Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Monday, November 25, 2019

Seketika se isi kelas II-A hingga II-G berhamburan keluar di pagi itu. Tanpa komando, langsung memungut dedaunan yang jatuh karena dimakan usia. Beberapa sampah plastik bekas makanan kecil, juga nampak berada di antaranya.

Tahu kenapa kami, dari kelas II-A sampai II-G berhamburan keluar dan membersihkan halaman kelas? Karena dari kejauhan, nampak Pak Khalik. Kami memanggilnya Pak Helo.

Beliau berdiri di ruang depan ruang guru, menghadap ke lapangan yang dikelilingi kelas-kelas. Hanya dengan begitu, kami tanpa dikomando langsung bergerak. Pak Helo memang terkenal keras dan tanpa segan menampar.

Di ruangan, Pak Helo juga keras tapi disiplin. Hafalan sejarah, matapelajaran yang beliau ajarkan, harus benar-benar nyantol di otak kami. Dari situ, saya sendiri mengakui sangat menyukai sejarah setelah puluhan tahun dididik beliau.

Di kelas, saya masih ingat. Di antara tiga tempat duduk kami, ada dua orang yang membuat kegaduhan. Seketika, Pak Helo datang dan menampar mereka yang ribut, serta kami yang ada di dekatnya. Kenapa harus kami yang tak ribut ditampar juga? Saya mengerti kini. Kami punya tanggungjawab untuk mengingatkan, sebagai tetangga duduk terdekat.

Ah pelajaran itu.. Kini baru ku sadari..

H. Abdul Wahab namanya. Jenggot panjang dan tipis di dagunnya adalah ciri beliau. Itu mengingatkan pada sosok H. Agus Salim. Celananya juga cingkrang. Bukan, dia bukan guru agama. Beliau adalah guru matematika. Sebenarnya, matapelajaran yang tidak aku suka. Tapi di tangan beliau, tak bosan kami belajar itu.

Cara beliau mengajari matematika, benar-benar dari hati. Pak Wahab paham, tiga jam pelajaran itu membuat kami bosan. Maka saat melihat kebosanan kami, beliau mengalihkan dengan bercerita. Bercerita soal agama yang lebih sering. Ah inilah dakwah yang efektif. Beliau juga kadang bercerita soal sejarah, sejarah tempat kami bersekolah di SMPN 1 Madapangga, Kabupaten Bima NTB. Dulu sekolah ini bernama SMPN 2 Bolo.

Pak Tasrif. Dulu guru PPKN. Entah sekarang nama matapelajaran itu masih sama atau sudah diubah. Beliau mengajar saat kelas III SMP (Sekarang mungkin kelas 9). Cara belajarnya pun menarik. Membahas isu-isu kekinian. Saya masih terkenang. Saat itu, sedang proses Reformasi, sidang Istimewa MPR kalau tak salah. Sejak itu, ketertarikan saya pada dunia politik, terbentuk. Di kampus, politik menjadi bagian tak terpisahkan. Hingga kini bekerja.

Mereka adalah diantara sekian banyak guru kami di kampung, sebuah desa bernama Dena. Mereka mengajar dengan menambahkan nilai-nilai, yang kami pegang hingga kini. Walau dulu, fasilitas yang diajarkan ke kami terbilang minim. Buku-buku latihan kerja yang sudah bertahun-tahun, wajib dirawat untuk generasi di bawah kami. Entah kami generasi ke berapa sebagai pengguna buku lembar kegiatan itu.

Tapi nilai-nilai yang diajarkan mereka, kekal. Semoga beliau-beliau selalu dilimpahkan rezeki dan pahala, serta kesehatan. "Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa" begitu bait terakhir lagu Hymne Guru.

Selamat Hari Guru 2019.

Sunday, November 17, 2019

Fahd Pahdepie (instagram)
Hari ini Muhammadiyah merayakan hari lahirnya yang ke 107 tahun. Izinkan saya bercerita untuk memahami apa sebenarnya yang sedang diperjuangkan oraganisasi ini? Mengapa ia hadir untuk memberikan pencerahan peradaban umat, mencerdaskan kehidupan bangsa? Mengapa KH Ahmad Dahlan adalah Sang Pencerah? Mengapa gerakan ini memperjuangkan Islam Berkemajuan?

Hierarki Realitas

Ada sebuah dongeng filsafat yang dikenal dengan sebutan alegori gua Plato. Tentang bagaimana manusia melihat realitas di sekelilingnya, memahami dan memaknai kebenaran, serta bagaimana membebaskan manusia dari belenggu kebodohan.

Melalui dongeng ini, Plato menggambarkan setidaknya empat tingkatan realitas. Yang pertama adalah orang-orang yang duduk menghadap ke dinding gua, seumur hidup tangan dan kaki mereka terpasung. Orang-orang ini melihat bayangan-bayangan di dinding gua itu dan menganggap bahwa bayangan-bayangan itulah realitas dan kebenaran.

Padahal, aneka bayangan itu dihasilkan dari benda-benda yang terpapar cahaya dari sebuah api unggun besar yang terdapat di belakang orang-orang yang terpasung tadi. Di antara api unggun dan orang-orang pasungan itu, ada sekelompok orang lain yang membawa benda-benda mirip wayang-wayangan.

Sayangnya ‘dalang-dalang’ ini tak bisa berkomunikasi dengan orang-orang pasungan tadi, mereka hanya bisa menganggap orang-orang pasungan itu bodoh karena mempercayai bayangan sebagai realitas bahkan kebenaran. Bagi mereka yang membawa wayang-wayangan, realitas adalah aneka benda yang mereka pegang. Namun, kaki orang-orang ini juga terikat, apalagi mereka takut melewati api unggun raksasa yang membatasi gerak mereka.

Nyatanya, di sebalik api unggun itu ada orang-orang lain yang, meski masih terikat kakinya, bisa mencapai mulut gua. Bagi orang-orang ini, ternyata ada cahaya yang lebih terang dari sekadar cahaya yang dihasilkan api unggun: Cahaya yang memancar dari mulut gua. “Betapa bodoh mereka yang percaya bahwa cahaya berasal dari api unggun!” Kata mereka.

Tapi sialnya orang-orang ini juga tak bisa pergi lebih jauh dari mulut gua itu, karena kaki mereka masih terantai. Sementara mereka belum bertemu orang-orang dari kelompok keempat: Orang-orang yang sudah berhasil keluar dari gua dan melihat realitas yang lebih kompleks. Di luar gua ternyata begitu indah. Ada langit, laut, gunung, bukit, sungai, burung-burung yang terbang, aneka binatang dan tumbuhan.

Kerja Pembebasan

Plato hanya bercerita sampai dimensi keempat, meski sebenarnya cerita masih bisa kita lanjutkan dengan sejumlah elaborasi. Bayangkan jika kita memasukkan unsur-unsur lain ke dalam cerita ini, ketika orang-orang yang berhasil keluar dari dalam gua itu berjalan-jalan dan ternyata mereka menemukan peradaban, teknologi, dan lainnya. Bahkan mereka bisa pergi ke luar angkasa!

Namun, alegori gua Plato ini cukup untuk kita pakai menggambarkan betapa realitas memiliki hierarkinya sendiri. Betapa pengetahuan dan pemahaman tentang kebenaran sangat ditentukan oleh hierarki realitas itu. Filsuf muslim Yahya Ibn Habash Suhrawardi bahkan membagi realitas ke dalam sepuluh tangga akal. Akal pertama hinggal akal kesepuluh atau akal kudus.

Bayangkan jika orang-orang yang telah berhasil keluar dari gua memberitahukan apa yang mereka lihat di luar gua kepada orang-orang di dalam gua? Apakah mereka bisa langsung mengerti dan percaya? Bayangkan jika orang di mulut gua memberi tahu kepada para dalang bahwa api unggun bukan sumber cahaya? Bayangkan jika orang-orang yang seumur hidupnya terpasung dan menghadap ke dinding gua diberi tahu bahwa bayangan yang mereka lihat setiap hari bukanlah kebenaran?

Filsuf Prancis Michel Foucault melihat bahwa perbedaan pengetahuan dan pemahaman ini erat hubungannya dengan pengaruh dan kekuasaan di dalam masyarakat. Mereka yang tahu lebih banyak cenderung lebih mudah mengatur dan menentukan banyak hal, sementara yang paling tahu sedikit adalah yang paling menderita. Masayarakat kemudian membentuk strukturnya sendiri berdasarkan akses dan relasi pengetahuan tadi, mereka yang terdidik ada di puncak piramida sosial sementara mereka yang bodoh tersungkur dan berdesak-desakan di dasar piramida itu.

Satu-satunya cara untuk membebaskan orang dari kutukan struktur sosial adalah dengan memberi mereka pendidikan. Agar orang bisa memanjat dari lantai dasar piramida sampai ke puncaknya. Sama seperti upaya membebaskan orang-orang di dalam gua Plato dari aneka rantai yang memasung, agar mereka bisa bergerak dari satu tangga realitas ke tangga yang lain untuk menemukan pencerahan di luar gua.

Karena cerita dari luar gua begitu memikat dan kisah dari lantai atas piramida sosial begitu menggiurkan, setiap orang ingin mendapatkan pencerahan dan akses pendidikan, bukan? Pengetahuan lantas menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan. Maka sekolah-sekolah dibuka agar orang bisa bebas dari pojokan gua sampai ke luar, agar mereka yang hampir mati terhimpit di lantai dasar piramida bisa naik ‘lift’ ke status sosial lain yang lebih tinggi.

Apakah benar semudah itu? Sayangnya tidak. Manusia didesain untuk bertahan hidup dan bersaing untuk egois mempertahankan posisi dan status sosialnya masing-masing. Sekolah-sekolah dan universitas tidak benar-benar didesain secara setara agar orang bisa terbebas dari kebodohan dan kemiskinannya. Apalagi dengan cara berpikir kapitalistik, sekolah didesain untuk memiliki tarif yang berbanding lurus dengan kualitas. Sekolah mahal akan menawarkan pendidikan terbaik, di saat yang sama sekolah yang murah menawarkan layanan dan fasilitas pendidikan seadanya.

Akhirnya, hierarki realitas dan struktur sosial justru dijaga dan dilanggengkan. Sekolah untuk orang di pojokan gua hanya akan menghasilkan lulusan yang paling jauh hanya bisa mengintip aktivitas para dalang. Universitas yang diselenggarakan oleh mereka yang berada di puncak piramida, kenyataannya tak bisa diakses dan dibayar oleh mereka yang berada di dasar piramida. Yang bodoh akan terus bodoh, yang miskin akan tetap miskin, begitu juga sebaliknya.

Gerakan Pencerahan

Hari ini Muhammadiyah merayakan hari lahirnya yang ke 107 tahun. Bagi saya, inilah cara terbaik untuk memahami KH. Ahmad Dahlan dan gerakan Muhammadiyah. Ahmad Dahlan muda adalah seorang progresif yang mendambakan pencerahan yang setara untuk semua orang. Baginya pengetahuan harus bisa diakses oleh semua pihak dan bahkan memberikan dampak sosial kemasyarakatan yang berarti, agar orang terbebaskan dari belenggu struktur.

Maka lihatlah ketika Ahmad Dahlan muda 107 tahun lalu, yang sudah melanglang buana di luar gua, memutuskan untuk kembali ke bagian paling dalam gua dan menawarkan pencerahan pengetahuan. Ia didik lagi anak-anak di kampung-kampung, ia dekati dengan penuh kesabaran, ia komunikasikan kepada mereka tentang dunia di luar gua dengan segala kemajuan peradabannya.

Melalui gerakan Muhammadiyah, Ahmad Dahlan juga ingin membongkar kutukan struktur sosial. Pendidikan harus bisa diakses semua pihak dari semua kalangan. Pendidikan harus bersifat egaliter dan progresif, memiliki semangat pembebasan. Inilah sebabnya mengapa corak gerakan Muhammadiyah berakar kuat pada teologi pembebasan yang diinspirasi oleh tafsir surat al-Ma’un.

Dalam 107 tahun, spirit inilah yang dibawa oleh Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, gerakan dakwah, gerakan pembaharuan (tajdid). Maka tak heran jika Muhammadiyah terus memberikan pencerahan dan dampak nyata bagi umat dan bangsa. Selama kiprahnya, Muhammadiyah dan Aisyiah telah membangun lebih dari 30.125 TK dan PAUD, 2.766 SD dan MI, 1.826 SMP dan MTs, 1.407 SMA dan MA sederajat, 165 perguruan tinggi, dan 50 SLB. Bayangkan berapa juta orang yang telah tercerahkan dan terbebas dari belenggu strukturnya?

Belum lagi jika kita melihat kiprah Muhammadiyah di bidang lain. Ada 583 rumah sakit dan klinik di seluruh Indonesia, 384 panti asuhan, 20.198 masjid dan mushala, serta masih banyak lagi. Ini baru berangkat dari tafsir kontekstual KH. Ahmad Dahlan terhadap surat Al-Ma’un saja. Bagaimana dan apa jadinya jika kita mengoperasionalisasikan tafsir dari seluruh ayat al-Quran? Di sanalah Muhammadiyah terus bergerak ke masa depan dengan spirit Islam Berkemajuan-nya.

Selamat milad ke-107 untuk Persyarikatan Muhammadiyah. Teruslah mencerahkan ummat dan bangsa!

FAHD PAHDEPIE
Kader Muhammadiyah


Monday, November 4, 2019

Mencintai Tidak Harus Memuji, tapi Mengkritik Adalah Bagian Dari Mencintai.
Oleh: Agus Rahmat

Prinsip dalam mengkritik ini, ditanamkan pada kami saat baru menjadi kader di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau IMM Komisariat FISIP Universitas Muhammadiyah Malang. Dinamisnya organisasi itu membuat kritik-kritik tajam meluncur deras, tanpa malu-malu.
Kritik sejatinya adalah suplemen tambahan, atau bahkan suplemen pengingat. Dalam iklim demokrasi, tentu kritik menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Dalam sistem politik dan kekuasaan, kritik pun harusnya menjadi bagian terpenting. Sebagai sebuah fungsi check and balance terhadap jalannya sebuah rezim.

Kritik akan membuka persoalan-persoalan, baik yang sengaja tersimpan rapi maupun yang tidak diketahui. Maka ketika kritik dirawat, terintegral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka secara tak langsung kita juga menjaga negara dari praktik korupsi hingga praktik otoritarian.

Membangun Oposisi
Oposisi (penyeimbang) yang kita kenal dalam sistem demokrasi, termasuk yang diterapkan di Indonesia tentu harus identik dengan kritik. Jangan mengaku oposisi kalau kritik saja tidak dilontarkan, mungkin begitu pemahamannya.

Komposisi antara koalisi dengan oposisi untuk pemerintahan lima tahun mendatang, kasat mata bisa kita lihat tidak berimbang. Di parlemen misalnya, di sana lebih dari 50 persen fraksi adalah pendukung pemerintah. Seperti Fraksi PDIP, Golkar, Nasdem, PKB, PPP dan yang masuk belakangan adalah Gerindra.  Sementara di luar pemerintahan tersisa Demokrat, PAN dan PKS.

Tentu jika mengandalkan tiga partai itu sebagai penyeimbang jalannya pemerintahan, rasanya tidak cukup. Pemerhati politik Indo Strategis Arif Nurul Iman mengatakan, tidak ada keseimbangan jika hanya partai itu yang menjadi oposisi atau penyeimbang.

Dengan kondisi demikian, rasanya tidak bisa juga kita hanya mengandalkan kekuatan oposisi yang minimalis tersebut. Perlu dibangun kesadaran publik, akan pentingnya nalar kritis terhadap jalannya pemerintahan. Disamping, kita juga harus kritis terhadap partai oposisi, jangan sampai hanya mengambil untung dengan momentum ini tanpa benar-benar berjuang dan kritis terhadap pemerintahan.
Melihat partisipasi politik masyarakat, rasanya sangat bisa membangun kesadaran kritis itu. Di tengah-tengah instrument politik yang tidak imbang seperti sekarang ini. Namun perlu diperhatikan, bahwa literasi politik kita tentu perlu diperdalam.

Beberapa kasus seperti hoaks, kebencian akut terhadap pribadi tertentu atau kelompok tertentu, rasanya tidak bisa dipungkiri lantaran literasi politik yang belum tuntas. Perbedaan pilihan, perdebatan politik elit, kadang terlalu kita bawa pada pilihan antara hitam dan putih. Padahal politik juga berbicara soal opsi yang beragam, dan kerap berubah sesuai dengan kepentingannya masing-masing.

Memahaminya hanya sebagai hitam dan putih, sehingga mengakibatkan terbentuknya friksi-friksi di tengah-tengah masyarakat. Sayangnya, friksi-friksi itu cenderung tidak sehat.
Akibatnya, partisipasi politik masyarakat bukan lagi soal substansi. Kebenaran politik yang mereka pahami kadang bersumber dari kabar bohong. Lalu dukungan fanatik, apalagi dicampur dengan dalil-dalil keagamaan.

Bukan Pemfitnah dan Pembenci
Polarisasi politik praktis pada pemilu presiden baik 2014 dan 2019, telah membawa kita pada pemahaman identitas demokrasi yang baru. Menguatnya politik agama, menguatnya kelompok politik di luar partai politik, hingga pada pemahaman demokrasi, membuat perubahan peta politik di Tanah Air.

Disadari atau tidak, kesadaran politik tidak lagi menjadi milik elit partai atau kelompok politik tertentu. Tetapi kesadaran itu muncul bahkan dari masyarakat yang awalnya apatis terhadapnya. Lahir menembus ruang-ruang privat masyarakat itu sendiri. Sehingga politik bukan saja menjadi pembicaraan di warung kopi, di gedung-gedung parlemen. Tetapi juga masuk dalam forum-forum keagamaan.

Politik semakin mampu menembus ruang-ruang private, lantaran didukung perkembangan teknologi. Akses informasi, akses analisis mengenai politik tidak perlu lagi harus membuka layar televisi yang menampilkan perdebatan atau analisa politik. Kadang analisa itu disebarkan melalui perangkat elektronik. Sebut saja lewat WhatsApp (WA) .

Penyebaran informasi yang sangat massif ini, suka atau tidak suka membuat partisipasi politik di tengah-tengah masyarakat semakin bergairah. Catatan Komisi Pemilihan Umum atau KPU, partisipasi pemilih pada pemilu 2019 mencapai puncaknya yakni 81 persen. Jumlah partisipasi ini terus meningkat dari pemilu-pemilu sebelumnya. Pada 2014, partisipasi pemilih untuk pemilu presiden mencapai 70 persen. Sementara di tahun yang sama untuk pemilu legislatifnya 75 persen.

Rasanya kita tidak bisa menghindar, meningkatnya partisipasi politik itu berbanding lurus dengan perkembangan teknologi. Penyebaran informasi, termasuk yang bersifat politik, begitu mudah. Media sosial seperti facebook hingga twitter, bukan saja menjadi ajang interaksi. Tetapi juga menjadi wadah bagi mereka yang memiliki oreantasi politik tertentu untuk menyebarkan paham politiknya.

Maka membangun jiwa kritis publik, rasanya tidak terlalu sulit karena hambatan-hambatan yang selama ini ada, bisa dihilangkan. Hanya yang menjadi catatan, partisipasi politik adalah politik kebangsaan, bukan politik kebencian yang membuat kita malah mundur jauh, bukan semakin maju dan matang.


Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler