalir begitu saja. Semua kembali seperti sedia kalanya. Tidak akan ada yang sakit hati, karena bagi kami diskursus di LPJ memang harus diungkap semua walau itu dengan kritikan tajam. "MENCINTAI TIDAK HARUS MEMUJI, TAPI MENGKRITIK ADALAH BAGIAN DARI MENCINTAI".

Kultur lain yang selalu identik dalam ber-IMM di Renaissance FISIP adalah diskusi dan menulis. Renaissance termasuk banyak menelorkan para penulis yang menghiasi media-media di Jawa Timur, baik lokal maupun nasional seperti Jawa Pos maupun Kompas edisi Jawa Timur. Koran lokal mungkin tidak terhitung lagi.

Butuh piknik juga
Masih ingat saking 'lakunya' kami di beberapa media, diberlakukan sistem setor kas. Yakni, saat tulisan dimuat di media dan kami mendapatkan honor dari kampus (lokal biasanya Rp50 ribu), sebagian disisikan untuk kas. Sehingga, diskusi saat itu juga ada gorengannya. Selain nama IMM Renaissance, kami juga mengibarkan bendera Renaissance Political Research and Studies (RePORT) sebagai lembaga kajian politik.

Di bidang olah raga, kami termasuk yang maniak. Di parkiran kampus, setiap sore selalu ramai digunakan untuk futsal. Bahkan kadang juga bermain futsal saat malam hari. Kami pernah merebut piala futsal Korkom UMM Cup tahun 2006. Walau di final, pertandingan berlangsung panas dan terjadi perkelahian antara Renaissance dengan teman-teman komisariat Ekonomi.

Immawan dapat immawati lho
Kader-kader IMM Renaissance, bukan lah kader yang terlalu organisatoris. Jarang, yang mau mengambil posisi ketua umum IMM Cabang Malang hingga DPD Jawa Timur. Mentok, hanya sebagai ketua bidang.

Inilah cara kami belajar ber-IMM. Kita tentu punya cara masing-masing.
Billahi fii sabilil haq fastabiqul khairat


Jakarta, 25 Mei 2016
Agus Rahmat

Comments