Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Monday, June 24, 2019

Foto Biro Pers Sekretariat Presiden

Tepat 25 Juni 1936, tepat 83 tahun lalu, pria yang biasa disapa Rudy, itu dilahirkan. Nama aslinya Bacharuddin Jusuf Habibie. Dari seorang ibu bersuku Jawa dan ayah yang Sulawesi.

Bagi saya, lahirnya beliau adalah titik awal yang penting bagi Indonesia dalam menapak perkembangan teknologi. Bagaimana tidak, dengan kemampuan intelektualnya yang tinggi, ia berhasil memukai negara Eropa seperti Jerman, tempat ia menuntut ilmu hingga sempat mengabdi di industri kedirgantaraan di sana.

Presiden RI ke-2 Soeharto, memanggil Rudi muda untuk mengabdi. Cita-cita Rudi cuma ingin, agar pemerintah memperhatikan industri dirgantara, pembuatan pesawat. Pak Harto mengamini, hingga kemudian ia mengabdi ke Indonesia. Selama Orde Baru, pria yang kemudian lebih akrab dipanggil Habibie itu, tidak tergoyahkan posisinya sebagai Menteri Riset dan Teknologi atau Menristek.

Pesawat N-250 yang mulai terbang 1995, adalah buah pengabdian dan kerja kerasnya dalam membangun Indonesia. Walau akhirnya keinginan membawa Indonesia sebagai salah satu produsen pesawat dunia kandas, lantaran krisis ekonomi 1997-1998.

Itu sekelumit kisah beliau yang setidaknya sudah menjadi pengetahuan umum. Namun kisah itu tidak berhenti. Meski pertanggungjawabannya sebagai Presiden RI menggantikan Pak Harto yang berhenti, ditolak oleh DPR pada 1999, tapi beliau tetap tak tergoyahkan dalam mengabdi untuk Indonesia.

Jumat siang, 24 Mei 2019 lalu, Eyang Habibie, begitu mungkin layaknya kami generasi muda memanggilnya, menemui Presiden Joko Widodo. Berbatik coklat, eyang sempat menunggu di ruang, tak lama Pak Jokowi menghampiri.

Senyum khasnya terlihat dari jauh, dari sudut sempit bagian pintu yang terbuka. Eyang tampak menghormati Pak Jokowi, sebagai Presiden RI, begitu juga sebaliknya.

Sebulan jelang ulang tahunnya ke-83, eyang tetap seperti biasa. Tampak sehat, bugar, berjalan beriringan dengan Pak Jokowi. Lebih kurang 30 menit kedua tokoh beda generasi itu, bercengkrama.

"Anda ini anak dari cucu intelektual semua. Nah kalau mau anggap saya berhasil, anda juga harus lebih hebat dari pada saya. Itu tolak ukurnya," kata Eyang Habibie kepada kami. Beliau menjelaskan dengan penuh semangat, khas seorang BJ Habibie.

Saya hampir tidak melihat, sikap pesimis dari beliau. Baginya, generasi sekarang adalah ujung tombak untuk seterusnya. Eyang memberi semangat bahwa kita generasi yang ikut menentukan Indonesia ke depan.

Berpikiran sehat, berjiwa sehat, terlihat jelas dari kata demi kata yang eyang ucapkan ke kami.

"Saya bulan depan (Juni) sudah 83 (umur). Sepuh ya," katanya sembari tersenyum.

Sehat eyang?, tanya kami.

"Sehat. Sehat nggak kelihatannya," beliau melanjutkan, dengan senyum yang selalu memancarkan optimisme di hati para generasi, para cucu-cucunya itu.

Selamat ulang tahun Eyang BJ Habibie. Angka 83 bukanlah angka yang muda lagi bagi usia umat manusia. Tapi eyang Habibie terlihat lebih muda dari sekedar angka itu.

Thursday, June 6, 2019

Sekitar 2009 akhir, nekat kembali ke Ibukota Jakarta. Bukan pertama kali, namun kesekian kalinya baik sebelum menyandang gelar sarjana maupun sesudahnya. Sebelumnya mencoba peruntungan di Madura dan Kediri.

Hampir satu tahun, hingga diberi kesempatan bekerja di perantauan yang katanya Ibukota lebih kejam daripd ibu tiri. Entahlah.

Semenjak itu, mudik lebaran yg katanya adalah tradisi, seolah bukan menjadi tradisi bagi saya. Orang-orang mudik, berdesakan antri beli tiket di Stasiun Senen (sebelum sistem online masuk, yg membuat tradisi antri dan bermalam hanya untuk antri), terminal antarkota antarprovinsi, hampir meluber melayani pemudik menuju luar Jawa. Saya dan kebanyakan yg lain, hanya bisa melihat dan meliput.

Bukan tidak mau pulang. Bukan tidak rindu. Bukan itu yang menjadi alasan.

Hingga 2017, keluarga besar di Jabodetabek yg juga anggota arisan, menggelar mudik yg kami sebut 'Lamba Rasa' (menyambangi kampung halaman). Lamba Rasa menggunakan bus, kami menyewa bus besar untuk puluhan keluarga. Untuk pergi ke Bima dan lanjut pulang. Butuh tiga hari perjalanan, begitu juga baliknya.

Tapi saya tak bisa ikut di bus, karena sudah berangkat dari Jakarta pada sekitar H-5 Ied Fitri 2017. Saya masih harus bertugas. Dan H-1 baru bisa pulang menggunakan pesawat.

Takeoff dari Soekarno-Hatta malam hari, baru tiba di Bandara Internasional Lombok NTB sekitar pukul 22.00 WITA. Sudah sampai rumah? Belum!! Butuh 45 menit lagi menggunakan pesawat kecil baling baling atau ATR. Atau kalau mau darat, butuh sekitar 7-8 jam, masih menyeberang Pelabuhan Khayangan Lombok Timur ke Poto Tano Sumbawa yg memakan waktu sekitar 2 jam.

Semua alternatif itu, tidak bisa digunakan. Pesawat ke Bandara Sultan Salahuddin Bima hanya ada flight pagi dan siang. Pesawatnya pun terbatas. Jadi alternatif ini gugur, harus menunggu keesokan harinya. Alternatif darat atau bus pun gugur, karena keberangkatannya siang hingga sore.


Jadilah menginap di salah satu hotel, yg letaknya di pusat kota. Itupun atas kebaikan teman kuliah yg kini menjadi wartawan di negeri seribu masjid itu.

Saya baru bisa flight ke Bima sekitar pukul 14.00 WITA dan landing hampir sejam kemudian, di hari H Ied Fitri 2017 M. Sore di Bima, kamping halaman, nuansa lebaran hampir sudah selesai. Tak sedikit yang kembali beraktifitas di sawah, atau menghabiskan waktu di tempat wisata.

Hanya sekitar 3 hari di kampung, harus kembali ke Jakarta. Lebih cepat, karena menggunakan bus dengan rombongan keluarga besar yang memakan waktu 3 hari. Itulah sekelumit (bukan) tradisi mudik, bagi saya.

Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler