Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Friday, July 12, 2019




Sinetron Keluarga Cemara, begitu populer di akhir tahun 1990-an. Ia mulai tayang pada 1996. Sosok Abah dan Emak, serta anak-anaknya, menyentuh hati masyarakat Indonesia.

Sejak tidak tampil lagi sebagai sinetron, pada 2019 Keluarga Cemara kembali hadir, namun dalam format film. Tentu Abah dan Emak tetap menjadi simbol penting dari film yang tayang di bioskop itu.
Abah diperankan oleh Ringgo Agus Rahman, sementara Emak diperankan oleh Nirina Zubir. Penampilan apik mereka di bioskop-bioskop, mampu membawa film ini dalam deretan terlaris.

Dalam versi film itu, Abah awalnya adalah seorang pengembang di kota, Jakarta. Namun seluruh hartanya hilang dalam sekejap, akibat bangkrut. Ia ditipu. Bahkan untuk menghadirkan sisi dramatisnya, kebangkrutan itu timbul di hari ulang tahun anak pertamanya.

Singkat cerita (karena bisa ditonton sendiri ya, hehehe) Abah dan Emak kemudian memilih mengungsi ke desa. Rumah tua dan tidak terawat. Hanya itu yang bisa mereka gunakan dengan kondisi keuangan yang tidak mencukupi untuk menyewa rumah di kota besar. Itu adalah warisan terakhir.

Dari sinilah mulai pertarungan konflik. Terutama anak-anak Abah dan Emak. Mereka harus bisa tampil sebagai orang yang tidak mampu. Padahal, sejak mereka lahir hingga bersekolah, fasilitas dan kekayaan sudah mereka peroleh.

Abah pun harus menyesuaikan diri. Sebagai bos property, kini ia harus menjadi pegawai. Bahkan, buruh kasar. Menjadi kuli bangunan, ia lakoni. Hingga akhirnya menjadi tukang ojek.
Riak-riak konflik seperti itu dalam rumah tangga, akan selalu ada. Bagi siapapun yang sudah atau akan dan sedang mengarungi kehidupan dalam keluarga kecil. Terpenting, bagaimana menyikapinya. 

Tetapi, bagaimana kalau keluarga itu jauh lebih besar? Bukan hanya orangtua dan anak-anaknya? Tetapi hingga ke cucu dan cicitnya? Adakah keluarga besar seperti itu tetapi mampu menjaga kekompakan, memanagemen konflik dengan baik dan merawat kebersamaan?

Jawabannya ADA! 
(cek keseruannya di link ini: Liburan Asyik Keluarga Zekoso) juga (Link; Tempat Liburan Asyik Keluarga)

Sebagian Keluarga Zekoso, ikut berpartisipasi
dalam acara pernikahan salah satu keluarga.
Ya, namanya Keluarga Zekoso. Zekoso adalah penggabungan dua kakak-beradik. Yakni (alm) H.Djakariah dan (alm) H.Mansyur. Kedua lelaki itu berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Tepatnya di salah satu desa, yakni Desa Dena.Keduanya bukan berasal dari orang kaya seperti Abah dan Emak. 

Tetapi mereka hanya seorang petani miskin di desa terpencil itu. Mereka memiliki anak-anak. Berpendidikan tinggi, adalah dorongan utama dari kedua orang itu untuk anak-anaknya.

Tidak salah. Anak-anak mereka kemudian menempuh pendidikan yang tinggi, walau dengan susah payah. Susah untuk mendapatkan biaya, dan susah karena fasilitas pendidikan zaman dulu, apalagi di daerah terpencil. Tidak seperti di kota yang begitu mudah diperoleh.

Anak-anak dari mereka berdua, merantau ke Ibukota. Mereka mengabdi di Jakarta dan sekitarnya. Beragam profesi, pelukis, wiraswasta, guru, hingga pegawai pemerintahan. Di Ibukota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri itu, anak-anak mereka ini menghuni wilayah yang berbeda-beda, berpencar-pencar, tidak seperti Abah dan Emak yang satu rumah.

Singkat cerita, anak-anak H.Djakariah dan H.Mansyur itu tumbuh. Berkeluarga, memiliki anak, dan saban waktu berkumpul bersama, sebagai satu keluarga dari darah dan rahim yang sama, dari satu rumpun pada kakek-buyut yang sama.

Makin besarnya Keluarga Zekoso ini, kedua orang itu (H.Djakariah dan H.Mansyur) menjelma menjadi kakek, hingga buyut dan entah apa namanya setelah itu. Karena semakin besar keluarga ini, maka muncullah inisiatif membuat arisan keluarga.

"Arisan pertama itu dimulai tahun 1985," ujar H.Yunus H.Djakariah. Beliau adalah kakak tertua dari Keluarga Zekoso yang ada di Jakarta. Sebagian memilih tetap di kampung halaman, Desa Dena, Bima.

Rentan 1985 hingga 2019 ini, arisan sebagai wadah berkumpul rutin tiap bulan itu tetap berjalan. Tidak pernah berhenti sedikit pun. Dan anggota inti, yakni dari Keluarga Zekoso, tetap eksis di dalamnya.Cucu-cucu dari H.Djakariah dan H.Mansyur, bahkan kini sudah berkeluarga, memiliki anak keturunan. Artinya, Keluarga Zekoso saat ini sudah berada di generasi ketiga. Bayangkan betapa besarnya.

Mungkin banyak keluarga yang sudah pada generasi ketiga, keempat atau seterusnya. Tetapi, adakah yang bisa tetap bersama dalam satu wadah berkumpul yang rutin?

Arisan yang dirintis sejak 1985, adalah wadah utama dalam berkumpul. Tentu hubungan kekeluargaan di luar urusan arisan, juga tetap terjalin bahkan jauh lebih akrab juga.

Arisan Bukan Oreantasi Uang
Cara berpikir kebanyakan orang, bahwa arisan adalah salah satu upaya dalam mendapatkan kapital, uang. Ya, itu bisa dimaklumi dan paham mindstream adalah demikian. Tapi tidak untuk arisan Keluarga Zekoso.

Uang arisan memang dan pasti diperoleh. Tapi bukan itu tujuan utamanya. Maka arisan ini tidak dikocok, tetapi diatur penjadwalannya. Bulan ini misalnya siapa yang dapat, bulan depan siapa. Perputarannya bahkan sampai dua tahun. Saking besarnya keluarga ini.

Bagi yang butuh di tengah-tengah perjalanan arisan, bisa bertukar dengan yang lain. Misalnya, karena dia butuh untuk bayar kuliah atau sedang membangun rumah, sementara jadwal dia masih berbulan-bulan lagi, maka ia bisa bertukar dengan keluarga yang mendapat jatah di bulan terdekat. Begitu seterusnya.

Oreantasi utama dari arisan Zekoso adalah kekeluargaan. Berkumpul sebagai sesama Keluarga Zekoso, itu yang utama. Karena tuan rumah bergilir, di tempat yang mendapatkan jatah pada bulan itu.

Millenial di Zekoso harus dirawat
Arisan Keluarga Zekoso, juga tidak semata-mata selesai dapat uang langsung pulang, tidak. Akan ada pembicaraan-pembicaraan lain yang dilakukan. 

Terutama jika ada agenda keluarga, seperti pernikahan atau yang lainnya. Maka bukan sekedar arisan tapi juga bermusyawarah untuk agenda itu. Jika hanya ingin beroreantasi pada mendapatkan uang, anda salah tempat kalau hadir di Keluarga Zekoso!!

Rasanya tidak ada di dunia ini, sebuah arisan keluarga yang bisa membawa keluarga besarnya hangout (biar kerena dikit) ke villa. 
Diantara generasi ketiga Zekoso

Bahkan, tidak hanya satu villa yang disewa. Berapa uang patungannya? Nothing alias tidak ada. Anggota Keluarga Zekoso tinggal datang ke lokasi, makan dan tidur gratis. Dari mana ongkosnya? Silahkan pembaca cari tahu jika penasaran dengan ini.

Pada 2017, bahkan Keluarga Zekoso berhasil membuat program mudik alias pulang kampung ke Bima NTB. Program ini dinamakan lamba rasa (menyambangi kampung halaman). Sebab ada anggota keluarga yang belum pernah ke sana, atau bahkan puluhan tahun tidak menginjakkan kaki lagi ke kampung kakek buyutnya.

Dengan program itu, mereka bisa pulang kampung di saat Idul Fitri.Pasti mahal? Tentu tidak. Bahkan, bisa menghemat 50 persen lebih anggaran kalau pulang mandiri. Meskipun menggunakan bus dan memakan waktu hingga 3 hari, tetapi di situlah makna kekeluargaannya. Bukan soal ongkos yang murah meriah saja.

Tapi tak apa kita kupas sedikit soal ongkos. Ongkos yang kurang 50 persen dari harga normal kalau pulang ke Bima, ditambah dengan konsumsi gratis selama perjalanan. Lalu, keunggulan lainnya adalah di dalam bus satu keluarga semua sehingga kita bebas bertukar, bahkan tidur di lorong bus pun bisa. Rasanya, susah mendapatkan keluarga besar yang sudah sampai generasi ketiga, untuk tetap akur dan mampu membangun kebersamaan tanpa oreantasi materi. Mampu bergotong royong dengan pemahaman bahwa 'Dia adalah keluarga kita', 'Kami adalah keluarga harus saling menolong', kami dan kami, bukan ke-aku-an sebagai sikap individualisme.

Konflik
Rasanya agak angker kalau kita mendengar satu kata ini. Tetapi, dimanapun, dalam komunitas apapun, konflik pasti akan selalu muncul. Seperti tadi, Keluarga Cemara yang tergolong kecil dibandingkan Keluarga Zekoso karena hanya Abah, Emak dan anak-anaknya saja ada konfliknya. 

Menyatu sebagai bagian yang tak terpisahkan 
Apalagi Keluarga Zekoso yang tiga turunan ini.Tapi harus kita sadari, konflik bukan sesuatu yang perlu disembunyikan. Tapi tidak bisa dibiarkan juga. Yang paling benar adalah mengurai konflik dan mencarikan solusinya. Artinya, managemen konflik.

Dalam perkumpulan, organisasi, hingga perusahaan sebesar apapun, pasti akan ketemu konflik, apakah itu skalanya besar atau kecil. Indonesia sebagai negara besar dengan beragam suku, agama dan budaya, juga tidak terlepas dari konflik.

Namun, selama konflik itu tidak sampai merusak rumah besarnya, itu berarti masih pada level terkendali dan managemen konfliknya bisa dibilang berjalan dengan baik.

Sebagian perempuan Zekoso 

Keluarga Zekoso bukan berarti tidak ada konflik. Ada, dan bahkan riak-riak itu tanpa disadari muncul seketika. Kadang muncul ke permukaan dan meletus, setelah terendus-endus di bawah, dari pribadi-pribadi. Terlebih perselisihan itu menyangkut rasa, menyangkut hati, bahkan prasangka-prasangka. 

Kadang dari sinilah timbul konflik yang membesar. Sebuah prasangka yang terus dirawat dipelihara, dan endapannya bisa menjadi lahar yang jika keluar susah untuk ditutup kembali. Walau kadang, prasangka itu tidak benar, salah kaprah, atau sebenarnya bisa diurai hingga kemudian diselesaikan dengan segera.

Riak-riak itu sebenarnya bisa menjadi sumber perpecahan yang dahsyat. Bisa menghancur leburkan rumah besarnya, jika semua yang menanam prasangka itu memilih menutup diri.
Bisa membuyarkan Keluarga Zekoso jika tidak ada yang menjadi penengah, atau setidaknya ada pihak-pihak yang bisa menahan diri, tidak ikut terlibat dalam kubu-kubu yang berkonflik.

Lempar-lempar happy
Toh, di tengah riak-riak konflik itu, Keluarga Zekoso masih full team jika berkumpul untuk arisan keluarga. Bahkan, saat hangout dua hari di kawasan Sentul Bogor beberapa pekan lalu. Artinya, konflik itu masih bisa di-managemen dengan baik, karena tidak merusak rumah besarnya yakni Keluarga Zekoso.

Tidak mudah untuk mempertahankan ini. Di tengah-tengah jiwa sosial yang mulai meredup seperti di kota-kota besar, Keluarga Zekoso masih bisa mempertahankan kekeluargaan yang berasaskan gotong royong dan sebagai satu keluarga itu.

Keluarga Gotong Royong
Sikap gotong royong, adalah nilai dasar yang digali dan diangkat oleh founding fathers, bapak bangsa kita. Namun disadari atau tidak, sifat-sifat ini mulai redup. Redup oleh sikap materialistik akut. Hampir tidak ada ruang kompromi untuk yang namanya gotong royong, bersama-sama. Semua dinilai dari sisi kapital, uang.

Tapi untungnya, Keluarga Zekoso masih bisa mempertahankan yang namanya gotong royong itu. Ah yang benarkah? Masa sih??

Saat ada anggota keluarga meninggal atau sakit, maka Keluarga Zekoso turut memberi santunan. Hal sederhana tapi bentuk perhatian seperti ini yang semakin mengakrabkan. Itu tadi, bukan soal materi yang diberikan tapi justru perhatian sebagai sesama keluarga, itulah yang lebih membekas.

Kadang kita terpukau dengan materi yang banyak, padahal tidak selamanya membahagiakan. Artinya, materi bukan faktor penentu. Mengingat manusia tetaplah manusia, yang memiliki sifat dasar sebagai mahluk sosial. 

Dan sebagai mahluk sosial, maka manusia itu membutuhkan manusia lain dalam organisasi yang bisa menghargai keberadaannya, eksistensinya.Ada hajatan seperti nikahan atau acara lain yang serupa misalnya. Tidak perlu ragu. 

Because we are the big family
Maka otomatis Keluarga Zekoso akan membentuk panitia, bak penyelenggara acara atau event organizer (EO) profesional, memainkan perannya mengatur dan merancang sebuah acara. Bayaran? Tentu tidak. Karena kami keluarga besar.

Walau sudah ada EO sekalipun, Keluarga Zekoso tetap ikut menjadi bagian. Minimal mengorganisir internal agar tetap kompak, bersama-sama. 

Membantu hal-hal yang rasanya tidak bisa mengandalkan EO semata. Karena bagaimanapun, kita memiliki ciri khas, budaya, yang tidak bisa diatur dan ditiru oleh pihak lain. Itu fakta.



0 comments:

Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler