Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Sunday, February 26, 2017

Senin 27 Februari 2017 pagi, Kota Bandung dihebohkan aksi bom oleh seseorang. Sekitar pukul 08.00 WIB pelaku meledakkan bom di Taman Pandawa, Kota Bandung.

Di taman itu, banyak pelajar SMA. Aksi pelaku itu, kemudian mendapat perhatian siswa tersebut hingga dilempari. Pelaku berlari menuju Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo. Jaraknya hanya sekitar 200 meter dari taman tempat ia meledakkan bom itu.

Pelaku yang menggunakan ransel dan bersenjata tajam, masuk ke kantor kelurahan. Setelah kepolisian dari Mapolda Jawa Barat datang, kantor kelurahan itu dikepung. Lebih dua jam, upaya aparat kepolisian melumpuhkan pelaku, hingga berhasil.


 Namun, di tengah-tengah aksi itu beberapa nitizen nampaknya salah fokus. Ya, bukan soal aksi polisi melumpukan pelaku saja. Tapi aksi polisi yang lain.

Seorang polisi wanita atau polwan, dengan paras yang cantik, tertangkap kamera. Polwan cantik itu, berkulit putih. Rambutnya hanya sebahu. Masker menempel di bawah mulutnya.


Di tengah riuh aparat maupun warga yang masih berada di sekitar lokasi, sang polwan cantik itu juga terlihat sibuk. Sebuah camera foto terselip di lehernya. Sesekali, ia juga asyik memainkan smartphone miliknya.

Belakangan diketahui, polwan cantik itu bernama Bribda Ismi Aisyah, dari Humas Polda Jawa Barat.

Sunday, February 19, 2017

Sehari jelang pilkada serentak 15 Februari 2017, tentu menjadi momentum bagi media untuk mengulas dalam-dalam soal pemilihan kepala daerah yang digelar sekali dalam lima tahun.

Tentu kami sebagai wartawan Istana Kepresidenan, yang sehari-hari meliput aktivitas dan melakukan wawancara dengan orang nomor satu di Indonesia itu, statemen dari Presiden menjadi sangat penting.

Jokowi memberi keterangan pers di gudang Bulog, Sunter (Foto: Biro Pers Istana)

Selasa 14 Oktober 2017, agenda Presiden Joko Widodo adalah melepas lima ribu matrik ton beras ke Sri Lanka. Bantuan itu, dalam rangka kemanusiaan. Presiden memutuskan memberi bantuan itu, setelah menerima permintaan langsung dari Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena.

Dua komuter -- mobil yang disiapkan Biro Pers Istana -- sudah siap menunggu kami, rombongan wartawan, yang ingin menuju lokasi acara. Letaknya, ada di pergudangan Bulog di kawasan Sunter Jakarta Utara. Pukul 07.00 WIB pagi, dijadwalkan komuter ini sudah berangkat.

Tentu, wartawan yang rumahnya jauh seperti saya di Depok, harus bertolak dari rumah pagi-pagi buta. Saat itu, saya memilih berangkat sebelum Sholat Subuh, sekitar pukul 04.30 WIB sudah berada di kereta KRL dari Stasiun Citayam.

Beruntung, mengingat sepanjang jalan hujan turun dengan derasnya. Hingga tiba di Stasiun Manggarai, menyempatkan sholat subuh dan menunggu hujan reda. Pukul 06.30 WIB saya sudah tiba di bioskop Istana. Bioskop adalah sebutan untuk pressroom. Karena dulu, ruangan yang kini digunakan untuk pers itu, adalah tempat Presiden Soeharto menonton.

Sebenarnya sedikit lelah harus berangkat sepagi ini. Cuaca juga tidak mendukung, sedikit kurang enak badan. Namun momentumnya tepat. Karena, sejak Jokowi jadi Presiden, kami bisa wawancara langsung dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar banyak hal kepada Presiden. Hal yang tidak pernah kami dapatkan sebelumnya.

Momentup pilkada serentak 2017 yang digelar di 101 wilayah, bukan sekedar masalah pilkada. Karena ini kedua kalinya serentak, setelah Desember 2015 lalu. Namun di balik itu, karena DKI Jakarta juga melakukan pilkada serentak.

Ya, ini masalah Jokowi, Basuki Tjahja Purnama (Ahok), Agus Harimurti Yudhoyono maupun Anies Baswedan. Kenapa dengan orang-orang itu?

Tentu semua orang tahu bagaimana kedekatan Jokowi dengan Ahok. Ahok adalah pasangan Jokowi di pilkada DKI 2012, mengalahkan petahana Fauzi Bowo. Ahok menjadi gubernur DKI setelah Jokowi menjadi Presiden RI 2014-2019. Dan Ahok dilantik di Istana oleh Jokowi, pada 19 November 2017.

Anies Baswedan, juga punya kedekatan dengan Jokowi. Mantan Rektor Universitas Paramadina itu adalah juru bicara Jokowi-Jusuf Kalla pada pilpres 2014. Banyak yang menilai, Jokowi menang juga karena faktor Anies yang saat itu juga digandrungi sebagai pemimpin muda yang prospektif.

Tentu elektabilitas Anies dianggap memperkuat elektabilitas Jokowi. Selain kecakapan Anies saat menjadi juru bicara. Hingga Anies menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, walau pada akhir April 2016, direshuffle dan digantikan oleh Muhadjir Effendy.

Agus Harimurti Yudhoyono, adalah orang baru. Pensiun muda dari TNI. Tidak ada kedekatan Agus dengan Jokowi. Namun yang menarik, sosok di balik Agus, yakni Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-6 RI selama dua periode.

Kehadiran Agus dikancah pilkada DKI, dianggap upaya mengembalikan generasi Cikeas (SBY) di kancah politik. SBY dan Jokowi tidak bermusuhan, namun dalam hal politik, tentu tetap menjadi rival selain Prabowo Subianto.

Maka banyak yang melihat, pilkada DKI adalah rasa pilpres. Pilkada 2017 di DKI, disebut sebagai pemanasan untuk pilpres 2019. Tentu tidak salah, karena sudah ada presedennya, yurisprudensinya kalau bahasa hukumnya, itu sudah ada.

Kembali ke laptop (gaya Tukul di bukan 4 mata, hehehe)... Usai melepas puluhan kontainer untuk mengangkut beras kiriman ke Sri Lanka, Jokowi sempat menengok stok beras di gudang Bulog.

"Ada dorstop kan pak," tanya kami para wartawan, kepada Biro Pers.

Jokowi Didampingi Meneg BUMN Rini Soemarno, Menko PMK Puan Maharani. Membelakangi, wartawan mewawancarai Menlu Retno Marsudi. (Foto: Biro Pers Istana)

Pihak Biro Pers memastikan ada. Sehingga kami bersiap. Awalnya, disiapkan tempat di depan. Namun berubah, di dalam area gudang. Rebutan posisi, sudah menjadi kewajaran bagi kami. Sehingga gaduh dan riuh kami, adalah santapan sehari-hari.

Pasukan Pengamanan Presiden alias Paspampres, sudah faham dengan itu. Dan kami sudah terbiasa juga kala Paspampres mengatur kami. Ya kadang-kadang terjadi salah paham, maklum dalam koridor menjalankan tugas masing-masing.

Saya mengambil posisi di barisan depan, setelah mewawancarai Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengenai bantuan ini. Rutinitas biasanya, Kabiro Pak Bey, akan menghadap Jokowi untuk memberi tahu seputar apa saja pertanyaan wartawan, sebelum sesi dorstop dilakukan. Saat itu, Pak Jokowi sedang berdiskusi ringan dengan Menko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri BUMN Rini Soemarno, Seskab Pramono Anung, Kepala Staf Presiden Teten Masduki.

Namun kali ini sikap tak lazim Pak Jokowi terlihat. Pak Bey yang ada di sebelah saya, dan baru melangkah meuju ke arah Presiden, tiba-tiba dengan tangannya mengisyaratkan menolak diwawancara. Ia seakan tahu Pak Bey hendak menghampirinya untuk memberi tahu materi dorstop.

Tangan Jokowi langsung mengisyaratkan tidak ingin diwawancarai. Belum juga Pak Bey ke Jokowi, sudah langsung ditolak dari jarak jauh. Bagi saya, ini sikap tak lazim dari Pak Jokowi. Melihat tanda penolakan itu, Pak Bey berbelok menuju ke lokasi puluhan wartawan yang sudah siap.

"Nggak ada wawancara," kata Pak Bey disambut kekecewaan.

"Soal ini (bantuan kemanusiaan) saja pak," kta seorang wartawan beralasan. Ya, dengan alasan itu kami berharap Jokowi mau didorstop. Dan memang beliau akhirnya bersedia.

Pertanyaan pertama, tentu soal bantuan ini. Pak Jokowi menjelaskan dengan rinci. Namun pertanyaan kedua, diselipkan soal pilkada. Ya berusaha agar Jokowi berbicara pada H-1 pilkada serentak ini.

"Udah soal ini saja," elak Jokowi tersenyum.

Setelah itu, Jokowi kembali menjelaskan masalah bantuan pangan, dan termasuk program lainnya. Hingga berakhir, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Presiden mengenai pilkada serentak.

Jokowi menghindar dari pilkada. Apa karena Pak Jokowi selalu dikait-kaitkan dengan dukungan pada salah satu calon? Entahlah, hanya Pak Jokowi dan Tuhan yang tahu. Wallahualam

Friday, February 10, 2017

Mengerubungi sebuah mobil stasiun televisi, berteriak-teriak dan cenderung menebar ancaman psikis, rasanya bukan sikap yang baik. Terlepas kita tidak sepakat dengan cara media itu memframing sebuah isu. ((https://news.detik.com/berita/d-3419558/sebuah-mobil-media-tv-nasional-dikerubungi-massa-di-istiqlal)


Kejadian di Istiqlal, Jumat 10 Februari 2017 malam terhadap salah satu stasiun televisi, membuat saya pribadi berpikir. Tidak kah kita merasakan bagaimana pekerja media yang ada di mobil itu, ketakutan luar biasa dengan teror psikis itu? Bagi saya, satu, kita sudah memframing agama dan budaya kita ternyata seperti itu. (https://news.detik.com/berita/d-3419602/mobil-tv-yang-dikerumuni-massa-berhasil-keluar-kompleks-istiqlal)

Siapa mereka di dalam? Mereka adalah jurnalis, yang menjalankan tugas memberikan informasi mengenai situasi di lokasi. Lalu, saat mereka ada di tengah-tengah ratusan bahkan mungkin ribuan orang, mereka diteriak-teriaki, di tunjuk-tunjuk dan terkepung, siapapun pasti akan merasa ketakutan yang luar biasa. Kekecewaan sudah pasti.

Foto diambil dari laman detikcom
Saya bukan seorang ahli agama. Tapi saya pernah mendengar kisah, saat Rasulullah Muhammad Saw setiap hari menyuapkan makanan kepada seorang pengemis buta yahudi di salah satu sudut pasar Madinah Al-Munawarah. Pengemis buta itu selalu menjelek-jelekkan Muhammad, orang yang menyuapi dia.

"Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya", kira-kira seperti itu seruan dari si pengemis buta kepada Muhammad, yang menyuapinya dengan sepenuh hati.

Hingga suatu hari, pengemis buta yahudi ini merasa yang menyuapinya bukan orang yang biasanya. Dia marah, dan bertanya kepada yang menyuapinya. "Yang biasa menyuapi saya lembut, tidak sekasar ini," begitu kira-kira perkataan pengemis yahudi buta itu. Pengemis itu mengatakan, yang biasa menyuapinya itu selalu menghaluskan makanan dari mulutnya sebelum menyuapkan ke mulut dia.

Memang, bukan lagi Muhammad yang menyuapinya, tetapi sahabat Abu Bakar r.a. Abu Bakar menjelaskan ke pengemis buta yahudi tersebut. Bahwa orang yang ia caci maki itu, adalah Muhammad Saw yang setia menyuapkan makanan ke mulutnya. Tapi Muhammad telah tiada. Pengemis itu menangis, dan saat itu ia masuk Islam dengan bersyahadat di hadapan Abu Bakar r.a.

Saya selalu yakin, melawan perbuatan yang menurut kita tidak benar, tidak perlu dibalas dengan cara-cara yang cenderung kasar. Seorang yang pintar agama pernah berkata ke saya, kekufuran tidak perlu dibalas dengan cara yang sama, bisa menimbulkan kekufuran baru.

Cara mengusir, mengintimidasi dengan teror psikis seperti itu, sebenarnya justru makin membangun rasa benci. Muaranya bisa menuju permusuhan. Sudah sejauh itukah yang kita harapkan? Kita berharap, itu adalah oknum, segelintir, setitik air dari lautan manusia yang memenuhi Rumah Allah, Masjid Istiqlal.

Sempat berbincang ringan dengan seorang teman jurnalis, yang beda agama. Biasanya, kami yang muslim dengan non-muslim selalu saling melengkapi. Saat hari raya Islam seperti Idul Fitri atau Idul Adha, rekan-rekan jurnalis yang muslim biasanya mendapat kesempatan libur, atau mendapat kelonggaran untuk beribadah setelah itu baru masuk liputan.

Begitu juga saat seperti ketika Natal. Teman-teman jurnalis non-muslim/Kristen tidak masuk karena ibadah. Atau diberi kelonggaran untuk beribadah, setelah itu liputan. Sementara teman-teman jurnalis yang muslim, yang bisa masuk full.

Tapi melihat beberapa peristiwa yang dialami teman-teman jurnalis semenjak aksi massa November dan Desember 2016 lalu, kok malah muncul ketakutan-ketakutan. Hanya karena perusahaan media tempat jurnalis itu bekerja dianggap tidak memihak mereka, lantas diperlakukan dengan kasar? Bagaimana kalau jurnalis itu seiman?

Apapun sebenarnya, perbuatan kasar tidak akan mendapatkan simpati. Justru semakin menimbulkan antipati dan stigma negatif. Sederhana saja, kalau salah silahkan protes, silahkan memberi masukan, atau bahkan dengan cara yang keras bisa yakni tidak perlu dibaca/ditonton/didengar produk media tersebut. Tentu itu adalah hak. Tidak perlu harus mengusir, meneriaki yang sifatnya mengancam secara psikis.

Di satu sisi, ini tentu menjadi pelajaran bagi kami. Ketika gelombang protes terhadap pemberitaan media yang mungkin banyak pihak menilai tidak independen. Tapi mari kedepankan cara-cara yang santun. Pekerja media adalah kaum yang berpikir. Descartes berkata Cogito Ergo Sum, Saya Berpikir Maka Saya Ada. Mari kita menjadi kaum yang berpikir.

Fastabiqul khairot

Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler