Lesehan Di Istana

Mendengar nama Istana, rasanya banyak orang yang akan berpikiran pakaian yang bagus, tempat yang indah, lokasi paling aman di Indonesia, dan di sana ada Presiden Republik Indonesia. Ya, semua bisa benar.

Namun tidak jarang juga orang berpandangan, di Istana diatur dengan berbagai peraturan yang elitis. Tatakrama dan sopan santun, benar-benar dijaga. Namun, tidak jarang juga pakem-pakem yang kaku seperti itu, tidak berlaku. Bukan berarti tidak boleh, tetapi lebih pada aturan yang fleksibel.

11 Januari 2019, pagi itu Presiden Joko Widodo menerima silaturahim ratusan guru swasta yang tergabung dalam Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI). Mereka diantaranya adalah guru RA (Raudhatul Athfal), setingkat taman kanak-kanak.

Presiden Jokowi di hadapan ratusan guru yang tergabung dalam PGSI di Istana Negara (Dok.Pribadi)
Namanya guru swasta, tentu yang menjadi sorotan utama adalah penghasilan. Bahkan, seorang guru RA dari Jawa Tengah bernama Mega Yuli mengaku selama 7 tahun hanya digaji Rp50 ribu. Tiga tahun belakangan naik menjadi Rp150 ribu.

Persoalan lain mereka, kesulitan sertifikasi. Semua dibongkar di situ, dihadapan langsung Presiden Jokowi. Ya, karena itu permintaan beliau.

"Mungkin ada yang bisa maju cerita. Blak-blakan saja," begitu kata Presiden.

Ok, namun bukan ini yang ingin menjadi fokus bahasan tulisan ini. Usai acara itu, ratusan guru ini diajak berfoto bersama oleh Presiden di tangga halaman Istana Merdeka. Lokasinya tidak jauh dari tempat acara, di Istana Negara.

Tangga Istana Merdeka biasanya digunakan untuk foto menteri kabinet. Tapi semenjak 4 tahun lebih ini, beberapa kelompok masyarakat juga diajak untuk berfoto di sana.

Di sisi belakang ruang Istana Negara, tempat silaturahim tadi, sudah disiapkan beberapa sajian makanan ringan dan minuman. Jajanan pasar, begitu biasanya disebut. Penyajian jajanan rakyat ini, tidak hanya saat PGSI hadir. Tapi hampir di setiap acara, termasuk acara kenegaraan seperti pelantikan pejabat negara apakah itu menteri, lembaga setingkat menteri, selalu ada sajian.

Nah di sampingnya, ada sajian untuk wartawan. Hampir sama dengan tamu. Bedanya cuma jumlahnya yang tidak terlalu banyak. Makanya kami sering 'rebutan'.

Jajanan pasar, disiapkan di satu meja panjang untuk diambil dan dicicip oleh tamu, dalam hal ini para anggota PGSI. Dalam banyak acara, para tamu biasanya menyantap jajanan itu, sambil berdiri, berbincang dengan anggota yang lain, atau ikut nimbrung ngobrol dengan para menteri dan pejabat lainnya yang ikut di situ.

Namun kali ini unik. Usai berfoto di halaman Istana Merdeka, para guru ini kemudian kembali ke Istana Negara, dan langsung menyicipi jajanan pasar yang telah disiapkan. Asyik memilih beberapa jajanan, mereka mencari posisi yang asyik untuk bercengkrama dengan rekan-rekannya yang lain.

Hanya tidak seperti yang lain. Mereka memilih untuk duduk lesehan, di atas karpet tebal yang kualitasnya terbaiklah. Sambil duduk bersila, bersandar di tiang, beberapa guru pria asyik menyicipi jajanan itu. Sembari menyeruput minuman yang tentu sangat enak.

Banyak diantara mereka tidak berdiri. Menyantap sambil duduk lesehan di atas karpet itu. Walau di sebelah lokasi itu, biasanya digunakan oleh Presiden. Jalur yang digunakan Presiden, juga mereka jadikan tempat untuk duduk sambil makan.

Mungkin mereka duduk, karena memahami adab makan, tidak boleh sambil berdiri. Wallahualam.

Comments