Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Tuesday, June 28, 2016

Membayangkan Tambora, ingatan kita langsung tertuju pada tragedi ratusan tahun silam, April 1815 saat gunung itu meletus.

Iklim dunia berubah. Akibat abu vulkanik jutaan kubik melambung ke angkasa. Tiga kerajaan saat itu yakni Kerajaan Pekat, Kerajaan Tambora dan Kerajaan Sanggar, seketika lenyap.

Kini, setelah ratusan tahun lalu, Tambora kembali menyapa dunia. Bukan meletus lagi, tapi sekedar mengingat dahsyatnya letusan itu.

Jauh soal sejarah itu, Tambora menyisihkan keindahan alam yang luar biasa. Tentu, bisa menghasilkan roda ekonomi rakyat dan pemerintah yang juga tidak sedikit.

Tapi sayang, surga Tambora itu kini belum terjamah. Baik oleh siempunya yakni pemerintah daerah maupun dalam skala nasional.



Monday, June 27, 2016

Ini sekedar cerita dari pengalaman, pengalaman yang selintas teringat. Bukan karena motifasi mendukung dalam pilkada, yang ramai kini dibahas di jagad nyata hingga maya.

Sekitar tahun 2012, sebagai jurnalis, saya ditugaskan untuk menempati pos liputan di DPR/MPR/DPD. Setelah setahun lebih, ditugaskan di Balaikota DKI yang kala itu Fauzi Bowo sebagai Gubernur.

Sumber; www.thejakartapost.com 
Bertugas di DPR, tentu banyak anggota yang bisa menjadi sumber berita. Apalagi di tengah-tengah perkembangan teknologi yang terus semakin canggih, komunikasi dengan narasumber menjadi hampir tidak ada batasnya.

BlacBerry Massenger atau BBM, saat itu menjadi alat komunikasi yang sangat efektif bagi jurnalis. Selain untuk mengetik berita, juga bisa berkomunikasi via BBM dengan narasumber yang kita miliki kontak pin BB nya.

Untuk semakin memudahkan, beberapa kawan juga membuat grup BBM. Di dalamnya tentu ada juga anggota dewan, dan kami para jurnalis. Dari situlah, informasi, pernyataan-pernyataan pers yang menjadi bahan berita, di-share. Intinya, bahan berita begitu mudah dan cepat.

Dalam salah satu grup BBM kami saat itu, selain nama-nama tenar lainnya seperti Nurul Arifin (Golkar) dan M.Nasir Jamil (PKS), ada juga nama Basuki Tjahja Purnama atau Ahok.

Saat itu, seingat saya Ahok duduk di Komisi II DPR, membidangi pemerintahan dalam negeri. Dalam diskusi di grup itu, Ahok memang tidak terlalu aktif.

Hanya beberapa kali ia mengirimkan pesan broadcast BBM, yang menginfokan kapasitas BBM ia tidak cukup sehingga meminta yang lain untuk meng-invite ia di kontak yang lainnya.

Hanya sesekali Ahok muncul di diskusi group itu. Seperti, saat seorang teman meng-share gambar kawan jurnalis lain yang sakit parah, dan membutuhkan bantuan dana untuk berobat. Ahok saat itu, bertanya ke mana ia harus menyumbang.

Dalam beberapa kesempatan, saat itu memang jelang pilkada DKI 2012. Ahok seingat saya, beberapa kali mengirimkan broadcast BBM hingga ke group, yang meminta bantuan dan dukungan untuk maju di pilgub melalui jalur independen. Tentu yang dibutuhkan, adalah fotocopy KTP.

Pilihan Ahok ini, tentu realistis saat itu. Sebab, Golkar sendiri jangankan meliriknya, membicarakan ia untuk dijadikan kandidat calon saja, rasanya tidak akan diperhatikan. Saat itu tiga nama dari Golkar yang mencuat, dan sudah mengkampanyekan diri yakni Azis Syamsuddin, Tantowi Yahya dan Alex Noordin.

Beberapa minggu berselang, Ahok tidak bisa memenuhi ekspektasi untuk batas minimal KTP itu. Seingat saya, ia sempat 'mendeklarasikan' diri menyerah, mengingat syarat KTP tidak cukup untuk maju lewat jalur independen tersebut.

Dalam beberapa kali acara Partai Golkar di DPR, saya sempat menjumpai Ahok ikut nimbrung. Duduk di belakang, sendirian, bukan di bagian depan yang diisi kader-kader yang katanya elit dan punya potensi menjadi kandidat.

Seingat saya kala itu, Ahok duduk di belakang dan sisi kiri. Tidak ada rekan yang menemani, atau sekedar mengajak ngobrol. Hingga akhirnya acara selesai, dan sang ketua partai itu pulang dan kebetulan melewati jalan yang dekat Ahok duduk.

Ahok sempat menyalami sang ketua itu. Namun tidak ada respon hangat, hanya sekedar 'say hallo'.

Saat itu, muncul pemikiran saya kalau Ahok memang bukan siapa-siapa di Partai Golkar ini. Tapi beberapa kali saya menerima email dari Ahok, soal laporan keuangan ia per bulan sebagai anggota DPR.

Itu sekelumit yang saya ingat, 4-5 tahun lalu, soal Ahok. Kini, rasanya berbeda. Walau sudah mendeklarasikan diri sebagai calon dari jalur independen, partai-partai masih tertarik mengusungnya.

Tak terkecuali Golkar, yang kini dikomandani oleh Setya Novanto.

Dulu, Ahok bagaikan orang asing, tak diperhitungkan di Golkar. Kini, Golkar yang justru mendekat ke Ahok. Bak dia adalah 'kader yang kembali'. Bagi saya, Golkar lah yang mencampakkan Ahok saat itu.

Namun perlu diambil hikmahnya bagi kita, dalam kehidupan demokrasi. Tidak bisa kita mengklaim seseorang itu tidak bisa menjadi pemimpin, hanya karena ia belum diberi kesempatan.

Orang yang belum diberi kesempatan, bukan berarti ia tak bisa. Hanya kesempatan itu belum ada sehingga belum bisa dibuktikan kapabilitasnya.

Seharusnya partai politik bisa memberikan formula baru, bagaimana melahirkan kader-kader yang siap mengemban amanah jadi pemimpin. Tidak hanya pada rutinitas politik elit, politik dukung mendukung, tanpa ada kaderisasi yang baik. Wallahualam...

Tuesday, June 21, 2016

Tanggal 21 Juni 1961, seorang pria dari keluarga sederhana di Surakarta, terlahir dari pasangan Noto Mihardjo dan Sudjiatmi. Oleh kedua orangtuanya, kemudian diberi nama Joko Widodo.

Menghabiskan masa kecil di kota kelahirannya, Joko Widodo menjadi anak satu-satunya yang laki-laki. Ada tiga adik perempuan Joko Widodo.

Tumbuh dalam keluarga sederhana, bahkan beberapa kali kediamannya digusur oleh pemerintah kota setempat, Joko Widodo tetap menekuni dunia pendidikan. Hingga pada 1985, Joko Widodo menamatkan di Fakultas Kehutana Universitas Gajah Mada.

Kini, pria yang pada 2005 lalu mengawali karir politiknya sebagai Wali Kota Solo melalui PDI Perjuangan, lalu 2012 menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan 20 Oktober 2014 diambil sumpahnya menjadi Presiden RI ke-7, pria yang akrab disapa Jokowi itu melejit namanya.

Kini, 21 Juni 2016 adalah ulang tahunnya yang ke-55. Tepat hari ulang tahun ini juga, sebagai Presiden, Jokowi tetap menjalankan aktivitasnya.

Selasa 21 Juni, agenda Jokowi adalah meninjau sejumlah proyek mangkrak yang sudah bertahun-tahun tidak digarap. Termasuk, meninjau penggemukan sapi di daerah Cibodas, Rumpin Kabupaten Bogor Jawa Barat.

Sebagai jurnalis, kami diminta untuk berkumpul di Istana Negara pukul 06.30 pagi. Kendaraan melaju tepat waktu, hingga tiba di lokasi. Tentu harus tiba, sebelum RI-1 tiba. Jokowi baru tiba sekitar pukul 8.45.

Namun di perjalanan, memang sempat menjadi perhatian mengenai ucapan ultah buat sang Presiden. Tentu saja, kantor menginginkan adanya berita soal itu. Bagaimana reaksi, ucapan dan cerita Jokowi soal ultahnya tepat hari ini. Namun samar-samar juga terdengar informasi, kami tidak dilarang mengucapkan itu. Walau pagi-pagi di mobil menuju lokasi, saya juga lattah mengucapkan via twitter.

Saat tiba di lokasi, informasi samar-samar itu menemukan kebenarannya. Kami diminta, agar tidak menanyakan soal ulang tahun beliau. Entah apa alasannya, tidak dipaparkan. "Bapak (Jokowi) tidak mau,".

Oke, kami manut perintah. Bukan karena apa, agar menjaga mood Presiden agar tetap bisa di doorstop, mengingat agenda masih panjang hingga jam 5 sore (17.00 WIB). Rencana kami, meminta tanggapan itu saat nanti, di akhir tinjauan proyeknya di proyek jalan tol Becakayu (Bekasi-Cawang-Kampung Melayu), kawasan Kalimalang.

Lihat videonya:

Kunjungan ke kunjungan yang lain, dilalui tanpa bertanya soal ultahnya. Walau terdengar juga, teman-teman dari jurnalis televisi yang terus ditanya oleh redaktur di kantor soal ucapan ultah itu.

Hingga akhirnya, di penghujung kunjungan proyek, Jokowi masih ingin meladeni pertanyaan wartawan. Di sela-sela menjelaskan soal Tol Becakayu, seorang jurnalis berujar,

"Pak Jokowi selamat ulang tahun pak," ujar jurnalis televisi.

Mendengar itu, sontak Pak Jokowi seperti tidak konsentrasi. Seperti konsentrasi beliau soal proyek ini hilang. Jokowi tidak menjawab ucapan jurnalis itu, dia hanya mengalihkan pandangan, lalu mengangkat tangan tanda tidak ingin menjawab pertanyaan itu.

Lalu Jokowi menoleh ke sisi kiri, tetapi tetap tersenyum. Sejumlah wartawan juga terdengar tertawa kecil, setelah mendengar ucapan itu.

Reaksi Jokowi yang tidak ingin disinggung soal ultahnya itu, membuat pertanyaan kembali soal proyek. Hingga beberapa menit memaparkan kembali, Jokowi langsung buru-buru meninggalkan lokasi. Sepertinya, menghindari pertanyaan soal ultahnya.

Di luar lokasi itu, sudah menunggu ratusan masyarakat yang dijadwalkan mendapatkan bantuan berupa sembako dari Presiden.

Wednesday, June 15, 2016

JAKARTA - Presiden Joko Widodo, mengajukan nama Komjen Pol Tito Karnavian, sebagai calon tunggal Kapolri ke DPR.

Tito merupakan angkatan 1987 Akademi Kepolisian atau Akpol. Terbilang masih sangat muda, sehingga sempat menjadi perbincangan publik. Sebab, masih ada senior-senior Tito diangkatan 83,84 maupun 85 yang dinilai secara kelembagaan lebih pas.

Namun, itulah hak preogratif dari Presiden. Berikut video dan transkrip penjelasan Jokowi:





Memang benar kemarin 15 juni 2016 saya telah menyerahkan menyampaikan surat permohonan persetujuan caon kapolri ke dpr. Dan saya mengajukan calon tunggal, yaitu komjen polisi tito karnavian. Sebelum mengajukan ini saya telah mendapatkan masukan baik dari Polri, kompolnas, dan juga masukan-masukan dari masyarakat. Dan proses pergantian kapolri ini kita merujuk pada UU Nomor 2 tahun 2002 tentang kepolisian RI. 

Saya berharap tito nantinya dpat meningkatkan profesionalisme, mengayomi masyarakat, juga memperbaiki kualitas penegakan hukum. Terutama pada kejahatan narkoba, terorisme, dan korupsi. Saya meyakini beliau mempunyai kemampuan, cerdas, punya kompetensi yang baik, dan kita berharap dpr juga bisa memproses ini. Terima kasih

#Alasan memilih tito apa, kan masih muda?
Tadi sudah saya sampaikan kan.

#Mengenai dia masih junior?
Tadi udah saya sampaikan. kemampuan, kompetensi, kecerdasan, emmbangun jaringan dengan rekan2 penegak hukum lainnya, saya kira banyak lah.

#Berarti Tito memang yang terbaik?
Semua kan sudah tahu dia meraih adhi makayasa.

Regenerasi Polri gimana pak?
Ya nanti itu urusannya kapolri.

Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler