Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Tuesday, May 24, 2016

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), tentu tidak bisa lepas dari Persyarikatan Muhammadiyah. Ya, sebagai organisasi otonom yang dibentuk 14 Maret 1964, IMM menjadi salah satu kaki dan tangan rekrutmen kader persyarikatan.

Namun, ber-IMM terutama di tingkat komisariat (fakultas), tidak akan sama. Kultur kampusnya, kultur universitasnya, hingga kultur daerahnya sangat mempengaruhi bagaimana cara kita ber-IMM.

Mungkin ini pengalaman pribadi, sebagai orang yang pernah 'terjerumus' ke dalam IMM. Saya di-bai'at menjadi kader IMM, secara formal dengan mengikuti pengkaderan tingkat pertama yakni Darul Arqom Dasar (DAD) pada tahun 2003. Komisariat saat itu dinamai 'Renaissance' FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.

Bakti sosial
Konon, penggunaan kata 'Renaissance' ini karena era 1990-an IMM FISIP sangat tidak berdaya dengan organisasi ekstra lainnya seperti HMI, PMII dan organisasi pergerakan lainnya.

Sehingga semangat Renaissance atau abad pencerahan, ini yang ingin diambil. Dan terbukti, dengan pergulatan panjang di intra FISIP hingga universitas, sejumlah kader IMM Renaissance berhasil menjadi ketua BEM Fakultas hingga BEM Universitas dan Senat Universitas.

Berbicara FISIP UMM, tidak bisa dipisahkan dengan Jurusan Ilmu Komunikasi, yang memang menjadi jurusan favorit. Saat saya masuk, ada 6 kelas di Komunikasi. Sementara lainnya seperti Ilmu Pemerintahan hanya 2, dan fakultas-fakultas lainnya di bawah itu.

Tetapi, mahasiswa yang masuk di FISIP bukan berarti semuanya berjilbab. Ada yang berjilbab tapi mungkin ketat. Sementara prianya, tidak semuanya berlatar belakang Muhammadiyah.

Naik gunung di sela-sela aktivitas komisariat
Maka tak heran, saat pertama aktiv di IMM Renaissance saat itu, banyak kader terutama immawati (sebutan untuk kader perempuan), tidak berjilbab dan cenderung berpakaian kurang longgar.

Terkadang, situasi itu juga banyak mendapat kritikan. Baik sesama IMM maupun dari organisasi lainnya yang mereka punya latarbelakang Muhammadiyah. Saya hanya bisa bilang, beginilah SDM yang ada di FISIP. Kalau calon kader yang hendak direkrut hanya berdasarkan fisik yang berjilbab, pakaian longgar dan lainnya, saya yakin IMM Renaissance FISIP hanyalah sebuah nama.

Begitu juga dengan immawan (kader pria) yang direkrut. Tidak semuanya mereka adalah orang yang paham agama. Bahkan, dari pengalaman pribadi saya juga, ada beberapa kader yang masih menjadi alkoholic.

Banyak penilaian, kader-kader IMM Renaissance ini tidak mencerminkan Islam, tidak mencerminkan sebagai kader persyarikatan. Bagi saya, penilaian itu benar. Karena mereka dan saya masuk ke IMM Renaissance tanpa pernah mengecap sebelumnya apa itu ber-Muhammadiyah atau mungkin ber-Islam. Sehingga, masuknya mereka dan saya, bukan lagi menjadi orang yang langsung fasih tentang persyarikatan dan Islam, tapi sebenarnya kami belajar.

Kader Renaissance di acara IMM Malang
Beberapa kader di fakultas atau komisariat lain, banyak diantara mereka berlatar belakang pesantren. Sehingga, membentuk karakter religi, sudah kuat. Sementara di Renaissance, alumnus pesantren atau dengan basis agama yang kuat sebelum di Renaissance, bisa dihitung jari.

Di sinilah perlu strategi kami, yang kebetulan berada di pengurus harian. Tidak bisa kita langsung mendakwah dengan kaku, mereka pasti lari. Tidak bisa juga kita membiarkan begitu saja, karena ini adalah IMM.

Akhirnya, pendekatan pribadi yang digunakan. Mulai dari kebersamaan di komisariat, dari hal-hal kecil seperti futsal bersama, main PS bersama, hingga sekedar ngopi dan ngobrol ringan. Saya termasuk salah seorang kader yang senang, karena ternyata mereka yang tadinya berpakaian ketat, kini berjilbab. Kader yang dulunya alkoholic, kini sudah meninggalkan itu dan terbebas dari minuman serupa. Memang butuh waktu yang tidak sebentar.

Kultur di Renaissance FISIP, memang beragam. Ada yang lebih suka hal-hal ringan seperti ngopi-ngopi, jalan-jalan, futsal, hingga ngobrol tak jelas atau yang kami sebut saat itu 6 SKS.

Jalan-jalan selalu menyenangkan
Tapi ada juga yang lebih suka diskusi ilmiah, kajian-kajian kontemporer, maupun aktivitas keagamaan. Maka tak jarang, banyak kader yang memilih 'mundur' dari IMM Renaissance FISIP dan memilih aktivitas lainnya yang menurut mereka lebih cocok.

Bagi mereka, IMM Renaissance tidak senafas layaknya organisasi mahasiswa Islam di bawah naungan persyarikatan. Bahkan ada yang menyebut IMM Renaissance tidak sejalan dengan Tri Kompetensi Dasar Ikatan (Itelektualitas, Religiusitas, dan Humanitas). Ya penilaian itu muncul tiap tahun. Sehingga, rekrutan kader yang mencapai 70-100 mahasiswa, yang aktif tidak lebih dari 50 persen nya. Ini yang menjadi masalah dan selalu dipersoalkan ketika Musyawarah Komisariat atau Musykom, dengan pertanyaan besar "KADER HILANG!!".

Ber-IMM di Renaissance FISIP, dengan kultur dan SDM seperti itu tetap lah harus berpatokan pada Tri Kompetensi Dasar. Lalu, bagiamana menerjemahkan dalam bentuk aksi nyata? Bagi saya, membangun religiusitas memang bukan hal mudah. Di sini memang banyak lemahnya.

Serah terima jabatan ketua umum. Itu menangis bahagia lho
Untuk intelektualitas, bagi saya kader-kader IMM Renaissance FISIP tidak bisa diragukan lagi. Di internal IMM Malang, kader-kader banyak yang tampil dalam mengutarakan ide dan gagasan bahkan konsep. Bahkan tak jarang, seperti dalam arena Musyawarah Koordinator Komisariat atau Musykorkom UMM, kader-kader Renaissance bahkan saling berdebat dalam mengajukan konsep dan gagasan mereka.

Di tataran Malang juga demikian. Apalagi di intra kampus. Mendelegasikan kader ke lembaga intra seperti HMJ, Senat Fakultas hingga Presiden Mahasiswa atau Presma, keberadaan kader IMM Renaissance FISIP selalu diperhatikan baik internal IMM hingga kawan-kawan di organisasi lainnya.

Bahkan untuk organisasi intra di fakultas, IMM Renaissance FISIP pernah mengukir sejarah dengan sapu rata lembaga intra. Termasuk merebut Presma dan Senat Universitas.

Nuansa lain saat Musykom
Tapi itulah Renaissance FISIP. Saya bisa membahasakan, tidak akan ada pernah ketua umum yang 'berhasil' di Renaissance. Boleh lah komisariat lain bilang hebat Renaissance merebut seluruh lembaga intra. Tetapi bagi kader Renaissance, itu berarti melepas kader-kader. Mereka akhirnya sibuk di intra. Bahkan hilang dan tidak kembali lagi ke komisariat saat diberi kepercayaan menjabat di intra.

Bagi saya, itulah uniknya Renaissane FISIP. Selalu ada diskursus dari sebuah hasil yang dicapai. Boleh pengurus bilang 'kami sukses dan kami berhasil'. Tapi tidak bagi kebanyakan kader. Tak jarang, saat LPJ bagi IMM Renaissance, adalah momen yang paling ditunggu dan melelahkan. "Ajang pembantaian," begitu ujar seorang kader dulu.

LPJ IMM Renaissance sangat lama, biasanya dari Jumat sekitar pukul 08.00 WIB, dan baru berakhir subuh esok harinya. Itupun bukan karena persoalan waktu. Alot, keras dan penuh emosi bahkan ricuh dan air mata, itu yang terjadi ketika LPJ berlangsung.

"Iya saya gagal membawa IMM," teriak salah satu Ketum Renaissance saat LPJ yang diwarnai tangis para kader dan pengurus.

"Saya siap jadi ketua umum lagi," teriaknya lagi sembari meneteskan air mata, saat seorang kader menantang para kader yang berani menjadi ketua umum Renaissance.

Disela-sela acara Renaissance di Batu
LPJ itu juga sering diwarnai emosi-emosi tingkat tinggi. Tensi ketegangan meningkat. Bahkan beberapa kali meja terbanting, saat emosi dan tangis mencapai puncaknya.

Tapi setelah itu semua tuntas, pelukan air mata dan permintaan maaf mengalir begitu saja. Semua kembali seperti sedia kalanya. Tidak akan ada yang sakit hati, karena bagi kami diskursus di LPJ memang harus diungkap semua walau itu dengan kritikan tajam. "MENCINTAI TIDAK HARUS MEMUJI, TAPI MENGKRITIK ADALAH BAGIAN DARI MENCINTAI".

Kultur lain yang selalu identik dalam ber-IMM di Renaissance FISIP adalah diskusi dan menulis. Renaissance termasuk banyak menelorkan para penulis yang menghiasi media-media di Jawa Timur, baik lokal maupun nasional seperti Jawa Pos maupun Kompas edisi Jawa Timur. Koran lokal mungkin tidak terhitung lagi.

Butuh piknik juga
Masih ingat saking 'lakunya' kami di beberapa media, diberlakukan sistem setor kas. Yakni, saat tulisan dimuat di media dan kami mendapatkan honor dari kampus (lokal biasanya Rp50 ribu), sebagian disisikan untuk kas. Sehingga, diskusi saat itu juga ada gorengannya. Selain nama IMM Renaissance, kami juga mengibarkan bendera Renaissance Political Research and Studies (RePORT) sebagai lembaga kajian politik.

Di bidang olah raga, kami termasuk yang maniak. Di parkiran kampus, setiap sore selalu ramai digunakan untuk futsal. Bahkan kadang juga bermain futsal saat malam hari. Kami pernah merebut piala futsal Korkom UMM Cup tahun 2006. Walau di final, pertandingan berlangsung panas dan terjadi perkelahian antara Renaissance dengan teman-teman komisariat Ekonomi.

Immawan dapat immawati lho
Kader-kader IMM Renaissance, bukan lah kader yang terlalu organisatoris. Jarang, yang mau mengambil posisi ketua umum IMM Cabang Malang hingga DPD Jawa Timur. Mentok, hanya sebagai ketua bidang.

Inilah cara kami belajar ber-IMM. Kita tentu punya cara masing-masing.
Billahi fii sabilil haq fastabiqul khairat


Jakarta, 25 Mei 2016
Agus Rahmat


JAKARTA - Masih ingat kasus 'Papa Minta Saham'? Ya, kasus yang melibatkan Ketua DPR saat itu Setya Novanto, yang menghebohkan perpolitikan tanah air.

Kasus itu, setelah adanya rekaman antara Dirut PT Freeport Indonesia saat itu Ma'ruf Sjamsoedin dengan pengusaha inisial R dan Setya Novanto, diduga mencatut nama Presiden Jokowi untuk meminta jatah saham. Kasus ini sempat membuat Presiden Jokowi marah, karena namanya dicatut untuk meminta jatah saham.

Itu kasus sejak 2015, yang membuat Setya Novanto dilaporkan oleh Menteri ESDM Sudirman Said ke Majelis Kehormatan Dewan (MKD). Sebelum diputus, Novanto mundur dari ketua DPR, dan oleh Aburizal Bakrie diangkat sebagai ketua Fraksi Golkar.

Namun, sekarang berbeda. Novanto, saat Munaslub Partai Golkar 14-17 Mei 2016 lalu, berhasil meraih posisi ketua umum untuk 3,5 tahun ke depan.

Nah, pasca kasus 'Papa Minta Saham' itu, Setya Novanto kembali bertemu Presiden Jokowi. Dalam kapasitas ia sebagai Ketum Golkar.

Pertemuan berlangsung di Istana Merdeka, pada Selasa 24 Mei 2016.

JAKARTA - Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, mendapat kritikan pedas ketika muncul pemberitaan kalau ia ingin menghapus Peraturan Daerah (Perda) tentang minuman keras atau miras.

Sontak, publik marah dengan sikap itu. Berbagai aktivis kemanusiaan hingga tokoh agama, mengecam kebijakan oleh Menteri Tjahjo tersebut.

Seperti di media sosial, ramai menyayangkan keputusan pencabutan Perda Miras itu. Apalagi, disebutkan kalau pencabutan itu untuk menyelaraskan dengan pengembangan sektor wisata.

Menyikapi itu, Mendagri Tjahjo Kumolo saat berada di Istana Negara Jakarta membantah keras pemberitaan itu. Bahkan, mantan Sekjen DPP PDI Perjuangan itu mengaku mendorong agar setiap daerah membuat Perda miras. Walau, harus diselaraskan dengan aturan di atasnya.

Berikut pernyataan Mendagri Tjahjo Kumolo, di Istana Negara, Jakarta, Selasa 24 Mei 2016:





Monday, May 23, 2016


JAKARTA - Jenderal Badrodin Haiti, tidak lama lagi akan memasuki masa pensiunnya. Sehingga, pemerintah dalam hal ini Presiden, diberi kewenangan untuk mengajukan nama penggantinya ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Namun, belakangan muncul wacana kalau Presiden Joko Widodo akan memperpanjang masa jabatan Badrodin. Tak ayal, kabar itu menampik reaksi protes dari sejumlah pihak. Walau, secara aturan yakni di Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Polri, perpanjangan bisa dilakukan sebelum memasuki umur 60 tahun.

Meski demikian, banyak pihak meminta Presiden Jokowi untuk tidak melakukan itu. Sejumlah politisi senayan, bahkan sudah mempunyai jagoan masing-masing. Lalu, apakah Jenderal Badrodin akan menjadi Kapolri lagi? Atau justru Jokowi punya pilihan lain?

Berikut reaksi Wakil Presiden Jusuf Kalla, saat disinggung soal itu, di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin 23 Mei 2016.



Wednesday, May 11, 2016

Pada sore Rabu 11 Mei 2016, agenda 'mendadak' Presiden Jokowi, mengubah peta suasana bagi kami jurnalis Istana. Agenda mendadak, memang bukan barang baru semasa Presiden Joko Widodo. Hanya kadar urgensinya saja yang berbeda-beda.

Rabu itu, sebenarnya agenda Presiden hanya menerima beberapa tamu dan rapat kabinet terbatas (ratas). Itu pun, ratas yang dilakukan tidak sampai sore, selesai siang.

"Agak santai kita hari ini," kata salah seorang jurnalis dengan wajah sumringah. Bahkan seorang jurnalis online, sudah diminta oleh korlip (koordinator liputan) nya untuk mengambil agenda lain di luar Istana sore harinya. Itu karena agenda Jokowi berakhir siang hari.

Namun, suasana santai di sore hari pada Rabu itu, mendadak berubah drastis. Sekitar pukul 16.00 sore, tiba-tiba seorang staf Biro Pers Istana menghampiri ke Bioskop (sebutan untuk presroom Istana).

"Pak Jokowi mau konpres (konferensi pers)," kata perempuan itu, lalu meminta kami untuk bersegera ke Istana Merdeka.

Beberapa wartawan yang awalnya santai di Bioskop, terlihat tergesa-gesa menuju Istana Merdeka. Tentu yang paling repot, adalah teman-teman jurnalis televisi. Karena selain membawa kamera dan berbagai peralatannya, beberapa juga nampak membawa peralatan untuk siaran langsung.

Pasukan Pengamanan Presiden atau Paspampres, juga terlihat meminta kami untuk lebih cepat lagi.

"Pak Jokowi mau ngomong apa ya?" tanya teman jurnalis.

"Mungkin soal PKI kali," jawab seorang lainnya.

Memang masalah komunis, selain persoalan kejahatan seksual terhadap anak, menjadi hot topic pemberitaan pekan-pekan ini.

Kami, termasuk saya, menjadi penasaran. Segenting inikah kalau hanya membahas soal PKI? 'Bukan tipe Pak Jokowi yang reaktif menanggapi persoalan yang menuai pro dan kontra di masyarakat', gerutuku.

Dua smartphone di tangan, langsung ku utak atik. Mencari tahu, apa yang terjadi.

"Katanya 4 WNI yang disandera sudah dibebaskan ya?," tulis seorang jurnalis di grup WA wartawan.

Seketika itu juga, fokus pikiran sudah mengarah ke 4 WNI itu. Ya, tentu logis. Sebab, ini menjadi penting diumumkan oleh Jokowi ketimbang hanya memberi statement soal PKI.

Kondisi itu diperkuat, dengan kehadiran mobil RI-22 yang merupakan plat kendaraan dinas Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Atas indikasi-indikasi itu, kami berkesimpulan ini memang soal 4 WNI. Walau tetap terbesit keraguan lain, sebab itulah Jokowi selalu memberi kejutan-kejutan bagi kami yang ditugaskan menjadi jurnalis Istana.

Presiden Jokowi saat pengumuman pembebasan 4 WNI. Didampingi Menlu Retno dan Panglima TNI Jenderal Gatot (Foto by Biro Pers Istana)
Hingga kami masuk di ruang Credential Istana Merdeka, diskusi soal duga menduga, tetap berlangsung. Hingga memang membuat ruangan itu sedikit riuh.

Beberapa menit berselang, Jokowi menuju podium yang telah disediakan dan didampingi Menlu Retno dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

"Alhamdulilah puji syukur pada Allah SWT, akhirnya 4 WNI yang disandera oleh kelompok bersenjata sejak tanggal 15 Maret 2016 yang lalu sudah dapat dibebaskan. Ke 4 WNI tersebut dalam keadaan baik, dan pembebasan sandera ini berhasil melalui kerja sama yang baik antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Filipina," Jokowi dalam keterangan persnya.

"Saat ini keempat sandera sudah berada di tangan otoritas Filipina. Dan akan segera diserah terima  ke Indonesia. Saya mengucapkan terimakasih kepada pemerintah Filipina yang telah memberikan kerjasama yang sangat baik, dalam dua kali pembebasan WNI kita dan saya bersyukur bahwa inisiatif Indonesia dalam penyelenggaraan triliateral (Indonesia-Filipina-Malaysia) di Yogyakarta 5 Mei lalu membuahkan hasil. Dan operasinya ini adalah salah satu hasil implementasi pertemuan itu . Terimakasih,".

Kolaborasi apik Menlu-Panglima TNI dalam pembebasan 14 WNI (10 pertama dan 4 kedua). Salam bahagia, di Istana Merdeka (Foto by Biro Pers Istana)

Kerja yang awalnya kami duga bisa lebih santai, ternyata harus kembali bersibuk ria. Apalagi, tiba-tiba pihak Istana menyediakan dua kendaraan mobil untuk mengikuti Presiden.

"Mau jemput sandera ya katanya?" riuh dugaan kami. Walau ternyata, ini untuk inspeksi mendadak Terminal 3 Ultimate Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Untuk kisah ini, kita ceritakan pada lembaran yang berikutnya ya kawan..


Fastabiqul khairot
(Agusmbojo)

Sunday, May 8, 2016

Rabu 4 Mei 2016 lalu, seperti biasa berangkat kerja menggunakan moda transportasi massal commuter line atau KRL. Moda ini menjadi andalan saya dan istri, setelah kami memutuskan menempati rumah (cicilan puluhan tahun) di Depok, perbatasan dengan Citayam Bogor.

Seperti biasa, berangkat dari kediaman menggunakan motor menuju Stasiun Citayam, karena itu stasiun yang terdekat. Hampir jam 9 pagi, KRL sudah tidak terlalu padat.

Kebetulan pagi tadi, kereta yang akan memasuki Citayam berasal dari Stasiun Nambo menuju Tanah Abang, yang memang tergolong sepi. Sehingga saat naik dari Citayam, kereta terbilang sepi.

Perjalanan KRL sangat normal. Selama pemberhentian di beberapa stasiun, seperti Pondok Cina, Tanjung Barat maupun Lenteng Agung hingga Duren Kalibata, tidak terlalu banyak penumpang yang naik sehingga tidak perlu berdesak-desakan.

Desak-desakan di Manggarai (doc; pribadi)
Namun, suasana kontras terlihat saat memasuki Stasiun Manggarai, sebagai stasiun transit. Kebetulan, saya hendak ke Kantor Wakil Presiden (karena Presiden kunker ke Jateng dan Yogya). Namun saya turun di Manggarai, karena motor diinapkan di situ.

Memasuki stasiun, berjejer deretan penumpang yang sangat banyak, sepanjang jalur 5 yang menjadi tempat pemberhentian KRL. Kebetulan saya sudah bersiap turun dan berdiri di depan pintu.

Agak sedikit shock melihat pemandangan itu. Bahkan ketika hendak turun, saya dan beberapa penumpang sedikit kesusahan karena akses turun tertutup oleh penumpang lain yang berebutan naik.

"Beri jalan yang turun dulu woe," teriak seorang yang hendak turun.

Akhirnya, dengan sedikit dorongan untuk membuka jalan, saya dan beberapa yang turun bisa keluar dari jebakan rebutan naik para penumpang itu.

Setelah itu saya menuju ke depan, untuk melintasi beberapa rel. Kaget, karena ternyata tidak hanya di pintu yang saya turuni tadi penumpangnya padat. Ternyata, hampir semua pintu seperti itu.

Keamanan harus turut tangan atasi penumpang berdesakan (doc; pribadi)
Parahnya, beberapa pintu sampai tidak muat namun dipaksa sehingga dorong mendorong tidak terelakkan. Saya tahu apa yang dialami mereka yang di dalam, karena saya pernah dalam posisi mereka.

Bahkan, ibu-ibu yang mungkin diburu waktu, memaksakan diri naik walau terlihat sudah sangat sesak.

Terus ke depan, suasana lebih parah lagi terjadi di gerbong khusus perempuan. Mereka yang memaksakan naik, bahkan untuk menempatkan satu kakinya saja sudah tidak bisa.

Ibu-ibu paruh baya, terlihat memaksakan diri naik. Tidak mau kalah dengan perempuan muda yang mungkin masih berumur 20-an tahun. Bahkan seorang petugas keamanan yang turun langsung, rasanya tidak mempan untuk meminta sebagian tidak memaksakan diri naik.

"Ibu jangan paksa naik, ini gak bisa masuk," kata petugas itu.
Beberapa penumpang tidak bisa naik, di Stasiun Manggarai (doc; pribadi)
Saya tidak tahu apa yang terjadi berikutnya, hingga kereta itu bergerak menuju Sudirman, Karet, Tanah Abang maupun stasiun selanjutnya.

Situasi ini, sempat saya alami juga ketika pulang dari DPR. Naik dari Stasiun Palmerah (persis sebelah DPR), memang sepi karena arah sebaliknya yang ramai.

Namun tiba di Tanah Abang, kami yang ingin keluar saja susah karena di luar sudah antri dan berdesakan untuk masuk. Bahkan, panjang antrian sampai ke tangga atas tempat penyeberangan.

Harus diakui, itulah kondisi riil moda transportasi massal kita. Untuk menghindari kemacetan Jakarta yang super krodit ini, moda transportasi memang suatu keharusan untuk disiapkan.

Bayangkan kalau ratusan ribu penumpang setia KRL ini memilih menggunakan kendaraan pribadi, motor misalnya, bagaimana Jakarta apa nggak lebih macet? Bahkan mungkin bisa stagnan!

Bagi saya, perlu dipikirkan dan disediakan tidak hanya moda transportasi massa yang banyak tapi juga yang layak.

Sebut saja metromini atau kopaja. Saya pribadi bukan tidak ingin menggunakan itu, tapi karena kelayakan dan kenyamanan yang diabaikan.

Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler