Istana Bogor dan Permintaan Maaf Raja Belanda Menjajah Indonesia

Apa kaitan Istana Kepresidenan Bogor dengan pernyataan Raja Belanda Willem Alexander, yang meminta maaf atas penjajahan yang dilakukan negaranya?
Istana Kepresidenan Bogor 2020

Mungkin tidak langsung. Tapi nampaknya, ada semacam simbol. Istana Kepresidenan Bogor adalah sebuah simbol, yang tentu simbol bersejarah, akan eksistensi Belanda di Tanah Air. Proses penjajahan hingga tiga abad setengah itu, melahirkan banyak simbol-simbol diantaranya Istana ini.

Istana Kepresidenan Bogor, bermula dibangun pada 1744. Daerah yang dulu bernama Buitenzorg ini, memang cukup indah sehingga Gubernur Jenderal saat itu, Gustaaf Willem Baron Van Imhoff, membangun rumah peristirahatan bagi gubernur jenderal. Juga menjadikan kawasan itu sebagai daerah pertanian.

Awalnya dibangun sebagai rumah dengan tiga tingkat. Yakni pembangunannya memakan waktu lima tahun, 1745 hingga 1750. Namun gempa yang terjadi di kawasan itu, meluluh lantahkan bangunan tersebut. Hingga pada 1850 dibangun ulang, dengan konsep menyerupai Eropa abad ke-19 dan tidak bertingkat.

Penanaman pohon cendana, 
oleh Raja Willem dan Ratu Maxima,
 disaksikan Presiden Jokowi dan Ibu Iriana
Bangunan itu terus berkembang, termasuk kawasan hutan di dekat Istana itu. Kini dikenal sebagai Kebun Raya Bogor. Tentu, bangunan yang kini menjadi Istana Kepresidenan Bogor dan sejak 2014 digunakan sebagai kediaman Presiden RI ke-7 Joko Widodo, memiliki sejarah yang kuat dengan Belanda.

Dalam catatan sejarah, setidaknya ada 38 Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menghuni Istana Bogor ini. Termasuk dua nama yang sangat terkenal, Herman Daendels dan Stamford Raffles. Sebelum Belanda menyerah pada Jepang, Istana Bogor ditempati Gubernur Jenderal bernama Tjarda van Starkenborg Stachourwer. Sebelum diambil alih oleh Jenderal Imamura setelah Jepang menduduki Tanah Air.

Istana Bogor adalah salah satu simbol sejarah keberadaan Belanda di Tanah Air. Dari tujuan berdagang melalui VOC-nya, hingga kemudian berangsur-angsur menguasai wilayah dan mengukuhkan kekuasaannya. Monopoli perdagangan, hingga kekuatan politik menyertai keberadaan Belanda di Tanah Air. Bahkan, hingga Bung Karno dan Bung Hatta membacakan teks Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Belanda masih berupaya masuk.

Agresi militer I tahun 1947 dan agresi II pada 1948 hingga awal 1949, melahirkan peperangan lanjutan. Walau dalam rentan waktu itu juga, perundingan demi perundingan dilakukan. Tetapi kekerasan hingga munculnya korban jiwa, tidak dapat dihindari.

"Di tahun-tahun setelah diumumkannya Proklamasi, terjadi sebuah perpisahan yang menyakitkan dan mengakibatkan banyak korban jiwa. Selaras dengan pernyataan pemerintahan saya sebelumnya, saya ingin menyampaikan penyesalan saya dan permohonan maaf untuk kekerasan yang berlebihan dari pihak Belanda di tahun-tahun tersebut. Saya melakukan ini dengan kesadaran penuh bahwa rasa sakit dan kesedihan keluarga-keluarga yang terdampak masih dirasakan sampai saat ini," begitu pidato Raja Willem Alexander, saat join press statemen di Istana Bogor, Selasa siang 10 Maret 2020.

Upacara kenegaraan menyambut 
RajaWillem Alexander dan Ratu Maxima.
Seperti sebuah pengakuan, bahwa antara Belanda dengan Indonesia pernah berhadap-hadapan dalam pihak yang saling berlawanan. Bukan perkara mudah memang bagi Belanda, untuk mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia. Bahkan, baru tahun 2005, Belanda memberi pengakuan proklamasi itu. Belanda menerima secara politik dan moral bahwa Indonesia merdeka sejak 17 Agustus 1945.

Itu pun dipertegas kembali oleh Raja Willem. Bahwa Proklamasi RI pada 1945 itu, merupakan tonggak sejarah yang tak bisa lepas dari terbebasnya Tanah Air dalam imperialisme.

"Hari ini kami dengan penuh kehangatan mengucapkan selamat pada rakyat Indonesia pada saat perayaan 75 tahun kemerdekaan,".

Presiden Joko Widodo, pun tak ingin melupakan sejarah Indonesia dengan Belanda ini. Memang, pasca pengakuan politik dan moral kemerdekaan pada 2005 lalu itu, semakin meningkatkan hubungan kerjasama kedua negara. Bayangkan, Belanda adalah negara mitra investasi terbesar pertama Indonesia di Eropa. Sektor pariwisata juga tak kalah, urutan keempat, sementara Belanda menjadi mitra dagang terbesar kedua bagi Indonesia di Eropa.

Masih dalam hitung-hitungan ekonomi. Nilai bisnis kedua negara, juga tidak kecil. Yakni mencapai USD 1 miliar. Raja Willem bahkan menyebut, meski Indonesia dan Belanda sempat berlawanan dalam sejarahnya, tetapi kini, "Menjalin hubungan yang semakin erat dan mengembangkan sebuah hubungan baru berdasarkan rasa hormat, saling percaya dan persahabatan,".

Nilai-nilai sejarah yang telah tertoreh, seperti apapun kelamnya masa lalu itu, tentu tidak akan bisa dihapus. Namun setidaknya, Indonesia dan Belanda sudah keluar dari sejarah itu. Permintaan maaf bisa jadi tidak menghapus luka, dan tentu tidak bermaksud menghapus sejarah. Biarlah itu menjadi bagian dari cerita bangsa ini.

Istana Kepresidenan Bogor, yang menjadi salah satu simbol keberadaan Belanda dalam menguasai Tanah Air, menjadi saksi bahwa penerus kerajaan menyampaikan permohonan maaf atas masa lalu itu.

"Dan sebagai penutup, saya ingin menyampaikan bahwa kita tentu tidak dapat menghapus sejarah. Namun kita dapat belajar dari masa lalu. Kita jadikan pelajaran tersebut untuk meneguhkan komitmen kita untuk membangun sebuah hubungan yang setara, yang saling menghormati dan saling menguntungkan," kata Presiden Jokowi.

Comments