Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Thursday, May 14, 2020




Kue cucur, atau dalam bahasa daerah kami adalah 'kalempe kala', begitu digemari. Kue ini dibuat saat subuh hari, dan biasanya ludes bersamaan dengan matahari yang mulai meninggi dikala pagi.

Tidak banyak orang yang menjuel kalempe kala, saat itu. Belum menjadi sebuah industri yang menguntungkan bagi generasi. Tapi nampaknya kalempe kala, kue cucur ini begitu bersejarah bagi orang-orang di kampung kami. Hampir semua yang membuat sekaligus menjualnya, adalah mereka yang sudah lansia.

Desa kami, bernama Dena. Sebuah desa yang kini secara administratif masuk di Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kalau dari sejarah, desa ini memiliki peran dalam ikut membantu dan mengusir penjajah yang dilakukan oleh Kesultanan Bima kala itu. Terkenal dengan sejarah 'Perang Dena'.

Baca: Kangen-kangenan Jokowi Dengan Jan Ethes dan Sedah Mirah Lewat Video Call 

Nah, yang menjual kalempe kala di dekat rumah kami saat itu berjarak sekitar 500 meter. Namanya Nenek Madu. Yang masih menjual dan membuat kue itu sudah sangat jarang. Kalaupun ada, itu adanya di pojok-pojok kampung, jadi tidak ada pilihan penjual lain.

Rumah beliau adalah rumah panggung. Di bagian depan, ditambahkan ruangan dengan bilik dari anyaman bambu dan beralaskan tanah. Hanya beralaskan bale-bale (bahasa Bima nya sarangge) besar untuk duduk dan beraktifitas. Di situ Nenek Madu, disaat orang masih terlelap tidur, beliau sudah asyik menggoreng kalempe kala ini. Tapi kadang di belakang, di bagian dapur.

Untuk bisa mendapatkan kalempe kala itu, saya harus subuh-subuh ke rumahnya. Ketika itu masih umuran Sekolah Dasar. Tapi saya termasuk anak yang sudah cukup rajin untuk shalat subuh di Masjid Baitusyuhada, masjid besar yang cukup dekat dengan rumah kami.

Baca juga: (Bukan) Tradisi Mudik

Saya juga masuk kategori penggemar berat kue ini, kue yang konon katanya berasal dari Jawa dan Sulawesi. Karena itu, keinginan besar saat itu adalah setiap pagi tersedia kalempe kala dan bisa saya lahap hingga kenyang. Kadang saya menangis dan memarahi ibu, jika keinginan makan kue tidak dipenuhi. Saya kerap dimarahi jika sudah merengek minta dibelikan kue itu.

Pernah karena keinginan makan kalempe kala tapi tidak dikabulkan ibu, saya nekat mengambil beras rumah untuk ditukarkan dengan kue. Saat itu, beras seukuran kaleng blueband yang besar, yang katanya seukuran 1 kg, saya ambil diam-diam di karung dapur rumah. Beras untuk kebutuhan sehari-hari sebenarnya.

Biasanya saya ambil itu sebelum shalat subuh. Jadi usai subuhan di masjid, saya bergegas kembali ke rumah, mengambil beras itu, lalu membawa ke rumah Nenek Madu.

Saat itu, untuk beberapa kasus, sistem barter (jual beli dengan tukar menukar sesama barang) masih berlaku. Meski mata uang sudah ada tentunya. Saya bersukur masih bisa merasakan era barter itu. Beberapa kali ibu atau tetangga di kampung kami, membarter beras mereka dengan ikan atau sayuran yang dijual emak-emak dari kampung lain. Untuk ikan atau sayur ditukar dengan beras berapa kilo, itu tergantung kesepakatan kedua belah pihak.

Dengan kaleng itu, saya membawa ke rumah Nenek Madu, yang hanya diterangi lampu tempel, asyik menggoreng kalempe kala atau kue cucur itu. Saya lebih pagi dari orang-orang, karena takut ketahuan. Itupun saya berjalan mengendap-endap menuju tempatnya. Beras di kaleng itu dituang ke dalam wadah yang ada, lalu kalempe kala-nya dimasukkan ke dalam kaleng itu.

Saya sendiri lupa berapa jumlahnya, tapi cukup banyak, penuh kaleng blueband itu. Saya harus berjalan pelan, sambil memakan kue itu. Biar saat tiba di rumah, kuenya sudah habis dan aksi mengambil beras rumah tanpa sepengetahuan itu, benar-benar tidak ketahuan. Dan kejadian itu berulang saya lakukan, walau tidak setiap hari.

Saya pernah dalam kondisi marah berat, saat bangun kesiangan, dan pagi itu gagal makan kalempe kala. Kalau sudah seperti itu, pelampiasannya adalah dengan menangis. Kue itu sudah menjadi candu bagi anak sekecil kami kala itu.

Kadang bapak yang mengajak untuk makan kue itu. Atau saya mengajak bapak, berjalan-jalan ke rumah uwak (kakak bapak), yang tepat berada di seberang rumah Nenek Madu. Hanya dibatasi oleh gang saja.

Jadi jika bapak berkenan ke sana usai shalat subuh, maka wajib menikmati kalempe kala. Walau harus agak lama menunggu karena sudah mulai ramai, tidak sepagi saat saya diam-diam datang membawa beras dan menukarkannya dengan kue itu.

Saturday, May 9, 2020

sumber: IG @janethess


Pandemi Covid-19, membuat banyak keluarga tidak bisa bersama-sama dalam satu tempat. Apalagi momentum Idul Fitri kali ini, mengharuskan semuanya untuk menjaga jarak, dalam rangka memutus mata rantai virus ini.

Tidak hanya masyarakat biasa. Presiden, orang nomor satu di Indonesia saat ini, Joko Widodo atau Jokowi, pun harus terpisah jauh dengan kedua cucu kesayangannya. Covid membuat Mbah Owi, biasa Jan Ethes memanggil (cucu pertama), tidak bisa menggendong atau sekedar jalan-jalan ke mall bersama keduanya.

Namun moment epic tertangkap kamera, saat sang kakek itu melakukan video call dengan kedua cucunya (Link: Keseruan Ketiganya). Mereka bertiga melakukan video call (VC) bersama-sama.

Ethes, yang merupakan anak pertama dari pasangan Gibran Rakabuming Raka dan Selfie Ananda, nampak santai sambil berbaring, memandangi HP. Ethes tersenyum-senyum melihat mbahnya dan adiknya, Sedah Mirah, di layar pintar itu.

Sedah Mirah dengan pakaian santai, juga terlihat asik melihat sang kakek dan kakaknya itu. Sementara Jokowi, duduk di sofa dengan baju kemeja putih yang menjadi khasnya. Nampak senyum merekah terpancar.

Dalam beberapa kali kesempatan wawancara, Jokowi memang kerap melakukan VC dengan cucunya. Saat Ethes masih cucu tunggal, saban malam ia melakukan panggilan video itu. Obat kangen, katanya. Jika Ethes tidak ke Istana Bogor dan Jokowi tidak ke Solo dalam waktu yang cukup lama, maka VC menjadi obat pelipur lara, penghilang lelah dalam mengurus negara.

Saat ini, dimasa-masa pandemi yang memaksa negara bekerja ekstra, tentu waktu dan pikiran Jokowi akan tersita banyak. Beban dalam kondisi saat ini, berlipat-lipat. Memastikan masyarakat aman dari Covid-19, memastikan ekonomi negara tidak hancur, dan memastikan masyarakat tetap bisa bertahan hidup, menjadi beban Jokowi saat ini.

Dalam akun Instagram @janethess yang diunggah pada Sabtu siang 9 Mei 2020, nampak Ethes tengkurap memandangi layar HP di depannya. Lucunya, HP itu ditopang oleh boneka dinosaurus kesayangannya, agar bisa tegak berdiri.

"Temu sedang berjarak, Mbah Jokowi sempatkan diri untuk melihat riangnya cucu-cucunya sebagai penyejuk hati, pengobat lelah. Solo, Medan dan Jakarta bersatu dalam 1 frame. Ketiganya sedang merajut kehangatan lewat kamera. "Sudah minum susu belum?" Tanya Mbah kepada Ethes dan Sedah," tulis akun itu.

"Keduanya kompak menjawab, "Sudaaah, Mbah!" jawab mereka.

Nampak memang bagaimana Ethes sudah sangat lama tidak bertemu dengan mbahnya itu. Setiap ketemu, terutama saat Jokowi di Solo, selalu saja ia membawa cucu kesayangannya itu jalan-jalan. Naik odong-odong dan segala permainan di salah satu mall di Solo menjadi tempat favorit mereka melepas rindu.

"Mbah, kapan kita bisa main lagi?" tanya Ethes.

Pertanyaan Ethes itu menggugah Jokowi. Ia tersenyum dengan pertanyaan itu. Ehtes pasti sudah sangat rindu bisa berlari-larian dengan sang kakek. Jokowi pun nampak jauh lebih kangen dengan cucunya itu.

"Nanti ya, Thes, kalau Coronanya sudah pergi, Insya Allah kita bisa ketemu lagi, sekarang Ethes sama Sedah mainnya di rumah dulu ya. Mbah sudah kangen, tapi sabar dulu ya," ucap Mbah Owi menenangkan.

Semua percakapan itu, tertuang dalam akun instagram @janethess dan dipenuhi dengan ratusan komentar.

Jika Ethes adalah cucu dari pernikahan Gibran dan Selfie, sementara Sedah adalah cucu dari pernikahan Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution. Kahiyang ikut sang suami, dan saat ini berada di Medan, Sumatera Utara.

Tuesday, May 5, 2020


Berbicara kematian, pasti banyak yang ingin saat menghadap Sang Khalik dalam keadaan husnul khotimah. Meninggal ketika sedang melaksanakan ibadah misalnya, sering kali disebut meninggal dengan cara yang sangat baik.

Tentu kita punya keinginan yang baik seperti itu. Tetapi semua itu, hidup dan mati, adalah hak preogratif Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT.

Didi Kempot, dengan nama asli Dionisius Prasetyo, wafat diumur 53 tahun. Adik kandung pelawak almarhum Mamik Prakoso itu, lahir di Surakarta 31 Desember 1966.

Kepergian Didi Kempot, terlalu mengagetkan kita semua. Hari-hari sebelumnya beliau masih beraktivitas seperti biasa. Tuhan tidak memberikan aba-aba.

"Mas Didi Kempot, selamat jalan... Pembicaraan kita bertiga harus sabtu kemarin via tlp dgn Mas Kanang, Bupati Ngawi, tdk dapat kita wujudkan," tulis Seskab Pramono Anung dalam akun instagramnya @pramonoanungw.

Pria yang dijuluki 'the godfather of brokenheart' ini bagi saya, pergi dengan cara yang baik. Kenapa? Tidak ada yang mampu mengalahkan beliau dalam kegiatan donasi amal. Konser #Dirumahsaja yang ditayangkan di Kompas TV pada 11 April 2020 lalu, bisa dibilang sangat fenomenal.

Dalam waktu singkat, jumlah donasi yang berhasil terkumpul dari konser Didi Kempot itu mencapai Rp7 miliar. Jumlah ini didonasikan untuk membantu masyarakat yang terdampak. Disalurkan juga melalui sejumlah lembaga seperti Muhammadiyah dan NU.

Kebaikan lain yang mengiringi kembalinya Didi Kempot ke hadapan Sang Khalik, adalah lagu 'Ojo Mudik'. Lagu yang dibuat untuk mengimbau masyarakat agar tidak mudik karena dikhawatirkan membawa dan menyebarkan virus Covid-19, adalah amalan yang juga cukup besar. Pesan yang disampaikan mengena, disampaikan oleh seorang maestro yang bernyanyi dari hati. Ketika pesan itu benar-benar dari hati, maka yang menerima juga akan masuk ke hati.

Itu baru dua amalan saja yang terlihat. Maka bagi saya, kembalinya Didi Kempot sungguh sangat baik dan indah.

Pergi Saat Sayang-sayangnya
Siapa yang tidak sedih dengan kepergian Didi Kempot selamanya. Harus diakui, saat ini banyak yang sayang dengan beliau. Banyak yang mengidolakan beliau, dari segala penjuru, tak mengenal usia.

Tapi beliau kembali ke Sang Pencipta disaat kita sedang sayang-sayangnya. Di saat kita begitu menikmati pesan dari lagu-lagu yang beliau ciptakan. Kesedihan para Sobat Ambyar semakin jadi, karena beliau meninggal disaat pandemi Covid-19. Disaat kerumunan orang dilarang. Saya yakin, setelah ini semua berlalu, kuburan Didi Kempot akan ramai dengan peziarah, mereka yang telah menjadi bagian dari karya-karyanya.

Itulah kuasa Tuhan, Allah SWT. Kita tidak akan tahu kapan akan menghadap-Nya. Bahkan disaat kita sedang sayang-sayangnya, seperti kita lagi sayang-sayangnya sama Didi Kempot.

Karyanya Melampaui Batas
Ada dua ciri karya-karya almarhum. Yakni patah hati, dan lirik berhasa Jawa. Tapi lihatlah bagaimana batas-batas itu ditembus. Hanya seorang maestro, il fenomenal, yang mampu melakukan itu. Dan itu sudah tersematkan kepada Didi Kempot.

Lagu patah hati, membuat banyak orang bersedih. Tapi bagaimana jika lagu sedih itu dipadukan dengan hentakan campursari dan dangdut. Tentu saja orang akan diajak bergoyang.

Liriknya juga berbahasa Jawa. Saya pertama kali mendengar 'Stasiun Balapan' saat kuliah dulu. Karena baru pertama kali datang ke Jawa, sehingga saya menganggap itu spesial bagi mereka yang berasal dari Jawa. Awal-awal, saya tidak mengerti artinya.

Tapi terbersit dihati, kenapa lagu ini bisa sampai tembus dapur rekaman? Disiarkan oleh televisi? dan seterusnya dan seterusnya. Lihat lah lagu-lagu Jawa klasik, penikmatnya bisa dibilang ya mereka yang memiliki budaya dan pengalaman hidup dengan Jawa, dengan bahasanya. Mungkin semacam lagu daerah, yang kebetulan di Jawa dengan perkembangan teknologi yang sedikit lebih maju dari daerah-daerah lainnya di Tanah Air.

Tapi kemudian, belakangan ini lagu-lagu Didi Kempot bukan saja soal 'ini milik orang Jawa' atau yang berbahasa Jawa. Tapi lagu-lagu beliau sudah menembus sekat-sekat budaya itu. Seluruh Indonesia menikmati karya itu. Termasuk saya, yang bukan dari Jawa walau sempat menuntut ilmu beberapa tahun di tanah Jawa.

Didi Kempot juga menghilangkan sekat-sekat generasi. Lagu Jawa, klasik, pasti orang akan berpikir ini untuk generasi zaman old. Tetapi Didi Kempot membuktikan, bahwa lagu-lagunya justru digandrungi semua kalangan. Orang tua hingga generasi millenial, begitu menikmati dan mendalami mahakarya itu. Dari orang biasa, politisi senior hingga pejabat, larut dalam karya-karya itu.

Perjuangan Itu Tidak Instan
Karir Didi Kempot, hingga menjadi seorang maestro dan mendapat julukan 'the lord' itu, bukan instan apalagi diperoleh dengan mudah. Memang almarhum memiliki darah seni dari ayahnya. Tetapi perjuangannya sungguh tidak mudah.

Mengamen di Ibukota sejak 1985, adalah jalan terjal yang dilaluinya. Hingga baru akhir 1990-an, nama beliau mulai terkenal luas. Apa yang bisa kita petik? Ya beliau konsisten dalam menekuni karirnya itu.

Ada yang bilang begini. Ketika ingin menjadi sesuatu, maka gunakan energi dan kemampuanmu. Bukan hanya mengikuti trend yang berkembang. Karena justru kalian bisa terhempas lebih cepat, atau pensiun lebih dini. Tapi jika ditekuni apa yang dicita-citakan, maka kelak akan abadi. Itulah 800-an karya Didi Kempot akan menjadi abadi dalam kenangan generasi-generasi berikutnya.

Friday, May 1, 2020


Setiap 2 Mei akan selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Seremoni yang tak pernah putus setiap tahunnya. Tapi apakah selepas seremoni yang kadang menghabiskan biaya itu, kita mampu memaknainya?

Terkadang kita selesai di seremoni saja. Setelah itu, seperti tidak ada apa-apa. Tidak menggali apa sebenarnya Hari Pendidikan Nasional itu.

Saya hanya ingin bercerita. Bagaimana pendidikan ilmu dan nilai-nilai, ditanamkan. Baik langsung atau tidak, sadar atau tidak.

Saya dan teman-teman saya, menempuh pendidikan di sebuah desa bernama Dena. Secara administratif, kini masuk di Kecamatan Madapangga. Ada di wilayah paling barat Kabupaten Bima, NTB. Secara kualitas pendidikan, Tentu tidak bisa dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya. Tapi saya bersyukur, bahwa kami diberi pendidikan hidup yang luar biasa besar dan banyak.

Pendidikan formal yang kami peroleh, bisa dibilang fasilitasnya sangat minim. Masih terngiang, saat kami mendapatkan jatah buku 'Lembar Kegaiatan Siswa (LKS)' saat masih SMP. Sebuah buku besar dan lebar, yang berisi latihan soal tanya jawab. Ada essai dan ada multiple choice (pilihan ganda). Tapi tahukah anda, itu buku sejak kapan? Itu peninggalan senior-senior kami beberapa tahun jauh di atas kami. Dan masih terus digunakan.

Tidak rusak, tidak. Masih bersih bahkan disampul rapi dengan plastik transparan. Hampir tak ada lecet yang berarti. Buku second tapi kualitas masih lumayan bagus. Karena kami didoktrin "Bukunya dirawat, tidak boleh dicoret-coret karena untuk adik-adik anda nantinya". Kami patuh dengan itu.

Praktis, ilmu pengetahuan formal yang kami peroleh hanya bersumber dari itu. Maka untuk bisa menjelaskan kenapa jawaban ini dan kenapa pilihan itu, hanya dari guru. Sumber bacaan lain? Nihil. Begitu juga dengan buku-buku lain. Baik itu fisika, sejarah, atau matapelajaran yang lain. Buku umum? Dapat dari mana!?

Tidak semua orang desa bisa memahami pelajaran itu. Termasuk saya. Maka tak heran jika nilainya pas-pasan. Masih untuk satu level di atas merah itu sudah lebih dari cukup. Rapor hitam semua meski levelnya hampir merah, patut disyukuri.

Untuk mendongkrak nilai, tak jarang beberapa diantara kami saat itu harus membantu sejumlah guru di sawah. Menanam padi, atau memupuknya, atau saat panen. Ada 'nilai' tambahan yang diperoleh. Setidaknya tidak ada angka merah di rapor. Atau meminimalisir nilai merah.

Ada guru yang begitu keras dan disiplin. Tak akan pernah berpikir panjang untuk menampar hingga menendang kami. Saya diantara korbannya. Bahkan sepertinya seluruh kelas pernah merasakan kerasnya tangan itu menempel tepat di muka kami (profilnya: Hari Guru di Kampung Kami)

Jika tiba matapelajaran dimana beliau sebagai pengampunya, maka kami akan menjadi sangat serius. Dipaksa untuk tahu, dipaksa untuk pintar. Mengandalkan hafalan, mengingat itu adalah sejarah. Gubernur Jenderal VOC pertama, hingga soal kolonialisme lainnya, mesti kami hafalkan. Ulangannya berupa hafalan di kelas. Dilanjut dengan soal tulisan. Ada pelajaran kedisiplinan di luar hafalan-hafalan itu.

Seusai magrib, rumah panggung berukuran 2x3 meter itu penuh sesak. Suara 'alif, ba, ta, tsa...' riuh menggema menghentak di keheningan malam sepi di kampung kami yang gelap itu. Beberapa anak bersongkok hitam, hingga bermukenah, mengerubuti satu lampu tempel. Biar bisa melihat huruf-huruf di dalam kitab suci itu. Yang lainnnya berkerumun di atas kasur, mengikuti hafalan sang guru. Di bawah sudah penuh dengan anak-anak lainnya yang sudah pintar membaca kitab suci.

Tak ada aliran listrik di sana. Tapi di sanalah, cahaya agama tercipta. Sebagai benteng masa depan, benteng menghadapi dinamika hidup dan ujian-ujiannya.

"Dahulu nemba guru kemudian nemba ruma". Begitu falsafahnya. Arti harfiahnya "Dahulukan nyembah guru kemudian Tuhan". Bukan berarti menyembah manusia bernama guru. Namun maknanya adalah bergurulah, carilah guru agar kamu sekalian mengenal Tuhan. Lewat guru lah, kami mengenal siapa Tuhan kami. Mengenal artinya memahami secara utuh.

Apa yang ingin saya katakan? Ya, merekalah yang semuanya menjadi pendidik. Yang ada di level formal, yang ada di level non-formal. Mereka yang berhak mendapat, memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tidak sekedar pendidikan formal, tetapi non-formal semestinya masuk kategori itu.

Seperti yang selalu diutarakan banyak orang, "Ilmu tanpa iman itu kurang", atau almarhum KH Hasim Muzadi pernah berkata "Di Indonesia banyak orang pintar tapi kekurangan orang benar" begitu kira-kira.

Pintar adalah kemampuan keilmuan yang diperoleh dari pendidikan formal. Menjadi orang benar juga bisa diperoleh atau bahkan diperkuat dari lingkungan non-formal.

Apakah dengan fasilitas pendidikan formal, membuat orang-orang di tempat kami tidak bisa berprestasi? Menjadi bodoh dan kalah bersaing dengan mereka yang notabene mendapatkan pendidikan terbaik? Banyak dari orang-orang itu, dari kampung kami, yang berkiprah bagus, pekerja keras, mendapat posisi yang lebih baik, hingga menjadi pejabat di negara ini. Ilmu dan amal mereka sudah ditempa sejak dini, sejak dari kampung.

Tugas Negara
Hari Pendidikan Nasional harus juga dimaknai secara luas. Karena mendidik adalah holistik. Pendidikan pertama tentu keluarga, setelah itu lingkungan pendidikan formal, namun jangan lupa lingkungan luar, di luar keluarga dan formal.

Tugas negara membangun sistem pendidikan. Memajukan dan memastikan pendidikan formal berjalan dengan kualitas yang lebih baik. Lalu bagaimana pendidikan non-formal? Sejatinya Negara masih punya peran lain di situ. Membangun iklim pendidikan non-formal tetap eksis berjalan. Toh negara sendiri kelak yang mendapatkan manfaatnya.

Negara dalam hal ini adalah keseluruhan institusi pemerintah, dari pusat hingga daerah, bahkan sampai pada unsur yang paling kecil di tingkat desa. Wujud Negara di lingkungan wilayah kabupaten atau kota tentu pemerintahnya. Semestinya memiliki peran besar secara teknis dalam mengatur pendidikan non-formal ini.

Keberlangsungan dan nasib guru ngaji misalnya. Aktifitas pendidikan yang saya ceritakan di atas, rasanya kini semakin langka atau bahkan tidak dijumpai lagi. Tentu tidak akan ada yang mau menjadi guru ngaji kalau kehidupan mereka tidak mendapat perhatian dari Negara. Maka lagi-lagi di situ ada politik anggaran yang mestinya menjadi jawaban.

Kita selalu diributkan pada persoalan kenakalan remaja, peredaran narkoba dan sebagainya. Itu terjadi karena pendidikan kita terlalu besar fokusnya pada lingkungan formal. Abai mengurus di luar itu. Pada akhirnya, anak didik yang lelah dengan lingkungan formal akan mencari pengalaman lain di lingkungan non-formal. Untung jika lingkungan itu baik, tapi kalau tidak?

Kalau lingkungan non-formal seperti tadi tidak dibangun, maka kita akan susah menemukan 'Orang Baik'. Negara yang rugi, masyarakat yang ikut rugi.

Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler