Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Monday, February 11, 2019

Ina Dijo yang sudah sepuh, terkaget ketika sesosok pria berpakaian seragam polisi lengkap, menaiki tangga rumahnya. Saat itu, ia bersama anak perempuannya, Teti.

Ipda M.Sofyan, ketiga dari kiri. (sumber: akun facebook Phian Baraduta)

Rumah yang mungkin cukup teduh bagi mereka, hanya berupa rumah panggung dengan ukuran sekitar 3x4 meter dan beralaskan bale-bale. Dindingnya hanya berupa anyaman bambu, yang beberapa bagiannya sudah bolong.

Sosok polisi itu adalah Kapolsubsketor Soromandi, Ipda M.Sofyan Hidayat. Ia datang bersama beberapa anggotanya dan masyarakat setempat, di Dusun Mangge Ule Desa Wadukopa Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dalam bahasa Indonesia, Ina Dijo adalah Ibu Dijo, panggilan pemilik nama lengkap Hadijah. Anaknya, bernama lengkap Rosteti. Mereka hanya hidup berdua, dalam kemiskinan. Ina Dijo sudah renta, tidak mampu bekerja lebih keras lagi. Sementara sang anak, mengalami keterbelakangan mental.

"Bantuan dan uluran tangan kita semua sangat diharapkan oleh Ina Dijo dan anaknya Teti yang mengalami keterbelakangan mental. Barangkali kita bisa membantu memperbaiki rumah, membelikan tempat tidur, pakaian, alat masak maupun kebutuhan pokok lainnya," ujar Ipda Sofyan.

Senyum hangat Teti yang mengenakan sarung, tampak jelas. Mungkin baru kali ini, ia melihat seorang pejabat yang mau bersusah-susah datang ke kediamannya. Ina Dijo, nampak raut mukanya penuh haru. Beberapa bantuan yang dibawa Ipda Sofyan dan anggotanya itu, setidaknya memberi rasa optimis mereka untuk menyambung hidup jauh lebih baik lagi ke depannya.

Sembako yang dibawa, mungkin tidak banyak. Dua kardus mie instan, dan beberapa plastik bahan pangan lainnya untuk kebutuhan sehari-hari kedua orang ini.

"Daripada sibuk mencari kesalahan orang lain, saling mencaci bahkan menghujat lebih baik kita luangkan waktu untuk hal-hal yang lebih bermanfaat," ujar alumni SMAN 1 Kota Bima itu.

Jiwa sosial yang tinggi seperti ini, membuat banyak orang terkagum, terharu dan tidak sedikit yang turut mendoakan sosok perwira polisi asal Desa Dena Kecamatan Madapangga tersebut. Bahkan, ada yang menyandingkan Ipda Sofyan dengan mantan Kapolda NTB yang kini menjadi Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Umar Septono.

"Teringkat dgn sosok Bapak Kapolda sulsel Irjen Umar septono. Salut buat pak Phian Bharaduta (Ipda Sofyan) sukses terus buat karirnya pak," kata Didi Budiyanto, mengomentari jiwa sosial Ipda Sofyan.

Irjen Umar dalam tugasnya, baik ketika di NTB maupun kini di Sulawesi Selatan, memang terkenal sangat berjiwa sosial. Bahkan, beras yang ingin diberikan ke rakyat, ia gotong sendiri. Tak jarang, ia memunguti sendiri sampah yang ada di jalan yang ia lewati.

Jiwa sosial Ipda Sofyan, di wilayah hukum Kecamtan Soromandi ini, bukanlah pencitraan. Sebab gaya seperti ini, sudah dilakoninya sejak bertugas di Polres Dompu. Di sana, tidak hanya ikut mengamankan konflik atau perang antar kampung, tapi juga masuk ke kampung-kampung untuk membantu keluarga miskin dan renta. Bantuan-bantuan, bahkan ia bawa sendiri.


Pendekatan Keamanan dengan Merangkul
Aparat kepolisian, sejatinya memang ditugaskan mampu memberi rasa aman kepada masyarakat. Cara pandang keamanan bukan saja dari sisi kekerasan, tetapi juga persuasif. Di era demokrasi saat ini, menuntut aparat keamanan untuk bisa bersikap persuasif, pendekatan dengan jalan damai.

Terkadang, mengantisipasi peluang konflik bukan saja dengan pengamanan aparat dalam jumlah besar. Tetapi membangun pendekatan sosial yang lebih komprehensif. Menjemput bola, mendatangi masyarakat yang menjadi wilayah kekuasaannya, adalah cara efektif dalam meminimalisir potensi konflik yang tidak terkendali.

sumber: akun facebook Phian Baraduta

Setidaknya, itu terlihat dari cara yang dilakukan oleh Ipda Sofyan. Dari rumah ke rumah, dari tempat warga bercengkrama, didatanginya. Untuk memperkenalkan diri, untuk membangun keakraban. Membawa fungsi keamanan dengan perspektif persuasif yang cukup efektif.

"Ini harusnya dicontohi oleh polisi-polisi yang lain. Pak Polisi ini, hanya manusia biasa seperti kita semua, tapi memiliki hati layaknya malaikat. Semoga Pak Polisi Muhammad Sofyan Hidayat selalu diberi kesehatan, kekuatan dan umur panjang agar bisa berbuat lebih banyak untuk kebaikan orang banyak," kata Rangga Dhena.

Pemimpin adalah pelayan, begitu yang dipahami Ipda Sofyan. Dan pendekatan ini dianggapnya jauh lebih efektif, ketimbang menunggu di kantor. Tidak ingin berdiam diri, tidak ingin sekedar menunggu ada masalah. Dalam pemahamannya, suatu masalah di masyarakat akan efektif ditangkis ketika terbangun kedekatan antara pemimpin, aparat keamanan dengan masyarakat yang dilayaninya.

"Ajaklah mereka bicara, dengarkan keluh kesahnya dan jadilah konsultan yang solutif," tutur alumni SMPN 1 Madapangga itu.


Menyentuh Sisi Idiologis
Agama adalah fondasi dasar dan sangat penting, dalam kehidupan sosial di Indonesia. Termasuk Bima. Agama bukan hanya ritual, tetapi juga masuk dalam sendi-sendi kehidupan, hingga menjadi suatu budaya dalam kelompok masyarakat atau individu tertentu.

Bahkan, agama adalah idiologi yang kuat. Menyentuh ranah itu, menjadi sensitif jika dilakukan dengan kontroversi. Tetapi agama itu menjadi pelindung, pemecah solusi dalam kehidupan masyarakat. Ini pula yang dilakukan Ipda Sofyan.

Tidak tanggung-tanggung, ia bahkan sampai masuk ke masjid untuk mensosialisasikan kerja dan diri mereka, selaku pengayom masyarakat dalam sisi keamanan. Masyarakat akan semakin cinta, ketika ada orang yang menyentuh mereka dari sisi yang fundamental, agama tentunya.


"Alhamdulillah masyarakat bisa menerima baik kehadiran kami. Semoga ke depan kami bisa lebih baik lagi. Amiiin. Belajar dan terus belajar," katanya.


Sampai ke Perbatasan
Banyak pemimpin yang tidak berlaku adil. Mereka hanya membangun di wilayah pusat, tetapi terkesan abai di wilayah terluar, terdepan. Kadang, wilayah terluar, terdepan atau terpencil, hampir tidak tersentuh oleh kekuasaan.

Apalagi dengan akses yang susah. Untuk menuju ke wilayah yang jauh itu, dibutuhkan suatu tekad dan keihlasan dalam berjuang. Ihlas sebagai abdi negara. Ihlas sebagai abdi sosial, dengan jiwa sosial yang mungkin bisa diklaim sebagai paripurna.

Ipda Sofyan, memulai dari awal. Kecamatan Soromandi, adalah wilayah percobaan untuk menjadi Polisi Sektor atau Polsek. Maka ia disebut Sub Sektor. Dan, Ipda Sofyan memulai itu, maka ia harus membangun fondasi yang kuat. Yakni polisi sebagai abdi masyarakat. Polisi harus selalu ada di hati masyarakat.


Maka tak heran, ia tidak hanya menyapa warga yang terjangkau di wilayah Soromandi tersebut. Bahkan sampai ke wilayah terdepan, yang hanya sejengkal jaraknya dengan kabupaten tetangga. Yakni di Desa Sampungu. Desa ini, adalah ujung paling barat Kabupaten Bima, yang berbatasan langsung dengan Desa Kiwu Kecamatan Kilo Kabupaten Dompu.

"Jarak yang cukup jauh bukanlah halangan untuk bersilaturrahmi demi terjalinnya komunikasi yang baik sehingga tercipta situasi kamtibmas yang kondusif," tuturnya.

0 comments:

Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler