Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Monday, August 31, 2020

Pejabat publik seperti menteri, memiliki tipikal yang berbeda-beda saat menghadapi wartawan. Ada yang begitu care, ada yang moodyan, atau ada yang lebih suka ngobrol santai tanpa harus ada kutip mengutip pernyataan di media.

Diantaranya adalah Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) 2014-2019 dan 2019-2024, Pratikno. Beliau tentu menjadi orang paling dekat dengan Presiden. Dua periode Pak Jokowi menjabat Presiden, dua periode juga dia menjadi Mensesneg.

Mensesneg Pratikno

Kalau diistilahkan, Pak Pratik adalah lingkaran ‘A setengah’ (kalau ada istilah A1) Presiden. Kebijakan-kebijakan yang ada tentu akan didiskusikan dengan beliau. Marah dan senangnya Presiden, sudah pasti dia tahu.

Namun untuk bahan kutip mengutip, dia selalu berhati-hati. Hampir susah mendapatkan bahan kutipan yang istilahnya layak kutip. Paling dijawab, ‘nggak tahu aku’ atau ‘baru dengar aku’. Mentok-mentok, ‘tanya ke menteri terkait lah’.

Mengulik informasi dan meminta penjelasan darinya, bisa dibilang begitu susah. Kalaupun memberi penjelasan, sekedar yang ringan soal agenda kenegaraan, atau hal-hal yang menyangkut acara.

Sekitar tahun 2016. Saat itu, sempat ramai berita ada pertemuan utusan Pak Jokowi dengan Prabowo Subianto sebagai Ketum Gerindra. Dalam informasi itu, utusan yang dimaksud adalah Pak Pratik. Isu politik itu begitu liar, hingga membuat Pak Pratik mendatangi pressroom, yang saat itu masih dibuat sementara lantaran pressroom sedang direnovasi.


“Tidak pernah bertemu dan tidak pernah berkunjung ke sana dalam beberapa minggu ini,” elak Pak Pratik saat itu. Dia juga memastikan, sebagai pejabat Negara tidak bisa dukung mendukung calon.

Isu itu dijawabnya terkait Pilgub DKI. Pilkada saat itu berlangsung cukup panas. Pertarungan di Pilpres 2014 antara Pak Prabowo dengan Pak Jokowi, kembali tersaji di Pilgub DKI. Apalagi anggapan saat itu yang begitu kuat adalah Pak Jokowi punya ‘calon’ untuk memenangkan pilgub. Sementara Pak Prabowo juga punya calon.

Namanya wartawan, semua dikulik. Tidak jarang pertanyaan-pertanyaan yang menjebak ditanyakan. Tapi jawabannya ya cuma itu-itu saja. Berpuluh-puluh menit doorstop, tidak ada angel lain. Hanya klarifikasi saja, hanya ‘Istana bantah presiden ketemu Prabowo’ atau ‘Presiden Jokowi bantah ketemu Prabowo’ dan atau sejenisnya.

Dicecar dengan pertanyaan ‘jebakan’ agar informasi yang dimiliki terkuak, hanya dijawab datar, itu-itu saja. Mengesankan bahwa beliau tidak tahu apa-apa, beliau hanya tahu itu.

Walau kami tahu, ya beliau tahu banyak. Sekelas Pak Pratik, mantan Rektor UGM dan akademisi di bidang politik, tentu ilmu dan informasi yang dipegangnya melebihi dari apa yang disampaikannya di depan media.

Usai rapat kabinet  terbatas (ratas) atau rapat kabinet paripurna, sering kali Pak Pratik yang dicegat. Dalam pembukaan rapat-rapat itu, Presiden selalu memberi pidato pengantar. Tidak terlalu panjang, hanya beberapa menit. Tapi kadang ada pernyataan Presiden yang begitu keras, pernyataan marah, atau yang sekiranya sangat layak dikulik.

Usai rapat, kadang Pak Pratik keluar melalui pintu belakang. Dimana kami lazim menunggu agenda selesai. Beliau keluar dengan senyum khas, dan jalannya yang begitu cepat.

Ojo takon aku (jangan tanya saya),” begitu biasanya dijawab kalau menghindar.

Atau misalnya isu-isu sensitif, yang kadang masih kabarnya, belum valid tapi sudah diperbincangkan publik, hampir tidak pernah para jurnalis mendapatkan penjelasan atau jawaban dari Pak Pratik.

“Aku nggak tahu eee,”.

Atau kadang Pak Pratik memilih melenggang meninggalkan wartawan. Menunjuk menteri lain untuk ditanya. Sementara dia tersenyum-senyum dengan langkah yang begitu cepat menuju kantornya.

Di luar itu, Pak Pratik termasuk yang begitu dekat dan selalu berbaur dengan wartawan. Dia kadang tidak memperlihatkan diri sebagai seorang menteri. Tidak merasa menjadi elit di tengah-tengah kami, yang sering kali memproklamirkan diri sebagai kaum proletar.

Sekitar 2018, Pak Jokowi melakukan kunjungan ke Jawa Timur. Diantaranya mengunjungi salah satu pelabuhan di Gresik. Pelabuhan bagi pengembangan ekonomi, menjadi penting. Dan pengembangan ekonomi ini menjadi titik poin yang selalu diseriusi oleh Pak Jokowi. Saat itu, Presiden masih meninjau beberapa ruangan di dalam kapal.

Kami sudah di bawah, di luar kapal-kapal itu. Biasa, berjejer dan berharap ada doorstop (wawancara todong) untuk pendalaman materi ke Presiden. Namun di sela-sela menunggu itu, Pak Pratik tiba-tiba menghampiri.

“Ayo foto, ayo foto,”.

Diajak pejabat, siapa sih yang tidak mau. Berdiri di barisan depan, bergaya layaknya kami ini teman akrabnya, dan yang lain berlarian ingin ikut dalam foto itu. Lebih luwes jika diajak ngobrol-ngobrol ringan tanpa harus kutip mengutip dibanding saat wawancara.

Sekitar tahun 2019, pernah juga Pak Pratik mendampingi Presiden menghadiri acara yang diselenggarakan IkatanCendikiawan Muda Indonesia (ICMI). Acara digelar di Lampung. Acara berlangsung pada malam hari.

Usai acara kami sudah berbaris berjejer, berdesakan untuk mencari posisi yang pas untuk doorstop Presiden. Bagi wartawan televisi, kamera berjejer dengan tripodnya. Kami yang online dan cetak, duduk di bawahnya. Tidak pandang kotor atau bersih, yang penting bisa selonjoran sebelum doorstop.

Sementara tepat di depan kami, Pak Jokowi masih melayani acara foto bersama. Acara itu memakan waktu yang lama. Karena selain dengan ICMI, juga foto bersama dengan tuan rumah dan beberapa daerah lainnya. Belum lagi yang ngotot minta selfi.

Saat duduk selonjoran di lantai yang pasti berdebu dan kotor itu, tiba-tiba Pak Pratik menghampiri. Jangan harap doorstop. Dia hanya ingin berbaur. Jadilah bincang-bincang santai diselingi tawa dengannya.

Kalau didoorstop dia menghindar, tapi ini berbaur dan ikut selonjoran. Entah bagaimaan persepsi orang yang ada di situ. Atau justru mereka tidak tahu kalau Pak Pratik adalah menteri!?

Kadang Pak Pratik yang membuka percakapan. Tapi jangan harap percakapan yang serius, yang baground suatu masalah Negara. Tidak. Pecakapan yang mengandung humor. Beliau baru berdiri, saat Pak Jokowi sudah selesai dan siap memberikan keterangan pers.

Pada Oktober 2018, ada agenda Presiden di Istana Negara. Ratusan tamu ikut serta dalam agenda itu. Termasuk wartawan yang meliput tentunya. Usai acara, para wartawan langsung kavling tempat, bersiap-siap untuk doorstop.

Lokasinya ada di dekat pintu keluar. Untuk mendapatkan posisi yang pas, yang bagus, tentu kami juga harus berebutan. Siapa cepat dia dapat tempat yang pas. Karena posisi doorstop harus dari depan. Tidak boleh dari samping atau belakang, seperti saat doorstop pejabat atau publik figur lainnya. Maka yang dicari adalah posisi di depan.

Karena banyak wartawan, jadi kami pun harus bisa cepat-cepatan mendapatkan posisi. Tertinggal sedikit, atau meninggalkan posisi yang sudah ditempati, bisa jadi hanya kebagian di belakang kamera. Tempat yang tidak tepat untuk bertanya ke orang nomor satu di Indonesia itu. Juga tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang disampaikan.

Saat kami siap-siap itu, Pak Jokowi biasanya masih ada agenda non formal, berbincang-bincang terlebih dahulu dengan tamu. Kalau acaranya adalah pelantikan pejabat, maka beliau akan berbincang sejenak dengan pejabat tersebut. Lokasinya tepat berada di depan kami, sekitar 10 meter.

Di depan kami juga, ada meja panjang. Antara meja dan tempat Pak Jokowi berbincang bersebelahan, hanya diberi sekat. Meja itu biasanya menjadi tempat sajian makanan ringan dan minuman, bagi para tamu dan pejabat. Puluhan jenis makanan dan minuman disiapkan di meja itu, tinggal para tamu mengambil saja.

Saat kami menunggu, tiba-tiba Pak Pratik datang membawa beberapa kue yang disimpan di atas nampan. Layaknya pelayan restoran, beliau menyodorkan kue-kue di atas nampan itu ke wartawan yang duduk menunggu di tempat doorstop.


Bukan wartawan tidak doyan makan atau ingin dilayani seperti itu, bukan. Karena jika wartawan mementingkan makan, maka momen doorstop dengan Presiden bisa saja lepas. Kita tidak tahu seberapa lama Pak Jokowi berbincang dengan tamunya. Pernah sangat lama, pernah juga sebentar. Sering kali mau didoorstop, tapi beberapa kali juga tidak.

Maka pilihan bagi wartawan, adalah tetap standby menunggu. Jadi, dahulukan tugas doorstop baru makan kemudian.

Sikap Pak Pratik ini, mengingatkan pada sosok pendahulunya yang juga Mensesneg. Ya, Pak Moerdiono. Beliau fenomenal, lantaran penjelasannya di hadapan media penuh kehati-hatian. Statemennya sangat lambat. Konon, Pak Moer begitu berhati-hati menyampaikan statemen ke media untuk menghindari kesalahan. Jadi terlihat sangat lambat.

Saat masih kecil, Pak Moer selalu tampil di TVRI untuk memberi penjelasan ke publik. Tapi gaya bicaranya yang sangat lambat, justru menjadi cirinya.

Jurnalis senior Kompas, J.Osdar, dalam bukunya Sisi Lain Istana; Dari Zaman Bung Karno sampai SBY menggambarkan sosok Pak Moer dalam bergaul dengan wartawan Istana saat itu.

Era Presiden Soeharto memimpin Indonesia, Presiden tidak punya juru bicara. Sehingga Pak Moer yang menjadi jembatan informasi antara Presiden dengan wartawan Istana. Yang memberi pernyataan-pernyataan pers. Bisa dibilang, kalau dalam konteks sekarang ya Pak Moer yang menjadi ‘jubir’.

Mas Osdar, dalam bukunya itu juga memaparkan bagaimana hubungan Pak Moer dengan wartawan. Di luar kutip mengutip statemen, beliau sering kali berbincang dengan wartawan dan memberi penjelasan mengenai latar belakang suatu persoalan. Tentu tidak untuk dikutip media alias off the record.

Menyampaikan informasi baground sebenarnya cukup bagus. Tentu tidak untuk dikutip media. Agar wartawan juga punya sudut pandang yang utuh menyikapi suatu masalah. Seorang pejabat pernah mengatakan, dulu saat di DPR dia begitu leluasa berbicara, walau belum terlalu mendalami persoalan. Tapi ketika di eksekutif (pemerintahan), tidak bisa seperti itu. Ada informasi yang bisa dibuka, ada yang tidak.

Kadang Pak Moer juga menghampiri wartawan di ruang pers, saat para jurnalis sedang mengetik berita. Kedatangan yang tiba-tiba, membawa suasana humor antara beliau dengan wartawan. Obrolan sering kali juga diiringi dengan hidangan berupa gorengan.

Saat kunjungan kerja ke luar negeri, tak jarang Pak Moer juga menghampiri tempat wartawan yang berada di ekor pesawat. Beliau juga menjadi tempat para wartawan mengadu tentang kondisi, tentang para menteri yang dianggap tidak bersahabat dengan pers.

“Biarkan saja menteri itu menggunakan corong pengeras suara dan putar-putar kota menjelaskan langsung ke masyarakat,” Pak Moer dengan nada bercanda, seperti dikutip dalam buku Mas Osdar.

Kalau Pak Moer adalah seorang menteri yang penggila music dangdut, Pak Pratik suka genre musik apa ya?

 


Sunday, June 28, 2020

Reshuffle atau mengganti menteri, dalam konstitusi memang menjadi preogratif seorang Presiden. Walau kadang realitanya, faktor x cukup mempengaruhi kebijakan itu. Banyak pakar politik hingga politisi menyebut, karena sistem presidential kita masih setengah. Artinya, keputusan eksekutif sebagai pelaksana pemerintahan (dalam hal ini presiden) masih ada 'campur tangan' dari kekuatan lain. Politik dan lembaga politik, parlemen tentunya, punya andil di dalamnya.

Baik. Saya tidak ingin berbicara mengenai teori politik. Saya hanya ingin bercerita dan membandingkan. Bercerita mengenai realitas politik yang saya lihat, saya alami dan saya dengar, di republik ini. Realitas reshuffle. Dalam profesi saya, sedikit diuntungkan pernah ditempatkan di DPR dan Istana Kepresidenan. Walau mungkin penglihatan ini bagi orang lain dianggap subjektif atau tidak tepat.

Pada 18 Juni 2020 lalu, untuk pertama kalinya Presiden Joko Widodo dan Wapres KH Ma'ruf Amin, menggelar rapat kabinet paripurna. Ya, rapat pertama secara tatap muka lantaran sejak Maret hanya melalui virtual lantaran pandemi Covid-19. Karena berlangsung tertutup, tentu media dan publik tidak akan tahu apa yang terjadi di dalamnya.

Ujug-ujug, video itu dipublish oleh Sekretariat Presiden melalui laman youtube. Tentu itu resmi. Dari tanggal 18 dan baru dipublish tanggal 28 Juni, jeda 10 hari, sebenarnya sudah kadaluarsa dalam perspektif media, apalagi media online. Namun menjadi sangat layak dan bernilai berita, karena pidato Presiden Jokowi punya nilai berita. Saya tidak mau berasumsi makna dari pidato pembukaan di rapat itu (Silahkan simak dan perhatikan videonya: Ini link-nya).

Tapi ada kata-kata yang membuat saya pribadi berdecak 'wow'. "Bisa saja reshuffle..." begitu salah satu kalimat potongannya. Sebenarnya ada lagi yang menggelitik saya pribadi, "Saya pertaruhkan reputsai politik saya". Tapi yang terakhir, terlalu politis. Biarlah semua mencerna maknanya, walau mungkin berbeda.

Oke, soal reshuffle. Saya sedikit beruntung menjadi salah satu bagian dari serah terima kepemimpinan nasional dari Pak Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden RI ke-6 dan dua periode) ke Pak Jokowi pada 2014 lalu. Saya bertugas di Istana Kepresidenan, sehingga apa yang terjadi, sedikit banyak masih terekam dalam ingatan.

Reshuffle pertama Pak Jokowi saat itu adalah pada 12 Agustus 2015. Saat itu, komposisi reshuffle adalah Luhut Binsar Panjaitan sebagai Menkopolhukam (menggantikan Tedjo Edhy), Darmin Nasution sebagai Menko Perekonomian (menggantikan Sofyan Djalil yang menempati pos menteri baru), Thomas Lembong sebagai Menteri Perdagangan (menggantikan Rachmat Gobel), Rizal Ramli sebagai Menko Kemaritiman (menggantikan Indroyono Susilo), dan Sofyan Djalil sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas (Menggantikan Andrianof Chaniago).

Di balik proses pergantian itu, rasanya seluruh media tidak ada yang mampu mengendus. Saya rasakan, reshuffle kali itu benar-benar informasinya tertutup. Gonjang ganjing politik yang menyertainya pun tidak ada. Tidak ada 'kode keras' dari Pak Jokowi untuk merombak jajaran kabinetnya.

Lalu, reshuffle selanjutnya dilakukan pada tahun 2016. Kabar-kabar reshuffle memang sempat mengemuka. Tapi ibaratnya, kami hampir tidak bisa melihat 'hilal' itu. Informasi reshuffle benar-benar tertutup. Kabarnya, Pak Jokowi memang tidak mengumbar dan membahas ini semua bersama dengan menteri-menteri atau orang banyak, tidak. Tapi hanya dai sendiri, dan juga dua atau tiga orang yang dianggap sebagai kepercayaannya.

Bahkan hingga H-1 reshuffle pada 27 Juli 2016, hampir tidak terlacak. Tidak ada 'kode keras' juga dari Pak Jokowi saat itu. Mungkin ada yang terdeteksi tapi itu hanya satu atau dua saja. Selebihnya, tidak ada yang bisa memberi kepastian. Saat itu, hanya salah satu media nasional ternama yang saat proses pengenalan menteri baru, hari itu juga sudah cetak. Intinya, kami kebobolan berjamaah oleh media nasional terkemuka itu.

Ada nama-nama yang digeser, dan nama-nama baru. Pergeseran posisi beberapa menteri dan ketua lembaga:
Luhut Binsar Pandjaitan sebagai Menko Kemaritiman;
Bambang Brodjonegoro sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan dan Kepala Bappenas;
Sofyan Djalil sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang; Thomas Trikasih Lembong sebagai Kepala BKPM.

Menteri baru:
Wiranto sebagai Menko Polhukam;
Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan;
Eko Putro Sanjoyo sebagai Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi;
Budi Karya Sumardi sebagai Menteri Perhubungan;
Muhadjir Effendy sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan;
Enggartiasto Lukita sebagai Menteri Perdagangan;
Airlangga Hartarto sebagai Menteri Perindustrian;
Archandra Tahar sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM;
Asman Abnur sebagai Menteri PAN dan Reformasi Birokrasi atau PAN-RB.

Lagi-lagi, proses pergantian itu tidak ada 'kode deras' yang muncul. Perlahan-lahan, saya merasa memang dalam keputusan-keputusan penting yang menjadi preogratifnya, Pak Jokowi memilih tidak melibatkan banyak orang. Atau mungkin menyadari itu preogratif dia. Istilahnya, 'Suka-suka saya sebagai Presiden mengangkat dan memberhentikan menteri'.

Kemarahan yang Jarang Terlihat
Dalam video pernyataan yang baru diunggah 28 Juni itu, sepanjang pidato pembukaannya, lihat raut wajah Pak Jokowi. Ya, sepanjang itu dalam tatapan yang marah. Semua ditumpahkan untuk para pembantunya, para menteri. Memarahi menteri tentu hak preogratif beliau. Termasuk menggantinya kan.

Sekali pernah melihat Pak Jokowi marah adalah saat menyampaikan pernyataan pers di Istana Merdeka Jakarta. Saat itu, mengomentari kasus 'Papa Minta Saham' yang kala itu menyeret nama Setya Novanto. Pak Setnov, biasa dipanggil, saat itu masih menjadi Ketua DPR.

Lalu, siapa yang diganti? Atau siapa saja yang akan diganti? Menarik untuk menunggu. Satu yang mungkin menjadi kode dari pernyataan itu adalah "Bidang Kesehatan, tuh dianggarkan Rp 75 triliun. Rp75 trilium, baru keluar 1,53 persen coba".

Apakah itu bukan lagi sebuah kode? Menarik menunggu kejutan berikutnya di reshuffle era pandemi Covid-19 ini. Wallahualam.

Thursday, May 14, 2020




Kue cucur, atau dalam bahasa daerah kami adalah 'kalempe kala', begitu digemari. Kue ini dibuat saat subuh hari, dan biasanya ludes bersamaan dengan matahari yang mulai meninggi dikala pagi.

Tidak banyak orang yang menjuel kalempe kala, saat itu. Belum menjadi sebuah industri yang menguntungkan bagi generasi. Tapi nampaknya kalempe kala, kue cucur ini begitu bersejarah bagi orang-orang di kampung kami. Hampir semua yang membuat sekaligus menjualnya, adalah mereka yang sudah lansia.

Desa kami, bernama Dena. Sebuah desa yang kini secara administratif masuk di Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kalau dari sejarah, desa ini memiliki peran dalam ikut membantu dan mengusir penjajah yang dilakukan oleh Kesultanan Bima kala itu. Terkenal dengan sejarah 'Perang Dena'.

Baca: Kangen-kangenan Jokowi Dengan Jan Ethes dan Sedah Mirah Lewat Video Call 

Nah, yang menjual kalempe kala di dekat rumah kami saat itu berjarak sekitar 500 meter. Namanya Nenek Madu. Yang masih menjual dan membuat kue itu sudah sangat jarang. Kalaupun ada, itu adanya di pojok-pojok kampung, jadi tidak ada pilihan penjual lain.

Rumah beliau adalah rumah panggung. Di bagian depan, ditambahkan ruangan dengan bilik dari anyaman bambu dan beralaskan tanah. Hanya beralaskan bale-bale (bahasa Bima nya sarangge) besar untuk duduk dan beraktifitas. Di situ Nenek Madu, disaat orang masih terlelap tidur, beliau sudah asyik menggoreng kalempe kala ini. Tapi kadang di belakang, di bagian dapur.

Untuk bisa mendapatkan kalempe kala itu, saya harus subuh-subuh ke rumahnya. Ketika itu masih umuran Sekolah Dasar. Tapi saya termasuk anak yang sudah cukup rajin untuk shalat subuh di Masjid Baitusyuhada, masjid besar yang cukup dekat dengan rumah kami.

Baca juga: (Bukan) Tradisi Mudik

Saya juga masuk kategori penggemar berat kue ini, kue yang konon katanya berasal dari Jawa dan Sulawesi. Karena itu, keinginan besar saat itu adalah setiap pagi tersedia kalempe kala dan bisa saya lahap hingga kenyang. Kadang saya menangis dan memarahi ibu, jika keinginan makan kue tidak dipenuhi. Saya kerap dimarahi jika sudah merengek minta dibelikan kue itu.

Pernah karena keinginan makan kalempe kala tapi tidak dikabulkan ibu, saya nekat mengambil beras rumah untuk ditukarkan dengan kue. Saat itu, beras seukuran kaleng blueband yang besar, yang katanya seukuran 1 kg, saya ambil diam-diam di karung dapur rumah. Beras untuk kebutuhan sehari-hari sebenarnya.

Biasanya saya ambil itu sebelum shalat subuh. Jadi usai subuhan di masjid, saya bergegas kembali ke rumah, mengambil beras itu, lalu membawa ke rumah Nenek Madu.

Saat itu, untuk beberapa kasus, sistem barter (jual beli dengan tukar menukar sesama barang) masih berlaku. Meski mata uang sudah ada tentunya. Saya bersukur masih bisa merasakan era barter itu. Beberapa kali ibu atau tetangga di kampung kami, membarter beras mereka dengan ikan atau sayuran yang dijual emak-emak dari kampung lain. Untuk ikan atau sayur ditukar dengan beras berapa kilo, itu tergantung kesepakatan kedua belah pihak.

Dengan kaleng itu, saya membawa ke rumah Nenek Madu, yang hanya diterangi lampu tempel, asyik menggoreng kalempe kala atau kue cucur itu. Saya lebih pagi dari orang-orang, karena takut ketahuan. Itupun saya berjalan mengendap-endap menuju tempatnya. Beras di kaleng itu dituang ke dalam wadah yang ada, lalu kalempe kala-nya dimasukkan ke dalam kaleng itu.

Saya sendiri lupa berapa jumlahnya, tapi cukup banyak, penuh kaleng blueband itu. Saya harus berjalan pelan, sambil memakan kue itu. Biar saat tiba di rumah, kuenya sudah habis dan aksi mengambil beras rumah tanpa sepengetahuan itu, benar-benar tidak ketahuan. Dan kejadian itu berulang saya lakukan, walau tidak setiap hari.

Saya pernah dalam kondisi marah berat, saat bangun kesiangan, dan pagi itu gagal makan kalempe kala. Kalau sudah seperti itu, pelampiasannya adalah dengan menangis. Kue itu sudah menjadi candu bagi anak sekecil kami kala itu.

Kadang bapak yang mengajak untuk makan kue itu. Atau saya mengajak bapak, berjalan-jalan ke rumah uwak (kakak bapak), yang tepat berada di seberang rumah Nenek Madu. Hanya dibatasi oleh gang saja.

Jadi jika bapak berkenan ke sana usai shalat subuh, maka wajib menikmati kalempe kala. Walau harus agak lama menunggu karena sudah mulai ramai, tidak sepagi saat saya diam-diam datang membawa beras dan menukarkannya dengan kue itu.

Saturday, May 9, 2020

sumber: IG @janethess


Pandemi Covid-19, membuat banyak keluarga tidak bisa bersama-sama dalam satu tempat. Apalagi momentum Idul Fitri kali ini, mengharuskan semuanya untuk menjaga jarak, dalam rangka memutus mata rantai virus ini.

Tidak hanya masyarakat biasa. Presiden, orang nomor satu di Indonesia saat ini, Joko Widodo atau Jokowi, pun harus terpisah jauh dengan kedua cucu kesayangannya. Covid membuat Mbah Owi, biasa Jan Ethes memanggil (cucu pertama), tidak bisa menggendong atau sekedar jalan-jalan ke mall bersama keduanya.

Namun moment epic tertangkap kamera, saat sang kakek itu melakukan video call dengan kedua cucunya (Link: Keseruan Ketiganya). Mereka bertiga melakukan video call (VC) bersama-sama.

Ethes, yang merupakan anak pertama dari pasangan Gibran Rakabuming Raka dan Selfie Ananda, nampak santai sambil berbaring, memandangi HP. Ethes tersenyum-senyum melihat mbahnya dan adiknya, Sedah Mirah, di layar pintar itu.

Sedah Mirah dengan pakaian santai, juga terlihat asik melihat sang kakek dan kakaknya itu. Sementara Jokowi, duduk di sofa dengan baju kemeja putih yang menjadi khasnya. Nampak senyum merekah terpancar.

Dalam beberapa kali kesempatan wawancara, Jokowi memang kerap melakukan VC dengan cucunya. Saat Ethes masih cucu tunggal, saban malam ia melakukan panggilan video itu. Obat kangen, katanya. Jika Ethes tidak ke Istana Bogor dan Jokowi tidak ke Solo dalam waktu yang cukup lama, maka VC menjadi obat pelipur lara, penghilang lelah dalam mengurus negara.

Saat ini, dimasa-masa pandemi yang memaksa negara bekerja ekstra, tentu waktu dan pikiran Jokowi akan tersita banyak. Beban dalam kondisi saat ini, berlipat-lipat. Memastikan masyarakat aman dari Covid-19, memastikan ekonomi negara tidak hancur, dan memastikan masyarakat tetap bisa bertahan hidup, menjadi beban Jokowi saat ini.

Dalam akun Instagram @janethess yang diunggah pada Sabtu siang 9 Mei 2020, nampak Ethes tengkurap memandangi layar HP di depannya. Lucunya, HP itu ditopang oleh boneka dinosaurus kesayangannya, agar bisa tegak berdiri.

"Temu sedang berjarak, Mbah Jokowi sempatkan diri untuk melihat riangnya cucu-cucunya sebagai penyejuk hati, pengobat lelah. Solo, Medan dan Jakarta bersatu dalam 1 frame. Ketiganya sedang merajut kehangatan lewat kamera. "Sudah minum susu belum?" Tanya Mbah kepada Ethes dan Sedah," tulis akun itu.

"Keduanya kompak menjawab, "Sudaaah, Mbah!" jawab mereka.

Nampak memang bagaimana Ethes sudah sangat lama tidak bertemu dengan mbahnya itu. Setiap ketemu, terutama saat Jokowi di Solo, selalu saja ia membawa cucu kesayangannya itu jalan-jalan. Naik odong-odong dan segala permainan di salah satu mall di Solo menjadi tempat favorit mereka melepas rindu.

"Mbah, kapan kita bisa main lagi?" tanya Ethes.

Pertanyaan Ethes itu menggugah Jokowi. Ia tersenyum dengan pertanyaan itu. Ehtes pasti sudah sangat rindu bisa berlari-larian dengan sang kakek. Jokowi pun nampak jauh lebih kangen dengan cucunya itu.

"Nanti ya, Thes, kalau Coronanya sudah pergi, Insya Allah kita bisa ketemu lagi, sekarang Ethes sama Sedah mainnya di rumah dulu ya. Mbah sudah kangen, tapi sabar dulu ya," ucap Mbah Owi menenangkan.

Semua percakapan itu, tertuang dalam akun instagram @janethess dan dipenuhi dengan ratusan komentar.

Jika Ethes adalah cucu dari pernikahan Gibran dan Selfie, sementara Sedah adalah cucu dari pernikahan Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution. Kahiyang ikut sang suami, dan saat ini berada di Medan, Sumatera Utara.

Tuesday, May 5, 2020


Berbicara kematian, pasti banyak yang ingin saat menghadap Sang Khalik dalam keadaan husnul khotimah. Meninggal ketika sedang melaksanakan ibadah misalnya, sering kali disebut meninggal dengan cara yang sangat baik.

Tentu kita punya keinginan yang baik seperti itu. Tetapi semua itu, hidup dan mati, adalah hak preogratif Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT.

Didi Kempot, dengan nama asli Dionisius Prasetyo, wafat diumur 53 tahun. Adik kandung pelawak almarhum Mamik Prakoso itu, lahir di Surakarta 31 Desember 1966.

Kepergian Didi Kempot, terlalu mengagetkan kita semua. Hari-hari sebelumnya beliau masih beraktivitas seperti biasa. Tuhan tidak memberikan aba-aba.

"Mas Didi Kempot, selamat jalan... Pembicaraan kita bertiga harus sabtu kemarin via tlp dgn Mas Kanang, Bupati Ngawi, tdk dapat kita wujudkan," tulis Seskab Pramono Anung dalam akun instagramnya @pramonoanungw.

Pria yang dijuluki 'the godfather of brokenheart' ini bagi saya, pergi dengan cara yang baik. Kenapa? Tidak ada yang mampu mengalahkan beliau dalam kegiatan donasi amal. Konser #Dirumahsaja yang ditayangkan di Kompas TV pada 11 April 2020 lalu, bisa dibilang sangat fenomenal.

Dalam waktu singkat, jumlah donasi yang berhasil terkumpul dari konser Didi Kempot itu mencapai Rp7 miliar. Jumlah ini didonasikan untuk membantu masyarakat yang terdampak. Disalurkan juga melalui sejumlah lembaga seperti Muhammadiyah dan NU.

Kebaikan lain yang mengiringi kembalinya Didi Kempot ke hadapan Sang Khalik, adalah lagu 'Ojo Mudik'. Lagu yang dibuat untuk mengimbau masyarakat agar tidak mudik karena dikhawatirkan membawa dan menyebarkan virus Covid-19, adalah amalan yang juga cukup besar. Pesan yang disampaikan mengena, disampaikan oleh seorang maestro yang bernyanyi dari hati. Ketika pesan itu benar-benar dari hati, maka yang menerima juga akan masuk ke hati.

Itu baru dua amalan saja yang terlihat. Maka bagi saya, kembalinya Didi Kempot sungguh sangat baik dan indah.

Pergi Saat Sayang-sayangnya
Siapa yang tidak sedih dengan kepergian Didi Kempot selamanya. Harus diakui, saat ini banyak yang sayang dengan beliau. Banyak yang mengidolakan beliau, dari segala penjuru, tak mengenal usia.

Tapi beliau kembali ke Sang Pencipta disaat kita sedang sayang-sayangnya. Di saat kita begitu menikmati pesan dari lagu-lagu yang beliau ciptakan. Kesedihan para Sobat Ambyar semakin jadi, karena beliau meninggal disaat pandemi Covid-19. Disaat kerumunan orang dilarang. Saya yakin, setelah ini semua berlalu, kuburan Didi Kempot akan ramai dengan peziarah, mereka yang telah menjadi bagian dari karya-karyanya.

Itulah kuasa Tuhan, Allah SWT. Kita tidak akan tahu kapan akan menghadap-Nya. Bahkan disaat kita sedang sayang-sayangnya, seperti kita lagi sayang-sayangnya sama Didi Kempot.

Karyanya Melampaui Batas
Ada dua ciri karya-karya almarhum. Yakni patah hati, dan lirik berhasa Jawa. Tapi lihatlah bagaimana batas-batas itu ditembus. Hanya seorang maestro, il fenomenal, yang mampu melakukan itu. Dan itu sudah tersematkan kepada Didi Kempot.

Lagu patah hati, membuat banyak orang bersedih. Tapi bagaimana jika lagu sedih itu dipadukan dengan hentakan campursari dan dangdut. Tentu saja orang akan diajak bergoyang.

Liriknya juga berbahasa Jawa. Saya pertama kali mendengar 'Stasiun Balapan' saat kuliah dulu. Karena baru pertama kali datang ke Jawa, sehingga saya menganggap itu spesial bagi mereka yang berasal dari Jawa. Awal-awal, saya tidak mengerti artinya.

Tapi terbersit dihati, kenapa lagu ini bisa sampai tembus dapur rekaman? Disiarkan oleh televisi? dan seterusnya dan seterusnya. Lihat lah lagu-lagu Jawa klasik, penikmatnya bisa dibilang ya mereka yang memiliki budaya dan pengalaman hidup dengan Jawa, dengan bahasanya. Mungkin semacam lagu daerah, yang kebetulan di Jawa dengan perkembangan teknologi yang sedikit lebih maju dari daerah-daerah lainnya di Tanah Air.

Tapi kemudian, belakangan ini lagu-lagu Didi Kempot bukan saja soal 'ini milik orang Jawa' atau yang berbahasa Jawa. Tapi lagu-lagu beliau sudah menembus sekat-sekat budaya itu. Seluruh Indonesia menikmati karya itu. Termasuk saya, yang bukan dari Jawa walau sempat menuntut ilmu beberapa tahun di tanah Jawa.

Didi Kempot juga menghilangkan sekat-sekat generasi. Lagu Jawa, klasik, pasti orang akan berpikir ini untuk generasi zaman old. Tetapi Didi Kempot membuktikan, bahwa lagu-lagunya justru digandrungi semua kalangan. Orang tua hingga generasi millenial, begitu menikmati dan mendalami mahakarya itu. Dari orang biasa, politisi senior hingga pejabat, larut dalam karya-karya itu.

Perjuangan Itu Tidak Instan
Karir Didi Kempot, hingga menjadi seorang maestro dan mendapat julukan 'the lord' itu, bukan instan apalagi diperoleh dengan mudah. Memang almarhum memiliki darah seni dari ayahnya. Tetapi perjuangannya sungguh tidak mudah.

Mengamen di Ibukota sejak 1985, adalah jalan terjal yang dilaluinya. Hingga baru akhir 1990-an, nama beliau mulai terkenal luas. Apa yang bisa kita petik? Ya beliau konsisten dalam menekuni karirnya itu.

Ada yang bilang begini. Ketika ingin menjadi sesuatu, maka gunakan energi dan kemampuanmu. Bukan hanya mengikuti trend yang berkembang. Karena justru kalian bisa terhempas lebih cepat, atau pensiun lebih dini. Tapi jika ditekuni apa yang dicita-citakan, maka kelak akan abadi. Itulah 800-an karya Didi Kempot akan menjadi abadi dalam kenangan generasi-generasi berikutnya.

Friday, May 1, 2020


Setiap 2 Mei akan selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Seremoni yang tak pernah putus setiap tahunnya. Tapi apakah selepas seremoni yang kadang menghabiskan biaya itu, kita mampu memaknainya?

Terkadang kita selesai di seremoni saja. Setelah itu, seperti tidak ada apa-apa. Tidak menggali apa sebenarnya Hari Pendidikan Nasional itu.

Saya hanya ingin bercerita. Bagaimana pendidikan ilmu dan nilai-nilai, ditanamkan. Baik langsung atau tidak, sadar atau tidak.

Saya dan teman-teman saya, menempuh pendidikan di sebuah desa bernama Dena. Secara administratif, kini masuk di Kecamatan Madapangga. Ada di wilayah paling barat Kabupaten Bima, NTB. Secara kualitas pendidikan, Tentu tidak bisa dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya. Tapi saya bersyukur, bahwa kami diberi pendidikan hidup yang luar biasa besar dan banyak.

Pendidikan formal yang kami peroleh, bisa dibilang fasilitasnya sangat minim. Masih terngiang, saat kami mendapatkan jatah buku 'Lembar Kegaiatan Siswa (LKS)' saat masih SMP. Sebuah buku besar dan lebar, yang berisi latihan soal tanya jawab. Ada essai dan ada multiple choice (pilihan ganda). Tapi tahukah anda, itu buku sejak kapan? Itu peninggalan senior-senior kami beberapa tahun jauh di atas kami. Dan masih terus digunakan.

Tidak rusak, tidak. Masih bersih bahkan disampul rapi dengan plastik transparan. Hampir tak ada lecet yang berarti. Buku second tapi kualitas masih lumayan bagus. Karena kami didoktrin "Bukunya dirawat, tidak boleh dicoret-coret karena untuk adik-adik anda nantinya". Kami patuh dengan itu.

Praktis, ilmu pengetahuan formal yang kami peroleh hanya bersumber dari itu. Maka untuk bisa menjelaskan kenapa jawaban ini dan kenapa pilihan itu, hanya dari guru. Sumber bacaan lain? Nihil. Begitu juga dengan buku-buku lain. Baik itu fisika, sejarah, atau matapelajaran yang lain. Buku umum? Dapat dari mana!?

Tidak semua orang desa bisa memahami pelajaran itu. Termasuk saya. Maka tak heran jika nilainya pas-pasan. Masih untuk satu level di atas merah itu sudah lebih dari cukup. Rapor hitam semua meski levelnya hampir merah, patut disyukuri.

Untuk mendongkrak nilai, tak jarang beberapa diantara kami saat itu harus membantu sejumlah guru di sawah. Menanam padi, atau memupuknya, atau saat panen. Ada 'nilai' tambahan yang diperoleh. Setidaknya tidak ada angka merah di rapor. Atau meminimalisir nilai merah.

Ada guru yang begitu keras dan disiplin. Tak akan pernah berpikir panjang untuk menampar hingga menendang kami. Saya diantara korbannya. Bahkan sepertinya seluruh kelas pernah merasakan kerasnya tangan itu menempel tepat di muka kami (profilnya: Hari Guru di Kampung Kami)

Jika tiba matapelajaran dimana beliau sebagai pengampunya, maka kami akan menjadi sangat serius. Dipaksa untuk tahu, dipaksa untuk pintar. Mengandalkan hafalan, mengingat itu adalah sejarah. Gubernur Jenderal VOC pertama, hingga soal kolonialisme lainnya, mesti kami hafalkan. Ulangannya berupa hafalan di kelas. Dilanjut dengan soal tulisan. Ada pelajaran kedisiplinan di luar hafalan-hafalan itu.

Seusai magrib, rumah panggung berukuran 2x3 meter itu penuh sesak. Suara 'alif, ba, ta, tsa...' riuh menggema menghentak di keheningan malam sepi di kampung kami yang gelap itu. Beberapa anak bersongkok hitam, hingga bermukenah, mengerubuti satu lampu tempel. Biar bisa melihat huruf-huruf di dalam kitab suci itu. Yang lainnnya berkerumun di atas kasur, mengikuti hafalan sang guru. Di bawah sudah penuh dengan anak-anak lainnya yang sudah pintar membaca kitab suci.

Tak ada aliran listrik di sana. Tapi di sanalah, cahaya agama tercipta. Sebagai benteng masa depan, benteng menghadapi dinamika hidup dan ujian-ujiannya.

"Dahulu nemba guru kemudian nemba ruma". Begitu falsafahnya. Arti harfiahnya "Dahulukan nyembah guru kemudian Tuhan". Bukan berarti menyembah manusia bernama guru. Namun maknanya adalah bergurulah, carilah guru agar kamu sekalian mengenal Tuhan. Lewat guru lah, kami mengenal siapa Tuhan kami. Mengenal artinya memahami secara utuh.

Apa yang ingin saya katakan? Ya, merekalah yang semuanya menjadi pendidik. Yang ada di level formal, yang ada di level non-formal. Mereka yang berhak mendapat, memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tidak sekedar pendidikan formal, tetapi non-formal semestinya masuk kategori itu.

Seperti yang selalu diutarakan banyak orang, "Ilmu tanpa iman itu kurang", atau almarhum KH Hasim Muzadi pernah berkata "Di Indonesia banyak orang pintar tapi kekurangan orang benar" begitu kira-kira.

Pintar adalah kemampuan keilmuan yang diperoleh dari pendidikan formal. Menjadi orang benar juga bisa diperoleh atau bahkan diperkuat dari lingkungan non-formal.

Apakah dengan fasilitas pendidikan formal, membuat orang-orang di tempat kami tidak bisa berprestasi? Menjadi bodoh dan kalah bersaing dengan mereka yang notabene mendapatkan pendidikan terbaik? Banyak dari orang-orang itu, dari kampung kami, yang berkiprah bagus, pekerja keras, mendapat posisi yang lebih baik, hingga menjadi pejabat di negara ini. Ilmu dan amal mereka sudah ditempa sejak dini, sejak dari kampung.

Tugas Negara
Hari Pendidikan Nasional harus juga dimaknai secara luas. Karena mendidik adalah holistik. Pendidikan pertama tentu keluarga, setelah itu lingkungan pendidikan formal, namun jangan lupa lingkungan luar, di luar keluarga dan formal.

Tugas negara membangun sistem pendidikan. Memajukan dan memastikan pendidikan formal berjalan dengan kualitas yang lebih baik. Lalu bagaimana pendidikan non-formal? Sejatinya Negara masih punya peran lain di situ. Membangun iklim pendidikan non-formal tetap eksis berjalan. Toh negara sendiri kelak yang mendapatkan manfaatnya.

Negara dalam hal ini adalah keseluruhan institusi pemerintah, dari pusat hingga daerah, bahkan sampai pada unsur yang paling kecil di tingkat desa. Wujud Negara di lingkungan wilayah kabupaten atau kota tentu pemerintahnya. Semestinya memiliki peran besar secara teknis dalam mengatur pendidikan non-formal ini.

Keberlangsungan dan nasib guru ngaji misalnya. Aktifitas pendidikan yang saya ceritakan di atas, rasanya kini semakin langka atau bahkan tidak dijumpai lagi. Tentu tidak akan ada yang mau menjadi guru ngaji kalau kehidupan mereka tidak mendapat perhatian dari Negara. Maka lagi-lagi di situ ada politik anggaran yang mestinya menjadi jawaban.

Kita selalu diributkan pada persoalan kenakalan remaja, peredaran narkoba dan sebagainya. Itu terjadi karena pendidikan kita terlalu besar fokusnya pada lingkungan formal. Abai mengurus di luar itu. Pada akhirnya, anak didik yang lelah dengan lingkungan formal akan mencari pengalaman lain di lingkungan non-formal. Untung jika lingkungan itu baik, tapi kalau tidak?

Kalau lingkungan non-formal seperti tadi tidak dibangun, maka kita akan susah menemukan 'Orang Baik'. Negara yang rugi, masyarakat yang ikut rugi.

Tuesday, March 10, 2020

Apa kaitan Istana Kepresidenan Bogor dengan pernyataan Raja Belanda Willem Alexander, yang meminta maaf atas penjajahan yang dilakukan negaranya?
Istana Kepresidenan Bogor 2020

Mungkin tidak langsung. Tapi nampaknya, ada semacam simbol. Istana Kepresidenan Bogor adalah sebuah simbol, yang tentu simbol bersejarah, akan eksistensi Belanda di Tanah Air. Proses penjajahan hingga tiga abad setengah itu, melahirkan banyak simbol-simbol diantaranya Istana ini.

Istana Kepresidenan Bogor, bermula dibangun pada 1744. Daerah yang dulu bernama Buitenzorg ini, memang cukup indah sehingga Gubernur Jenderal saat itu, Gustaaf Willem Baron Van Imhoff, membangun rumah peristirahatan bagi gubernur jenderal. Juga menjadikan kawasan itu sebagai daerah pertanian.

Awalnya dibangun sebagai rumah dengan tiga tingkat. Yakni pembangunannya memakan waktu lima tahun, 1745 hingga 1750. Namun gempa yang terjadi di kawasan itu, meluluh lantahkan bangunan tersebut. Hingga pada 1850 dibangun ulang, dengan konsep menyerupai Eropa abad ke-19 dan tidak bertingkat.

Penanaman pohon cendana, 
oleh Raja Willem dan Ratu Maxima,
 disaksikan Presiden Jokowi dan Ibu Iriana
Bangunan itu terus berkembang, termasuk kawasan hutan di dekat Istana itu. Kini dikenal sebagai Kebun Raya Bogor. Tentu, bangunan yang kini menjadi Istana Kepresidenan Bogor dan sejak 2014 digunakan sebagai kediaman Presiden RI ke-7 Joko Widodo, memiliki sejarah yang kuat dengan Belanda.

Dalam catatan sejarah, setidaknya ada 38 Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menghuni Istana Bogor ini. Termasuk dua nama yang sangat terkenal, Herman Daendels dan Stamford Raffles. Sebelum Belanda menyerah pada Jepang, Istana Bogor ditempati Gubernur Jenderal bernama Tjarda van Starkenborg Stachourwer. Sebelum diambil alih oleh Jenderal Imamura setelah Jepang menduduki Tanah Air.

Istana Bogor adalah salah satu simbol sejarah keberadaan Belanda di Tanah Air. Dari tujuan berdagang melalui VOC-nya, hingga kemudian berangsur-angsur menguasai wilayah dan mengukuhkan kekuasaannya. Monopoli perdagangan, hingga kekuatan politik menyertai keberadaan Belanda di Tanah Air. Bahkan, hingga Bung Karno dan Bung Hatta membacakan teks Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Belanda masih berupaya masuk.

Agresi militer I tahun 1947 dan agresi II pada 1948 hingga awal 1949, melahirkan peperangan lanjutan. Walau dalam rentan waktu itu juga, perundingan demi perundingan dilakukan. Tetapi kekerasan hingga munculnya korban jiwa, tidak dapat dihindari.

"Di tahun-tahun setelah diumumkannya Proklamasi, terjadi sebuah perpisahan yang menyakitkan dan mengakibatkan banyak korban jiwa. Selaras dengan pernyataan pemerintahan saya sebelumnya, saya ingin menyampaikan penyesalan saya dan permohonan maaf untuk kekerasan yang berlebihan dari pihak Belanda di tahun-tahun tersebut. Saya melakukan ini dengan kesadaran penuh bahwa rasa sakit dan kesedihan keluarga-keluarga yang terdampak masih dirasakan sampai saat ini," begitu pidato Raja Willem Alexander, saat join press statemen di Istana Bogor, Selasa siang 10 Maret 2020.

Upacara kenegaraan menyambut 
RajaWillem Alexander dan Ratu Maxima.
Seperti sebuah pengakuan, bahwa antara Belanda dengan Indonesia pernah berhadap-hadapan dalam pihak yang saling berlawanan. Bukan perkara mudah memang bagi Belanda, untuk mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia. Bahkan, baru tahun 2005, Belanda memberi pengakuan proklamasi itu. Belanda menerima secara politik dan moral bahwa Indonesia merdeka sejak 17 Agustus 1945.

Itu pun dipertegas kembali oleh Raja Willem. Bahwa Proklamasi RI pada 1945 itu, merupakan tonggak sejarah yang tak bisa lepas dari terbebasnya Tanah Air dalam imperialisme.

"Hari ini kami dengan penuh kehangatan mengucapkan selamat pada rakyat Indonesia pada saat perayaan 75 tahun kemerdekaan,".

Presiden Joko Widodo, pun tak ingin melupakan sejarah Indonesia dengan Belanda ini. Memang, pasca pengakuan politik dan moral kemerdekaan pada 2005 lalu itu, semakin meningkatkan hubungan kerjasama kedua negara. Bayangkan, Belanda adalah negara mitra investasi terbesar pertama Indonesia di Eropa. Sektor pariwisata juga tak kalah, urutan keempat, sementara Belanda menjadi mitra dagang terbesar kedua bagi Indonesia di Eropa.

Masih dalam hitung-hitungan ekonomi. Nilai bisnis kedua negara, juga tidak kecil. Yakni mencapai USD 1 miliar. Raja Willem bahkan menyebut, meski Indonesia dan Belanda sempat berlawanan dalam sejarahnya, tetapi kini, "Menjalin hubungan yang semakin erat dan mengembangkan sebuah hubungan baru berdasarkan rasa hormat, saling percaya dan persahabatan,".

Nilai-nilai sejarah yang telah tertoreh, seperti apapun kelamnya masa lalu itu, tentu tidak akan bisa dihapus. Namun setidaknya, Indonesia dan Belanda sudah keluar dari sejarah itu. Permintaan maaf bisa jadi tidak menghapus luka, dan tentu tidak bermaksud menghapus sejarah. Biarlah itu menjadi bagian dari cerita bangsa ini.

Istana Kepresidenan Bogor, yang menjadi salah satu simbol keberadaan Belanda dalam menguasai Tanah Air, menjadi saksi bahwa penerus kerajaan menyampaikan permohonan maaf atas masa lalu itu.

"Dan sebagai penutup, saya ingin menyampaikan bahwa kita tentu tidak dapat menghapus sejarah. Namun kita dapat belajar dari masa lalu. Kita jadikan pelajaran tersebut untuk meneguhkan komitmen kita untuk membangun sebuah hubungan yang setara, yang saling menghormati dan saling menguntungkan," kata Presiden Jokowi.

Thursday, February 27, 2020

Pernahkah anda berada dalam satu mobil dengan hantu? Tidak lama sih, sekitar 1,5 jam saja!

Suatu malam, dengan ojek online saya bergegas menuju salah satu rumah sakit swasta di daerah, Jakarta Utara. Pekerjaan tersisa digarap cepat, jarum jam terus berputar. Hingga melewati pukul 19.00 WIB. Hujan terpaksa diterobos, demi cepat sampai. Maklum jarak ke sana lumayan jauh. Saya dari wilayah Jalan Veteran Raya Jakarta Pusat. Cukup dekat dengan Monas, apalagi Istana.

sumber: wolipop.detik.com
Untung motor yang membawa saya, melaju cepat. Hampir pukul 8 malam, tiba di rumah sakit itu. Di sana, mobil kecil berwarna merah, kami parkirkan. Sedari pagi, pukul 07.00 WIB terparkir bersama beberapa mobil lainnya yang datang lebih pagi lagi.

Siangnya, istri memang sempat meminta izin apakah bisa nambah satu orang lagi untuk ikut di mobil. Rencana awal, selain kami berdua, ditambah ibu mertua. Maka kalau tambah satu lagi, jadi empat orang, dua di depan dan dua di belakang. Tambahannya tak lain adalah kakak sepupu kami. Saya pun mengiyakan.

Tiba di salah satu rumah sakit di Jakarta Utara itu, saya langsung menuju tempat mobil diparkir pagi tadi. Dari jarak 5 meter, sudah terdengar mesinnya dinyalakan. Sekilas tampak terlihat orang di dalam.

Saya membuka pintu depan, tempat mengemudi. Pandangan mata saya arahkan ke belakang. Ibu yang berbaring di kursi belakang itu, duduk tak lama setelah saya membuka pintu. Sementara di sebelahnya, hanya duduk diam dengan jilbab hitam. Tatapan ku datar saja, sedikit senyum. Ada rasa bersalah karena membuat mereka menunggu lama.

Tentu yang di samping ibu mertua, di kursi belakang, adalah kakak sepupu, yang tadi siang diberitahu kalau akan ikut dalam kendaraan kami. Perut lapar, membuat saya juga tidak bergairah untuk berbincang dengan mereka, walau sekedar menanyakan kabarnya.

"Langsung jalan aja ya," ujarku ke istri yang duduk di samping. Karena diwaktu bersamaan saya juga lapar, akhirnya istri menyuapi saat saya sembari membawa mobil.

Makan malam saya di mobil itu adalah 'Oha Mina', jenis makanan khas Bima/Mbojo. Apa itu 'Oha Mina' mungkin butuh penjelasan di tulisan yang lain.

Beberapa menit berselang, kami sudah meninggalkan rumah sakit itu. Meluncur pelan, dengan petir menyambar di selatan Jakarta. Kami baru kebagian gerimisnya.

Baru beberapa meter meninggalkan rumah sakit itu, istri kemudian bercerita. Karena rombongan ibu mertua, kakak sepupu, dan anggota keluarga lainnya, juga ingin ke Depok. Namun sedikit ribet karena perdebatan-perdebatan yang tidak penting.

Sampai tiba dia menyinggung soal kakak sepupu, yang siang tadi dia bilang ikut bersama kami dalam satu mobil. Yang saat saya membuka pintu mobil di rumah sakit tadi, terlihat duduk berdiam di belakang, samping ibu mertua.

"Ini si bunda kok malah cerita di depan orangnya langsung sih" begitu gumam ku dalam hati, tidak merespon ceritanya.

Aku tak meladeni topik itu. Bayangkan saja, apa nggak tersinggung orang kita bicarakan di depan orangnya langsung? Aku tak habis pikir dengan sikap istri saat itu. Beda kayak biasanya.

"Pantas mungkin si kakak diam saja. Tidak biasanya nggak ngobrol. Biasanya juga ketawa ketiwi," begitu pikirku, saat kendaraan sudah melaju di tol.

Sesekali aku menengok melalui kaca dalam yang ada di depan bagian atas ku. Agak samar karena gelap, tapi tidak bisa terlihat semua yang duduk di belakang. Maka separoh ibu saja yang terlihat, sambil terdengar sesekali kalimat istighfar dari mulutnya. Selalu begitu saat berada di dalam mobil.

Dalam hati muncul kekhawatiran, si kakak tersinggung dengan pernyataan istri tadi. Walau sebenarnya, tidak ada yang layak membuatnya marah. Hanya menceritakan keribetan ketika memilih roda dua atau roda empat untuk ke Depok.

Separuh perjalanan, tersisa aku sendiri. Istri di samping sudah terlelap tidur. Tak enak membangunkan, mungkin dia sangat lelah. Tetapi dalam hati aku sedikit masih penasaran dengan bangku belakang. Si kakak belum juga angkat bicara.

"Apa dia sudah tidur?".

Tapi saat aku tengok lewat kaca, hampir tak ada aktivitas. Walau aku tak bisa memastikan posisi dua orang di belakang. Ibu mertua pun hanya terdengar samar suaranya.

"Mungkin mereka duduk di sisi pinggir,".

Hingga akhirnya, kami tiba di Depok, rumah keluarga. Mobil saya bawa sampai ke dekat rumah. Istri turun terlebih dahulu. Menyusul ibu mertua setelah pintunya dibukakan oleh istri dari luar.

Tapi aku terkaget setengah mati. Heran tak bertepi. Pintu yang dibuka oleh istri adalah posisi duduk si kakak sepupu itu. Tapi yang justru keluar adalah ibu mertua. Di luar, tidak ada sosok si kakak yang saat di rumah sakit tadi aku lihat duduk diam dengan jilbab hitam. Tapi justru ibu mertua yang keluar walau duduk di bagian sebelah si kakak sepupu itu.

Dan setelah ibu mertua turun, tidak ada lagi yang ada di mobil selain aku. Dan yang berjalan turun hanya dua perempuan itu, ibu mertua dan istri.

"Oke, siapa dia?"

Aku parkir mobil di lahan yang dikhususkan untuk parkir, di perumahan yang ada di depan salah satu SMP di Kota Depok itu. Setelah itu, berjalan ke dalam rumah. Beliau adalah kakak dari bapak kandung ku.

Tiba di dalam, aku kaget. Si kakak ternyata sudah sampai. Sudah dengan pakaian biasa. Dengan tawa-tawa. Yang ternyata sudah jalan terlebih dahulu sore harinya, sebelum kami berangkat tentunya. Dan tidak jadi menumpang mobil kami.

"Iya tadi lupa ngasi tahu, si kakak nggak jadi naik mobil kita," istri memberi klarifikasi.

lalu, siapa orang keempat di dalam mobil kami?

Saturday, January 25, 2020


Maafkan kami telah membuat heboh pada 21 Januari 2020 lalu. Apalagi, selain peristiwa tenggelamnya kapal yang kami tumpangi, 7 wartawan, seorang pendamping Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden, driver yang mengantar kami selama mengikuti kunjungan kerja Pak Jokowi di Labuan Bajo, Manggarai Barat NTT, serta para ABK kapal itu. Soal bagaimana kisahnya, silahkan di googling ya. Banyak kok penjelasannya, hehehe…

Usai tek-tak-tok ngetik berita agenda terakhir Pak Jokowi, pembagian 2.500 sertifikat tanah untuk warga Kabupaten Manggarai Barat, NTT pagi itu di halaman Kantor Bupati, kami diajak berlayar. Siapa yang tidak senang.

Berlayarlah kami di tengah udara bersih dan hamparan pemandangan yang sangat indah. Berfoto-foto, mengambil stok gambar, dan tentu mejeng di media sosial. Di tengah-tengah berlayar itu, sembari berbincang, mewawancarai nahkoda kapalnya.

Tibalah kapal mendekat di Pulau Bidadari. Kami mengambil gambar foto, video dan sedikit menggali informasi yang ada. Hingga waktunya untuk berputar, kembali ke dermaga awal. Maklum, pesawat kami jam 15.20 waktu Indonesia tengah.

Dalam perjalanan pulang itulah, tragedi itu. Sangat cepat, sekali hempasan langsung oleng ke kiri, dan kami tercebur bersamaan dengan kapal itu.

Masih teringat jelas dalam ingatan. Saat tercebur itu, saya meraih bagian kapal yang masih terapung. Memegangnya dan memastikan tidak ikut tertarik ke dalam.

“ID ku mana,” begitu dalam pikiran saya ketika itu. Saya rogoh kantong baju, yang biasa diselipkan di situ. 

Dan ID pers bertuliskan ‘ID Harian’ itu aman di kantong, talinya tergantung di leher. Lalu aku cek handphone. Handphone satunya, aman di tangan. Ku rogoh kantong celana, kiri dan kanan, tidak ada. Handphone satunya, positif jatuh tenggelam. Itu milik kantor. Tas kamera Canon M100 yang masih terselempang di bahu, saya lepas karena lumayan memberatkan.

Peristiwa itu tentu sangat membekas. Alhamdulillah bukan soal trauma, bukan. Tetapi sedikit demi sedikit, membuat aku tersenyum. Kok bisa dalam keadaan antara hidup dan mati, justru yang dicari pertama adalah ID pers. Mengingat itu, kadang tersenyum sendiri, bahkan saat cerita ke teman-teman, malah menimbulkan tawa.

Kenapa yang pertama saya cari itu ID harian? Seberapa pentingnya sih?

Hampir di tanggal yang sama, tapi bulan berbeda, Desember 2019, saya kehilangan tas. Bukan sekedar tas dan laptop bekas yang mungkin secara nilai masih bisa ditanggulangi. Tetapi isinya. Data-data di laptop, hingga kartu-kartu identitas semua di tas itu. Termasuk ID Pers Istana Kepresidenan. Dengan hilangnya itu, otomatis saya tidak bisa masuk meliput di Istana. Jalan satu-satunya, adalah menggunakan ID Harian. “Ini jangan sampai hilang ya,” begitu wanti-wanti saat ID Harian diserahkan ke saya.

Untuk cerita lengkap mengenai tas hilang itu, silahkan baca di sini.

Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler