Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Wednesday, July 31, 2019




Kamis pagi, 1 Agustus 2019, aroma-aroma Hari Ulang Tahun (HUT) RI sudah mulai terasa. Ditandai dengan Membatik Kemerdekaan, sebuah acara yang dihadiri Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana.

Acara yang digelar di Stasiun MRT Bundaran HI itu, sebagai rangkaian awal Bulan Kemerdekaan, yang memeriahkan HUT ke-74 RI.

Jam masih menunjukkan 08.48 WIB. Tetapi Pak Jokowi dan Ibu Iriana, sudah tiba. Lebih cepat dari jadwal, yakni 09.00 WIB. Ya kadang begitu kalau beliau. Bisa lebih cepat, atau kadang molor hingga berjam-jam.

Pak Jokowi seperti biasa, berbaju kerah warna putih. Sementara Bu Iriana lebih necis dengan tampilan baju putih dan bawahan berbatik biru. Nampak lebih casual dengan balutan shal berwarna sama.

salah seorang pembatik (dok pribadi)
Keduanya kemudian berjalan, menuju tempat yang disiapkan untuk membatik. Pak Jokowi nampak lebih serius, sementara Bu Iriana lebih luwes ketika menggoreskan canting batik ke kain.
“Motif Garuda Nusantara, Gurdo,” kata Jokowi.

Ada 74 pembatik, dengan panjang arena membantik 74 meter. Jumlah dan panjang pembatik itu, menandakan tahun kelahiran republik ini, yaitu 74 tahun. Apa harapan Jokowi dengan batik ini?

“Kita berharap warisan pusaka batik ini yang sudah tercatat di UNESCO bisa menjadi sebuah brand Indonesia di kancah internasional dan kita harapkan juga generasi pembatik-pembatik, dari angkatan dewasa ke angkatan remaja, anak-anak, semua teregenerasi dengan baik. Saya harapkan batik semakin bisa dikembangkan sebagai sebuah brand Indonesia,” jelasnya.


Seperti biasa, tidak akan cukup bagi wartawan jika hanya bertanya satu tema saja. Usai soal batik itu, berondong pertanyaan mengudara, dan akhirnya terdengar soal kapan Peraturan Presiden atau Perpres tentang mobil listrik diteken.

Jokowi menjelaskan berbagai hal yang ditanyakan, tidak cuma soal batik (dok. pribadi)
Normatif beliau menjawab menunggu masuk ke mejanya. Hingga pernyataan Pak Jokowi mengarah ke polusi udara dimana salah satu cara mengatasinya adalah dengan pengembangan mobil listrik. “Saya lihat ke depan semua negara mengarah ke sana semuanya, nggak polusi dan penggunaan bahan bakar non-fosil, arahnya ke sana,”.


Pernyataan itu menyulur pertanyaan lanjutan wartawan mengenai polusi Jakarta. Selama lebih sepekan ini, persoalan polusi di Ibu Kota ini terus diangkat. Tingkat polusi bahkan sudah disebut sebagai yang terburuk di dunia. Awan pekat dan terlihat kotor, sudah banyak diunggah di media sosial sebagai gambaran kalau udara Jakarta benar-benar kotor dan buruk.

Warga menyambut Jokowi di Stasiun MRT Bundaran HI (dok. pribadi)

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, menjadi sasaran empuk kritikan, risiko pemimpin. Banjir pun, pasti gubernurnya yang akan dikritik hingga dicaci maki. Demokrasi khas ala Indonesia sepertinya.

Nah, pengembangan kendaraan berbasis listrik ini, menurut Jokowi adalah solusi efektif dalam mengatasi masalah polusi Ibu Kota. Tak pelak melihat kondisi ini, Pak Jokowi mengaku turun tangan juga, dan berkoordinasi dengan Pak Anies.

“Nanti akan saya sampaikan ke gubernur, bus-bus listrik dan taksi listrik, sepeda motor yang sudah kita bisa produksi mulai listrik, skemanya seperti apa terserah gubernur. Apakah lewat electronic road pricing (ERP) yang segera dimulai sehingga orang mau tidak mau masuk ke transportasi umum missal,” begitu kata Pak Jokowi.


0 comments:

Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler