Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Sunday, April 15, 2018



Dalam sebuah diskusi di bilangan Menteng Jakarta beberapa pekan lalu terkait hoax, ada statemen menarik. "Hoax ini menurut saya karena ada dua kelompok politik yang bertarung," kira-kira begitu statemennya.

Menarik memang kalau kita simak, mengenai penyebaran kabar bohong atau hoax dan persoalan ujaran kebencian atau hate speach ini.

Mengenai hoax, kalau kita lihat memang tidak terlepas dari masalah politik. Siapa yang diserang? Tentu Joko Widodo dan para pendukungnya. Lalu Prabowo Subianto dan para pendukungnya. Rasanya, dua kutub ini yang sering kita lihat menjadi 'korban' dari hoax.

Perdebatan di media sosial pun, rasanya bisa terkelompokkan di dalam dua kubu itu. Walau terselip di dalamnya bahwa masih banyak yang independen tidak berpihak pada kedua kelompok itu. Masih banyak yang rasional, mengkritik kalau dianggap tidak benar dan memuji kalau dianggap bagus.

Karena terdikotomi dalam dua kutub dukung mendukung itu, maka rasanya menjadi lumrah ketika ada yang menuduh si A adalah pengikut dari junjungan B, dan sebaliknya.

Kasus yang sempat heboh, ketika berita-berita hoax di media sosial diarahkan ke tertuduh yakni kelompok Muslim Cyber Army (MCA). Dimana, kemudian muncul tudingan bahwa mayoritas yang ada dalam kelompok ini adalah bukan pemilih dari Joko Widodo tetapi simpatisan Prabowo.

Kasus puisi Bu Sukmawati Soekarnoputri, yang dianggap melecehkan azan, juga menjadi menarik. Reaksi kelompok tertentu terhadap puisi ketua umum Partai Nasionalis Indonesia (PNI) itu, sangat besar. Jumat 6 April 2018 ribuan massa yang mengatas namakan dari berbagai ormas Islam, berunjuk rasa ke Bareskrim Polri menuntut Sukmawati ditahan.

Hampir bersamaan, juga muncul potongan video dimana Gubernur Jawa Tengah yang kembali maju, Ganjar Pranowo, membacakan puisi. Di puisi itu terlontar potongan syair 'Kau bilang Tuhan sangat dekat, namun kau sendiri memanggilnya dengan pengeras suara setiap saat'. Sempat heboh, hingga akhirnya pihak-pihak tersebut meminta maaf karena itu ternyata puisi Kiyai NU, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus.

Tidak lama berselang, muncul statemen dari dosen Filsafat UI Rocky Gerung saat menjadi pembicara di acara ILC TvOne. Potongan pernyataannya adalah 'kitab suci itu fiksi'. Walau ada penjelasan awalnya yang tidak banyak dilihat orang.

Nah, ketika video Sukmawati beredar dan menimbulkan kontroversi, kelompok tertentu melaporkan putri proklamator Bung Karno itu ke polisi. Namun kelompok lain mengatakan, tidak perlu diperpanjang karena dia sudah meminta maaf. Merujuk pada silaturahim Sukmawati ke Ketua Umum MUI KH Ma'ruf Amin.

Perdebatan kedua kelompok ini terus berlanjut. Bahkan sampai Kiyai Ma'ruf pun menjadi sasaran hujatan dan bully oleh kelompok tertentu, karena Rais Am PBNU itu meminta semua pihak memaafkan Sukmawati.

Di kasus Rocky Gerung, agak terbalik. Kelompok yang melaporkan Sukmawati karena dianggap melecehkan atau menista agama, justru tidak melaporkan RG ke polisi. Sementara kelompok yang 'membela' Sukmawati justru melaporkan Rocky ke polisi dengan tuduhan penistaan agama.

Seorang jurnalis senior mengatakan, ada yang tiba-tiba menjadi liberal dan ada yang tiba-tiba menjadi Islam kanan. Sukmawati yang dianggap menistakan agama dilaporkan tetapi RG juga yang sama, tidak dilaporkan. Sementara perspektif kelompok yang satunya, Sukmawati tidak dilaporkan tetapi giliran RG dilaporkan.  Kita tahu, RG adalah salah seorang yang selalu mengkritik Presiden Joko Widodo.

Terbaru, mengenai statemen Amien Rais. Terkait partai Allah dan partai setan. Mantan ketua MPR itu sejak Jokowi maju di kontestasi Pilkada DKI 2012, mulai melancarkan serangan-serangan tajam. Bahkan sampai Pilpres 2014 dan berlanjut hingga kini, seolah dia tidak ada habisnya. Sebelumnya menyebutkan pembagian sertifikat itu ngibuli.

Penjelasan dari PAN sendiri, seperti yang dikatakan Wasekjen Saleh P Daulay, bahwa kutipan partai setan dan partai Allah, itu disebutkan dalam Alquran. Yakni Surat Al-Mujadalah ayat 19 dan 22.

Surat Al-Mujadalah ayat 19 artinya "Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi".

Sementara pada ayat 22, artinya "Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung".

Menjadi masuk dalam ranah politik, karena sosok Amien Rais. Juga karena terselip beberapa nama partai yang disebutkannya seperti PAN, Gerindra dan PKS yang memang diprediksi kuat bahwa ketiga partai ini (dan mungkin beberapa lainnya) dipastikan tidak akan menjadi bagian dari koalisi besar Jokowi di Pilpres 2019.

Rasanya, menjadi wajar kalau kita membuat kesimpulan dini kalau orang yang menyebarkan kabar negatif terhadap Jokowi adalah mereka yang tidak memilihnya dan merupakan pemilih Prabowo. Sebaliknya, mereka yang menyebar kabar negatif terkait Prabowo dan kelompok-kelompoknya, bukan pemilih Prabowo dan kemungkinan besar pemilih Jokowi.

Rasanya, tidak salah juga dengan statemen di awal tadi bahwa maraknya kabar hoax dan ujaran kebencian yang kemudian berujung ke polisi, adalah terkait politik. Politik antara kedua pendukung besar itu.

Bagaimana kalau ada poros ketiga? Kita tunggu saja. Apakah setelah Pilpres 2019 ini kabar hoax dan ujaran kebencian akan hilang? Mungkin tidak langsung, tetapi bertahap dan tidak sepanas seperti sekarang ini. Wallahualam.

Sunday, April 8, 2018

Ilustrasi
Berbicara masalah parkir, mungkin yang lagi ramai saat ini soal Bu Ratna Sarumpaet. Yang mobilnya di derek oleh Dishub DKI. Melibatkan pemangku kekuasaan di DKI juga. Singkat cerita, hingga berujung somasi. Jelasnya, bisa dicari di berita-berita media.

Tapi yang ingin sedikit saya kisahkan, bukan soal Bu Ratna, ibunda dari artis cantik Atikah Hasiholan itu. Bukan juga kejadian yang menyerupai itu. Tapi ini, soal sosok juru parkir.

Juru parkir, atau yang sering disebut tukang parkir, adalah salah satu profesi yang banyak terlihat di kota atau daerah yang menyediakan layanan jasa. Baik itu restoran (tempat makan), pusat perbelanjaan, tempat hiburan, hingga wisata atau rekreasi.

Juru parkir, juga bisa dilihat dari dua sudut pandang. Mereka (juru parkir) yang bekerja di gedung-gedung atau pusat bisnis, dan yang di luar itu seperti pinggir jalan, pinggir gedung.

Untuk yang di dalam gedung, biasanya mereka tertata rapi. Mulai dari kostum, area parkir khusus (mobil dan roda dua atau motor), serta nominal rupiahnya terukur, sesuai dengan lamanya si empunya kendaraan menitipkan kendaraannya di area tersebut.

Tetapi untuk yang parkir di luar gedung, tidak ada patokan harga yang pasti. Tidak ada juga jumlah rupiahnya disesuaikan dengan lamanya. Tidak ada itu. Walau kadang mereka menggunakan baju seragam dan berlabel dinas terkait, tetapi tidak jarang mereka menggunakan pakaian biasa. Entah bagaimana perhitungannya. Apakah mereka termasuk bagian dari pemilik lahan di tempat mereka memarkirkan kendaraan pengunjung atau itu bagian mereka atas persetujuan pemilik.

Tapi untuk jumlah rupiahnya, biasanya paling minimal adalah Rp2 ribu. Atau selemah-lemahnya kantong adalah recehan hingga Rp1.000 saja. Biar kelihatan banyak, dikasilah kepingan yang Rp100. Mungkin jumlah itu diberikan, karena parkir di luar gedung seperti ini tidak dikenakan asuransi.
Oke, berbiacara mengenai tukang parkir. Saya sedikit bercerita, pengalaman muklam-muklam (jalan-jalan) ke Malang Jawa Timur, pekan kemarin. Selain memang ingin liburan, menjauh dari hiruk pikuk Jakarta yang sibuk dengan politik dan kerja kaum urban, setidaknya bernostalgia dengan kota ini. Sejak tahun 2003, saya pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Arema tersebut. Hingga menyelesaikan kuliah pada tahun 2008 di Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang.
Karena baru tiba menjelang siang, setelah istrahat sejenak di sebuah hotel di kawasan dekat UMM, kami memilih untuk makan. Saat itu, hari sudah sore dan terlihat mendung mulai menyelimuti. Sebelum hujan, kita makan saja dulu. Gerutuku.
Karena lama sudah tidak ke sini, langkah sempat terhenti. Mau makan dimana? Setelah berunding beberapa saat, maka salah satu kedai makanan di depan kampus itu, pilihan kami. Sebelumnya, sekitar 2013 kami sempat ke sini. Untuk orang luar Malang, harga makanan ini termasuk murah. Tapi saat jaman mahasiswa dulu, tetaplah mahal (maklum, kiriman perbulan tipis).
Motor jenis matik yang dipinjamkan oleh teman, menyusuri kedai tempat makan itu. Nama kedainya terbilang Islami. Saat di depan kedai itu, saya tidak melihat deretan motor. Hanya mobil-mobil. Ternyata, untuk motor diparkir di samping gedung, ada lahan kosong yang tidak besar. Dua orang tukang parkir, mengarahkan kendaraan roda dua yang saya bawa.
Asik menyantap makanan, kami tidak sadar hujan turun. Usai hujan, kembali ke hotel adalah jalan terbaik. Malam itu, ada rencana ngopi-ngopi dengan teman-teman.
Seperti ketika di Jakarta, uang Rp2 ribu sudah kami siapkan untuk membayar parkir. Walau di situ ada tulisan ‘parkir gratis’, tapi lazimnya kalau di kasi maka mereka menerima. Usia menyalakan motor, uang kertas itu kami sodorkan ke bapak-bapak yang mungkin umurnya di atas 50 tahun.
“Enggak mas,” katanya dengan tangan penolakan.
Piker ku, mungkin si bapak ini lagi jaim. Atau dilihat oleh pihak kedai atau menolak dulu lalu diterima. Kami kemudian menyodorkan lagi lembaran itu, tetap si bapak itu tidak menerima. Ia malah berjalan ke depan, menghalau kendaraan agar kami bisa melewati jalan raya tersebut.
Di kota-kota besar, siapa sih yang tidak ingin uang? Apalagi untuk pekerjaan yang penuh resiko dengan penghasilan yang kecil seperti juru parkir ini. Saya kemudian berpikir, banyak para pejabat di sana, yang bekerja dengan mengharapkan ‘tips-tips’ dari si empunya uang banyak. Bahkan mereka yang harusnya kerja untuk rakyat, ternyata condong ke ‘pemodalnya’ atau mungkin seperti yang disebut bang Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai Politik Rente.
Si bapak juru parkir itu, bisa saja dia digaji untuk mengurus parkir di kedai itu. Tapi berapa sih penghasilannya? Mencukupikah? Bukankah dengan menerima tips itu bisa menambah penghasilan dia? Setidaknya kalau biasanya beli baju hanya satu sebulan, ini bisa dua, tiga atau lebih untuk sebulan?
Akhirnya, saya kemudian berpikir, ini bukan soal materi. Ini bukan soal tidak butuh uang. Tapi ini soal kepercayaan, integritas, dan disiplin.
Saya menjadi memahami, bahwa si bapak itu ingin agar dia dipercaya. Maka hal-hal di luar ditugasnya, tidak dilanggarnya. Ia mungkin tetap diminta mengurus parkir, tanpa memungut biaya dari pengunjung. Sehingga ketika ia berjalan di relnya, maka kepercayaan terhadap dirinya akan melekat.
Saya juga menjadi percaya, integritasnya baik. ‘Parkir gratis’ kalau dilanggar dengan memberi tips yang tidak menyalahi, nampaknya tidak ada masalah. Kecuali memaksa meminta uang parkir, padahal di situ tertera ‘parkir gratis’ maka itulah yang salah. Sebab tips diberikan oleh pengunjung, atas kerelaan dia, bukan atas tekanan si juru parkir.
Integritasnya baik, karena dia patuh terhadap aturan. Setidaknya, aturan yang menjadi konsensu bersama adalah papan ‘parkir gratis’ itu. Bayangkan dengan tuan-tuan yang ada di sana, di singgasananya yang empuk sana. Jangankan papan pengumuman seperti itu, undang-undang saja yang jelas implikasi hukum dan dosanya, mereka abaikan.
Saya juga menjadi paham, bahwa dia punya disiplin yang tinggi. Bukan masalah tepat waktu saja. Tetapi ia disiplin menerapkan hukum/aturan/plank ‘parkir gratis’ itu. Mungkin banyak orang-orang seperti bapak juru parkir tersebut.
Tapi setidaknya, kita bisa belajar dari mereka yang hanya mencari nafkah dengan penghasilan yang jauh dari kata layak, tetapi mereka memiliki integritas, disiplin dan mampu menjaga kepercayaan orang terhadap dirinya. Toh tidak salah kita, pejabat-pejabat, belajar dari juru parkir seperti ini.

*Ditulis di atas KA Gajayana Menuju Gambir Jakarta


Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler