Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Monday, July 24, 2017

Lazimnya Presiden Jokowi, ada saja agenda yang tiba-tiba. Mungkin kalau dibahasakan, ada kegentingan yang memaksa. Yang genting tentunya wartawan Istana Kepresidenan. Banyak cerita, salah satunya pada Senin 24 Juli 2017.

Agenda resmi Kepresidenan pada Senin itu hanya dua, yakni sidang kabinet paripurna yang digelar di Istana Negara. Lalu siang, pukul 14.00 WIB, memberi pembekalan kepada 729 Calon Perwira Remaja (Capraja) TNI-Polri di Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur. Mereka kemudian dilantik di Istana Merdeka, Selasa 25 Juli 2017.

Berangkat dan pulang ke Mabes TNI Cilangkap, kami ikut dalam iring-iringan RI-1. Jadi agak lebih cepat pulangnya. Namun, mobil yang membawa kami baru memasuki halaman belakang Istana, tiba-tiba sejumlah politisi yang beberapa diantaranya akrab kami kenal, berjalan dan hendak masuk ke Istana melalui sekdor atau pintu belakang.

Turun dari mobil, kami langsung berlari kecil mendekat. Walau awalnya cita-cita kami adalah makan siang (walau terlambat karena sudah lebih pukul 16.00 WIB).

 
Beberapa politisi senayan seperti Jhonny G Plate (Nasdem), Agus Gumiwang (Golkar), Robert Kardinal (Golkar), Reni Melinawati (PPP), Utut Adianto (PDIP), Nurdin Tampubolon (Hanura), maupun Sekjen Golkar Idrus Marham dan sejumlah politisi lainnya.

Tentu pertanyaannya, kenapa meraka ke sini? Ada konsolidasi soal apa? Dan hanya Jhonny G Plate yang sedikit memberi bocoran, yakni soal Perppu Nomor 1 dan Nomor 2. Sementara lainnya, termasuk Idrus yang biasanya bercuap-cuap serius kala ditanya wartawan, hanya mengajak bercanda saja.

Utut juga demikian. Si jago catur itu singkat menjawab hanya silaturahim. Nurdin Tampubolon, yang sedikit terlambat, mengaku memang baru mendapatkan undangan dari Istana hari itu juga.

Oke lah, kami tunggu. Seperti biasa, nongkrong di pilar, tempat kami memunggu para menteri maupun tamu-tamu Presiden. Satu jam lebih kurang, tidak kunjung kelihatan juga. Yang ada, malah kami mendapat informasi kalau mereka sudah keluar melalui pintu samping, melalui Wisma Negara.

FYI (for your information), pintu Wisma Negara biasanya digunakan oleh sejumlah pejabat yang enggan menyampaikan ke publik hasil pertemuan dengan Presiden. Mungkin karena menyangkut kerahasiaan negara. Atau mungkin juga ini cukup sebagai konsumsi internal mereka. Entahlah...

Usut punya usut, sebenarnya konsolidasi itu harusnya berlangsung tertutup. Artinya tidak menjadi konsumsi media. Tapi menjadi santapan media, lantaran mereka salah jalan.

"Emang harusnya masuk dari depan tadi (pintu Wisma Negara), salah masuk, masuk dari situ (sekdor samping Istana Negara)," kata Jhonny G Plate ketika dihubungi usai pertemuan.

Ya, mungkin maksud Pak Jokowi ingin agar pertemuan politik ini tidak dipublis, tapi apa daya karena memilih jalan yang salah maka keinginan itu sirna. Malah, semakin memperuncing 'konflik' antara partai pendukung dengan PAN. PAN tidak diundang dalam pertemuan itu.

Tapi saya tidak bahas soal itu di tulisan ini. Terlalu politis... Ha..ha...ha...

0 comments:

Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler