Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Monday, August 31, 2020

Pejabat publik seperti menteri, memiliki tipikal yang berbeda-beda saat menghadapi wartawan. Ada yang begitu care, ada yang moodyan, atau ada yang lebih suka ngobrol santai tanpa harus ada kutip mengutip pernyataan di media.

Diantaranya adalah Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) 2014-2019 dan 2019-2024, Pratikno. Beliau tentu menjadi orang paling dekat dengan Presiden. Dua periode Pak Jokowi menjabat Presiden, dua periode juga dia menjadi Mensesneg.

Mensesneg Pratikno

Kalau diistilahkan, Pak Pratik adalah lingkaran ‘A setengah’ (kalau ada istilah A1) Presiden. Kebijakan-kebijakan yang ada tentu akan didiskusikan dengan beliau. Marah dan senangnya Presiden, sudah pasti dia tahu.

Namun untuk bahan kutip mengutip, dia selalu berhati-hati. Hampir susah mendapatkan bahan kutipan yang istilahnya layak kutip. Paling dijawab, ‘nggak tahu aku’ atau ‘baru dengar aku’. Mentok-mentok, ‘tanya ke menteri terkait lah’.

Mengulik informasi dan meminta penjelasan darinya, bisa dibilang begitu susah. Kalaupun memberi penjelasan, sekedar yang ringan soal agenda kenegaraan, atau hal-hal yang menyangkut acara.

Sekitar tahun 2016. Saat itu, sempat ramai berita ada pertemuan utusan Pak Jokowi dengan Prabowo Subianto sebagai Ketum Gerindra. Dalam informasi itu, utusan yang dimaksud adalah Pak Pratik. Isu politik itu begitu liar, hingga membuat Pak Pratik mendatangi pressroom, yang saat itu masih dibuat sementara lantaran pressroom sedang direnovasi.


“Tidak pernah bertemu dan tidak pernah berkunjung ke sana dalam beberapa minggu ini,” elak Pak Pratik saat itu. Dia juga memastikan, sebagai pejabat Negara tidak bisa dukung mendukung calon.

Isu itu dijawabnya terkait Pilgub DKI. Pilkada saat itu berlangsung cukup panas. Pertarungan di Pilpres 2014 antara Pak Prabowo dengan Pak Jokowi, kembali tersaji di Pilgub DKI. Apalagi anggapan saat itu yang begitu kuat adalah Pak Jokowi punya ‘calon’ untuk memenangkan pilgub. Sementara Pak Prabowo juga punya calon.

Namanya wartawan, semua dikulik. Tidak jarang pertanyaan-pertanyaan yang menjebak ditanyakan. Tapi jawabannya ya cuma itu-itu saja. Berpuluh-puluh menit doorstop, tidak ada angel lain. Hanya klarifikasi saja, hanya ‘Istana bantah presiden ketemu Prabowo’ atau ‘Presiden Jokowi bantah ketemu Prabowo’ dan atau sejenisnya.

Dicecar dengan pertanyaan ‘jebakan’ agar informasi yang dimiliki terkuak, hanya dijawab datar, itu-itu saja. Mengesankan bahwa beliau tidak tahu apa-apa, beliau hanya tahu itu.

Walau kami tahu, ya beliau tahu banyak. Sekelas Pak Pratik, mantan Rektor UGM dan akademisi di bidang politik, tentu ilmu dan informasi yang dipegangnya melebihi dari apa yang disampaikannya di depan media.

Usai rapat kabinet  terbatas (ratas) atau rapat kabinet paripurna, sering kali Pak Pratik yang dicegat. Dalam pembukaan rapat-rapat itu, Presiden selalu memberi pidato pengantar. Tidak terlalu panjang, hanya beberapa menit. Tapi kadang ada pernyataan Presiden yang begitu keras, pernyataan marah, atau yang sekiranya sangat layak dikulik.

Usai rapat, kadang Pak Pratik keluar melalui pintu belakang. Dimana kami lazim menunggu agenda selesai. Beliau keluar dengan senyum khas, dan jalannya yang begitu cepat.

Ojo takon aku (jangan tanya saya),” begitu biasanya dijawab kalau menghindar.

Atau misalnya isu-isu sensitif, yang kadang masih kabarnya, belum valid tapi sudah diperbincangkan publik, hampir tidak pernah para jurnalis mendapatkan penjelasan atau jawaban dari Pak Pratik.

“Aku nggak tahu eee,”.

Atau kadang Pak Pratik memilih melenggang meninggalkan wartawan. Menunjuk menteri lain untuk ditanya. Sementara dia tersenyum-senyum dengan langkah yang begitu cepat menuju kantornya.

Di luar itu, Pak Pratik termasuk yang begitu dekat dan selalu berbaur dengan wartawan. Dia kadang tidak memperlihatkan diri sebagai seorang menteri. Tidak merasa menjadi elit di tengah-tengah kami, yang sering kali memproklamirkan diri sebagai kaum proletar.

Sekitar 2018, Pak Jokowi melakukan kunjungan ke Jawa Timur. Diantaranya mengunjungi salah satu pelabuhan di Gresik. Pelabuhan bagi pengembangan ekonomi, menjadi penting. Dan pengembangan ekonomi ini menjadi titik poin yang selalu diseriusi oleh Pak Jokowi. Saat itu, Presiden masih meninjau beberapa ruangan di dalam kapal.

Kami sudah di bawah, di luar kapal-kapal itu. Biasa, berjejer dan berharap ada doorstop (wawancara todong) untuk pendalaman materi ke Presiden. Namun di sela-sela menunggu itu, Pak Pratik tiba-tiba menghampiri.

“Ayo foto, ayo foto,”.

Diajak pejabat, siapa sih yang tidak mau. Berdiri di barisan depan, bergaya layaknya kami ini teman akrabnya, dan yang lain berlarian ingin ikut dalam foto itu. Lebih luwes jika diajak ngobrol-ngobrol ringan tanpa harus kutip mengutip dibanding saat wawancara.

Sekitar tahun 2019, pernah juga Pak Pratik mendampingi Presiden menghadiri acara yang diselenggarakan IkatanCendikiawan Muda Indonesia (ICMI). Acara digelar di Lampung. Acara berlangsung pada malam hari.

Usai acara kami sudah berbaris berjejer, berdesakan untuk mencari posisi yang pas untuk doorstop Presiden. Bagi wartawan televisi, kamera berjejer dengan tripodnya. Kami yang online dan cetak, duduk di bawahnya. Tidak pandang kotor atau bersih, yang penting bisa selonjoran sebelum doorstop.

Sementara tepat di depan kami, Pak Jokowi masih melayani acara foto bersama. Acara itu memakan waktu yang lama. Karena selain dengan ICMI, juga foto bersama dengan tuan rumah dan beberapa daerah lainnya. Belum lagi yang ngotot minta selfi.

Saat duduk selonjoran di lantai yang pasti berdebu dan kotor itu, tiba-tiba Pak Pratik menghampiri. Jangan harap doorstop. Dia hanya ingin berbaur. Jadilah bincang-bincang santai diselingi tawa dengannya.

Kalau didoorstop dia menghindar, tapi ini berbaur dan ikut selonjoran. Entah bagaimaan persepsi orang yang ada di situ. Atau justru mereka tidak tahu kalau Pak Pratik adalah menteri!?

Kadang Pak Pratik yang membuka percakapan. Tapi jangan harap percakapan yang serius, yang baground suatu masalah Negara. Tidak. Pecakapan yang mengandung humor. Beliau baru berdiri, saat Pak Jokowi sudah selesai dan siap memberikan keterangan pers.

Pada Oktober 2018, ada agenda Presiden di Istana Negara. Ratusan tamu ikut serta dalam agenda itu. Termasuk wartawan yang meliput tentunya. Usai acara, para wartawan langsung kavling tempat, bersiap-siap untuk doorstop.

Lokasinya ada di dekat pintu keluar. Untuk mendapatkan posisi yang pas, yang bagus, tentu kami juga harus berebutan. Siapa cepat dia dapat tempat yang pas. Karena posisi doorstop harus dari depan. Tidak boleh dari samping atau belakang, seperti saat doorstop pejabat atau publik figur lainnya. Maka yang dicari adalah posisi di depan.

Karena banyak wartawan, jadi kami pun harus bisa cepat-cepatan mendapatkan posisi. Tertinggal sedikit, atau meninggalkan posisi yang sudah ditempati, bisa jadi hanya kebagian di belakang kamera. Tempat yang tidak tepat untuk bertanya ke orang nomor satu di Indonesia itu. Juga tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang disampaikan.

Saat kami siap-siap itu, Pak Jokowi biasanya masih ada agenda non formal, berbincang-bincang terlebih dahulu dengan tamu. Kalau acaranya adalah pelantikan pejabat, maka beliau akan berbincang sejenak dengan pejabat tersebut. Lokasinya tepat berada di depan kami, sekitar 10 meter.

Di depan kami juga, ada meja panjang. Antara meja dan tempat Pak Jokowi berbincang bersebelahan, hanya diberi sekat. Meja itu biasanya menjadi tempat sajian makanan ringan dan minuman, bagi para tamu dan pejabat. Puluhan jenis makanan dan minuman disiapkan di meja itu, tinggal para tamu mengambil saja.

Saat kami menunggu, tiba-tiba Pak Pratik datang membawa beberapa kue yang disimpan di atas nampan. Layaknya pelayan restoran, beliau menyodorkan kue-kue di atas nampan itu ke wartawan yang duduk menunggu di tempat doorstop.


Bukan wartawan tidak doyan makan atau ingin dilayani seperti itu, bukan. Karena jika wartawan mementingkan makan, maka momen doorstop dengan Presiden bisa saja lepas. Kita tidak tahu seberapa lama Pak Jokowi berbincang dengan tamunya. Pernah sangat lama, pernah juga sebentar. Sering kali mau didoorstop, tapi beberapa kali juga tidak.

Maka pilihan bagi wartawan, adalah tetap standby menunggu. Jadi, dahulukan tugas doorstop baru makan kemudian.

Sikap Pak Pratik ini, mengingatkan pada sosok pendahulunya yang juga Mensesneg. Ya, Pak Moerdiono. Beliau fenomenal, lantaran penjelasannya di hadapan media penuh kehati-hatian. Statemennya sangat lambat. Konon, Pak Moer begitu berhati-hati menyampaikan statemen ke media untuk menghindari kesalahan. Jadi terlihat sangat lambat.

Saat masih kecil, Pak Moer selalu tampil di TVRI untuk memberi penjelasan ke publik. Tapi gaya bicaranya yang sangat lambat, justru menjadi cirinya.

Jurnalis senior Kompas, J.Osdar, dalam bukunya Sisi Lain Istana; Dari Zaman Bung Karno sampai SBY menggambarkan sosok Pak Moer dalam bergaul dengan wartawan Istana saat itu.

Era Presiden Soeharto memimpin Indonesia, Presiden tidak punya juru bicara. Sehingga Pak Moer yang menjadi jembatan informasi antara Presiden dengan wartawan Istana. Yang memberi pernyataan-pernyataan pers. Bisa dibilang, kalau dalam konteks sekarang ya Pak Moer yang menjadi ‘jubir’.

Mas Osdar, dalam bukunya itu juga memaparkan bagaimana hubungan Pak Moer dengan wartawan. Di luar kutip mengutip statemen, beliau sering kali berbincang dengan wartawan dan memberi penjelasan mengenai latar belakang suatu persoalan. Tentu tidak untuk dikutip media alias off the record.

Menyampaikan informasi baground sebenarnya cukup bagus. Tentu tidak untuk dikutip media. Agar wartawan juga punya sudut pandang yang utuh menyikapi suatu masalah. Seorang pejabat pernah mengatakan, dulu saat di DPR dia begitu leluasa berbicara, walau belum terlalu mendalami persoalan. Tapi ketika di eksekutif (pemerintahan), tidak bisa seperti itu. Ada informasi yang bisa dibuka, ada yang tidak.

Kadang Pak Moer juga menghampiri wartawan di ruang pers, saat para jurnalis sedang mengetik berita. Kedatangan yang tiba-tiba, membawa suasana humor antara beliau dengan wartawan. Obrolan sering kali juga diiringi dengan hidangan berupa gorengan.

Saat kunjungan kerja ke luar negeri, tak jarang Pak Moer juga menghampiri tempat wartawan yang berada di ekor pesawat. Beliau juga menjadi tempat para wartawan mengadu tentang kondisi, tentang para menteri yang dianggap tidak bersahabat dengan pers.

“Biarkan saja menteri itu menggunakan corong pengeras suara dan putar-putar kota menjelaskan langsung ke masyarakat,” Pak Moer dengan nada bercanda, seperti dikutip dalam buku Mas Osdar.

Kalau Pak Moer adalah seorang menteri yang penggila music dangdut, Pak Pratik suka genre musik apa ya?

 


0 comments:

Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler