![]() |
| Ilustrasi/ Foto AI |
Salah satu problem yang kita hadapi di Bima saat ini adalah penyalahgunaan narkoba. Peredarannya sudah mengkhawatirkan. Tidak mengenal laki dan perempuan, bahkan korban dan pelakunya adalah generasi muda, anak-anak. Kasus narkoba bisanya dibarengi dengan angka kriminal yang makin tinggi.
Masih terngiang diingatan kita saat eks Kapolres Kota Bima diciduk lantaran diduga terlibat peredaran narkoba. Berita ini bahkan menjadi sorotan nasional. Bukan saja kita dibuat malu, tetapi kita makin khawatir dengan nasib generasi di Bima, dana Mbojo. Kita sepertinya gagap menghadapi narkoba ini. Fokus kita dalam memberantasnya terkesan hanya satu arah yakni ke pihak kepolisian saja. Memang, itu sudah menjadi tugas dari institusi ini. Tapi problemnya tidak sederhana.
Masalah narkoba sudah menjadi lingkaran setan, yang harus ditangani dari berbagai sudut. Termasuk dalam menyiapkan generasi yang kemudian akan tegas mengatakan "Tidak pada Narkoba".
Tapi, pernah kah kita berpikir untuk sejenak menengok sejarah, melihat lagi ke belakang, adakah cara yang efektif untuk memerangi barang haram tersebut? Kalau menurut saya, ada! Coba buka lagi buku sejarah terjadinya Perang Ngali dan Perang Dena, yang pecah 1908-1910.
Belajar Dari Strategi Perang Ngali dan Perang Dena
Kemarin, saya meluangkan waktu menjelajah beranda media sosial Facebook. Menjelajah FB, begitu Facebook disingkat, membuat kita sedang berada di kampung halaman, di Bima. Cukup mengobati hati bagi perantau seperti kami yang bertahun-tahun tidak menginjakkan kaki di sana.
Saya tertarik pada salah satu aksi demonstrasi yang dilakukan dengan memblokir jalan utama yang merupakan akse yang menghubungkan Bima dengan Dompu hingga ke Sumbawa. Ternyata demo terkait narkoba. Walau saya sempat berpikir, di mana korelasi tutup jalan dengan tuntutan berantasa narkoba. Tapi saya ambil intinya, yakni keinginan masyarakat agar narkoba diberantas. Pertanyaannya, siapa yang dituntut? Ini demo atau semacam mimbar masyarakat?
Mungkin ada yang jawab, ya kita menuntut polisi memberantas. Lalu, kenapa tidak audiens dengan polisi? Atau begini deh, bisakah kita berkolaborasi antara polisi, pemerintah daerah, masyarakat, aparat desa, generasi muda dan lainnya dalam memberantas penyakit ini?
Mari kita mundur sejenak di awal-awal tahun 1900-an, tepatnya antara 1905-1910. Geopolitik di kawasan Hindia Belanda (Indonesia) sedang panas. Penjajah butuh banyak uang. Maka rakyat di daerah jajahannya yang ditekan. Masyarakat Bima termasuk. Kepemimpinan Sultan Bima dibuat tidak berdaya.
Gelarang (kepala desa) Ngali, Salsa Ompu Kapaa, bersama-sama ulama dan pemuka masyarakat memobilisasi massa menghadapi perang. Saat itu sekira 1908. Desa Ngali (termasuk Dena) diprediksi akan diserang penjajah Belanda karena menolak belasting/ pajak kepala (bea tuta) yang memberatkan rakyat.
Bagaimana mobilisasi massa dilakukan? Masjid dan ceramah-ceramah agama. Itu kuncinya.
Lewat masjid, dilantungkan seruan Allahuakbar, siang hingga malam hari. Ulama mengeluarkan fatwa malawan kafir wajib hukumnya. Di masjid-masjid juga dihidupkan pengajian/ ceramah agama, yang mengangkat kisah-kisah perjuangan Rasulullah menegakkan agama Islam. Di sisi lain, logistik untuk menghadapi perang juga disiapkan.
Pada Maret 1910, Dena juga mempersiapkan diri menghadapi perang. Dari runtutan waktunya, penjajah menyerang Dena setelah perang Ngali terjadi. Di Dena, Gelarang La Kao Ama Huse dan para tuan guru, bersama-sama dengan tokoh masyarakat menghimpun diri. Di Masjid Dena (yang kini bernama Masjid Baitusyuhada) itu, musyawarah (mbolo weki) dilakukan dalam menghadapi serangan Belanda yang dari segi persenjataan tentu saja jauh lebih unggul, lebih modern.
Para pejuang Perang Dena 1910 diberi nama Pasukan Sabil. Masjid Dena menjadi markas perang, tempat merumuskan strategi peperangan oleh seluruh elemen masyarakat, yang dipimpin oleh umaroh dan ulama. Yang terlibat, dari gelarang (pemimpin desa), tuan guru atau ulama, hingga orang-orang pintar seperti yang kebal senjata, pun bersatu merumuskan agenda perlawanan di masjid itu.
Belajar dari sini, rasanya perlu juga menerapkan strategi yang pernah terjadi di Perang Ngali dan Perang Dena, dalam konteks sekarang. Anggaplah narkoba adalah penjajah Belanda. Untuk melawannya, bisa memanfaatkan masjid/ mushola seperti di Perang Ngali dan Dena. Masjid tidak saja sebagai tempat ibadah, tetapi tempat membangun strategi menghadapi penjajah, yakni narkoba.
Ceramah-ceramah agama mulai diintensifkan dengan mengangkat isu-isu narkoba. Ulama perlu mengkaji dan bermusyawarah, mbolo weki, mengakaji kesesatan dan keharaman narkoba dalam perspektif agama dan sosial. Mimbar-mimbar masjid, mimbar jumat, tidak salah juga untuk terus mengungkit bagaimana rusaknya umat, rusaknya lingkungan dan bobroknya akhlak manusia dan generasi, saat mereka sudah terlibat dalam narkoba.
Forum-forum pengajian hingga lembaga pendidikan semua level, dari PAUD hingga sekolah menengah atas, harus menguatkan narasi bahaya narkoba. Pengguna narkoba pasti butuh uang untuk membeli barang. Bila uang tidak ada, jalan keluarnya pasti mencuri. Mencuri adalah tindakan yang sangat dilarang agama, juga bentuk kriminal dalam perspektif hukum kita. Narasi-narasi seperti ini penting untuk diviralkan agar masalah narkoba tidak lagi sebatas obrolan gosip-gosip, tidak lagi sekedar disuarakan monologi di atas mobil aksi demo. Tapi strategi dalam membangun pemahaman ke masyarakat dengan menjadikan narkoba sebagai musuh bersama (public enemy), adalah langkah penting yang berdampak jangka panjang.
Mari kita perhatikan, pihak mana saja yang terlibat dalam perang baik Perang Ngali maupun Perang Dena. Pertama adalah gelarang sekaligus pemimpinnya, kedua adalah ulama (tuan guru), ketiga adalah tokoh masyarakat. Bila memang narkoba kita ibaratkan penjajah belanda, apakah salah kalau pihak-pihak di atas juga ikut bersama-sama memerangi narkoba!?
Saya berasumsi, kita punya 'pasukan' yang besar sekarang, komplit dan dengan logistik yang lebih baik. Saat Perang Ngali dan Perang Dena, para leluhur kita bisa merepotkan Belanda, kenapa sekarang kita tidak optimis bisa memerangi narkoba? Bahkan saat Perang Ngali, Belanda butuh 3 kali melakukan serangan, itupun karena mereka dapat bala bantuan ribuan pasukan termasuk dari daerah-daerah lain.
Sudah saatnya, kelompok pengajian dan masjid-masjid mengangkat tema bahaya narkoba dan pentingnya kolaborasi, kasama weki, dalam mempersempit hingga menghilangkan peredaran barang haram itu dari dana Mbojo.
Lingkungan yang tidak perduli satu sama lain, pada dasarnya membuat peredaran narkoba semakin leluasa. Lingkungan yang demikian yang disenangi narkoba dan antek-anteknya. Bayangkan, kita tahu di sekitar lingkungan ada yang pecandu atau bahkan pengedar, dan kita cuek. Sikap itu justru membuat suburnya peredaran narkoba, masifnya pengguna dan leluasanya para pelaku.
Lingkungan desa seharusnya punya keunggulan lebih dalam memerangi narkoba. Adalah sikap kekeluargaan, gotong royong dan kepedulian sosial yang tinggi, ini sudah menjadi modal kuat dan besar. Ini saja sudah menjadi modal besar untuk melawan peredaran narkoba. Jangan lagi menyembunyikan kalau ada di lingkungan kita yang terlibat.
Jangan karena acuh tak acuh kita tapi sebenarnya membuat peredaran narkoba terus hidup. Kita belajar dari sejarah. Dengan sejarah itu, di situlah identitas orang Bima. Perang Ngali dan Perang Dena, ini setidaknya memberi gambaran yang cukup tegas bagaimana identitas kita, dou Mbojo. Yakni tegas dalam sikap, memiliki prinsip yang kuat, bermental pejuang, hidup berlandaskan agama dan nilai-nilainya, serta rasa solidaritas (kasama weki) yang kuat.
Secara kasat mata kita bisa memastikan bahwa masuknya narkoba sebagai penjajah adalah ingin mengaburkan dan menghilangkan identitas kita. Sama seperti penjajah saat Perang Ngali dan Perang Dena, menghilangkan identitas masyarakat dan Kesultanan Bima yang identik dengan religiusitas. Hukum hadat dan hukum Islam yang sudah menjadi dasar hukum kehidupan bermasyarakat saat itu, diganti dengan hukum Belanda.
Perang melawan narkoba, hemat saya harus dilawan dengan kolaborasi seluruh elemen, belajar dari strategi perang di Ngali dan Dena. Mungkin saatnya mengurangi koar-koar, dan mulai membangun aliansi dan strategi bersama. Ini tidak mudah, tapi langkah ini terasa ringan bila semua bersama-sama, kasabua weki. Kalembo ade...
Fastabiqul khairat
Agus Rahmat/ jurnalis
Referensi tulisan:
Djakariah, Achmad. (1991). Sekilas Perang Dena. (Belum percetakan/ Ketikan manual mesin ketik)
Tajib, Abdullah. (1995). Sejarah Bima Dana Mbojo. Harapan Masa PGRI Jakarta.

Comments