Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Friday, May 26, 2017

Ketika itu, sekitar tahun 1998, dan saya masih duduk di kelas 2 SMP. Entah kebetulan atau tidak, memang sedang musim sakit karena beberapa tetangga juga terkena. Yakni panas badan yang tinggi. Demam berdarah, menjadi momok saat itu.

Walau badan panas, saya masih bisa bergerak dari kamar ke ruang tamu, untuk sekedar menonton tayangan televisi. Kabar soal kondisi krisis, aksi-aksi demo, santapan ku di depan layar 21 ince saat itu.

Karena saran dari beberapa tetangga, saya di bawa ke RS di kecamatan, tepatnya kecamatan Bolo Babupaten Bima, NTB. Setelah pemeriksaan darah yang lumayan mendebarkan, akhirnya saya divonis terkena demam berdarah. Rawat inap juga akhirnya.

Ketika itu, bulan Ramadhan. Entah berapa hari saat itu dirawat. Kondisi saya semakin parah, sehari sebelum lebaran. Hanya bisa mendengarkan kumandang takbir, tahlil dan tahmid dari ruang perawatan.

Ilustrasi
Saat itu, saya ditempatkan di ruang kelas III. Jadi campur baur dengan pasien lain yang dirawat inap.

Banyak pengunjung yang datang. Namun saat itu, saya merasakan keanehan. Tiba-tiba, saya merasa dingin yang luar biasa, dari ujung kaki hingga kepala. Saya sampai menggigil, seperti berada di himpitan salju.

Tak kuasa menahan kedinginan, saya merintih dan meminta beberapa potong sarung. Begitu ditutupi dengan dua hingga tiga sarung, tapi ternyata masih dingin juga. Saking dinginnya yang tak terkira, membuat saya berontak.

Beberapa keluarga termasuk kedua orang tua memijit-mijit seluruh badan saya. Rasanya tidak mempan, aku tambah merasa dingin yang luar biasa. Aku teriak-teriak, yang menurut keluarga setelah saya sembuh teriakannya kencang sekali. Tak ayal, semua yang ada di ruangan terutama keluarga, takut dan sedih. "Mungkin, kini saatnya aku menghadap-Nya", begitu kira-kira pikiran mereka.

Saya membuka mata. Astagfirullah, yang saya lihat adalah orang-orang disekeliling sudah tidak berwajah manusia lagi, tapi seperti hantu. Yang jelas, muka mereka menyeramkan.

Melihat itu, saya semakin meronta. Bukan karena tubuh ini yang sedari tadi kedinginan, tapi juga takut dengan muka mereka. Ketakutan yang semakin menjadi-jadi melihat wajah mereka seperti itu, membuat saya meludahinya, meminta pergi. Entah apa yang terjadi setelah itu, saya sudah tidak sadarkan diri.

Dalam ingatan saya kala itu, sempat muntah. Kata mama, yang saya muntah itu adalah darah, dan sangat banyak. Saat itu, mama mengaku sudah tidak ada harapan lagi bagiku untuk hidup. Orang-orang meminta ibu untuk bersabar. Sementara aku terus meronta-ronta.

Malam itu juga, saya diputuskan untuk dibawa ke RSUD Kabupaten. Jaraknya lumayan jauh.

Ambulance sudah menunggu, dan saya dipindahkan dari kamar perawatan itu menuju ke mobil. Di sini kisah yang membuat saya bertanya-tanya apakah aku mati suri atau tidak?

Dalam perjalanan dari ruangan menuju ambulans, tentu saya sadar. Mata saya rasakan terbuka, walau terlihat gelap. Namun, saya merasa berada di bawah tanah dan berusaha hendak naik ke atas.

Antara sadar dan tidak sadar, saya merasakan dikejar-kejar seekor ular kobra besar. Dari perangai si kobra itu, binatang mematikan itu hendak mematuk.

Kobra itu terasa sangat cepat. Saya mencoba menghindar, tentu dengan teriakan-teriakan. Terus menghindar dan menghindar, dan sekuat tenaga untuk secepatnya bisa naik ke permukaan tanah.

Rasanya sangat lelah, habis energi. Hanya pasrah kala itu yang saya lakukan. Si kobra semakin dekat, dekat dan benar-benar berada di depan mata. Tinggal dia mematok saja. Hingga saat kobra itu ingin mematok, saya merasakan ditarik ke atas. Sedikit cahaya terlihat, ternyata saya sudah diangkut ke dalam ambulans.

Agak lega, karena selamat dari racun kobra yang mematikan. Ambulans melaju, namun saya merasa tetap berada di bawah tanah, gelap, itu yang saya rasakan.

Di dalam ambulance itu, saya muntah darah lagi. Kali ini jauh lebih banyak. Saya bisa merasakan sisa-sisa darah menempel di bibir.

Dalam perjalanan itu, yang saya alami antara nyata dan tidak, tapi saya merasa masih sadar. Tiba-tiba, saya ditahan oleh sekelompok pasukan. Tidak terlihat jelas muka mereka.

Ada lebih dari 10 orang yang ditawan, diikat tangannya. Termasuk saya. Dalam keadaan seperti itu, datang seorang pasukan yang ternyata berperan sebagai eksekutor. Kami yang diikat itu, dipersiapkan untuk dibunuh. Saya bisa menyaksikan mereka, yang deretannya di awal dari saya, dibunuh.

Spontan, saya teriak-teriak. Entah saya orang ke berapa untuk selanjutnya mendapat giliran eksekusi. Saya teriak sejadi-jadinya agar tidak dibunuh.
“jangan bunuh aku,” begitu kira-kira saya berteriak kala itu. Seorang yang mendampingi eksekutor, meminta saya di langkahi dulu, untuk selanjutnya beralih ke orang yang di samping saya.

Lega rasanya, Saat itu, saya berusaha meloloskan diri dan bisa. Saya lari sejadi-jadinya, kencang dan semakin kencang, menghindar dari tempat eksekusi itu.

Ketika berlari, saya temui sebuah sungai. Saya merasa, ada di pinggir sungai yang ada di kampung, Desa Dena. Namun ini lebih besar, dan rindang pepohonannya. Saya berlari dipinggirnya sembari melihat-lihat ke seberang sungai.

Beberapa orang terlihat di seberang. Hanya tidak bisa saya jangkau, tidak ada jembatan. Dari pelarian ini juga, saya melihat secercah sinar yang kilau. Dalam beberapa kisah orang mati suri, ada beberapa juga yang melihat sinar seperti itu.

Sinar yang kilau itu, saya lihat ada di seberang sana. Terus saya telusuri pinggir sungai, berharap ada jembatan.

Saat itu, saya merasa ada suara yang memanggil-manggil. Betul, ternyata itu sesosok yang saya kenal. Dia tetangga rumah, yang berdiri di dekat sinar itu.

Sembari terus melihat ke seberang, aku juga terus berjalan mencari jembatan. Rasa takut, masih terus berkecamuk. Hingga kemudian, beberapa suara kembali muncul.

Kali ini, saya melihat muka mereka, orang-orang yang ada di seberang sana, tidak lagi menakutkan. Tidak lagi seperti hantu yang menyeramkan, yang terlihat diawal cerita ini. Walau belum terlalu sempurna, saya sudah bisa mengenali wajah-wajah itu.

Dalam kebingungan itu, saya membaca ayat-ayat pendek AlQuran. Bahkan, dengan lancar, surah Yasin yang panjang itu, tiba-tiba terhafal kan. Padahal, saat masih sehat rasanya tidak pernah saya bisa menghafal surah itu.

Begitu tiba di RSUD Bima, tubuh rasanya mulai normal, dari pengalaman-pengalaman aneh sepanjang jalan itu. Lebih kurang seminggu saya dirawat.

Keluar RSUD pagi hari, tiba-tiba sorenya terlihat berita kalau di Bima juga terjadi kerusuhan dan penjarahan, hal sama terjadi di Ibukota dan beberapa daerah lainnya jelang Reformasi 1998 itu.

Tuesday, May 16, 2017

Selasa 16 Mei 2017 pagi, awalnya sudah kepikiran liputannya lebih santai. Pak Jokowi dari Tiongkok, langsung ke Palu Sulawesi Tengah untuk membuka Kongres PMII.

Kepikiran 'paling Pak Jokowi ke Jakarta sore atau malam, lalu istrahat'. Walau kita juga sangsi, melihat cara kerja orang nomor 1 di Indonesia itu yang hard worker banget.

Ternyata benar. Pak Jokowi ketemu ulama lagi, begitu info yang masuk. Hingga siang sekitar pukul 12.00 WIB, Kabiro Pers Pak Bey men-share agenda dadakan bahwa Pak Jokowi ketemu tokoh lintas agama.

Oke, bergegas sebelum siang bergerak menuju Istana. Setidaknya harus lebih cepat, agar bisa mencegat tamu-tamu itu, mewawancarai mereka, atau sekedar mengetahui diawal siapa saja tokoh-tokoh itu.

Pukul 13.30 WIB, staf Biro Pers Istana menghampiri ke bioskop (sebutan untuk presroom Istana) yang baru direnovasi (cie cie).

Dua tokoh yang familiar bagi kami, terlihat sudah tiba. Yakni Sekjen PBNU Hilmy Faisal Zaini dan Ketua MUI KH Ma'ruf Amin. Lebih kurang pukul 14.35 WIB, kami yang sudah menunggu di depan pintu belakang Istana Merdeka, dipersilahkan untuk masuk.

Seperti biasa, mengambil foto dan video, merekam percakapan pembukaan, dan mencari tahu siapa-siapa saja yang datang. Sempat terkaget, Presiden Jokowi didampingi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Pak Gatot dan Pak Tito mendampingi Presiden Jokowi. Foto: Biro Pers Istana
Jarang sekali atau bahkan tidak pernah, dalam pertemuan-pertemuan seperti ini didampingi oleh beliau berdua. Paling tidak, ada Mensesneg atau Seskab atau menteri terkait. Belakangan baru tahu, Menteri Agama sedang di luar kota.

Oke, fokus pada Pak Gatot dan Pak Tito. Kedua jenderal ini, dikenal irit bicara dan cenderung 'menghindari' pers. Beliau berdua, biasanya keluar Istana melalui pintu depan dekat masjid, atau yang biasa kami sebut 'lewat wisma' (karena memang dekat Wisma Negara), sehingga tidak harus melalui kerumunan wartawan kalau keluar melalui pintu belakang Istana Negara.

Kesempatan ini ditunggu-tunggu. Hingga akhirnya, saat kami turun dari tangga Istana Merdeka, berpas-pasan dengan keduanya. Seperti prediksi, beliau berdua menolak diwawancara. Keduanya memotong jalan, menuju Masjid Baiturrahim yang ada di sisi barat Istana Merdeka. Waktu memang sudah masuk Ashar, sekitar pukul 16.00 WIB.

Pak Tito dan Pak Gatot hendak sholat ashar. Foto: koleksi pribadi
Tripod kamera televisi langsung standby. "Kita jaga aja lah ya, siapa tahu mau diwawancara," celoteh seorang teman, berharap. Pak Tito dan Pak Gatot, nampak sambil berbincang ketika melepas sepatu untuk wudhu.

"Siapa kira-kira imamnya?" tanya seorang teman.
"Pak Tito kayaknya," jawab seorang lagi.

Ini karena dalam beberapa kesempatan lalu, juga beredar foto mereka berjamaah, tapi yang imam adalah Pak Tito. Hanya bedanya, kini kami tidak bisa mendekat, hanya dari luar masjid.

"Kalau secara umur sih Pak Gatot yang imam," kata seorang merujuk tahun angkatan beliau berdua.

"Tapi kalau Pak Tito lebih fasih, seperti di Muhammadiyah juga nggak harus yang tua yang jadi imam," seorang lagi berkomentar.

Hingga prediksi 'Pak Tito Dan Pak Gatot, Siapa Jadi Imam?' ini buyar saat seorang anggota Paspampres mempersilahkan kami semua untuk tidak berada di tempat itu. Kami pun bergegas.

Lalu, siapa yang jadi imam-nya, Pak Gatot atau Pak Tito? #TungguFotonyaBeredar

Monday, May 15, 2017


Entah apa yang dipikirkan oleh dua perempuan, hingga mereka berkelahi dan saling jambak rambut di kereta listrik atau KRL.

Dari video yang beredar, nampak dua orang perempuan saling jambak rambut saat KRL berjalan. Aksi ini, membuat suasana di gerbong itu riuh. Ada yang berteriak menyorak dan mengejek keduanya, ada juga yang minta berhenti.

"Udah udah," kata seorang perempuan sembari berusaha merelai keduanya.

"Udah, malu tahu," kata seorang lagi.

Sementara yang lainnya, terdengar mengejek dengan "huuuu,". Video berdurasi 41 detik itu, tidak diketahui kapal persis kejadiannya. Termasuk, masalah apa yang membuat keduanya saling jambak.

Dalam video itu juga memperlihatkan, kejadian itu diperkirakan di gerbong khusus perempuan. Karena tidak terlihat laki-laki.

Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi kapan video ini diambil. Termasuk siapa kedua perempuan itu.

Saturday, May 6, 2017

Judul ini 100 persen persis dengan tulisan Ketum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak. Bercerita tentang ratusan petani di Kabupaten Karawang, yang akrab dikenal Teluk Jembung, yang terusir dari tanah yang sudah mereka tempati puluhan tahun, oleh sebuah perusahaan.

Sempat ramai kisah mereka mempertahankan kehiduapnnya di Karawang. Mereka tidak berdaya, karena mereka hanya orang kecil. Bingung mengadu karena aparat dan pemerintah cenderung tidak berpihak, hingga terdampar di Jakarta berharap secercah harapan.

Hingga pada Rabu 3 Mei, perwakilan para petani yang sudah lebih kurang dua bulan ditampung di Panti Asuhan Muhammadiyah Tanah Abang Jakarta Pusat, dipanggil Presiden Joko Widodo.

Ada segenggam harapan mereka, untuk kembali ke tanah, tempat mereka menggantungkan hidup dan membiayai hidup selama ini.

"Beliau (Presiden Jokowi) siap menyelesaikan konflik agraria yang ada di Karawang. Tapi tidak bisa disebutkan, dia butuh tiga hari," kata Ketua Umum Serikat Tani Teluk Jambe Bersatu Maman Nuryawan.

Ketua Umum Serikat Tani Teluk Jambe Bersatu, Maman Nuryawan.
Mengadu ke Jokowi, rasanya menjadi jalan pamungkas untuk menggantungkan harapan. Saking bingungnya mereka akan nasib sendiri, pun mereka lebih memilih untuk dibom saja.

"Harapan kami mending ditaroin bom dikumpulin gitu, biar jelas (kalau tiga hari tidak ada kejelasan). Hidup enggak, mati enggak kalau kayak begini. Masa jadi pengemis di Jakarta kayak gini. Kami ini warga negara mbok ya dilayakkan seperti yang lain," kata salah satu warga bernama Budiono.

"Harapan kami sudah ada keputusan lah Insya Allah. Kami yakin Pak Jokowi ada kebijaksanaan untuk rakyat,".

Budiono, salah satu warga Teluk Jambe Karawang usai ketemu Jokowi

Berikut cerita Dahnil Anzar Simanjuntak, usai melepas para petani menuju Karawang, tanah kelahiran dan hidup mereka:


Petani Karawang, Muhammadiyah dan Presiden

Perjalanan Garut-Jakarta melelahkan. Macet. 
Getar Telpon Genggam mengganggu ridur dalam laju mobil kendaraan.
Oh Panggilan masuk Dari aktivis LBH Jakarta.

"Mas Dahnil, bisa bantu 220 petani karawang yang butuh tempat penampungan Mas? Kami berharap bisa ditampung Muhammadiyah"

Nah lho. Saya terdiam. Memandangi si Kholis, Bendum PP IPM yang jadi Supir kami saat itu, dan si Putra, Bendum PPPM yang lagi makan Dodol Garut di kursi belakang. Abrar, Ketua PPPM yang terdengar mendengkur dalam tidur pendeknya. Bujang lapuk yang sekarang tak lapuk lagi.

"Tunggu ya, Saya coba". Jawab ku.

Saya berdiskusi dengan Kholis, abrar, Putra dalam laju mobil menuju Jakarta. "Tampung aja bang, kata Putra". "Tampung di PP Muhammadiyah?" Lanjut ku. "Emang punya kita?. Kita ndak punya wewenang mengizinkan atau tidak". Sedangkan ini harus cepat.

Getar Telpon genggam lagi. Ternyata dari Farid, Salah satu Sekretaris PPPM. Farid intens mendampingi petani Karawang bersama istrinya sejak lama. "Bang, petani Karawang ini butuh tempat, mereka gak tahu mau kemana lagi. Bagaimana bang?"

Akhirnya Saya jawab " Mas Farid, ya Sudah di Gedung dakwah Ada Cak Faisal, Ajak dia pimpin 220 petani itu ke Gedung dakwah Muhammadiyah, kan ini waktu shalat maghrib, jadi Masuk saja ke gedung dakwah kemudian menuju masjid, Bilang saja mau shalat Maghrib berjamaah, setelah itu istirahat sambil menunggu shalat Isya, kemudian istirahat lagi Sambil menunggu shalat shubuh dan seterusnya, sampai gak mau shalat di masjid itu lagi. Paham ya maksud Saya". "Paham bang" kata Farid. " Tapi bang, mereka lapar semua, belum makan sejak pagi" "Ok, kita atur" kata ku.

Jadilah, petani dipimpin Cak Faisal, Farid dan kawan2 LBH serta relawan-relawan lainnya menuju Gedung Dakwah Muhammadiyah. Ternyata diperjalanan mereka diberhentikan oleh Polisi, tidak boleh menuju ke Muhammadiyah, akhirnya Cak Faisal bernegoisasi, dan perjalanan dilanjutkan. 

Tiba di depan gerbang Muhammadiyah, Menteng Raya 62. Ternyata di Gedung Dakwah Sudah dipenuhi dengan Polisi. Usut punya usut, ternyata sedang Ada acara Maarif Institute yang meminjam Gedung Dakwah Muhammadiyah dengan Mengundang Menko Kemaritiman menyampaikan Pidato bersama Buya Syafii Maarif, tentang Kebhinekaan stai keberagaman mungkin.

Akhirnya, para petani yang dipimpin Mas Farid dan Cak Faisal, dilarang Masuk. Cak Faisal, Ketua Bidang Hukum PPPM Hasil ressuflle ini, bersitegang dengan Polisi, yang akhirnya petani boleh Masuk menuju Masjid, namun bertahap.

Pemuda Muhammadiyah mau Masuk ke Rumah sendiri kok diatur oleh tamu dan penjaganya.:.hehehehe. Tapi, Wes lah ora opo-opo.

Selanjutnya, dalam perjalanan, Saya menelpon Mas Fuji, Kepala Kantor PPPM untuk membelikan makanan sebanyak 250 bungkus. "Bang, uang kas lagi gak ada" nah lho. Putra, bendahara umum PPPM, mengatakan. Iya bang, belum dicairkan yang untuk petty cash. Aduuuh. Terus bagaimana?. "Saya Suruh Fuji pesan aja ya bang?". Nanti kita bayar. "Ok" pungkas ku.

Kami Tiba di Gedung Dakwah Muhammadiyah, wow, banyak Polisi ternyata. Tapi, dalam Rangka mengawal Menko Maritim yang Sedang ceramah tentang Kbhinekaan, di acara Maarif Institute bersama Buya Maarif. Pasti diskusi yang menarik. Gumam ku. 

Namun, Saya dan kawan-kawan memilih berjalan ke masjid menemui 250 petani Karawang yang Sudah menumpuk di Masjid. Dan, ternyata makanan yang dibeli Fuji belum Tiba. Akhirnya, kami kebetulan membawa banyak Dodol garut, buah tangan yang diberikan Pak Atok, pemilik pabrik Dodol picnic Garut. Semua Dodol itu kami serahkan kepada petani sebagai pengganjal lambung, sampai Tiba nasi bungkus.

Singkat cerita. PP Muhammadiyah, mengizinkan Petani Karawang untuk tinggal sementara di Gedung Dakwah Muhammadiyah, dan kemudian memindahkan penampungan mereka ke Panti Asuhan Muhammadiyah Tanah Abang. 

Kurang lebih 2 Bulan mereka menetap disana dengan bantuan banyak relawan, baik dari Ortom Muhammadiyah, Rumah Sakit Muhammadiyah, sampai organisasi diluar Muhammadiyah. Banyak relawan yang tidak bisa Saya sebutkan satu-satu namanya. Ruhut Ikhlas dan Jihad selalu hadir dihati mereka.

Dua hari jelang Pillada DKI Jakarta, Saya bersama beberapa Tokoh Islam di Undang Bapak Presiden Joko Widodo di Istana Presiden. Pada Pertemuan tersebut, salah satu Hal yang disampaikan Pak Presiden adalah terkait dengan Redistribusi Lahan. Nah, Tiba Saya berbicara, Saya menyampaikan kepada pak Presiden.

"Pak Presiden, program redistribusi Lahan adalah program yang bagus sekali, pro mustadafin, dan kami mendukung penuh. Termasuk keinginan Pak Presiden meminta ormas bisa juga memamfaatkan program ini untuk kepentingan jamaah Masing-masing. Namun, Pak Presiden Izinkan Saya menyampaikan, Muhammadiyah sejak Awal berdiri ingin memastikan menghadirkan Islam yang menjadi solusi bagi kehidupan, Islam untuk orang hidup bukan Islam untuk orang mati. Sekarang ada 250 petani Karawang yang kami tampung kehilangan tanah mereka, maka mohon dahulukan mereka, Muhammadiyah tidak juga tidak Apa. Asal mohon selesaikan masalah petani Karawang ini"

Beberapa hari kemudian, Pak Mensesneg Pratikno bertemu dengan Saya dan menyampaikan bahwa Presiden Akan menuntaskan masalah Petani Karawang tersebut.

Kemarin, tepat 6 Mei, Pak Pratikno mengirimkan pesan WA Singkat kepada Saya, " Mas, masalah petani Karawang Sudah diselesaikan Pak Presiden dengan maksimal ya".

Betul, Pak Presiden memerintahkan Menteri Pertanahan dan Menteri Sosial untuk menyelesaikan segera. Petani dijanjikan Menteri Pertanahan Akan kembali ke Lahannya dan Akan di buat kan sertifikat dalam jangka waktu 2 Bulan ke depan. mensos Khofifah pun berjanji selama waktu menunggu lahan dan sertifikat tersebut para petani Akan diberikan uang bantuan perbulan.

Para petani menolak kembali ke Karawang, Bila ditampung di Rumah Susun yang pernah mereka tempati dan akhirnya diaabaikan oleh Pemkab Karawang. Akhirnya, Menteri meminta Bupati, agar petani ditampung sementara di Rumah Dinas Bupati.

Alhamdullilah, Akhirnya Siang ini Petani Karawang Akan kembali ke penampungan sementara mereka di Rumah Dinas Bupati sessuai janji. Mudah-Mudahan ditepati oleh pemerintah seperti yang mereka sampaikan kepada kami.

Tadi malam, para petani Karawang datang ke pengajian rutin PP Muhammadiyah dan berpamitan langsung ke Pak Haedar dan PP Muhammadiyah.

Tengah malam tadi, mereka juga berpamitan dengan Saya untuk kembali ke Karawang, bahagia dan haru bercampur Aduk. Ditambah lagi yang lebih mengharukan, Kang Maman dan petani Karawang mengatakan kepada Saya. 

" Bang Dahnil, Nanti klo kami Sudah kembali dapat lahan, kami Akan undang Bang Dahnil untuk meresmikan Ranting Muhammadiyah Teluk Jambe yang Akan kami dirikan bersamaan dengan tanah wakaf untuk Masjid Muhammadiyah di Teluk Jambe nanti". 

Saya tidak bisa Menahan haru untuk bagian ini. Bagi Saya tidak ada yang lebih membahagiakan selain, semangat baru menggembirakan Dakwah Muhammadiyah melalui lahirnya Ranting Muhammadiyah dari petani-petani yang Ketika pertama kali datang ke Saya dituduh PKI itu.

Terimakasih Pak Presiden Atas kepekaannya, semoga Pak Presiden sehat selalu, dan bisa berpihak kepada Rakyat miskin Pada semua kebijakan yang bapak buat, dan menolak tunduk dengan para bandit yang rakus.

Salam
Dahnil Anzar Simanjuntak (Anin)
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah

Tuesday, May 2, 2017

Ada saja beberapa teman yang menghendaki saya untuk menyudutkan, atau tepatnya memburuk-burukkan Indonesia, karena hasil pilkada Jakarta dan berbagai hiruk pikuk yang terkait dengannya. Teman-teman saya itu menginginkan saya untuk mempropagandakan jika Indonesia saat ini berada di jurang radikalisme, yang boleh saja akan berakhir tragis seperti Irak dan Suriah.

Imam Shamsi Ali
Propaganda tentang Indonesia krisis radikalisme saya dengar di mana-mana. Persis ketika saya berada di Indonesia mendengar di mana-mana jika Amerika itu adalah musuh utama Islam. Saya berkali-kali mendengarkan hal seperti itu di berbagai diskusi, bahkan diskusi yang layaknya cendekia seperti di think tank, universitas, dan kelompok cendekia lainnya.

Sejak zaman presiden Bush Jr, presiden yang memulai "so called war on terror" dengan menyerang Afghanistan lalu Irak. Presiden yang memporak porandakan negara lain karena nafsu perangnya. Saya sejak itu juga selalu membela Amerika sebagai negara toleran.

Gesekan-gesekan sosial yang terjadi itu adalah fenomena wajar dalam perjalanan sebuah bangsa. Bahkan saya pernah dicurigai oleh sebagian teman-teman Muslim jika saya punya kepentingan membela Amerika. Karena di mana saja di dunia ini saya ditanya tentang Amerika, saya tetap membela jika Amerika adalah negara yang toleran. Sempurnahkah? Tentu tidak!

Lalu apa alasan saya membela Amerika sebagai negaa toleran? Alasannya sederhana. Karena Amerika masih menjadikan hukum sebagai "acuan kehidupan publik".

Tapi apakah dengan itu tidak ada diskriminasi-diskriminasi terhadap minoritas? Jawabannya pasti banyak.
Lalu kenapa saya masih bersikukuh mempertahankan jika Amarika adalah negara toleran? Jawabannya karena kasus-kasus itu bukan representasi dari negara atau institusi kenegaraan. Pelakunya masih kemungkinan besar mendapatkan ganjarannya. 

Sebaliknya korban diskriminasi-diskriminasi itu masih merasakan pembelaan hukum.

Bahkan di saat diskiriminasi itu sekalipun datang dari Gedung Putih, saya belum mebgatakan Amerika itu anti Islam selama hukum masih berada di atas kepala presidennya. Itulah yang menjadikan beberapa kali executive order Donald Trump dibatalkan oleh Hakim Tinggi di Amerika. Artinya hukum masih hidup dan berfungsi seperti yang diharapkan.

Mungkin suatu ketika saya bisa berubah pandangan di saat hukum menjadi impoten alias tidak bisa tegak lagi. Kalau hukum sudah lumpuh maka baik penguasa maupun rakyat akan melakukan apa saja sesuai dorongan hawa nafsunya. Dan kalau ini terjadi di Amerika saya tidak akan ragu mendeklarasikannya sebagai negara yang diskriminatif dan anti Islam.

Toleransi Indonesia
Toleransi di Indonesia bukan barang baru. Indonesia dengan segala kekurangannya memiliki sejarah panjang toleransi. Memang diakui bahwa dalam perjalanannya sekali-sekali mengalami pasang surut, bahkan pada titik nadir yang terendah. 

Tapi jangan lupa,  toleransi itu tidak hanya diperlukan di saat mayoritas kuat. Beberapa kali juga justeru intoleransi terjadi di saat minoritas di atas angin. Ini bukan sesuatu yang memerlukan penjabaran karena memang itulah fakta sejarah panjang perjalanan bangsa ini, khususnya dalam dekade pertengahan orde baru.

Sebagaimana berulang-ulang disebutkan bahwa toleransi itu adalah "darah daging" bahkan "nafas" kehidupan Nusantara. Jika karena satu dan lain hal, terjadi sikap intoleran, maka itu bukan wajah Nusantara yang sejati. Itu adalah "deviasi" dari kehidupan Nusantara yang sesungguhnya.

Kenyataan bahwa hingga kini Indonesia masih utuh dalam kesatuan di tengah kebhinnekaan hampir dalam segala aspek kehidupan, menunjukkan bahwa tabiat  kebangsaan Indonesia ini memang mendukung itu. Salah satu tabiat yang mendukung penuh kesatuan itu adalah karakter toleransi yang tinggi.

Sejak awal perjuangan memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajah asing, termasuk Belanda, Portugis, dan Jepang, bangsa Indonesia berjuang, walau dengan semangat keberagamaan dengan pekik "Allahu Akbar" misalnya, namun kita kenal bahwa perjuangan mereka bukan untuk kepentingan kelompok. 

Bung Tomo dengan arek-arek Suroboyo, atau panglima Sudirman yang sangat taat beribadah, diangkut dari hutan ke hutan, menaruh hidup bukan untuk umat Islam semata. Tapi demi kemerdekaan bangsa dan negera Indonesia dari sabang sampai marauke dengan segala ragam manusianya.

Dalam persiapan membentuk institusi negara, yang kita tahu bersama sebagai bentuk negara Indonesia ke depan dan selamanya, tokoh-tokoh Islam juga mengedepankan toleransi dengan mengakomodir realita bangsa Indonesia yang ragam. Bahwa pada akhirnya lahirlah Pancasila dan UUD 45 menunjukkan toleransi tinggi dari bangsa Indonesia itu. Dan sejak itu pula bangsa Indonesia hidup dalam NKRI secara damai dan rukun.

Dalam perjalanannya pilar berbangsa dan bernegara itu tetap menjadi pijakan kehidupan masyarakat. Kehidupan berbangsa didasarkan kepada kedua pijakan itu (Pancasila dan UUD 45), dan diterjemahkan tentunya berdasarkan kepada pemahaman masing-masing kelompok dalam rumah Indonesia tanpa mengganggu, apalagi mencabut pilar yang telah disepakati bersama itu.

Komitmen terhadap pilar kebangsaan dan bernegara itu, walau dipahami berdasarkan ragam kelompok yang ada, itu sesungguh dimungkinkan oleh karakter toleran itu. Maka umat Islam bisa memahami sila Ketuhanan Yang Maha Esa dengan konsep tauhid agama Islam. Sebaliknya Pasal yang sama memungkinkan untuk dipahami berdasarkan konsep iman saudara-saudara sebangsa kita yang beragama lain.

Demikianlah perjalanan bangsa ini dari masa ke masa. Ada dinamika sosial yang terjadi. Hubungan horizonal kebangsaan mengalami pasang surut, kadang sangat harmoni dan kadang pula sebaliknya. Tidak jarang terjadi gesekan-gesekan, bahkan pada tingkatan yang cukup menegangkan.

Salah satu masa-masa yang menegangkan itu adalah ditahun 80-an di mana umat Islam mengalami represi yang cukup kuat. Secara ekonomi mereka dianak tirikan, secara sosial keagamaan juga mereka ditekan. Ada pelarangan berjilbab bagi wanita-wanita di sekolah umum. Bahkan ceramah para ustadz juga dimonitor oleh rezim orde baru. Dan bukan rahasia umum lagi bahwa kekuatan di balik dari kebijakan represi itu adalah kelompok tertentu.

Barulah kemudian di awal tahun 90-an umat kembali mendapat angin segar. Dimulai dari berdirinya ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) di bawah kepemimpinan Prof. Dr. BJ Habibie, mulai tumbuh dedaunan menyambut semi kebangkitan umat Islam. Istilah penghijauan pun menjadi trend saat itu.

Singkat kata, berbicara tentang toleransi di Indonesia bukan barang baru. Tapi darah perjalanan sejarah bangsa dan sekaligus nafas kehidupannya. Yang terjadi adalah kadang karena udara, atau karena faktor lainnya, darah itu menjadi kotor dan nafas menjadi terganggu. 

Tapi apapun itu, Indonesia hidup karena karakternya yang toleran. Dan ini harus menjadi harga mati. Bahwa toleransi bag Indonesia adalah kehidupan dan karenanya mutlak dipertahankan untuk menjaga hidup Indonesia itu sendiri.

Masalahnya kemudian, dan semoga saya salah, ketika toleransi dipahami sebagai landasan kepentingan tertentu. Ketika sebuah aksi atau reaksi terjadi dan menguntungkan kelompok kita, kita bangga dan di mana-mana berkoar dengan kebanggaan itu. Tapi di saat ada aksi atau reaksi itu dianggap kurang menguntungkan kelompok kita maka bangsa dan negara ini tidak tanggung-tanggung dan enteng kita rusak, minimal merusak nama baiknya di dunia internasional.

Tidak jarang pula ketika kelompok kita melakukan tindakan anarkis dan separatis, walau itu jelas merusak tatanan NKRI, kita diam seribu bahasa. Dan di saat pemerintah Indonesia melakukan reaksi demi menjaga NKRI, tidak sungkan-sungkan pula kita promosikan Indonesia sebagai negara pelanggar HAM.

Di sinilah saya yang selama ini berusaha membangun hubungan dan dialog dengan semua orang, bahkan dengan kelompok yang sebagian umat Islam dianggap musuh abadi, saya menjadi curiga. Jangan-jangan kata toleransi itu memang hanya dimaksudkan untuk kelompok tertentu? Wallahu a'lam!

Imam Shamsi Ali*
* Presiden Nusantara Foundation.

Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler