Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Monday, October 12, 2015

Beberapa pekan ini, wacana soal negara harus meminta maaf terhadap kejadian masa lalu, terus dibahas.

Awalnya, pertengah September 2015, wacana pemaafan terhadap tragedi Gerakan 30 September 1965 atau yang dikenal dengan pemberontakan G30SPKI, menggelinding menjadi wacana yang ramai dibicarakan, walau pemerintah secara tegas mengaku tidak ada pemikiran untuk minta maaf ke PKI (Baca: Jokowi: Tak Ada Pemikiran Minta Maaf Kepada PKI).

"Negara harus minta maaf ke korban PKI", mungkin begitu kira-kira isi pesan yang mencuat sehingga ramai diberitakan. Isunya sebenarnya, beriringan dengan keinginan pemerintah untuk melakukan rekonsiliasi tragedi-tragedi masa lalu hingga peristiwa-peristiwa masa Reformasi seperti tragedi Semanggi, yang susah ditemukan buktinya.

Tapi sebenarnya, lagi-lagi kita juga berpikir, siapa yang berhak minta maaf? Merujuk apa yang dikatakan oleh Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan, kedua belah pihak baik dari keluarga 'PKI' maupun negara, sama-sama menjadi korban (Baca: Kasus PKI, Alasan Negara Tak Mau Minta Maaf). 

Isu ini juga semakin liar. Bahkan, beberapa agenda siluman tiba-tiba beredar dengan menyebut, Presiden Joko Widodo akan menghadiri agenda yang dilaksanakan oleh kelompok komunis di Gelora Bung Karno pada 30 September pagi. Hingga akhirnya, pihak Istana menyebut ini fitnah dan meminta Mabes Polri mengusut siapa pelaku. Kabar terakhir, sudah dideteksi pelakunya (Baca: Jokowi Tuntut Penyebar Isu Presiden Minta Maaf ke PKI).

Selang beberapa pekan ini, wacana maaf memaafkan oleh negara, kembali mencuat. Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan yang juga Ketua MPR Ahmad Basarah, melontarkan wacana negara harus minta maaf ke Bung Karno (Baca: PDIP: Negara Harus Minta Maaf pada Soekarno dan Keluarganya).

Sebenarnya, bukan persoalan negara harus minta maaf atau tidak. Tapi, 'desakan' oleh elit partai yang kini menjadi partai penguasa yang merupakan partai utama pemerintah, membuat kita kembali berpikir. Siapa yang disasar PDIP dengan melontarkan desakan agar negara memintaa maaf ke Bung Karno? Siapa negara saat ini dalam konteks penguasa? Ya, jawaban tentunya adalah PDIP sebenarnya. Presiden Jokowi adalah kader PDIP, dan seharusnya memang sejalan dengan PDIP.

Kita juga harus mengingat kembali, apa yang diutarakan oleh Ketum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri, sesaat setelah merestui Jokowi sebagai calon presiden 2014, terkait petugas partai. Itu juga dilontarkan Megawati beberapa kali dalam forum resmi partai (Baca: Megawati: Tak Mau Disebut Petugas Partai, Keluaaar!).

Kira-kira intisari yang disampaikan Megawati soal petugas partai, adalah Jokowi yang diamanatkan maju sebagai capres (saat jelang Pilpres 2014), tetap tidak boleh melupakan bahwa dirinya adalah petugas partai. Memaknai itu, sebenarnya bisa dikatakan, apa yang diinginkan oleh partai, harus juga dijalankan oleh petugasnya. Kalau seluruh kader PDIP adalah petugas partai, Jokowi juga adalah kader PDIP sehingga harus menjalankan keinginan partai (Baca: PDIP: Jadi Petugas Partai Tidak Rendahkan Jokowi).

Maka sebenarnya, bagi saya, desakan PDIP agar negara meminta maaf ke Bung Karno adalah sebuah kode kalau bisa dibilang begitu, terhadap Presiden Jokowi.

Analisa pertama, Jokowi bukan petugas partai. Asumsinya, kalau PDIP punya keinginan agar negara meminta maaf terhadap Bung Karno, tanpa harus dipublikasikan dan diwacanakan ke publik, bisa langsung dilakukan. Presiden Jokowi bisa membuat aturan, apakah Peraturan Presiden (Perpres) atau lainnya, dengan menyebut 'Negara Meminta Maaf ke Bung Karno'. Habis perkara!

Mengutip pernyataan Ketum Partai Bulan Bintang yang juga pakar hukum tata negara Prof Yusril Ihza Mahendra, dalam pesan blackberry massenger nya beberapa waktu lalu. Berikut kutipannya:

"Mau minta maaf atau tidak pada Bung Karno semuanya adalah kewenangan Pemerintah. Kalau ingin dilakukan silahkan dilakulan oleh Megawati (dulu waktu jadi Presiden) atau sekarang oleh Jokowi. Berwacana terus soal minta maaf ini mengesankan Pemerintah yg dikuasai PDIP ini tidak mengerti apa yang harus dilakukan sebagai Pemerintah. Sudah jadi partai berkuasa tapi masih merasa seperti berada di luar lingkaran kekuasaan. Presiden adalah decision maker, karena itu ambil saja keputusan dan berhentilah berwacana agar suatu masalah selesai dan selanjutnya fokus untuk menyelesaikan masalah lain yg dihadapi bangsa dan negara ini".

Analisa kedua, Jokowi dipagari oleh orang-orang yang tidak sepaham dengan PDIP. Sehingga perlu bagi partai, untuk melempar wacana ke publik agar Jokowi mengerti keinginan partai.

Kita tengok isu-isu politik di awal pemerintahan Presiden Jokowi. Terkesan memang, seperti saat pembentukan kabinet, apa yang diharapkan PDIP justru tidak sejalan dengan kabinet yang dibentuk. Bahkan, untuk posisi strategis PDIP malah tidak kebagian. Sebuah ironi bagi partai pemenang pemilu dan partai utama pengusung pemerintah, dimana kadernya sukses menjadi Presiden ke-7 setelah 10 tahun menjadi oposisi. Bahkan, sikap keras PDIP terhadap pemerintah berlanjut di DPR.

Bisa dimaknai, PDIP tetap menganggap Jokowi adalah petugas partai. Namun PDIP ditlikung di tengah jalan saat Jokowi menang Pilpres 2014. Sehingga, untuk menyampaikan pesan ke Jokowi, yakni dengan bersikap keras terhadap pemerintah, layaknya mereka masih menjadi partai oposisi seperti 10 tahun yang PDIP jalani.

Bahkan seorang anggota DPR pernah berucap, PDIP yang justru keras terhadap pemerintah. Kekhawatiran kalau partai-partai Koalisi Merah Putih (KMP) yang akan menjegal Jokowi di parlemen, malah terbantahkan.

Maka dari itu, bagi saya desakan-desakan agar negara minta maaf ke Bung Karno, bukan hanya dilihat dari substansi materinya. Tapi ada persoalan politik lain, yang terjadi antara PDIP, pemerintah, dan Jokowi sendiri yang notabene dikatakan sebagai petugas partai. [opini pribadi]

Thursday, September 3, 2015



Peristiwa pada Rabu 2 September 2015 lalu, meramaikan jagad politik di tengah-tengah kabar saat itu soal pencopotan Komjen Budi Waseso sebagai Kabareskrim Mabes.

Ketum PAN Zulkiefli Hasan dan Sekjen, didampingi Sutrisno Bachir dan Ketum Hanura Wiranto, siang-siang datang menghadap Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka.

Siang, turut mendampingi Presiden Jokowi, PAN menyatakan keluar dari KMP dan bergabung dengan KIH mendukung pemerintahan Jokowi-JK.

Gempar politik terjadi. Bahkan, Amien Rais pendiri PAN, yang sejak Jokowi menjadi Cagub DKI dan Capres selalu dikritiknya dengan sangat keras, kini mulai melempem. Bahkan merestui loncat politik PAN itu.

Bagaimana dengan Prabowo Subianto yang sejak awal menggawangi KMP? Ada pernyataan bagus Prabowo, saat bertemu dengan PAN, PKS, dan parpol KMP lainnya.

Biar cover both side, saya lampirkan dua pernyataan lengkap Amien Rais dan Prabowo Subianto di bawah ini:


Konferensi Pers
"Supaya Indonesia Tidak Runtuh"
Yogyakarta, 3 September 2015

Supaya Indonesia Tidak Runtuh
M Amien Rais

Hakekatnya, ada dua bangunan yang paling penting bagi setiap negara, yaitu bangunan ekonomi dan bangunan politik. Bila kedua bangunan itu kuat dan tangguh, negara menjadi kuat dan kenyal menghadapi setiap tantangan yang ingin menghancurkan negara, baik dari kekuatan internal maupun eksternal. Namun bila bangunan ekonomi goyah dan akhirnya hancur, negara bisa mengalami dua kemungkinan:

Pertama, bila bangunan politik ikut retak dan tidak solid, negara bisa ikut runtuh bahkan lenyap dan hilang dari peta dunia.

Kedua, bila bangunan politik cukup padu dan tangguh, kehancuran ekonomi tidak perlu merobohkan negara, karena kesatu-padu politik nasional dari bangsa dan negara akan mampu memikul bersama dampak sosial-politik keruntuhan ekonomi tersebut.

Kita tidak boleh dihinggapi penyakit self-complacency , alias berpuas diri, berleha-leha seolah kita tidak mengalami situasi kritis, terutama masalah ekonomi yang sekarang semakin terpuruk. Kita tidak boleh bersikap seperti burung unta yang melihat bahaya, dengan menyurukkan dalam-dalam kepalanya ke dalam pasir, sambil berharap bahaya akan hilang sendiri bersama dengan perjalanan waktu.

Sebagian menteri dan pemimpin nasional kita rasanya sudah kehilangan kewaskitaan ketika menganggap ekonomi kita masih OK, fundamental ekonomi cukup kuat, cadangan dollar Indonesia masih cukup untuk meladeni perang mata uang (currency war). Dengan menggenjot pajak dan mencairkan sisa APBN yang masih 72% pada kwartal terakhir 2015, ekonomi kita akan meroket mulai September dan benar-benar kita rasakan meroket pada Desember nanti. Semoga demikian, namun marilah kita belajar dari keruntuhan Uni Soviet dan Yugoslavia.

Uni Soviet (lengkapnya USSR) yang pernah dijuluki sebagai negara adi daya, adi kuasa, super power bersama Amerika Serikat, didirikan pada 1922. US meliputi 11 republik Soviet, yaitu Ukraina, Federasi Russia, Belarusia, Armenia, Azerbaijan, Kazakhstan, Kirghgistan, Moldova, Turkmenistan, Tajikistan dan Uzbekistan.

Enam puluh sembilan tahun kemudian pada 1991, USSR bubar, sekali dan untuk selamanya. Dunia tidak percaya Uni Soviet akhirnya bubar. Dinas Intelejen Soviet (KGB), termasuk terbaik di dunia, PKUS (Partai Komunis Uni Soviet) partai yang paling rapih, monolitik dan sangat hierarkis dan sistematik. Tentara merah Rusia, tentara yang begitu legendaris dan kontrol media massa bersifat absolut, namun sekali lagi, Uni Soviet akhirnya bubar. Sudah terkubur di rawa-rawa sejarah. Pembaharuan Uni Soviet oleh Mikhail Gorbachev dengan 3 simbol perubahan, yaitu glasnost (keterbukaan), perestroika (restrukturisasi ekonomi) dan demokratizatsiya (demokratisasi politik) tidak dapat menolong Soviet dari kehancurannya.

Idem ditto, Yugoslavia. Negara ini didirikan pada 1945 dengan dukungan 6 republik, yaitu Bosnia-Hercegoviena, Croatia, Macedonia, Montenegro, Serbia, dan Slovania. Di Eropa Timur, Yugoslavia merupakan negara yang paling kuat dan paling maju, dibandingkan dengan Hongaria, Albania, Bulgaria, Cekoslovakia dan lain-lain. Namun pada 1991-1992 Yugoslavia mengalami proses disintegrasi, semua republik pendukungnya sudah lepas dan Yugoslavia tinggal kenangan masa lalu. Negara yang pernah tenar dibawah Joseph Tito ini sudah terbenam dalam rawa-rawa sejarah juga.

Mengapa Uni Soviet dan Yugoslavia hancur dan bubar? Ada 5 sebab utama:

Pertama, menjelang kebangkrutan dua negara itu, masing-masing ekonominya mengalami kegagalan. Rakyat di kedua negara itu merasa hanya jadi alas kaki para pemimpinnya, yang rata-rata hanya pandai menebar janji muluk dengan slogan-slogan menarik. Rakyat perlu roti dan keju, bukan janji kosong dan harapan palsu.

Kedua, para pemimpin terlibat konflik untuk perkara-perkara yang semuanya bersifat pragmatis, bahkan menjurus ke kepentingan hedonistik. Penguasa di kedua negara itu secara sadar berusaha memecah-belah lawan-lawan politiknya, karena meyakini dengan politik pecah belah itu pemerintah menjadi kuat.

Ketiga, rata-rata pemimpin nasional di kedua negara itu tidak kompeten dan dihinggapi gejala puas diri dan percaya diri yang berlebihan. Bila ketidak-kompetenan, rasa puas diri dan percaya diri berlebihan bergabung dalam diri pemimpin, maka harapan perubahan dan perbaikan menjadi makin jauh dari kenyataan.

Keempat, pertikaian antar-etnik sangat marak di tahun-tahun menjelang bubarnya Soviet dan Yugoslavia. Seluruh republik Soviet non-Rusia meminta lepas dari Moskow dan seluruh republik di Yugoslavia kecuali Serbia menuntut merdeka dari Beograd.

Kelima, ada kekuatan global yang ingin melihat kehancuran dua negara tersebut, terutama kehancuran Soviet. Waktu itu secara resmi Ronald Reagan ingin menghancurkan Uni Soviet sebagai evil empire atau imperialisme jahat.

Bung Karno pernah mengajarkan pada bangsa Indonesia, bahwa "a nation divided against itself cannot stand". Satu bangsa yang pecah ke dalam tidak dapat tegak berdiri. Singkat kata, USSR dan Yugoslavia yang nampak perkasa itu akhirnya ambruk karena mereka pecah ke dalam.

Bagaimana dengan Indonesia? Kita perlu mengambil pelajaran dari bangsa lain. Bila kita jujur, NKRI mengalami semacam kerapuhan politik. Negara kepualauan yang begitu besar dengan keragaman agama, ras, dan etnik serta tradisi yang berlainan memerlukan usaha tanpa henti agar bhineka tunggal ika itu benar-benar menjadi realitas kehidupan bangsa. Disamping itu terlihat bangsa Indonesia sekarang tidak peka lagi dengan langkah-langkah kekuatan eksternal yang berusaha melemahkan Indonesia.

Ada kesan kuat bahwa pemerintah sekarang ini membungkuk di hadapan kekuatan asing. Sebentar lagi jutaan pekerja asing akan membanjiri Indonesia, sementara sekarang ini perbankan, pertambangan, pertanian, perkebunan, kehutanan dan berbagai sektor ekonomi modern sudah didominasi oleh kekuatan asing.

Bukan tidak mungkin bangsa Indonesia akan menjadi penonton yang lapar ketika kekuatan-kekuatan ekonomi asing menggasak kedaulatan politik dan ekonomi kita secara habis-habisan. Mudah-mudahan saya keliru, tetapi proses asingisasi di berbagai semua sektor ekonomi modern sudah menjadi rahasia umum. Salah satu contoh telak adalah 78% tanah di DKI dimiliki oleh kelompok tertentu yang punya jalinan kuat dengan kekuatan asing.

Memang benar, pemerintah sekarang mewarisi kondisi ekonomi yang tidak ideal dari pemerintah masa lalu. Tetapi sayang, bukannya melakukan koreksi yang sangat diperlukan, pemerintah sekarang malah memperparah keadaan, dengan jalan mempermudah masuknya sebuah kekuatan global yang teramat jelas ingin mendiktekan dan menguasai ekonomi nasional. Sebaiknya kita meningkatkan kewaspadaan nasional kita. Bila bangunan ekonomi kita terus didera dengan anjloknya rupiah; PHK yang makin luas; dan akhirnya sampai pada tahapan krisis yang dapat memicu gejolak sosial yang bersifat masif ditambah dengan semakin menguatnya aspirasi separatisme yang latent di sebagian tubuh bangsa Indonesia, maka kebutuhan kita untuk menghindari perpecahan politik menjadi mutlak. Mutlak. Seandainya ekonomi kita terus bergerak downward spiral dan ikut berlomba jatuh ke jurang (race to the bottom), keperluan kita sebagai bangsa untuk bersatu-padu dan melupakan hal-hal yang sifatnya sepele dan remeh-temeh tentu tidak dapat ditunda.

Untuk itulah saya mengusulkan sebuah langkah politik yang kiranya dapat memperkuat eksistensi kita sebagai bangsa, tatkala rakyat makin resah dan tidak sabar menderita kesulitan ekonomi yang makin mencekik. Saya usulkan agar seluruh kekuatan politik, dalam menghadapi krisis ekonomi, melakukan sharing of power dan sharing of responsibility. Biasanya orang cenderung hanya ingin berbagi kekuasaan, tetapi tidak bersedia berbagi tanggung jawab.

Sudah tinggal saatnya Pak Jokowi sebagai kepala negara, kepala pemerintahan, dan panglima tertinggi mengundang seluruh kekuatan bangsa mencari solusi bersama. Lebih penting dari itu adalah komitmen bersama bahwa NKRI tidak boleh lemah, apalagi ambruk gara-gara kehancuran ekonomi nasional. Lakukanlah pertemuan bersama antara: 1) seluruh ketua lembaga tinggi negara; 2) pimpinan TNI dan Polri; 3) ketua-ketua umum partai politik; 4) unsur-unsur yang mewakili agama-agama di Indoneisa, semisal MUI, Muhammadiyah, NU dari kalangan Islam, PGI (umat kristen), Konferensi Wali Gereja Indonesia (umat Katolik), perwakilan umat Budha, Hindu dan Konghucu; 5) berbagai tokoh bangsa; 6) wakil-wakil kampus trekemuka; 7) wakil-wakil pengusaha; 8) beberapa pemred terkemuka, 9) wakil-wakil NGO/LSM terkemuka; dan lain-lain.

Elemen-elemen wakil bangsa itu perlu memiliki kesamaan pandangan tentang krisis yang sedang kita hadapi. Mungkin diperlukan beberapa hari untuk mengambil sikap yang sama dan komitmen bersama menghadapi tantangan apapun yang akan datang baik dari dalam maupun luar negeri. Pertemuan kebangsaan itu dipimpin langsung oleh Presiden dan Wakil Presiden.

Kita sedang menghadapi perubahan-perubahan yang cepat di panggung internasional. Lihatlah Iraq sudah hancur. Suriah sedang menuju kehancuran. Afghanistan sudah lebih dahulu hancur. Libia kini tidak lagi punya masa depan. Yaman sudah hancur, Sudan sudah pecah jadi dua dan keduanya sama-sama tidak berhasil; Mesir bermasa depan makin gelap, dan seterusnya.
    
Kita dikejutkan dengan perpecahan masyarakat Melayu di Malaysia. Tokoh-tokoh melayu sebesar Mahatir Muhammad, Anwar Ibrahim dan Nadjib bertarung habis-habisan, sementara Ustadz Hadi Awang dengan PAS nya menjadi kelompok lain yang berbeda haluan. Tidak tertutup kemungkinan ada kekuatan lain yang akan memegang kendali politik dan ekonomi di Malaysia nanti, bila kekuatan politik Melayu sudah hancur.

Nah, pertemuan Ketum PAN dan Jokowi harus diletakkan dalam perspektif ini. Kalau pertemuan itu hanya langkah awal dari apa yang saya harapkan, yaitu memadu kekuatan politik bangsa untuk menghadapi krisis ekonomi yang sedang kita hadapi, tentu harus kita syukuri. Tetapi kalau hanya berhenti sekedar membujuk PAN masuk ke pemerintahan dengan perhitungan remeh-temeh agar jumlah kursi pemerintah di parlemen menjadi lebih besar dari oposisi dan PAN dikasih imbalan dua atau tiga kursi kabinet maka hakekatnya sedang ada usaha pecah belah kekuatan politik yang mengindikasikan panggung politik lebih runyam dan gaduh.

Bila Golkar berhasil dipecah, PPP berhasil diadu domba maka rangkulan pemerintah pada PAN bisa menjadi rangkulan maut. Sejak dahulu Ketum PAN sudah menegaskan bahwa berjuang di luar pemerintahan sebagai kekuatan oposisi yang rasional,etis dan bertanggung jawab juga cukup mulia, semulia mereka yang berada dalam pemerintahan.

Kita masih menunggu perkembangan dalam beberapa hari ini, apakah langkah awal itu akan bermuara pada koalisi nasioal yang benar-benar bekerja untuk kepentingan bangsa ataukah hanya manuver politik yang tidak terlalu bermakna. Reshuffle jilid satu tidak berdampak apa apa. Jangan-jangan reshuffle kedua, kalau hanya tambal sulam, dan tidak diletakkan dalam perspektif jangka panjang, bisa berakibat lebih buruk lagi. Karena itu resep saya cuma satu: semua elemen bangsa duduk bersama, dalam suasana saling percaya, dengan satu tujuan: andaikata downward spiral ekonomi Indonesia terpaksa harus terjadi, bangunan politik nasional (persatuan dan kesatuan bangsa) tidak pernah boleh goyah. Kalau yang memimpin pertemuan kebangsaan itu langsung oleh Presiden dan wakil presiden sendiri, tentu tidak ada yang perlu kita curigai.

M Amien Rais 


Pantun Buat Pak Zulkiefli

Pada Kamis 3 September 2015, juga ada pertemuan elit-elit KMP. Termasuk di dalamnya, Prabowo Subianto yang juga Ketum Gerindra.

Saat pilpres 2014, Prabowo menggandeng Ketum PAN saat itu Hatta Rajasa sebagai cawapres. Mereka kalah. Hingga akhirnya membuat deklarasi Koalisi Merah Putih (KMP) sebagai penyeimbang pemerintahan. Artinya, motor KMP adalah PAN dan Gerindra. Lalu, kenapa tiba-tiba PAN membelot?

Begini pernyataan Prabowo:

Saya ingin gunakan kesempatan ini untuk bicara tentang rupiah, bicara tentang kedaulatan. Tentang kepemilikan. Rupiah akan kuat jika ekonomi negara kuat.

Kekuatan itu tentang kepemilikan. Kamu punya apa? Negara kita punya apa? Jika aktivitas ekonomi banyak, tetapi bukan milik negara, bukan milik warga negara, Indonesia tidak akan pernah bisa jadi negara kuat. Karena keuntungan ekonomi lari ke negara lain. Batu bara, tambang, dan sebagainya.

Jadi, pertumbuhan 5% / 6% saya berani katakan, mau pertumbuhan 12% pun kalau kepemilikannya bukan di tangan bangsa Indonesia, tidak ada artinya.

Sebagai contoh, katakanlah perusahaan Astra. Perusahaan Astra nilainya sekarang, jika tidak salah, lebih dari 45 miliar Dollar. Tetapi, pemiliknya adalah orang asing. Berarti, keuntungan itu mengalir ke luar negeri. Demikian pula dengan BCA, nilainya adalah 15Miliar Dollar dan keuntungannya juga mengalir ke luar negeri, dan seterusnya.

Satu persatu aset itu bisa kita cek, sekarang Pak Zul kita bisa titip, jika apa yang diputuskan PAN memang benar untuk bangsa dan rakyat Indonesia ini harus dibicarakan, jangan pura-pura tidak tahu.

Pelabuhan Tanjung Priok, 30 tahun lagi akan diberikan ke orang asing, Pelabuhan Belawan juga akan diberikan ke asing lagi, Pelabuhan Surabaya. Jadi, pelabuhan saja kita tidak bisa kelola. Pelabuhan itu bukan teknologi tinggi, bangsa Indonesia dianggap tidak bisa mengelola pelabuhannya sendiri. Bahkan pangkalan udara Angkatan Udara Halim, diserahkan ke perusahaan, yang harus kita cek mungkin kepemilikannya milik asing juga.

Saya kira itu titipan saya, ini perjuangan KMP, kami tadi akhirnya ‘legowo’ dalam pertemuan dengan pak Zulkifli Hasan.

Kita akhirnya mengeluarkan unek-unek dan kita akhirnya mendapat suatu kejelasan dan keyakinan kembali bahwa kawan-kawan di panggung untuk mencoba berkomitmen untuk kepentingan bangsa dan negara, bahkan beliau juga mengatakan di parlemen akan tetap bersama kita.

Jadi kita juga mohon, bahwa rakyat menaruh harapan kepada kita, rakyat menaruh harapan kepada KMP. Dengan KMP kita bisa menjadi mitra, kita bisa menjadi imbangan pemerintah untuk bersama-sama menggapai masa depan bangsa Indonesia. 

Sekian itu dari saya, ini salah protokol kalau minta saya bicara, akhirnya saya jadi kampanye sedikit. Saya ingin menutup sambutan saya dengan membacakan pantun.

Satu dua cempaka biru, tiga empat dalam jambangan.

Kalau mendapat kawan yang baru, kawan lama dilupa jangan.

Itu pantun untuk Pak Zul.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Wednesday, August 26, 2015

Anggaran Rp2,7 triliun, sudah ditetapkan oleh Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat, untuk membangun gedung baru. Ya, gedung baru. Beberapa pimpinan dewan menyebut tujuh ikon parlemen. Entah tujuh gedung, entah tujuh menara, entahlah… tapi yang jelas ada gedung baru.

Polemik gedung baru, sebenarnya sudah terjadi pada dua periode kepemimpinan DPR sebelumnya. Pada periode 2009-2014, bahkan DPR jadi bahan bully nitizen hingga pengamat dan aktivis. Apalagi anggarannya sangat fantastis, lebih dari Rp 1 triliun.  Munculnya angka Rp2,7 triliun, sebenarnya bagi saya pribadi sangat mengagetkan.



Hingga, beberapa hari lalu saya mencoba mengirimkan pesan blackberry messenger kepada Ketua DPR 2009-2014, Marzuki Alie. Politisi Partai Demokrat ini mengaku, memang DPR butuh gedung baru. Tapi situasi ekonomi sekarang yang sedang terpuruk, perlu dipertimbangkan. Lalu dia mengaku, anggaran gedung baru saat dia menjadi ketua DPR bisa ditekan hingga di bawahRp1 triliun. “Dulu sudah saya koreksi, biayanya bisa turun menjadi Rp900 miliar,” kata Marzuki.

Polemik terhadap DPR, bukan barang baru sebenarnya. Bahkan stigma DPR tidak ada kerjaan, cuma ngerecokin eksekutif, dan atau habisin uang rakyat, sudah sangat melekat. Hingga polemic soal gedung baru, sudah menjadi makanan sehari-hari.

Beberapa polemik pembangunan di DPR, seperti pembangunan ruang baru Banggar di gedung Nusantara II yang menelan dana Rp20 miliar. Sebenarnya bukan gedung baru, tapi renovasi sebuah ruangan, yang terletak di sebelah Komisi III dan Komisi I. Polemik ini mencuat dan mendapat perhatian, karena saat itu beberapa satuan anggarannya seperti harga satu kursi, bahkan disebut lebih dari Rp10 juta.

Saya masih ingat, itu awal 2012. Bahkan, kami sempat petak umpat dengan pihak penyedia kursi-kursi itu, saat hendak membawa kembali ke gudang mereka di kawasan Pamulang. Lewat jam 12 malam, mereka baru melakukan aktivitasnya, setelah situasi lengang. Padahal, saat itu kami sengaja menunggu di ruang pressroom hingga mereka melakukan aksi bongkar dari ruang baru Banggar itu ke mobil box yang sudah disiapkan. Bahkan, Radio El Shinta sampai mengudara secara live saat melaporkan evakuasi itu.

Kembali ke soal gedung baru DPR. Tidak both side rasanya kalau tidak kita memaparkan dan melihat langsung, seperti apa kondisi gedung itu sekarang. Benarkan dibutuhkan atau tidak? Subjektif saya, tidak akan menggiring dan mendukung gedung baru. Tapi sedikit gambaran (mungkin kurang lengkap).

Gedung yang tidak representative lagi sebenarnya, ada di Gedung Nusantara I, yang berlantai 20 lebih. Di sana, adalah ruangan seluruh fraksi dan 560 anggota dewan.

Untuk mengakses setiap lantai, lift adalah jalur yang mudah dan tidak melelahkan. Ada tangga, tapi akan kewalahan untuk menggunakan, apalagi dengan tujuan ke lantai yang tinggi.  Untuk lift umum, yakni digunakan oleh staf, karyawan, tamu, pengunjung dan hingga wartawan, hanya tersedia dua lift dengan kapasitas yang terbatas. 

Posisinya, ada di ujung barat. Satu lagi sebenarnya untuk umum. Namun itu adalah lift barang. Sehingga tak heran, ketika kita hendak naik dari lantai 1, sudah ada barang-barang besar di lift itu, yang diangkut dari lantai dasar.

Ada lift khusus untuk anggota dewan. Ada empat, yakni dua di sisi kiri dan dua di sisi kanan. Tidak sembarang orang yang bisa masuk menggunakan lift itu. Dia disekat dengan pintu yang dijaga Pasukan Pengamanan Dalam (Pamdal) DPR, sehingga dari lift umum kita tidak bisa masuk ke lift anggota. Anggota juga masuk melalui pintu bagian depan, persis di depan pintu masuk Gedung Nusantara I. Ruangan yang juga menyediakan beberapa sofa, tempat sejumlah anggota dan tamunya terkadang berbincang, dijaga juga oleh Pamdal.

Dalam keadaan sepi, tentu tidak aka nada kesulitan naik ke lift. Pasti akan cepat. Namun sangat berbeda, kalau itu dalam keadaan ramai. Apalgi saat pagi hari, dan jam makan siang, serta jam pulang atau sore hari. Pengalaman melakukan peliputan di DPR, bahkan antrian untuk masuk ke lift itu menjalar hingga ke depan jalur lalulintas di gedung itu, saking banyaknya orang yang hendak menggunakan lift.

Dengan kondisi seperti itu, tentu mobilitas menjadi terganggu. Walau terkadang kami juga berpikir, siapa saja sih orang-orang ini yang selalu menggunakan lift ini. Ada saja kepentingan mereka. Mungkin banyak juga diantara mereka yang notabene adalah wartawan bodrex, atau mungkin yang nyari-nyari proyek. Ini kisah nyata, sebab banyak juga anggota yang mengeluh didatangi orang-orang seperti itu. 

Tak jarang, wartawan bodrex contohnya tertangkap dan diamankan karena mencoba untuk memeras anggota dan pegawai di komisi-komisi dan fraksi. Karena kejadian semacam ini juga, banyak anggota yang meminta masuk ke DPR diperketat.

Pernah suatu ketika, saat harus berburu dengan waktu dari ruang paripurna DPR lalu harus secepat kilat ke lantai 12 salah satu fraksi. Paripurna selesai sekitar jam 12 siang. Bergegas dengan tergesa-gesa menuju lift, karena ada konfrensi pers yang harus diliput juga.

Sampai di lift, antrian menjalar sampai tak karuan. Ibarat saat jam sibuk, antrian di halte bus TransJakarta, desak-desakan, harus antri dan tentu panas dan penat. Belum lagi harus menunggu lift turun, yang saat itu baru naik di lantai 4 dan masih terus naik hingga lantai 21. Lalu turun lagi membutuhkan waktu lama, begitu seterusnya. Praktis, ada 30 menit untuk antri hingga bisa masuk lift dan tiba di lokasi tujuan.

Pernah suatu ketika, keadaan hampir sama, dikejar waktu karena buru-buru mengejar anggota yang sudah mau pulang dari ruang fraksinya di lantai 3 gedung itu. Tiba di depan lift, antrian sangat padat. Akhirnya, jalur tangga yang dipilih menuju lantai 3. Ya lumayan melelahkan, untuk seukuran lembaga tinggi Negara yang perannya diatur jelas di system demokrasi kita, yakni sebagai fungsi legislative.

Tiba di ruangan anggota, harus diakui memang sangat sempit. Pernah bertemu dengan salah satu bendahara fraksi, legislator perempuan, untuk kepentingan wawancara masalah politik dan partainya yang hendak Munas. Ruangannya, ada di pojok. Dua meja depan pintu, diisi oleh dua pegawainya. Lalu, ada satu meja lagi di sisi kanan pintu itu. 

Sementara ruangan si legislator itu, dibuatkan ruangan non permanen dan lengkap dengan pintu. Walau interior dan hiasannya cukup nyaman, tapi ruangannya sempit. Meja dia dengan sofa tamu, jaraknya hanya sekitar 1 meter lebih. Terasa terlihat sempit, karena beberapa diisi lemari dan rak-rak buku.

Praktis yang ruangan sedikit lebih besar adalah ruangan ketua fraksi dan sekretarisnya. Lalu, ruangan untuk rapat termasuk untuk kegiatan konferensi pers, agak besar. Walau menjadi kecil kalau wartawan yang datang bejubel.

Dalam sebuah diskusi di Cikini pada Sabtu 22 Agustus 2015 lalu, legislator Partai Nasional Demokrat (NasDem) Akbar Faisal, mengaku gedung mereka sudah tidak representative lagi. Jelasnya, ada lima staf ahli, lalu ditambah dua staf pribadi. Tujuh orang ini, tidak muat ditampung di ruangan kecil itu.

Maka ketika Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, mengatakan DPR selama ini hampir tidak pernah membuat gedung baru, berbeda dengan lembaga-lembaga lainnya, ya bisa dimaklumi juga. Walau masih perlu diperdebatkan lagi. Misal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang membangun gedung baru karena gedung yang ada di Jalan HR Rasuna Said Kuningan Jakarta, tidak bisa lagi menampung. 

Bahkan, seorang anggota dewan yang sempat diperiksa penyidik KPK, bercerita bahwa ruangan penyidikan sangat sempit, lebih besar dari ruangan Bareskrim Mabes Polri. Lalu, di ujung ada sebuah mushola kecil, yang juga digunakan untuk istrahat melepas penat para penyidik, dan digunakan untuk menghirup sebatang rokok.

Menurut saya, bisa jadi alasan KPK dan DPR untuk membuat gedung baru, sama. Karena tidak representative lagi dengan beban kerja dan SDM yang makin banyak. Pernah suatu ketika, saya keluar dari Kantor Wakil Presiden di sisi jalan Veteran, persis samping Gedung Mahkamah Agung. 

Karena tidak membawa motor, maka saya berjalan menuju Jalan Medan Merdeka ke arah Istiqlal. Memang, ada sebuah gedung baru yang dibangun MA itu. Ini juga mungkin yang menjadi pemicu Fahri bicara seperti itu.

Atau bahkan Ketua Banggar Ahmadi Noor Supit, yang mengatakan lembaga-lembaga Negara lainnya sudah membangun gedung baru. Menurut Supit, yang juga Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar, saatnya DPR yang membangun gedung baru.

Dia juga mengaku, gedung DPR itu rawan roboh kalau ribuanorang hilir mudik ke gedung itu. Walau terkadang asumsi ini, menurut saya tidak realistis juga.

Di tengah polemik siapa yang lebih butuh, apakah anggota DPR dengan asumsi di atas, atau rakyat yang memang masih banyak yang tertekan kehidupannya karena masalah kemiskinan dan tekanan ekonomi, semua masih debatable. Kalau bicara butuh, semua pasti bilang butuh. Tidak hanya orang miskin, bahkan orang paling kaya sekalipun butuh.

Tuesday, August 25, 2015

Mencari nafkah di Ibukota Jakarta maupun sekitarnya, bukan perkara mudah. Dengan sikap individualism yang tinggi, namun di bawah tekanan ekonomi dan carut marutnya dunia transportasi di sini, kita tidak akan bisa hidup hanya mengandalkan seorang diri.

Berada di kota ini, yang banyak orang bilang ‘Ibukota lebih kejam daripada ibutiri’, memang terasa berat. Kerja bukan sekedar kerja, bukan sekedar lapangan kerja, tapi yang paling harus dijaga adalah koneksi, hubungan sosial. Bahkan, ada yang bilang, tidak perlu kerja formal cukup banyak koneksi, sudah bisa mencari duit di Jakarta.

Itu semua karena kemajemukan di kota terpadat di Indonesia ini. Namun, dengan kondisi Jakarta yang serba akut, terkadang waktu menjadi sangat berharga. Entah itu waktu istrahat, maupun bersua dengan keluarga dan kawan-kawan.

Sebagai lulusan Universitas Muhammadiyah Malang, yang mencoba mengadu nasib di Jakarta, sadar betul akan situasi itu. Dengan kesamaan ‘idiologi’ saat kuliah, kami yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Renaissance FISIP, membangun hubungan kebersamaan (kalau dalam trikompetensi dasar itu humanitas) antar alumni. Sama halnya, memperbaharui yang lama. Apalagi, ternyata ada juga yang mengamalkan lagu mars IMM ‘Immawan dan immawati… (diplintir menjadi immawan dapat immawati)’. Walau tidak sekampus, setidaknya di kampus lain, hehehe…

Kebersamaan ini juga dibangun, disadari atau tidak, karena pengalaman sejarah (cieee cieeee sejarah)… Ya, ketika kami masih menjadi kader aktif, susah rasanya ketika hendak ke luar Malang, entah itu di Jakarta atau tempat lainnya. Kami seolah asing. “Mau mampir ke tempat siapa kalau kita ke sana,” begitu kira-kira yang kami pikirkan. Sehingga, pasca dari kampus, banyak yang memilih pulang kampung.

Teringat sebuah kisah, saat itu ada seorang kader, dia mantan Ketua Komisariat Renaissance dan pernah menjabat Presiden Mahasiswa UMM. Sebut saja namanya IHM. Saat itu, saya baru bekerja beberapa bulan di Jakarta. Tapi tinggal di daerah Depok, yang dekat Bogor. Praktis, jarak itu sangat jauh dengan Jakarta, apalagi ditambah kemacetan. Biasa perjalanan saya tempuh dari tempat tinggal saat itu menggunakan motor ke kantor Gubernur DKI, lebih dari dua jam.

IHM ini datang ke Jakarta, hendak bekerja. Tapi, tidak ada tempat menginap. Keluarga lumayan jauh. Otomatis, saya yang harus menjemputnya. Namun karena cuaca hujan deras, lalu dalam keadaan sakit, sementara IHM datang malam hari, maka niat untuk menjemput terkendala. Dengan terpaksa, (katanya sih) dia terpaksa nginap di kos-kos yang banyak dihuni (maaf) pekerja seks komersial.


Namun sedikit demi sedikit, sudah menemui ritme ibukota itu. Walau belum mampu maksimal, setidaknya membangun relasi itu penting. So, mau tahu kisah IHM ini saat sekarang? Nantikan kelanjutan ceritanya. Termasuk, beberapa personil senior IMM Renaissance lainnya, yang akan dikupas secara tajam setajam….

Berikut momen-moment alumni Renaissance di Jakarta:

Kiri ke kanan: Andy, Agus, Kurais, Ririn, Khikmawan
lokasi di rumdin DPR Kalibata. menjamu Ririn dilanjut nonton AC Milan di GBK

Andy, IP 2006 dengan gaya khasnya. Behind Khikmawan. Acara bukber di Kalibata

Agus, Korry, dan Khikmawan dan si kecil Senja

Para istri, (kiri ke kanan): Nia, Adhe, Korry

Suami-suami shopping (kiri ke kanan): Agus, Ibnun, Khikmawan
lokasi di Kalibata Mall






Monday, August 24, 2015

Kesasar Ikut DAD 2003

Darul Arqom Dasar (DAD) adalah awal pengkaderan formal di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan dilaksanakan oleh pimpinan komisariat (Fakultas atau setingkat).

Saya masuk Universitas Muhammadiyah Malang (kampus putih UMM) tahun 2003, DAD juga 2003. Ketika itu komisariat Renaissance FISIP masih di jetis, dekat embong anyar. Letak yang cukup jauh untuk tahun itu, karena tidak banyak kendaraan pribadi seperti motor yang seramai sekarang ini.

Pernah lewat di situ, karena kos pertama saya di jetis juga, dekat masjid tapi lupa nama masjidnya (samping gapura Margoutomo). Melihat sebuah plang bertuliskan IMM FISIP. Saya sempat menduga, itu orang salah menuliskan nama. Mungkin hendak menulis UMM tapi menjadi IMM (beda tipis sih).

Mendaftar di jurusan Ilmu Komunikasi, saya mencoba peruntungan. Setelah pengumuman kelulusan, saya diterima di jurusan Ilmu Komunikasi. Rangkaian Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) saya ikuti juga. Waktu itu Ketua BEM FISIP mas Gama, kader Renaissance. Orangnya tinggi, ganteng dan tentu banyak disukai perempuan.

Singkat cerita, kos saya pindah ke bawah, dekat perempatan masuk terminal Landungsari atau di sebelah Minimarket Revolusi Soekarno. Kepindahan itu beberapa minggu jelang Pesmaba. Saat 2003, Pesmaba FISIP dilaksanakan di Sengkaling.

Aturannya ketika itu agak ribet. Setelah pembukaan Pesmaba di Hallypad dan dilanjutkan Kuliah Umum pak Amien Rais (Bagi-bagi kaos Amien Rais for Presiden, jelang pemilu 2004). Siangnya, kita harus langsung ke Sengkaling, membawa bekal yang sudah diatur panitia Pesmaba.

Oseng-oseng, tempe ukuran tertentu, susu, air mineral dan beberapa lagi, harus disiapkan. Setelah itu, kita bergegas naik angkutan umum yang ke arah mBatu dan turun depan Sengkaling. Hari pertama, perkenalan dan seterusnya, hingga jelang malam, ada tugas untuk besok. Tugas essay, membawa sejumlah makanan, dan datang harus sebelum jam 5 pagi. Lewat dari itu, kita dianggap terlambat, termasuk panitianya.

Empat hari Pesmaba yang melelahkan. Dengan berbagai kepenatan, capek dan lelah, lumayan beberapa hiburan di Sengkaling seperti bertemu dengan pemain-pemain Arema Malang seperti Kurnia Sandi, Putu Gede, Sonny Kurniawan dan yang lainnya. Tapi, ada juga saat-saat menengangkan. Saat itu, seorang Maba dianggap melecehkan panitia perempuan. Sontak, sikap Maba ini membuat panitia marah. Bahkan, seorang panitia ketika itu hendak memukul Maba itu. Untung dilerai.

Setelah masa-masa Pesmaba dilalui, masuklah masa perkuliahan. Awal perkuliahan, sepanjang pintu masuk UMM ramai oleh berbagai stand. Mulai dari organisasi ekstra kemahasiswaan sampai UKM dan LSO seperti Jufoc. Selebaran-selebaran organisasi seperti FMN, HMI, LMND menumpuk di tangan. Temanku, namanya Indra, orang Kupang tapi ortunya orang Bima.

“Nggak usah prend, jalan aja,” kata dia saat seseorang hendak menjelaskan maksud dari organisasinya itu. Aku ikuti saran dia. Hingga kami naik ke lantai 6 GKB 1. Dulu belum ada lift, karena lift GKB 1 baru dibangun 2005 jelang Muktamar Muhammadiyah.

Setelah jam kuliah berakhir dan menunggu jam kedua, kami hendak menuju ke tengah lantai 6 GKB 1 itu. Disitu banyak tempat duduk dan sering dijadikan tempat istrahat menunggu mata kuliah berikutnya. Mulai dari ngobrol biasa hingga sekedar merokok. Udaranya cukup sejuk, view mBatu dan Malang kota juga terlihat sempurna. Keindahan Malang yang membuat aku jatuh cinta sampai sekarang. Sampai saat ini, aku masih menganggap Malang adalah ‘kampung halamanku’. Karena di Malang lah aku dapat berbagai pengalaman, ilmu dan teman-teman, sahabat yang mematangkan aku dalam menggapai cita-cita.

Saat keluar kelas, seorang senior memanggil-manggil dan menarik tangan saya, Indra dan seorang teman kami lagi bernama Husni. Nah, Husni ini orangnya pendiam. Dia orang Gresik. Indra juga sebenarnya begitu, agak kalem.

Namanya senior itu adalah Widya. Dia juga kakak pendamping kelompok kami, kecil orangnya tapi agak cerewet, hehehe... Kita diminta ikut IMM yang standnya ada di lantai 6. Aku juga heran, kenapa hanya stand IMM yang di atas? Tidak bersama-sama yang lain panas-panasan di bawah?
Formulir telah diisi, dikembalikan dengan membayar Rp20.000 untuk 3 hari agenda. Surat izin untuk tidak masuk kuliah juga sudah diberikan. Kami bertiga hendak ikut DAD. Acaranya di Balai Peternakan Tlekung mBatu.

Setelah malam H-1 ditelepon, akhirnya disiapkan sejumlah peralatan. Dari almamater, Alquran beserta terjemahannya, baju hangat, perlengkapan sholat, kita siapkan. Berangkat dan berkumpul di Majid AR Fachruddin. Masjid yang luar biasa megah, indah dan sejuk saat berada di dalamnya.
Sekitar 30-40 orang kader ikut DAD. Berangkat menggunakan angkot ke Tlekung. Belum ada sapa diantara kami, kecuali aku, Indra dan Husni yang memang sudah saling kenal. Seorang lagi yang agak supel, namanya Huda, anak jurusan Ilmu Pemerintahan.

Tiba di lokasi, kelompok laki-laki sudah disiapkan dua kamar. Kami, dibagi dua tim. Sekitar 8 orang untuk 1 kamar. Aku, Husni dan Indra satu kamar. Diantara yang lainnya ada juga beberapa lagi, seperti Hutri, Hudi, Melky, Supriono alias Bobby alias Sueb.

Beda kamar kami dengan kamar sebelah. Kamar kami orangnya sholeh-sholeh. Setelah materi di tuntaskan di ruangan dan kembali ke kamar, seperti Hutri melanjutkan dengan mengaji. Sementara di sebelah begitu hebohnya. Mulai dari nyanyi-nyanyi hingga membaca doa dengan keras, aktivitas mereka. Heboh dan super asyik. Tapi, di kamar kami, orang-orangnya pendiam dan alim-alim.
Beberapa materi kita lalui. Hingga suatu pagi, saat materi pertama, tiba-tiba panitia DAD sibuk dan berlarian. Apa gerangan terjadi? Ada apa?

Usut punya usut, ternyata ada kejadian seorang peserta DAD, perempuan, namanya Hesi, terkunci dalam kamar mandi. Hingga setelah keluar, menjadi bahan tertawaan saat suasana sedang jumud dan membosankan.

Berbagai kejadian unik terjadi. Saat materi berlangsung, memang agak capek karena sudah malam. Beberapa peserta asyik mendengarkan materi yang disampaikan. Tapi, ada juga yang tak kuasa menahan kantuk dan tertidur. Salah satunya adalah Sukron.

Sukron asyik tertidur saat materi berlangsung. Pria asli Malang alias Aremania ini, tidak sadar dan asyik dengan lelapnya. Bahkan, dia tidak sadar ngilernya sudah mengalir deras hingga dagu. Sontak, tidak cuma peserta dan panitia yang ketawa, termasuk pematerinya.

DAD 2003 cukup sejuk. Pagi-pagi disajikan susu asli, dengan harga 1 sasetnya Rp500.
Peserta harus sudah bangun jam 3 dini hari, untuk sholat malam. Petugas yang membangunkan ada dua orang, mas Mujib (orang Madura) dan satu lagi perempuan, lupa namanya tapi orang Ternate. Setiap jam 3 pagi, kedua orang ini datang menggedor-gedor pintu dan berteriak membangunkan. Setelah masuk, mas Mujib dengan sekencang-kencangnya meniupkan pluitnya seperti wasit. Jengkel dan marah, karena kita baru selesai materi sekitar jam 12 malam.

Dengan mata sayup dan menahan dingin luar biasa, akhirnya kita berwudhu, sholat malam hingga subuh. Setelah subuh itulah, ada jeda, kita manfaatkan untuk tidur sejenak.

Pernah pada hari kedua, selesai materi hampir jam 1 malam. Diantaranya sudah terlelap sejak jam 12 karena keluar duluan dari ruangan menuju kamar. Saya keluar jam 1 dan langsung terlelap. Begitu pintu digedor-gedor lagi dan peluit dibunyikan, saya bilang saja enggak enak badan. Apalagi panitia tahu saya sampai jam 1. Amanlah saya hari itu, bisa tidur pulas sampai pagi.

Saat simulasi sidang cukup menarik. Ada tiga pimpinan sidang, simulasi oleh senior, salah satunya mas Salam, Ketua Umunm Renaissance saat itu. Sekjennya adalah mas Rusdi. Keduanya adalah perpaduan Madura-Sambas, yang beberapa tahun sebelumnya digoncang kerusuhan berbau SARA.
Sidang semakin memanas. Ada yang teriak ‘order’, ada yang teriak ‘klarifikasi’, ada yang teriak ‘justifikasi’, ada yang teriak ‘informasi’, suasana ramai, dan kebanyakan peserta hanya pelenga-pelongo melihat simulasi itu. Bahkan, suasan tegang memuncak saat seorang senior bernama mas Lalu Yan, teriak-teriak dan berdebat hebat dengan mas Jaki. Mas Jaki ini adalah Ketua Himakom saat itu. Kita hanya bisa melihat situasi ini. Yang akhirnya kita jumpai saat benar-benar terjadi di persidangan komisariat, korkom hingga cabang.

Malam terakhir, satu persatu digiring mengililingi jalur yang ditentukan di belakang. Pos pertama, saya ditanya oleh mas Yudi alias pak Pujon. Senior jurusan Kesos, orang Bengkulu tapi pintar bahasa Jawa, tidak pernah emosional, dan sekarang menikah dengan mantan Ketum IMM Ekonomi.

“Kamu tahu IMM lahir kapan?,” tanya mas Yudi.

Aku tidak menjawab, tidak tahu kapan dilahirkan. Jangankan tanya lahir, bilang Billahi fii sabilil haq fastabiqul khairot saja itu tidak bisa. Yang saya ingat dari sekian banyak pertanyaan saat itu adalah pendiri IMM. Saya hanya ingat Djasman Al Kindi dan Amien Rais.

Beberapa pos dilewati dengan berbagia pertanyaan yang berbeda-beda. Sampai di pos terakhir, pos peristirahatan sebelum masuk kembali ke ruangan. Saat itu, jam menunjukkan pukul 1 dini hari.
Kita dikumpulkan di sebuah tempat, tapi tidak di dalam ruangan. Seorang peserta bertanya apakah bisa merokok. Saya juga tidak tahu. Memang, situasinya enak untuk merokok. Rokok saya juga masih ada. Saya sarankan teman itu bertanya ke panitia yang menjaga.

Ada senior, angkatan 2002, namanya Lalu Yan. Dia orang Lombok, ada ‘Lalu’ nya. Kalau cewek pasti ada tambahan ‘Baiq’ dan itu adalah keturunan bangsawan. Mas Yan ini rambutnya gondrong dengan menggunakan kalung gede. Lengkaplah sudah prediksi kami kalau orang ini bertipe keras, jarang senyum (piss mas Yan. Yang kemudian hari jadi teman akrab kami, bahkan tidak segarang yang kami pikirkan sebelumnya), ia berdiri di depan kami.

 “Mas, kita boleh merokok nggak?,” tanya nya
“Kamu lihat aku sedang merokok apa?,” jawabnya sinis.

Teman tadi hanya cengar-cengir, sedikit marah dan jengkel.
Setelah tuntas semuanya, kami digiring lagi ke ruangan aula, tempat materi berlangsung. Duduk di bawah lantai beralaskan karpet dan saling berhimpitan. Ruangannya gelap gulita, sehingga kita tidak tahu siapa di sebelah kita.

Keheningan terpecah ketika ada lantunan lagu ‘Seusai Tahajud’ diiringi puisi dan terdengar sedih menangis tersedu-sedu. Apakah aku menangis mendengar itu? Oh tidakkkkkk!!!! Justru saat itu saya rebah dan tidur-tiduran. Enggak tahu kalau yang lainnya.

Malam itu juga, kami di bai’at satu persatu menghampiri bendera perisiai IMM. Menciumnya dan menandakan kami resmi menjadi anggota ikatan.

Setelah malam renungan itu, kita diperkenankan kembali masuk kamar. Tak kuat menahan kantuk, kami tertidur hingga pagi. Bangun, siap-siap berkemas untuk kembali ke Malang.
Beberapa teman terekam jelas diingatan. Ada Ajeng Galih, orang Malang asli. Ada Elly Julianti, orang Balikpapan, jilbaban dan cantik, bahkan sempat banyak yang naksir.

Ada Evi, mbak Hijra (angkatan 2001 tapi ikut DAD 2003), Hesi (jilbaber). Ada yang paling cerewet namanya Bella (cowok, preman, tukang balap liar, tapi nama kecewek-cewekan. Punya pacar namanya Indra, kebalik ya sebenarnya. Harusnya Bella itu cewek dan Indra itu cowok, tapi ini kebalik). Mereka di kamar sebelah menamakan kelompoknya dengan nama ‘Lontong Racing’. Jadi setiap masuk ruangan pasti teriak ‘Lontong Racing’. Selain Bella ada Joko Pitoyo, Sukron alias Zukrow, Fitra, Hudi dan banyak lagi.


DAD 2004 dan Mewahnya DAD 2005

DAD 2004, saya tidak sepenuhnya paham, hampir setelah beberapa bulan pasca DAD 2003, saya memilih menghilang. Kecewa dengan kondisi komisariat ketika itu. Kasus ini, selama saya di IMM, juga berlaku setiap periodesasi kepemimpinan di Renaissance, bahkan di semua tingkatan komisariat di Malang.

Kami (saya, Indra dan Husni) saat itu bukanlah kader yang spesial. Tidak tampan, tidak vokal dan cenderung pemalu. Berbeda dengan kader-kader lainnya yang begitu supel, cepat dan mudah bergaul, dan terlihat lebih dan lebih.

Datang ke komisariat Renaissance, di daerah Jetis, adalah jarak yang jauh. Dari kampus harus berjalan kaki ke arah embong anyar. Mau naik angkot, tanggung karena dekat juga. Cuma karena jalanan yang menanjak makanya terlihat begitu melelahkan. Apalagi kalau berjalannya siang hari, terbakar oleh teriknya matahari.

Sampai di komisariat, istilahnya kita ini dicuekin. Beberapa anak lainnya asyik berbincang dengan senior-senior. Beberapa lagi, sesama kader, asyik berbincang sendiri. Kami bertiga hanya planga-plongo. Hingga akhirnya Indra dan Husni malas ke komisariat.

Saya mencoba tetap bertahan dengan kondisi yang memang sudah membuat saya agak tidak nyaman lagi. Ikut rapat, beberapa agenda komisariat juga ikut, namun tetap saja seperti itu. Istilahnya, merasa sepi di dalam keramaian.

“Apalah guna saya disini,” gerutuku dalam hati.

Tekad yang baik di awal, ternyata tidak ada respon, tidak ada feedback yang baik. Hingga akhirnya, saya tidak aktif lagi, menghilang dan mencari jalan sendiri.

Saat DAD 2004, saya tidak ikut. Entah saat itu menjadi panitia atau tidak, saya tidak tahu. Saat 2004 Ketum Renaissance adalah mas Aan alias Tri Sulihanto Putra, mahasiswa Ikom angkatan 2001. Orangnya tinggi, asli Arema dan katanya sih ganteng, hehehehe....

Saya cuma dengar cerita dari peserta DAD, yang kebetulan teman sekampung saya di Bima. Saya diceritakan oleh Rustam Effendy (almarhum). Tempatnya yang jauh dari air sehingga buang hajat lumayan perjalanannya dan langsung di sungai.

Tapi cerita dia yang menarik adalah soal perempuan. Lagi-lagi perempuan yang kembali diceritakan. Di DAD itu, dia ketemu dengan peserta lainnya. Namanya Caca, anaknya pendek. Singkat cerita, di DAD itu mereka jadian. Ya mungkin cinlok, namanya juga anak muda.
Pasca DAD, belum seminggu mereka pacaran, akhirnya putus juga.

“Kenapa putus tam?,” tanya ku saat itu.
“Enggak gus, waktu itu salah lihat,” jawabnya enteng.

Aku hanya geleng-geleng kepala saja. Rustam, begitulah immawan satu ini, hingga saat dia digerogoti penyakit tumor, dan menghembuskan nafas terakhirnya. Kenangan bersama mu tak akan terlupakan frend. Semoga tenang di sana ya. Semoga istri dan kedua anak yang kau tinggalkan, menjadi anak yang sholeh, amiennn….

Almarhum adalah sosok yang tertutup dan tidak ingin masalahnya diketahui orang. Dia adalah orang yang susah, orang tuanya hanya bisa mengirimkan Rp250 ribu sebulan. Untung-untung dikirim sebulan sekali, kadang dengan uang segitu harus sampai 3 bulan. Kadang, kalau saya sudah dapat kiriman, saya hibahkan ke dia juga.

Saat tahu dia mengidap penyakit, dia sempat dirawat di Bali, RS Shanglah, sekitar maret 2013. Aku sempat berjanji untuk menjengkuk. Sayangnya, dia di Bali hanya sebentar. Padahal akhir maret saya ada agenda liputan di Bali, Kongres Luar Biasa Partai Demokrat yang mengukuhkan SBY jadi Ketum Demokrat.

Jelang beberapa bulan, teman di Bali mengabarkan kalau Rustam kembali di rawat di RS Shanglah. Aku sudah berpikir, nampaknya makin serius penyakitnya. Hingga aku berjanji untuk menelepon teman saat dia berada di sebelah Rustam. Aku ingin bicara dengannya. Saat waktu yang dijanjikan itu, aku sedang ikut agenda Presiden SBY ke Karawang selama 2 hari. Hingga hari terakhir, saking capeknya, aku lupa untuk menghubungi teman dan kakaknya Rustam di Shanglah.

Hingga keesokan harinya, pagi hari, aku dihubungi teman dari Bali kalau Rustam sudah tiada. Innalillahi wainnailaihi rojiun... aku sampai tidak percaya. Hingga kakaknya Rustam meyakinkan kalau Rustam sudah tiada. Selamat jalan kawan.


Megahnya DAD 2005 

DAD 2005 adalah DAD pertama kali saya aktif. Saya mulai aktif di komisariat awal tahun 2005. Satu hal yang membuat saya tertarik adalah aktivitas diskusi dan menulis di media. Dimotori oleh kakanda Mas Ilham, Joko Pitoyo, kakanda Mas Salam, mas Lalu Yan, mas Aan, mas Yudi, aktivitas diskusi rutin dilakukan. Hampir setiap minggu, pasti ada kader Renaissance yang tulisannya masuk di media baik lokal hingga nasional.

Lumayan, untuk media lokal kita mendapatkan Rp50 ribu dari kampus. Koran nasional kalau dimuat kita dapat Rp100 ribu. Mas Ilham pernah dengan uang hasil ini, digunakan untuk membeli komputer. Saat itu, dapat komputer sudah lumayan bagus karena jarang yang menggunakan. Cukup dengan pentium 1, sudah lebih bagus. 

Joko Pitoyo juga begitu. Dengan hasil uang yang diperoleh, bisa membeli komputer. Media langganan kita waktu itu seperti Posinfo, Malang Pos, Radar Malang, Surabaya Pos, Surya, Jawa Pos, Kompas edisi Jawa Timur.

Aktivitas diskusi ini, membuat kita terpacu untuk membaca. Karena, keinginan untuk tampil memberi gagasan tentu harus berdasarkan teori dan analisa yang kuat. Lambat laun, diskusi ini semakin menarik dan terkenal. Kita menamakan kelompok diskusi ‘Renassance Political Research and Studies (RePORT). Bahkan, RePORT ini menjadi kebanggaan PR 3 ketika itu. Beliau sangat senang karena di media-media dihiasi oleh tulisan aktivis RePORT. Kita bahkan pernah punya kas. Jadi, setiap yang dimuat, menyumbang ke RePORT dan setiap diskusi kita ada konsumsinya.

Gara-gara aktivitas ini, aku jarang ke kos yang terletak di belakang kampus. Hingga menjadi pengurus, Wakil Ketum Renaissance periode 2005-2006. Saat DAD, aku pertama kali aktif langsung mengurus DAD.

Jelang DAD 2005, kita memilih pindah komisariat dari Tlogomas 15 C no.19 bergeser ke Tlogomas 15B, kita namakan komisariat Goa karena tidak ada cahaya matahari yang masuk saking tersembunyinya.

DAD 2005, jelang acara berbagai persoalan muncul. Evaluasi dengan sangat keras dan nada meninggi, membuat tensi emosi juga ikut meninggi. Kader-kader baru yang belum tahu situasi saat itu, memilih untuk menghindar. Beberapa diantaranya ingin keluar. Apalagi, saat itu muncul sektarian antar kelompok dan antar jurusan, yang lumayan pelik.

Teman-teman jurusan Kesejahteraan Sosial (Kesos) merasa diasingkan dari Renaissance. Situasi makin meruncing, konflik yang susah diatasi. Terjebak dalam persoalan ini, kita lupa untuk mencari di mana lokasi DAD yang waktunya sudah semakin mepet. Kita harus mencari lokasi, karena komisariat yang lain juga melaksanakan pada waktu yang hampir bersamaan.

Seminggu sebelum pelaksanaan, kita belum ada tempat. Semua lokasi yang terjangkau seperti di Al-Furqon Bumuaji, juga sudah dibooking. Empat hari sebelum pelaksanaan, kita belum juga dapat. Hingga para senior terpaksa turun tangan untuk mencari tempat.

Didapatlah lokasinya. Lokasi ini cukup mahal, sewanya kalau tidak salah Rp1 juta.

“Uang dari mana?,” semua menggerutu seperti itu, tapi keputusan harus diambil.
Nekat ambil, tentu dengan konsekuensi yang lebih besar. Uang dari kampus paling hanya Rp200 ribu, jauh dari kata mencukupi.

Persoalan lainnya, adalah lokasinya. Tempat DAD ada di Balaidesa Sisir, tepat di belakang Mall Batu atau alun-alun Batu. Sangat tidak kondusif sebenarnya. Namun, itulah resiko yang harus diambil.
Pelaksanaan DAD dengan tempat yang mewah, ramai kendaraan, memang menjadi kendala. Kadang malah hari juga sering terkendala karena masih ada aktivitas di jalan raya.

Beberapa catatan yang masih teringat di DAD 2005 ini, karena saya juga selain sebagai Wakil Ketua Umum Renaissance, saya juga Ketua Instruktur. Jadi intens disemua materi.

Saat simulasi sidang, ketua sidang oleh mas Mujib (orang Madura). Suasana sengaja dibuat ribut. Hingga saat mas Mujib mengetok palu sidang, palu sidang itu patah. Semua terdiam, apalagi mas Mujib reaksinya tidak tersenyum. Hingga kemudian beberapa kami tersenyum dengan kejadian itu.
Namun harus diakui, DAD 2005 ini termasuk yang sukses, terutama dalam hal keberadaan kader dan militansinya.

Memang, di awal perjalanan kader 2005 ini, terjadi perbedaan pemahaman dalam menjalankan organisasi. Sebab, banyak juga kader yang baru masuk tapi mereka sudah mengenyam organisasi serupa seperti IRM atau IPM. Sehingga, melihat situasi komisariat, mereka menilai tidak seharusnya seperti itu.

Maka saat itu, muncul beberapa kader yang menilai, komisariat sudah menjadi ‘sarang’ hedonism. Perilaku kader lain, yang seangkatan mereka terutama, dianggap sudah melampaui batas dan terkesan hedon. Suatu hal yang tidak seharusnya terjadi pada seorang aktivis, apalagi kader persyarikatan. 

Begitu pemahaman sekelompok ini. Akhirnya mereka memilih ikut organisasi lain. Sebagai salah satu pengurus waktu itu, kita tidak bisa menolaknya. Kita tidak bisa membenci mereka. Hingga akhirnya, mereka terbilang ‘sukses’ berkiprah di luar komisariat.

Namun, beruntung soliditas kader-kader 2005 harus diakui sangat bagus. Komisariat menjadi dinamis, ramai dan kemampuan kita dalam mensukseskan lembaga intra juga samakin bagus. Agenda Korkom (kebetulan saya juga utusan di korkom 2006-2007), terbilang sukses. Cerdas cermat antar komisariat, kita sapu rata dari juara satu hingga juara tiga. Cuma lomba da’wah yang mungkin kita tidak bisa rebut. “Itu domainnya teman-teman FAI,” kata seorang teman. Ya begitulah cirri khas Renaissance.

Untuk final futsal, kita juga mampu menjuarai. Walau diwarnai insiden perkelahian antar kader Renaissance dengan kader Ekonomi, yang diselesaikan dengan sangat elegan, justru peristiwa ini membawa banyak manfaat.


Soliditas kader makin kuat. Hubungan dengan komisariat Ekonomi juga makin intim. Bahkan, beberapa kesempatan suksesi berikutnya, baik suksesi Korkom, BEMU, hingga Cabang, Renaissance dan Ekonomi adalah motornya. Kita sukses mengusung Ketua PC IMM Malang dari komisariat non-UMM, sejarah pertama mengusung Ketua Cabang dari luar UMM, yakni dari Komisariat IMM UM.

Kiri ke kanan: Khimawan (2005), Didit (2005), Mulyadi (2005), Zul (2005),
Gilang (2005), Fadh (2005), Joko (2003), Agus (2003). Foto saat naik gunung panderman

Kiri ke kanan: Fadh, Agus, Didit, Zul, Mas Aan. Touring menuju Bromo, negeri di atas awan


Salah satu agenda pelatihan organisasi di mBatu

Memberi arahan pada salah satu agenda pemantapan organisasi

salah satu game pada agenda pemantapan organisasi

Katanya dulu, ini untuk salah satu foto sampul album The Renaissance


Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler