Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Monday, November 28, 2016

Jakarta - Presiden Joko Widodo, kembali melakukan konsolidasi politik. Giliran Ketum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar, yang diundang ke Istana Merdeka Jakarta.

Cak Imin, begitu biasa Muhaimin dipanggil, masuk ke Istana Merdeka sekitar pukul 12.54 WIB. Langsung disambut Presiden Jokowi, dan mengajaknya ke dalam, ruang makan siang Selasa 29 November 2016 siang ini.


Presiden Jokowi dan Ketum PKB MMuhaimin Iskandar (foto doc pribadi)

Keduanya terlihat akrab. Semenjak di depan, baik Jokowi dan Muhaimin sempat berkelakar, entah apa yang dibicarakan. Di dalam, saat sejumlah media mengabadikan jamuan makan itu, Jokowi san Muhaimin juga sempat bercanda dengan wartawan sembari mengambil hidangan di meja yang telah disediakan.

Presiden Jokowi dan Ketum PKB Muhaimin Iskandar makan siang di Istana Merdeka (doc pribadi)

Cara seperti ini, juga sudah dilakukan terhadap Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketum PDIP yang juga Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri, dan Ketum Partai Nasdem Surya Paloh.

Sunday, November 27, 2016

Tuban, Jatim - Rekor dunia penanaman pohon serentak, akan tercipta di Kabupaten Tuban Jawa Timur, Senin 28 November 2016. Presiden Jokowi akan membukanya.
Lahan penanaman pohon di Tuban Jawa Timur

Pencapaian ini, sekaligus dalam peringatan 9 tahun Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI), yang dipusatkan di Tuban.

Berdasarkan Keputusan Presiden RI Bo.24 tahun 2008 ditetapkan tanggal 28 November sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Desember sebagai Bulan Menanam Nasional (BMN).

Adapun tema peringatan ke-9 ini adalah "Pohon dan Hutan Rakyat, untuk Kehidupan, Kesejahteraan, dan Sumber Devisa Negara".

Penanaman sebanyak 250.000 batang tanaman. Perum Perhutani menanam 12 ribu batang dengan jenis bibit jati pada lahannya seluas 18,2 hektare.

Penanaman serentak ditanam 238.000 bibit pohon dengan jenis tanaman seperti jati dan kaliandra oleh petani yang bekerjasama dengan Koperasi Produsen Anugerah Bumi Hijau atau Koprabuh seluas 23 hektare.

"Penanaman serentak ini juga dimaksudkan sebagai ajang pemecahan rekor dunia sebagai penanaman pohon serentak pada satu lokasi dengan jumlah penanaman pohon terbanyak dan tercatat dalam Guinness Book of World Record,".

Nantinya juga akan ada penganugerahan dan pencatatan Rekor Dunia kepada Koprabuh oleh Tim Penilai Guinness Book World, serta penyerahan penghargaan kepada Gubernur, Bupati dan Walikota sebagai pemenang lomba penanaman dan pemeliharaan pohon tahun 2015 dan penyerahan bantuan oleh Presiden Jokowi. (Mbojo)


Thursday, November 24, 2016


Pagi ini, 25 November, bagi saya penuh kejutan. Pertama, turun dari Stasiun Juanda dan berjalan menuju Istana, tiba-tiba melihat puluhan polisi sudah standby, lengkap dengan tameng mereka. Jadi demo 2511 kah? Bukannya aksi 212? (2 Desember).

Ah, tapi bukan itu yang dibahas. Membuka medsos, tiba-tiba banyak ucapan selamat Hari Guru, dengan berbagai kalimat yang manis dan penuh falsafah.

Sedikit bercerita tentang guru, di keluarga hingga tradisi masyarakat Bima (dou Mbojo). Dari garis bapak, hampir semua berprofesi sebagai guru. Kalau tidak guru, ya petani. Sementara dari garis ibu, lebih bhineka. Ada yang guru, petani, swasta hingga pengacara.

Tetapi, bapak dan ibu adalah seorang guru. Sehingga saya dan kedua adik saya, dibesarkan dalam lingkungan guru. Makanya, sebenarnya orangtua terutama Ibu, saat akan selesai SMA sangat berharap saya menjadi guru.
Keluarga guru, semakin diperkuat dengan lingkungan yang menjunjung tinggi guru. Pelajaran berharga yang saya dapat saat di Bima (tepatnya Desa Dena Kecamatan Madapangga), bagaimana falsafah guru itu luar biasa penghargaannya dan dijunjung sangat tinggi.

Ada falsafah begini "Dahulu nemba guru kemudian nemba ruma" yang terjemahan langsungnya, "Lebih dulu menyembah guru baru menyembah Tuhan". Tentu menyembah di sini bukan bermakna seperti menyembah dalam sholat atau keyakinan keberagamaan.

Tetapi, guru menjadi pionir bagi masyarakat, guru menjadi pintu bagi setiap orang untuk mengenal dan memahami Tuhan, Allah SWT. Falsafah itu wajib kami ucapkan usai belajar mengaji, di kampung kala itu.

Penghargaan terhadap guru, juga terlihat dari struktur sosial masyarakatnya. Dalam istilah Ilmu Komunikasi, ada yang namanya pemimpin opini. Dalam pemahaman klasik, untuk merangkul suara mayoritas di suatu masyarakat, rangkul lah pemimpin opininya. Dengan begitu, ia akan mendapat dukungan banyak. Ini masih sering digunakan di beberapa tempat, termasuk dalam hal pemilu.

Pemimpin opini ini biasanya yang dianggap memiliki kharisma tinggi. Sehingga ujarannya, maklumatnya, hingga petuahnya, didengar. Ia bahkan sering menjadi pemutus akhir dalam sebuah perselisihan di wilayahnya tersebut.

Begitu juga dengan struktur masyarakat di Bima, terutama di kampung saya. Walau tidak semua guru bisa menjadi pemimpin opini, namun yang menjadi pemimpin opini sudah pasti adalah guru. Sementara pemuka masyarakat/agama disematkan kepada para alim ulama.

Guru di kampung kami, termasuk memiliki strata sosial yang tinggi. Walau untuk bicara soal penghasilan, jaraknya langit dan bumi. Ia diberi strata sosial yang tinggi, tapi penghasilan yang minim, begitu maksudnya.

Maka ketika kami kecil, tak jarang banyak guru yang berhalangan atau tidak efektif memberi pengajaran karena musim panen atau tanam. Biasanya, terutama saat SD, sepulang sekolah kami diminta membantu guru di sawah, walau saya sendiri jarang ikut hehehehe...

Sehingga, guru bukan menjadi profesi tunggal untuk mencari nafkah agar asap di dapur tetap ngepul. Bahkan bisa dibilang, waktu mereka habis untuk di sawah daripada mempersiapkan materi untuk mengajar.

Untuk itu juga, ketika itu saya enggan memilih ikut kemauan orangtua untuk menjadi guru. Pikirku, sudah gaji kecil, peluang kecil (kalau jadi guru di kampung), masa seketurunan menjadi guru?!. Walau akhirnya, sempat juga memberi pengajaran soal jurnalistik di sekolah kejuruan Muhammadiyah di Malang, jelang-jelang akhir kuliah, meski hanya sebentar.

Tentu karakter guru di setiap wilayah, akan berbeda. Apalagi membandingkan antara kota dan desa. Guru di kota, skill atau keahlian adalah utama. Sementara di desa, seorang guru harus bisa menjadi kharisma.

Guru di desa bukan sekedar mengajar ilmu sebagai syarat naik tingkat. Tetapi, juga mengajarkan tentang etika, perilaku, dan nilai-nilai keluhuran yang kental.
Teringat saat SMP. Ada seorang guru matematika, namanya Pak Abdul Wahab (Semoga beliau selalu dalam lindungan Allah SWT). Beliau guru senior, dengan janggut putih khasnya. Ketika kami jenuh dengan pelajaran matematika, ilmu-ilmu agama dan etika beliau ajarkan ke kami. Itu di luar tupoksi Pak Wahab. Tetapi, itulah guru, menginginkan anak didiknya tidak sekedar pintar ilmu, tapi baik akhlaknya, baik budipekertinya.

Ada lagi seorang guru kami ketika SMP, bernama Pak Khalik, kami memanggilnya Pak Helo (kalau di Bima nama seperti Said dipanggil Seo, Yunus dipanggil Yanu atau Neo, dll).

Sosok Pak Helo ini terkenal keras, terkadang main fisik. Tentu dengan alasan yang kuat kenapa harus fisik.

Pernah suatu kali, kami sedikit gaduh saat beliau sedang introgasi beberapa rekan mengenai materi yang pernah ia ajarkan. Ada enam murid kena tampar beliau, termasuk saya dan seorang teman yang sebenarnya tidak ikut dalam kegaduhan itu tetapi karena bangku di depan dan belakang yang gaduh, akhirnya kena imbasnya.

Tamparan beliau termasuk adil, merata. Tidak hanya laki-laki, tapi perempuan juga pernah kena tampar. Apalagi kalau sudah berbuat onar, tamparan beliau pasti akan melayang ke siapapun dia.

Tidak ada yang protes, apalagi melapor ke polisi. Karena bagi kami, guru adalah orang yang wajib dihormati. Mereka tidak hanya memberi ilmu, tapi memberi pelajaran hidup, dalam sisi-sisi tertentu ada tauladan dari mereka yang mungkin tidak bisa mereka ucapkan tapi ingin mereka tunjukkan.

Karena didikan keras Pak Helo, kami menjadi giat belajar kalau akan masuk materi beliau. Bagi saya, itulah guru. Guru bukan sekedar pemberi ilmu, tapi juga pemberi tauladan hidup, untuk kita meniti kehidupan yang lebih kompleks ke depannya.

Saya tidak bisa membuat kata mutiara menggambarkan Hari Guru. Karena mereka tidak butuh itu. Hargai mereka, makmurkan mereka, dan tinggikan martabat mereka, itu sudah!!!!

Fastabiqul khairat

Saturday, November 12, 2016

Seiring dengan pernyataan Buya Syafi'i terkait dengan Ahok, sudah cukup banyak yang menulis sisi pemikiran Buya Syafi'i dan cenderung arogan dan tanpa sopan santun.

Saya hanya coba melihat sisi lain yang melekat pada Buya Syafi'i: Kesederhanaan.
Ma'mun Murod Al-Barbasy

Sengaja saya tak masuk pada wilayah pemikiran politik keagamaan Buya. Sederhana saja, dalam hal pemikiran saya sering tak sependapat dengan Buya Syafi'i, terutama dalam konteks relasi Islam dan negara. Positioning pemikiran Buya Syafi'i adalah "tengah-sekular", untuk menyebut pemikiran yang wasathiyah tapi cenderung ke arah sekular.

Sementara saya mencoba memposisikan diri pada posisi "tengah-formalis", untuk menyebut pemikiran wasathiyah tapi berharap ada aturan-aturan formal keagamaan. Karena negara Pancasila sejatinya tidak dan tak boleh menafikan nilai-nilai agama. Wong Sila Pertamanya saja Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.

Dalam konteks kasus Ahok misalnya jelas saya berbeda pendapat dengan Buya Syafi'i. Buya menyebut tak ada penistaan, tapi saya tegas menyatakan ada unsur yang cukup kuat bahwa Ahok menista Al-Qur'an dan para ulama.

Saya sangat dan sangat menghargai pemikiran Buya sebagaimana saya menghargai pemikiran Gus Dur. Dan saya sangat yakin pula itu semata pemikiran Buya. Tak ada unsur "pesanan" dan apalagi "pelacuran" diri Buya untuk sekedar mendapatkan pundi-pundi materi, sebagaimana dituduhkan beberapa orang di medsos.

Buya bukan tipe agamawan yang suka "jualan" agama untuk kepentingan pribadi. Tak ada dalam rumus hidup Buya kelakuan yang menjijikan itu.

Bandingkan dengan tokoh agamawan lain yang karena jabatan keagamaan yang melekat pada dirinya bisa mendatangkan banyak kemewahan duniawi, dengan mobil yang berjejer dan rumah yang megah. Insya Allah Buya bukan tipe agamawan yang punya penyakit WAHN.

Buya orang yang sangat sederhana dan berintegritas tinggi.
Kesederhanaan Buya inilah yang saat ini hilang di lingkup sebagian elit agamawan dan terlebih lagi di lingkup elit politik.

Terlalu banyak agamawan kita yang sepertinya tanpa malu mempertontonkan kemewahan duniawi, tampilan yang tentu cukup kontras dengan apa yang kerap dipidatokan, diceramahkan, ditausiyahkan, yang kerap tanpa malu bercerita soal kesederhanaan Rasul Muhammad saw, cerita betapa kayanya seorang Utsman bin Affan tapi ketika menjabat sebagai Khalifah untuk sekadar makan pun diambilkan dari bait al-maal, karena hartanya habis untuk kepentingan dakwah Islam, tapi tak bisa meneladaninya.

Buya berbeda dalam hal kesederhanaan dengan kebanyakan agamawan lainnya. Sebagai mantan Ketua PP Muhammadiyah, Buya tak malu naik bajaj sambil memakai tas rangsel di lengannya.

Buya tak gengsi naik Mobil Xenia, Buya tak malu memakai baju seharga di bawah Rp100 ribu. Baju Buya bukan produk tailor yang biasa jadi langganan para menteri dan anggota DPR.

Kesederhanaan inilah yang hilang dari bangsa ini. Coba perhatikan polah dari kebanyakan para politisi kita yang penampilannya jauh dari kesan sederhana. Politisi-politisi yang dulunya aktivis (Islam) pun nggak jauh beda.

Bahkan kadang tampilannya lebih norak. Bagaimana tidak norak, biasa hidup miskin, tidurnya di kantor organisasi, makan dari para seniornya, lalu berubah kaya, kan biasanya noraknya keliatan.

Anda semua boleh berbeda pemikiran dengan Buya dan itu sah dan lazim saja, sebagaimana sah dan lazimnya perbedaan pemikiran yang terjadi jelang kemerdekaan.

Namun dalam hal kesederhanaan, Buya layak jadi uswah bagi siapapun, bagi kita semua, terutama uswah buat para agamawan dan politisi kita.


*Ma'mun Murod Al-Barbasy adalah Wakil Dekan FISIP UMJ Bidang Kemahasiswaan, aktivis muda Muhammadiyah.
(opini pribadi penulis, disadur dari laman facebook)

Tuesday, November 8, 2016

Kopi dan aktvis, dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Bukan hanya saat bersantai, bahkan saat serius menekuni profesi keaktivisannya, kopi akan selalu menemani.

Maka setiap hendak melakukan konsolidasi, koordinasi, rapat di luar, atau apalah namanya hingga sekedar nongkrong, kalimat yang biasanya pasti disebut adalah "Ayo ngopi diluar (menunjuk tempat)".

Semenjak aktif dalam keaktivisan di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Malang, kopi memang menjadi bagian penting. Seperti saat kami menghadapi sebuah persoalan rumit, untuk membahasnya kadang tidak dilakukan di komisariat tapi di tempat ngopi. Termasuk curhat. Bahkan, saya sempat disidang di warung kopi menyangkut suatu masalah (hahahaha colek yang ngerasa).

Hampir setiap konsolidasi yang dilakukan Renaissance di luar komisariat, kopi tetap harus ada. Selain rokok bagi 'ahli hisab' tentunya.

Walau menikmati kopi di warung kopi memang asyik, tapi tahukah immawan/immawati sekalian bahwa pernah ada sesosok immawan yang memiliki keahlian di bidang racik meracik kopi.

Kalau kopi sachet, tinggal tuang air panas. Hampir tidak ada seni meraciknya. Tapi ini kopi hitam, yang bubuk dan gulanya terpisah sehingga harus bersinergi untuk menghasilkan aroma dan rasa yang tentu ciamik. Istilahnya kopi banget gitu lhooo...

Tidak semua orang bisa meracik bubuk kopi hitam dan gula dengan baik. Terkadang, bubuk kopinya terlalu banyak sehingga pahit. Bahkan bukan pahit kopi lagi yang terasa.

Ada juga, yang bubuk kopinya terlalu sedikit, sementara gulanya banyak. Jadinya, air gula berwarna hitam karena tidak ada rasa kopinya.

Di Renaissance (menyebut komisariat IMM Renaissance FISIP UMM), ada sosok immawan bernama Supriono. Namanya Jawa banget. Tapi sebenarnya, dia sangat fasih bahasa Madura. Mungkin karena ia berasal dari Jember.

Supriono alias Bobi alias Sueb alias Supri yang celana merah dan topi (Dok: IMM Renaissance FISIP UMM)
Sedikit memperkenalkan sosok Supriono ini. Ia seangkatan dengan saya, masuk UMM tahun 2003 dan DAD (Darul Arqom Dasar) tahun yang sama. Bedanya, dia langsung aktif di komisariat sejak itu, sementara saya sempat satu tahun vakum dan tidak aktif di Renaissance.

Sebagai kader baru, penampilannya sudah memperlihatkan kalau ia sangat humoris. Rambutnya sedikit panjang, tapi dipaksa lurus dengan direbonding. Hingga akhirnya rambutnya dipotong pendek, dan nampaklah kebotakannya. Rambut rebonding panjang hanya modus dia menutupi kebotakannya itu.

Sampai Supriono ini sempat menjadi Ketua KPRF (Komisi Pemilu Raya Fakultas) FISIP. Seorang anggota KPRF kala itu, asal Papua bernama Tobias, bahkan selalu terpingkal-pingkal kalau sudah mendengar Supriono ini ngelawak.

Supriono alias Bobi alias Sueb alias Supri, duduk paling depan. Foto usai Musykom yang mengukuhkan Joko Pitoyo Ketum IMM Renaissance
periode 2005-2006.
Immawan Supriono ini, punya banyak nama samaran. Supriono lebih sering dipanggil bobi atau sueb atau supri dan beberapa nama lain yang saya sendiri lupa.

Satu lagi yang teringat, immawan ini termasuk yang gaptek. Baik soal mengetik, hingga soal internet. Yang ia paham hanya main FM (Football Manager). Pernah satu kali, bersama saya mencari bahan untuk skripsi di warnet daerah Jetis lebih dari satu jam. Saya sudah penuh flasdish, sementara dia untuk membuka google saja tidak bisa.

"Terus lebih dari sejam kamu ngapain aja Eb (Sueb)?" tanyaku

"Nonton," jawab seenaknya sembari ikut keluar. Praktis, tidak ada bahan yang ia dapatkan selain hanya menonton.

Tapi itu tadi, kelebihan dia adalah Supriono alias Sueb alias Bobi ini, adalah seorang peracik kopi hitam yang handal, yang pernah dimiliki IMM Renaissance FISIP UMM.

Kami termasuk Supriono alias Bobi alias Sueb alias Supri dan beberapa teman, sempat numpang hidup di kontrakan Immawan Zul Fadly dan Fahd Hamka, di Sengkaling. Sebagai 'penumpang gelap', menyajikan kopi di pagi hari adalah salah satu cara Supriono alias Bobi alias Sueb alias Supri, untuk menjamu siempunya kontrakan.

Agenda outbond IMM Cabang Malang, IMM Renaissance FISIP kompak mengenakan seragam bola.
Kiri-Kanan: Revo, Mujib, Supriono, Joko Pitoyo, Melki Siregar, Rudi Handoko, Farida, (Alm) Rustam
Depan: Ajeng Galih, Cucuk Ida Puspita, Junaidin
Pihak rumah, tinggal menyediakan bubuk kopi dan gula. Kadang, beberapa bubuk kopi Aceh juga sempat diracik oleh Supriono alias Bobi alias Sueb alias Supri.

Kopi racikan Supriono alias Bobi alias Sueb alias Supri, harus diakui sangat enak. Sebelum berangkat ke kampus, seruput kopi yang ia sajikan itu nikmat sekali.

Supriono alias Bobi alias Sueb alias Supri, sebenarnya penikmat kopi. Setiap pagi, harus ada kopi. Pernah suatu kali ia memilih tidak ke kampus karena tidak ada kopi.

Wednesday, November 2, 2016

Pembangunan suatu bangsa, tentu harus terintegrasi. Bukan hanya berbicara fisik infrastrukturnya. Tapi pembangunan juga harus menyentuh sisi manusia. Apakah itu pemberdayaan manusia dari sisi ekonomi atau bahkan dari sisi kesejahteraannya.

Sering yang menjadi dilema pembangunan adalah siapa yang menikmatinya. Pembangunan dengan megah-megahan, pariwisata yang dipromosikan hingga mendunia, infrastruktur moderen dan canggih, tapi siapa yang menikmatinya. Bahkan lebih sering, rakyat kecil yang harusnya menikmati
itu justru tidak demikian.

Mereka tersingkir dari pembangunan-pembangunan bangsanya, yang justru tidak bisa dinikmati. Kemiskinan dan kesulitan ekonomi, justru semakin menjadi. Sementara di satu sisi, pemerintah membanggakan dengan menyebut sudah membangun sekian infrastruktur, pelancong meningkat, dan seterusnya. Tapi rakyatnya tidak diberi ruang untuk ikut dalam proses pembangunan itu.

Pada akhirnya, muncul persoalan kalau pembangunan hanya dinikmati oleh elit-elit saja, dan rakyat tetaplah penonton dari jarak jauh. Tanpa bisa menikmati hasil pembangunan, yang menurut Sila ke-5 Pancasila sebagai "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia".

Lalu, adakah model pembangunan yang mengintegrasikan kesejahteraan rakyat dengan giat pembangunan infrastruktur? Sedikit cerita mungkin bisa membuka diskusi kita bagaimana pembangunan yang terintegrasi itu.

Pada Kamis 6 Oktober 2016 pagi pukul 07.00 WIB, kami berkesempatan ikut rombongan Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo, serta sejumlah menteri untuk melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

Presiden Jokowi didampingi Ibu Negara Iriana, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, saat meninjau lokasi pembangunan Armada TNI AL di Selat Lampa, Natuna (Foto: Biro Pers Istana)
 Natuna, seperti diketahui adalah pulau terdepan Indonesia. Bahkan berhadapan langsung dengan Laut China Selatan. Istilahnya Natuna sebagai gerbang Indonesia. Lalu bagaimana kondisi masyarakatnya?

Sebagai wilayah terdepan, tentu tidak bisa dibilang sudah cukup. Buktinya, infrastruktur penunjang seperti transportasi dan kegiatan ekonomi mereka, masih jauh dari harapan. Padahal, mereka adalah pintu gerbang Indonesia. Intinya, pembangunan kemaritiman belum menyentuh pada persoalan pokok.

Karena kepulauan, tentu nelayan adalah mata pencaharian kebanyakan warga. Potensi sumber daya laut, sebut saja ikan, sangat besar. Kalau dikelola dengan baik, moderen, ternyata bisa menciptakan perputaran ekonomi yang dahsyat. Perputaran ekonominya bahkan diprediksi ratusan miliar rupiah. Sebuah angka yang fantastis untuk menuju kesejahteraan rakyat.

Kita lihat lagi, bagaimana negara hadir untuk membela rakyatnya dan menjaga harga diri Negara. Sebelumnya, persoalan di Natuna adalah praktik illegal fishing. Baik itu dari Thailand, Vietnam bahkan China yang beberapa waktu akhir ini memicu ketegangan setelah kapal-kapal mereka ditangkap.

"Jadi dua tahun ini kita telah melakukan sebuah tindakan-tindakan penegakan hukum untuk IUU (illegal Unreported Unregulated) yang terus menerus kita lakukan dalam jangka dua tahun dan kita tahu semuanya lebih dari 7 ribu kapal yang biasanya menguras kekayaan sumber daya laut kita, sekarang ini dapat dibilang berhenti," jelas Presiden Jokowi saat itu.

Presiden Jokowi nampak serius mendengarkan penjelasan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, tentang pembangunan cold storage di Selat Lampa, Natuna (Foto: Biro Pers Istana)
Tentu negara harus hadir di tengah-tengah masyarakat. Sebab banyak nelayan di Natuna yang tangkapannya menurun akibat praktik illegal fishing. Mereka juga kalah dalam peralatan kapal tangkap, dimana negara-negara lain seperti China, sudah menggunakan kapal dengan kapasitas besar dan tentu jumlah tangkapannya jauh lebih banyak.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat itu juga mengatakan, penegakan hukum dengan menenggelamkan kapal yang melakukan illegal fishing, adalah termasuk cara untuk melakukan recovery laut di Natuna.

"Karena sebetulnya saat sekarang Natuna sudah membaik 200-an persen lebih di banding sebelumnya tangkapan nelayan. Tetapi dibanding dengan kesuburan masih belum. Jadi kita harapkan dalam 2 tahun ini kita jaga, kita tangkap dengan betul ikannya akan tambah banyak. Kita harapkan potensi 400 ribu ton yang diharapkan itu paling tidak kita bisa ambil 100-200 ribunya kita boleh tangkap 50 persennya. Jadi saya harapkan dalam 2-3 tahun," kata Susi.

Dengan realitas kondisi seperti ini, sebenarnya terlihat pembangunan itu menyentuh rakyat dan dinikmati hasilnya juga oleh rakyat. Lalu, bagaimana dengan infrastrukturnya?

Dalam kesempatan kunjungan kerja ke Natuna, kami juga diberi kesempatan untuk melihat pembangunan cold storage dan pangkalan militer di Selat Lampa. Perjalanan dari Bandara Rinai menggunakan helikopter, memakan waktu sekitar 20 menit. Sementara kalau lewat darat, diperkirakan lebih dari dua jam.

Indonesia, memang saatnya harus menjadi produsen dari produk-produk yang dihasilkan sendiri. Presiden Jokowi dalam berbagai kesempatan, selalu menceritakan saat Indonesia mengalami boming kayu dan minyak era 1980-an.

Tanpa sadar, kita hanya mengekspor bahan-bahan mentah. Sementara barang jadi, kembali masuk ke Indonesia dengan harga yang jauh lebih mahal.

Tanpa disadari, eksploitasi itu mengakibatkan kita kehabisan bahan mentah, eksploitasi besar-besaran tapi sebenarnya tidak banyak yang diuntungkan.

Keberadaan cold storage, yang nantinya akan langsung mengolah hasil laut dari perairan Natuna, memang menjadi suatu kebutuhan. Dengan begitu, nelayan di daerah tersebut diberdayakan dengan baik.

Di tengah-tengah aktivitas masyarakat, khususnya yang berada di kepulauan terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti Natuna ini, negara juga harus hadir.

Maka sudah sangat tepat, ketika pemerintah membangun kekuatan militer yang lebih kuat di Natuna. Di satu sisi, sebagai gerbang depan, maka penjagaan harus ada ketat.

Tetapi di sisi lain, negara hadir di tengah-tengah masyarakat yang aktivitasnya rawan diserobot negara lain. Sementara rakyat tidak kuasa dan tidak punya kekuatan untuk melawan. Maka sudah tepat, di dekat cold storage tersebut dibangun armada laut TNI. Sinergisitas seperti ini yang harus dilakukan.

Bukan menjadi rahasia lagi, dimana saat nelayan Natuna mencari ikan, nelayan dari negara-negara lain juga ada. Bahkan beberapa diketahui masuk ke perairan Indonesia dan melakukan aktivitas penangkapan ikan.

Dengan adanya TNI dan armada-armada pendukungnya, para nelayan menjadi tenang karena ada yang mengawal mereka. Potensi laut, bisa dikembangkan dan dimanfaatkan untuk rakyat Indonesia sendiri.

Natuna yang awalnya terkesan tanpa pengawasan, sehingga banyak kapal-kapal besar dari luar negeri yang melakukan illegal fishing, kini dalam dua tahun belakangan, mulai ditertibkan.

Ini semua, sebagai langkah awal untuk mengembalikan perairan Natuan pada fungsi sebenarnya. Terkadang juga, kita sering mengatakan Indonesia adalah negara maritim, dengan dua pertiga dari wilahnya adalah laut, potensi lautnya sangat besar, tapi fakta di lapangan tidak seperti itu. Jargon lama itu, harus dikembalikan bahwa memang negara maritim

Indonesia, harus bisa memanfaatkan potensi itu untuk kemakmuran rakyatnya. Kini, illegal fishing di Natuna sendiri menurun drastis, bahkan mungkin tidak ada lagi.

"Berhenti (ilegal fishing) itu akan menyebabkan kembalinya ekosistem laut kita pulih normal sehingga apa, kalau dilihat dari citra satelit, klorofilnya menjadi lebih hijau lagi. Ini nanti kalau pada posisi yang normal kembali, pulih kembali, nanti produksi ikan kita akan meningkat melipat. Ini arahnya ke sana. kalau ini sudah, artinya apa, kita menata kembali industri perikanan kita baik yang tingkat nelayan, yang tingkat di atasnya, pengusaha kecil, yang tingkat industri, akan kita tata kembali," papar Presiden Jokowi.

Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler