Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Friday, May 26, 2017

Ketika itu, sekitar tahun 1998, dan saya masih duduk di kelas 2 SMP. Entah kebetulan atau tidak, memang sedang musim sakit karena beberapa tetangga juga terkena. Yakni panas badan yang tinggi. Demam berdarah, menjadi momok saat itu.

Walau badan panas, saya masih bisa bergerak dari kamar ke ruang tamu, untuk sekedar menonton tayangan televisi. Kabar soal kondisi krisis, aksi-aksi demo, santapan ku di depan layar 21 ince saat itu.

Karena saran dari beberapa tetangga, saya di bawa ke RS di kecamatan, tepatnya kecamatan Bolo Babupaten Bima, NTB. Setelah pemeriksaan darah yang lumayan mendebarkan, akhirnya saya divonis terkena demam berdarah. Rawat inap juga akhirnya.

Ketika itu, bulan Ramadhan. Entah berapa hari saat itu dirawat. Kondisi saya semakin parah, sehari sebelum lebaran. Hanya bisa mendengarkan kumandang takbir, tahlil dan tahmid dari ruang perawatan.

Ilustrasi
Saat itu, saya ditempatkan di ruang kelas III. Jadi campur baur dengan pasien lain yang dirawat inap.

Banyak pengunjung yang datang. Namun saat itu, saya merasakan keanehan. Tiba-tiba, saya merasa dingin yang luar biasa, dari ujung kaki hingga kepala. Saya sampai menggigil, seperti berada di himpitan salju.

Tak kuasa menahan kedinginan, saya merintih dan meminta beberapa potong sarung. Begitu ditutupi dengan dua hingga tiga sarung, tapi ternyata masih dingin juga. Saking dinginnya yang tak terkira, membuat saya berontak.

Beberapa keluarga termasuk kedua orang tua memijit-mijit seluruh badan saya. Rasanya tidak mempan, aku tambah merasa dingin yang luar biasa. Aku teriak-teriak, yang menurut keluarga setelah saya sembuh teriakannya kencang sekali. Tak ayal, semua yang ada di ruangan terutama keluarga, takut dan sedih. "Mungkin, kini saatnya aku menghadap-Nya", begitu kira-kira pikiran mereka.

Saya membuka mata. Astagfirullah, yang saya lihat adalah orang-orang disekeliling sudah tidak berwajah manusia lagi, tapi seperti hantu. Yang jelas, muka mereka menyeramkan.

Melihat itu, saya semakin meronta. Bukan karena tubuh ini yang sedari tadi kedinginan, tapi juga takut dengan muka mereka. Ketakutan yang semakin menjadi-jadi melihat wajah mereka seperti itu, membuat saya meludahinya, meminta pergi. Entah apa yang terjadi setelah itu, saya sudah tidak sadarkan diri.

Dalam ingatan saya kala itu, sempat muntah. Kata mama, yang saya muntah itu adalah darah, dan sangat banyak. Saat itu, mama mengaku sudah tidak ada harapan lagi bagiku untuk hidup. Orang-orang meminta ibu untuk bersabar. Sementara aku terus meronta-ronta.

Malam itu juga, saya diputuskan untuk dibawa ke RSUD Kabupaten. Jaraknya lumayan jauh.

Ambulance sudah menunggu, dan saya dipindahkan dari kamar perawatan itu menuju ke mobil. Di sini kisah yang membuat saya bertanya-tanya apakah aku mati suri atau tidak?

Dalam perjalanan dari ruangan menuju ambulans, tentu saya sadar. Mata saya rasakan terbuka, walau terlihat gelap. Namun, saya merasa berada di bawah tanah dan berusaha hendak naik ke atas.

Antara sadar dan tidak sadar, saya merasakan dikejar-kejar seekor ular kobra besar. Dari perangai si kobra itu, binatang mematikan itu hendak mematuk.

Kobra itu terasa sangat cepat. Saya mencoba menghindar, tentu dengan teriakan-teriakan. Terus menghindar dan menghindar, dan sekuat tenaga untuk secepatnya bisa naik ke permukaan tanah.

Rasanya sangat lelah, habis energi. Hanya pasrah kala itu yang saya lakukan. Si kobra semakin dekat, dekat dan benar-benar berada di depan mata. Tinggal dia mematok saja. Hingga saat kobra itu ingin mematok, saya merasakan ditarik ke atas. Sedikit cahaya terlihat, ternyata saya sudah diangkut ke dalam ambulans.

Agak lega, karena selamat dari racun kobra yang mematikan. Ambulans melaju, namun saya merasa tetap berada di bawah tanah, gelap, itu yang saya rasakan.

Di dalam ambulance itu, saya muntah darah lagi. Kali ini jauh lebih banyak. Saya bisa merasakan sisa-sisa darah menempel di bibir.

Dalam perjalanan itu, yang saya alami antara nyata dan tidak, tapi saya merasa masih sadar. Tiba-tiba, saya ditahan oleh sekelompok pasukan. Tidak terlihat jelas muka mereka.

Ada lebih dari 10 orang yang ditawan, diikat tangannya. Termasuk saya. Dalam keadaan seperti itu, datang seorang pasukan yang ternyata berperan sebagai eksekutor. Kami yang diikat itu, dipersiapkan untuk dibunuh. Saya bisa menyaksikan mereka, yang deretannya di awal dari saya, dibunuh.

Spontan, saya teriak-teriak. Entah saya orang ke berapa untuk selanjutnya mendapat giliran eksekusi. Saya teriak sejadi-jadinya agar tidak dibunuh.
“jangan bunuh aku,” begitu kira-kira saya berteriak kala itu. Seorang yang mendampingi eksekutor, meminta saya di langkahi dulu, untuk selanjutnya beralih ke orang yang di samping saya.

Lega rasanya, Saat itu, saya berusaha meloloskan diri dan bisa. Saya lari sejadi-jadinya, kencang dan semakin kencang, menghindar dari tempat eksekusi itu.

Ketika berlari, saya temui sebuah sungai. Saya merasa, ada di pinggir sungai yang ada di kampung, Desa Dena. Namun ini lebih besar, dan rindang pepohonannya. Saya berlari dipinggirnya sembari melihat-lihat ke seberang sungai.

Beberapa orang terlihat di seberang. Hanya tidak bisa saya jangkau, tidak ada jembatan. Dari pelarian ini juga, saya melihat secercah sinar yang kilau. Dalam beberapa kisah orang mati suri, ada beberapa juga yang melihat sinar seperti itu.

Sinar yang kilau itu, saya lihat ada di seberang sana. Terus saya telusuri pinggir sungai, berharap ada jembatan.

Saat itu, saya merasa ada suara yang memanggil-manggil. Betul, ternyata itu sesosok yang saya kenal. Dia tetangga rumah, yang berdiri di dekat sinar itu.

Sembari terus melihat ke seberang, aku juga terus berjalan mencari jembatan. Rasa takut, masih terus berkecamuk. Hingga kemudian, beberapa suara kembali muncul.

Kali ini, saya melihat muka mereka, orang-orang yang ada di seberang sana, tidak lagi menakutkan. Tidak lagi seperti hantu yang menyeramkan, yang terlihat diawal cerita ini. Walau belum terlalu sempurna, saya sudah bisa mengenali wajah-wajah itu.

Dalam kebingungan itu, saya membaca ayat-ayat pendek AlQuran. Bahkan, dengan lancar, surah Yasin yang panjang itu, tiba-tiba terhafal kan. Padahal, saat masih sehat rasanya tidak pernah saya bisa menghafal surah itu.

Begitu tiba di RSUD Bima, tubuh rasanya mulai normal, dari pengalaman-pengalaman aneh sepanjang jalan itu. Lebih kurang seminggu saya dirawat.

Keluar RSUD pagi hari, tiba-tiba sorenya terlihat berita kalau di Bima juga terjadi kerusuhan dan penjarahan, hal sama terjadi di Ibukota dan beberapa daerah lainnya jelang Reformasi 1998 itu.

0 comments:

Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler