Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Monday, October 9, 2017

Bergegas berjalan dari pinggir Pelabuhan Kalianget, Kabupaten Sumenep Madura, puluhan pegawai setempat meminta Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, berfoto bersama.

Hari itu, Minggu 8 Oktober 2017. Cuaca panas menyengat. Budi Karya, usai memyambut Presiden Jokowi di Bandara Trunojoyo Sumenep dihari yang sama pukul 09.00 WIB, melanjutkan kunjungan ke beberapa lokasi.

Pelabuhan Kalianget, adalah lokasi terakhir. Sebelumnya, di sebelah pelabuhan itu, ada sebuah dermaga yang sudah mangkrak puluhan tahun. Maka diputuskan untuk diambil alih oleh PT Pelindo III.

Tidak jauh dari situ, ada pelabuhan aktif, Pelabuhan Kalianget. Kondisinya tidak cukup bagus. Sebuah kapal ferry yang tidak terpakai, karam di pinggir pelabuhan.

Kondisi yang tidak bagus, juga terlihat di jalur pejalan kaki. Bantalan dari kayu, banyak yang keropos dan terlepas. Salah langkah, bisa jadi terjatuh ke dalam laut.

Tidak lama Pak Budi Karya menengok itu. Setelah mendapat sejumlah laporan dari para bawahannya yang turut mendampingi, Mantan Dirut PT Angkasa Pura II itu, bergegas pergi.

Seperti biasa, sebelum meninggalkan lokasi, berfoto dengan para pegawai di lokasi itu. Mungkin sebagai bukti, pak menteri pernah ke sini. Atau sebagai pajangan di wall/halaman sosial media para pegawai karena sudah berfoto dengan menteri.

Awalnya, kami yang turut mengikuti aktivitas Menhub saat itu, memperkirakan beliau akan meninjau lokasi lain. Kebetulan di sebelah dermaga yang didatangi, ada sebuah kapal roro yang baru bersandar. Ada beberapa unit mobil diangkut.

"Ya kapal itu menangkut mobil. Kalau ombak besar, berbahaya memang," kata seorang teman, yang bertugas meliput di wilayah Jawa Timur. Saya berpikir pak menteri akan ke sana.

Cuaca siang itu, cukup menyengat. Dan ternyata, pak menteri tidak ke dermaga yang baru disandari kapal roro itu. Melainkan langsung ke mobilnya, yang terparkir di depan.

Sempat membuka pintu mobil, tidak berhasil. Usut punya usut, ternyata sang sopir tidak di tempat dan pintu dikunci. Petugas yang lain, saling bersahutan mencari sopir. "Sopir pak menteri mana, sopir pak menteri mana,".

Menhub Budi Karya (membelakangi batik), menunggu samping mobil karena terkunci (dok.pribadi)

Datang lah sang sopir, dengan berlari. Langsung membuka pintu mobil dan pak menteri akhirnya bisa masuk, setelah beberapa saat terpaksa menunggu karena pintu terkunci.

Katanya, pak sopir ini mencari air. Ya namanya juga panas, pak sopir menteri ini juga haus.

Thursday, September 14, 2017

Badan Narkotika Nasional (BNN) menemukan 53 siswa Sekolah Dasar (SD) dan SMP kejang-kejang karena menelan obat berupa pil, dengan tulisan PCC (Paracetamol Cafein Carisoprodol). Bahkan satu orang dikonfirmasi meninggal dunia.

Diduga, penggunaan pil PCC itu adalah penyalahgunaan. Sebab PCC juga disebutkan sebagai obat penenang.

Penyalahgunaan obat-obatan yang terlarang, yang kita kenal selama ini adalah shabu, ganja, ekstasi, heroin, atau obat-obatan terlarang lainnya yang biasa dikenal narkoba.

Namun belakangan, bayak jenis-jenis yang baru. Termasuk PCC ini, yang membuat seorang siswa itu tewas. "53 orang. Kemudian satu di antaranya meninggal," ujar Deputi Pemberantasan BNN Inspektur Jenderal Arman Depari, di Kantor BNN, Kamis 14 September 2017.

(Baca: http://www.tribunnews.com/nasional/2017/09/14/53-pelajar-di-kendari-kejang-kejang-1-tewas-akibat-telan-pil-pcc)

Mengenai PCC yang ditenggak oleh anak-anak SD dan SMP, membuat pikiran saya kembali teringat pada situasi di Bima NTB.

Lama tidak pulang ke kampung halaman, pada Idul Fitri 2017 lalu, akhirnya menyempatkan waktu ke sana. Walau tidak lama, tetapi sejumlah cerita yang menurut saya miris, kini terjadi.

Dari penyalahgunaan obat-obatan, hingga kasus pencurian kendaraan bermotor yang semakin tinggi. Bahkan motor hilang terjadi di rumah saya sendiri, yang terparkir di dalam rumah, penghuninya pun di dalam. Senekad itu pelakunya.

Terkait obat-obatan. Salah satu cerita dari seorang teman di kampung kami, adalah penyalahgunaan tramadol. Saya sendiri baru mendengar obat ini, tapi perbincangan di kampung kami dan sekitarnya itu, sudah bukan hal baru lagi.

Bahkan kata teman ini, penggunaan obat tramadol ini sudah pada tahap kecanduan. Efeknya? Infonya sampai pada taraf gangguan pada kejiwaan.

Dari laman www.aladokter.com dijelaskan panjang lebar mengenai tramadol ini. Tentu banyak efeknya. Namun obat ini untuk rasa nyeri, tetapi tetap dalam dosis dokter. Disebutkan juga, tidak boleh konsumsinya lebih dari 400 mg perhari. Selengkapnya silahkan cek di link-nya.

(Baca juga: http://www.viva.co.id/gaya-hidup/kesehatan-intim/956752-efek-mengerikan-overdosis-obat-pcc)

Selidik-selidik, obat ini sangat mahal untuk pemasarannya di Bima. Entah dijual bebas atau tidak, saya belum mendapat informasinya.

Mungkin karena lagi 'digemari' sehingga nilai jualnya pun mahal. Seberapa banyak yang mengkonsumsi? Biasanya, semakin banyak 'peminat' obat itu maka berbanding lurus dengan tingkat kemahalannya. Jadi, asumsi saya, penggunanya sudah banyak.

Karena saya orangnya kepo (mungkin faktor sebagia seorang jurnalis hehehe), saya terus mencari informasi. Ada yang menyebutkan, pecandu ini masih berumuran produktif. Kalau umur produktif dilihat dari taraf pendidikan, mungkin antara SMP-SMA atau di atasnya.

"Kan mahal? Mereka dapat uang dari mana untuk membeli obatnya?" Seorang teman mengatakan, dari hasil mencuri motor.

Sontak saya kaget. Apakah benar ada hubungannya, tentu perlu pembuktian. Tetapi kalau dilihat alurnya, rasanya bisa ditemukan benang merah itu.

Tapi yang jelas, pola pengrusakan generasi muda, pasti berdampak sistemik. Penyalahgunaan obatan seperti tramadol ini, mengakibatkan tingkat kejahatan tinggi. Nilai-nilai budaya dana Mbojo/Bima yang kental dengan agama, akan menjadi luntur.

Apa yang bisa kita banggakan dengan jargon seperti Bima Beriman dan lainnya, sementara generasi yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan justri tidak mencerminkan keberimanan itu?

Saya pikir, pemangku kepentingan dalam hal ini pemerintah dan tokoh masyarakat termasuk media, perlu untuk memikirkan hal ini. Tidak lagi melihat suatu masalah dari sudut pandang kacamata kuda.

Tetapi melihat secara menyeluruh, bahwa ada peristiwa yang merusak tatanan budaya Mbojo dan menimbulkan kerusakan tatanan yang lain dan bahkan mengarah pada penghancuran identitas lokal.

Rusaknya budaya di masyarakat, memang tidak terlihat kasat mata walau sebenarnya nampak jelas. Tetapi sifat kerusakan itu hingga berkeping-keping. Tentu kita tidak ingin budaya Mbojo hanya sebatas pelajaran di kelas, hanya sebatas tulisan di buku-buku, tanpa ada internalisasi dalam diri dan kehidupan nyata masyarakat.

Monday, August 28, 2017


 Senin 28 Agustus 2017, pulang kerja, seperti biasanya sampai hampir tengah malam. Dengan moda transportasi kereta listrik atau KRL, kami naik dari Stasiun Manggarai dan turun di Stasiun Citayam.

Walau rumah di Depok, tapi lokasinya lebih dekat dengan Stasiun Citayam, ketimbang Stasiun Depok Lama atau Depok Baru.

Untuk hari ini, kebetulan saya tidak membawa motor ke tempat penitipan, yang biasa dilakukan setiap berangkat kerja. Maka jadilah, memesan ojek online. Senin malam itu, saya melihat jam sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB. Lumayan larut untuk daerah pinggir yang belum terlalu ramai seperti di kota besar.

Terbesit untuk mencari tebengan dengan sesama roker (rombongan kereta) kompleks perumahan kami, namun hampir semuanya sudah pulang sejak sore hingga magrib tadi. Kalau pun ada, masih terlalu jauh.

Awalnya, ada rasa waswas. Apakah ada ojek online yang ingin mengambil orderan saya ke perumahan. Mengingat kembali cerita, seorang driver ojek online beberapa bulan lalu, dihadang di depan kompleks kami oleh sekelompok orang, yang kemudian disebut begal. Kabarnya selamat, namun sempat membuat heboh. Di kompeks kami juga sempat membahas lama.

Memang kondisi di depan kompleks dari jalan raya, agak gelap. Masuk ke kompleks kami, juga masih melewati lahan perkebunan di sisi kiri dan kanan. Di situlah kabarnya driver ojek online ini sempat hendak dibegal.

Saya mencoba memesan. Istri saya sudah dijemput adik, yang tentu tidak bisa bolak balik atau berboncengan bertiga. Saya hanya nekat untuk memesan, siapa tahu ada yang mau. "Ya mentok-mentok pakai ojek pangkalan," gerutuku.

Tidak butuh waktu lama, seorang driver salah satu ojek online itu, menerima permintaan itu. Langsung saya telepon, maksudnya biar tidak di cancel. Ternyata bapak itu, menerima dan siap mengantarkan. Janjianlah kami di suatu tempat, tidak jauh dari Stasiun Citayam di bagian belakang.

Beberpa menit berjalan, sang driver itu sangat ramah. Bahkan beberapa kali kami berdiskusi ringan terutama soal jalan. Lewat lah di perkebunan dan tanah kosong. Saya mulai curiga, ada sebuah motor di belakang yang terus membuntuti kami. Pikiran saya, motor ini bisa saja menyalip kami, karena driver ojek online saya ini tidak kencang.

Sempat muncul pemikiran saya, jangan-jangan orang ini membuntuti dengan maksud jahat. Pikiran saya pun tertuju pada peristiwa upaya pembegalan driver ojen online di depan perumahan kami.

Saya tidak bisa melihat dari kaca spion, karena terhalang silaunya lampu motor. Saya juga tidak terpikirkan untuk menengok ke belakang, memastikan siapa orang ini. Namun kecurigaan saya ini, tidak saya utarakan ke driver yang mengantarkan saya. Dia pun tetap santai, sambil berbicara ringan.

Tiba lah memasuki kompleks saya. Lokasi kompleks yang harus melewati jalan sepi, agak gelap dan di sisi kiri dan kanan. Driver yang mengantarkan saya, tiba-tiba lebih memelankan jalannya. Mungkin karena jalannya agak rusak.

Tapi motor yang di belakang, tiba-tiba tancap gas dan menyalip kami. Bahkan dengan motor yang masih berjalan karena turunan, dia berdiri menengok kebun di kiri dan kanan yang masih gelap.

Saya dibuat kaget, terus terang. Dan dari situ, saya baru tahu kalau di belakang kami adalah rekan driver saya ini, karena saya melihat kostum yang digunakan.

"Ada apa pak? Kenapa itu," tanya ku, melihat rekannya itu berdiri dari motornya sembari menengok kiri dan kanan arah kebun.

Sang driver yang mengatar saya, berusaha menenangkan saya. Dia mengatakan, itu temannya yang ikut mengantar.

"Jadi kami, kalau sudah di atas jam 10 untuk perumahan (tempat saya tinggal), ada yang temanin pak, Khusus untuk perumahan ini," katanya.

Lalu dia kemudian bercerita kejadian yang menimpa temannya itu. "Alhamdulillah selamat pak," katanya.

Saya kemudian berpikir, inilah solidaritas yang luar biasa. Sesama profesi, saling membantu untuk mencari nafkah. Dan tentu bagi saya, mereka juga berperan dalam hal keamanan dan ketertiban.

Saya juga jadi berpikir, masih beruntung mereka mau ambil orderan ke kompleks kami, yang hampir tengah malam juga. Mereka ridho mencari makan, tetapi keamanan juga tentu harus dijaga, setidaknya dari mereka sendiri.

Dari awalnya saya waswas dalam perjalanan dari Stasiun Citayam hingga rumah, berubah lega. Ternyata, dalam perjalanan lebih kurang 10 menit itu, saya dikawal.

Bahkan aksi 'sang pengawal' itu ketika tiba di lokasi yang sebelumnya menjadi tempat percobaan pembegalan yang menimpa rekan mereka, ia sangat sigap memastikan di sekeliling, adalah area yang aman.

Salut untuk semua profesi yang mereka memiliki rasa empati, humanity dan kebersamaan serta solidaritas yang tinggi.

Saturday, August 12, 2017

Melalui akun instagram pribadinya, penyanyi Maia Estianty mengunggah foto dirinya dan neneknya, Oetari Tjokroaminoto. Melihat namanya, tentu bayangan kita ke pahlawan nasional HOS Tjokroaminoto.

Semua orang tahu, kalau Maia, janda musisi Ahmad Dhani itu, adalah cicit HOS Tjokroaminoto. Namun lewat unggahan di instagram miliknya beberapa hari lalu, publik kembali disadarkan kalau ia juga termasuk 'cucu' Presiden ke-1 RI Soekarno atau Bung Karno.

"My grandmother, Oetari Tjokroaminoto, was the first wife of the first president of Republic Indonesia, Soekarno.... Nenek saya ini, Oetari Tjokroaminoto adalah istri pertama Presiden RI yg pertama, Soekarno. #maiaestianty #diarymaia #soekarno #istrisoekarno," tulis @maiaestianty.

Awal Bung Karno Nikahi Nenek Maia
Bung Karno termasuk murid Haji Oemar Said Tjokroaminoto, saat masih muda dan menimba ilmu di Surabaya, Jawa Timur. Bahkan, Bung Karno menganggap Surabaya (tempat dia menuntut ilmu) sebagai dapur nasionalisme.

Jiwa itu muncul, karena Bung Karno dan sejumlah tokoh nasional lainnya, pernah tinggal kos di kediaman Tjokro, Peneleh Gang 7. Saat Bung Karno masuk, Pak Tjokro sudah memiliki tiga anak dan seorang bayi, yakni Harsono, Anwar dan Utari.

"Sebagai seorang tokoh yang memiliki daya cipta dan cita-cita tinggi, seorang pejuang yang mencintai tanah tumpah darahnya, Pak Cokro adalah idolaku. Aku muridnya," pengakuan Bung Karno seperti dikutip dalam buku 'Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia'.

Kekaguman Bung Karno terus bertambah. Walau tidak terlihat kasih sayangnya, tetapi Bung Karno tahu kalau Tjokoraminoto memperhatikan bakat kepemimpinannya.

Pada 1918. saat Gunung Kelud di Kediri, dekat Blitar, tempat ayah Bung Karno yang baru ditempati dua bulan, meletus, Tjokoroaminoto bahkan rela ke Blitar untuk menjenguk Bung Karno.

Ketika istri Tjokroaminoto meninggal, ada perubahan sikap dari tokoh Sarekat Islam. Bung Karno dalam 'Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia' menggambarkan bahwa gurunya itu tertekan. Mengingat, anak-anak dari Pak Tjokro masih kecil-kecil.

Setelah istrinya meninggal, Tjokroaminoto dan para anak kos termasuk Bung Karno, pindah rumah.

Di rumah baru itu, cerita Bung Karno, saudara Tjokroaminoto berbicara kepadanya. Kepada Bung Karno, keluarga itu memperlihatkan betapa sedihnya Pak Tjokro, sang gurunya itu. Ia meminta Bung Karno melakukan sesuatu agar hati sang guru itu gembira.

"Dengan segala senang hati aku mau mengerjakan sesuatu, supaya dia dapat tersenyum lagi. Tapi apa yang dapat kulakukan? Aku tidak bisa menjadi istri Pak Cokro," jawab Bung Karno.

Keluarga Pak Tjokro itu meminta Bung Karno melakukan hal yang lain, yakni menikahi Oetari (Utari), yang kala itu masih berumur 16 tahun.

Bung Karno diminta untuk menjadi menantu Pak Tjokoro. Alasannya, karena ibunya Oetari sudah meninggal maka dengan dinikahi, akan mengurangi tekanan yang ada pada diri Tjokro.

Sempat ada keraguan pada diri Bung Karno. Hingga keluarga Pak Tjokro itu meyakinkan, walau usia Oetari masih 16 tahun tetapi dia juga belum menginjak umur 21.

"Aku berhutang budi pada Pak Cokro dan.... aku mencintai Utari. Walau hanya sedikit. Bagaimanapun, bila menurutmu aku perlu menikahi Utari guna meringankan beban dari orang yang kupuja itu, itu akan kulakukan," kata Bung Karno.

Dia menghadap Pak Tjokro untuk melamar Oetari. Benar saja, Pak Tjokro tampak senang Bung Karno bermaksud untuk menikahi anaknya, Oetari.

"Kami memilih kawin gantung,"

Kawin gantung lazim dilakukan, karena kedua calon suami dan istri itu belum cukup umur. Alasan lain kawin ini digunakan oleh masyarakat, pengantin perempuan harus tetap di rumah orangtuanya sampai pengantin laki-laki mampu menafkahi, untuk belanja rumah tangga.

Akhir Kisah Dengan Oetari
Lulus dari HBS pada 10 Juni 1921, Bung Karno sudah berniat untuk melanjutkan ke Belanda. Lazimnya begitu. Namun, ia mendapatkan rintangan besar. Orangtua tidak menyetujui, terutama sang ibu.

Kesaksian Bung Karno dalam 'Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia', ia menuju Bandung pada akhir Juni 1921.

Sebagai mertua, Pak Tjokro juga menyediakan tempat kos ke menantunya itu. Kawan lama Pak Tjokro, bernama Haji Sanusi, menjadi tempat kos Bung Karno selama menempuh pendidikan di Bandung. Sekolah Teknik Tinggi, yang dipilih.

Di rumah itu, Haji Sanusi hanya tinggal bersama istrinya, Inggit Ganarsih. Bung Karno pun mengakui langsung mengagumi Inggit saat itu juga.

"Saat pertama ketika aku melangkah masuk, aku berkata dalam hati, "Oh luar biasa perempuan ini,". Saat itu, Bung Karno berumur 20 tahun, sementara Inggit lebih 30 tahun.

Bung Karno bertutur, meski satu kamar dengan Oetari, tetapi banyak perbedaan keduanya. Bung Karno yang serius belajar, berpidato di hadapan para pemuda Indonesia, tetapi Oetari masih senang bermain. Kejar-kejaran dengan keponakan Inggit di pekarangan belakang.

Saat Oetari sakit, Bung Karno tetap merawat. Dari ujung kepala hingga kaki. Tapi pengakuan Bung Karno, "Namun tak sekalipun aku menyentuhnya. Ketika dia sudah sembuh, tetap tidak ada hubungan badaniah di antara kami,".

Aksi pemogokan di Garut, yang dikenal sebagai Kasus Afdeling, membuat Tjokoroaminoto ditahan. Aksi-aksi buruh itu dianggap digerakkan oleh Sarekat Islam, dimana Pak Tjokro adalah ketuanya.

Kondisi ini, membuat Bung Karno dilema. Apakah pulang dan berhenti sekolah, atau melanjutkan tanpa menghiraukan kondisi mertuanya, HOS Tjokroaminoto.

Inggit, yang selalu menemani Bung Karno di rumah karena Haji Sanusi hampir jarang di rumah akibat ketagihan berjudi, sempat berdiskusi dengan Bung Karno terkait keputusannya tidak melanjutkan pendidikannya itu.

"Dia sedang menyedu kopi tubruk, kopi hitam pekat kegemaranku, dan tangannya tampak agak gemetar,". Lalu Inggit berujar, apakah bisa meninggalkan sekolah maka cita-cita Bung Karno bisa diraih.

Bersama Oetari, dia kembali ke Surabaya. Sempat bekerja sebagai klerk di stasiun kereta api. Gajinya, untuk menghidupi anak-anak Tjokroaminoto. Hingga pada April 1922 dibebaskan. Bung Karno kembali ke Bandung untuk melanjutkan studi, dan tetap tinggal di rumah Inggit.

Kedekatan Bung Karno dengan Inggit makin dalam. Perhatian dan kasih sayang, seperti merapikan tempat tidur dan menyiapkan makanan, bahkan sering berdiskusi antara keduanya, membuat Bung Karno dan Inggit semakin dekat.

Oetari paham kedekatan itu. Begitu juga Haji Sanusi, yang menurut penuturan Bung Karno tidak berusaha merebut kembali hati istrinya, Inggit.

Enam bulan di Bandung, Bung Karno memutuskan untuk mengembalikan Oetari ke Tjokroaminoto.

Bung Karno menghadap Pak Tjokro dan mengatakan mengembalikan Oetari. Tjokro sempat bertanya, ini keputusan siapa. Ini memang keputusan Bung Karno yang ingin bercerai.

"Demikianlah, di tahun 1922, aku menyerahkan istriku yang masih kekanak-kanakan itu kepada ayahnya. Dan aku kembali ke Bandung....Kepada cintaku yang sejati,".

Tidak susah bagi Inggit dan Bung Karno, untuk meresmikan hubungannya. Haji Sanusi, dengan cepat membebaskan Inggit. Hubungan baik tetap terjaga, bahkan tidak lama kemudian Haji Sanusi menikah lagi.

Hubungan dengan keluarga HOS Tjokroaminoto juga tetap terjalin baik. Bahkan Oetari, juga menikah lagi.

"Dalam waktu yang singkat, Utari pun melangsungkan pernikahan dengan Bachrun Salam, yang dulu merupakan temanku kos di rumah Pak Cokro. Mereka memiliki delapan anak,".

Tahun 1923, Bung Karno dan Inggit menikah. Tidak ada yang tersakiti, baik pihak Oetari maupun Haji Sanusi.

Friday, August 4, 2017


Presiden Jokowi usai membuka Rapimnas 1 Hanura di Bali. Hanura mengusung lagi Jokowi di Pilpres 2019 (dok pribadi)
Menyoal soal Pilpres 2019 yang akan berlangsung dua tahun lagi, nampaknya aroma panas itu sudah terlihat saat ini. Mulai dari perbedaan sikap dalam beberapa keputusan politik pemerintah, seperti UU Pemilu dan Perppu Nomor 2 tahun 2017 tentang Ormas, hingga yang straight yakni bentuk mengusung kembali calonnya.

Kita mencoba membahas yang terakhir. Sejumlah partai, sudah mendeklarasikan untuk mengusung Joko Widodo sebagai calon presiden pada Pilpres 2019 mendatang. Dukungan dari partai-partai yang sudah mendeklarasikan diri mengusung, ditambah dari partai asal Pak Jokowi, rasanya sudah cukup memenuhi syarat presidential thresholad (PT) 20 persen, kalau pun nanti tidak dibatalkan oleh MK.

Namun bagi saya, politik adalah hubungan timbal balik, simbiosis mutualisme. Akan ada kepentingan politik di balik keputusan politik. Keputusan mengusung Pak Jokowi adalah keputusan politik. Lalu kepentingan politiknya apa? Ini yang manarik dibedah.

Masih kah kita ingat istilah 'Jokowi Effect'? Ya 'Jokowi Effect' diistilahkan sebagai keuntungan bagi PDIP, partai Pak Jokowi, untuk meraih suara maksimal pada pemilu legislatif 2014 lalu.

Dianalisa saat itu, kalau PDIP mengusung Pak Jokowi sebagai calon presiden, maka suara partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu bahkan bisa mencapai 30 persen. Kalau tidak mengumumkan dalam waktu dekat, bisa anjlok hingga di bawah 20 persen.

Lalu kita lihat faktanya. Berapa hasil akhir pemilu legislatif yang diperoleh partai-partai peserta pemilu? Hasil hitungan akhir KPU, PDIP hanya meraih 23.681.471 (18,95 persen).

Tetapi disadari atau tidak, pasti akan ada efek dari keputusan PDIP mencalonkan Jokowi saat itu. Bisa jadi, suara dukungan ke PDIP memang di bawah itu tetapi karena mengusung Jokowi, maka mencapi hasil akhir seperti itu. Bisa jadi, ada suara-suara yang berasal dari pemilih pemula atau yang sebelumnya apatis, akhirnya memberikan dukungan ke PDIP maupun Jokowi.

Kita semua tahu, bagaimana populernya Jokowi saat itu. Di media massa, setiap gerak gerik mantan Wali Kota Solo itu, selalu menjadi sorotan awak media. Selalu menjadi santapan yang ramai dikunyah oleh publik.

Kini, Pak Jokowi adalah seorang Presiden RI yang mengemban amanah sejak diambil sumpahnya oleh MPR pada 20 Oktober 2014 hingga 2019. Popularitasnya, bisa jadi tetap stabil. Dia juga adalah incumbent, yang bisa terus disorot dengan sejumlah keberhasilan pemerintahannya. Beda dengan calon lain, yang biasanya baru akan memperkenalkan diri di musim-musim kampanye. Itulah keunggulan kalau calon incumbent atau patahana.

Lalu bagaimana dengan parpol yang mengusungnya? Kata Pak Jokowi, itu adalah hak partai-partai tersebut. Namun, apa keuntungan mengusung dini (karena pilpres masih lama) oleh sejumlah partai?
PPP dalam rekomendasinya juga mengusung Jokowi di Pilpres 2019. Sebelumnya Golkar lebih awal (dok pribadi)
Untuk menjawab itu, yang perlu kita sadari terlebih dahulu bahwa pemilu legislatif adalah pertarungan hidup dan mati partai itu. Tidak semua partai peserta pemilu, bisa masuk DPR. Sebab ada yang namanya parlementary threshoald atau ambang batas parlemen. Kalau partai itu tidak bisa memenuhi porsentase ambang batas, maka dia tidak bisa menempatkan wakilnya di DPR. Biasanya, partai itu akan terus meredup kalau tidak ada perwakilan di DPR.

Maka salah satu strategi politiknya, adalah mengambil momentum politik yang bisa mengkapitalisasi suara lebih banyak. Kapitalisasi itu tentu ada juga pada sosok Jokowi, sehingga bisa menjadi simbol bagi partai-partai untuk meraih dukungan masyarakat, dan untuk mempertahankan konstituen.

Tentu kontribusi apa yang bisa diberikan dengan mengusung Jokowi, belum terlihat. Tetapi, setidaknya dengan mengusung lebih awal, maka lebih awal juga bagi partai-partai tersebut untuk mencari dukungan politik partai. Itu penting, untuk keberlangsungan partai ke depan.

Selain itu, perlu juga dilihat kepentingan yang lain yakni mendapatkan 'kue' kabinet lebih banyak. Lagi-lagi, ini soal politik kekuasaan. Semakin banyak kader yang punya kedudukan, maka ada jaminan keberlangsungannya.

Sebab, 'kue' kabinet kalau nanti incumbent menang lagi, menjadi penting. Karena hanya dua periode berturut-turut seorang bisa menjabat, dan tidak boleh diusung lagi ketiga kalinya.

Jokowi tentu masih menjadi magnet. Peluang menang di atas kertas, juga besar. Maka memberi dukungan di awal, 'Jokowi Effect' tetap menjadi harapan bagi partai untuk menambah kapitalisasi suara partai mereka.

Friday, July 28, 2017

Girl Band SNSD. Sumber: wikipedia
Banyak orang Indonesia, menggandrungi suatu yang berbau Korea. Dari film nya, artisnya, budayanya, hingga lagu dan penyanyinya. Saya sendiri pernah nonton film Korea, cuma Full House. Tertarik karena kecantikan pemeran perempuannya, Song Hye Kyo yang berperan sebagai Han Ji-Eun.

Korea, baik itu lagunya, film nya, hingga artis-artis dan berbagai acaranya, hampir tiap hari akrab dengan saya. Itu karena mantan pacar, salah satu penggemar Korea bersama jutaan penggemar lainnya di Indonesia.

Naik KRL, nonton film Korea. Naik motor, dengarin lagu Korea. Libur di rumah sambil setrika di depannya nonton Korea. Laptop kerja saya, full untuk dia nonton Korea.

Walau 'dikelilingi' dengan Korea-korea an, jujur saya tidak tertarik. Orang bilang artis Korea cantik-cantik, iya. Tapi bukan berarti suka dengan film dan segala entertain mereka. Eh, tidak suka atau belum suka ya?....

Nah, tepat hari ini, Jumat 28 Juli 2017, terpaksa saya harus googling, baca-baca, atau mencoba memahami sedikit soal Korea. Lho kok bisa? Ya karena tiba-tiba agenda Bulan Kemerdekaan selama Agustus 2017, salah satu yang akan mengisi adalah artis Korea.

Akhirnya, jadilah dua berita tentang Korea. Dan...nampaknya kantor suka. Berita di kirim, hanya hitungan menit langsung naik. Ajaib, jarang terjadi, hahahaha... sudah gitu, HL lagi di halaman depan, dua-duanya lagi. Lebih ajaib lagi ini...

Dua berita itu berjudul (http://www.viva.co.id/showbiz/gosip/940654-artis-artis-top-korea-meriahkan-hut-kemerdekaan-ri-ke-72) dan (http://www.viva.co.id/showbiz/musik/940685-girlband-korea-snsd-ikut-acara-17-agustus-di-indonesia)..




Awalnya, Pak Triawan Munaf, bapaknya Sherina Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif, mengatakan pada 18 Agustus 2017 pukul 19.00 WIB sampai 19.30 WIB, akan ada countdown Asian Games 2018 dimana kita, Indonesia, jadi tuan rumah.

Artis-artis yang diundang, tentu dari dalam negeri seperti si cantik Raisya (foto Raisa dan pacarnya ada di bawah)...
Ada juga Tulus, JFlow dan youtubers Indonesia. Nah, artis Korea juga diundang.

Girl Band yang diundang, adalah Girls' Generation, atau SNSD. "Emang girl band ini terkenal?" tanya ku ke teman. "Iya lah, terkenal banget itu," pinta dia tegas.

Jadilah googling-googling bentar. Ternyata, ada delapan perempuan sebagai anggotanya yakni Taeyeon, Sunny, Tiffany, Hyoyeon, Yuri, Sooyoung, Yoona, dan Seohyun.

Selanjutnya, saya tidak paham dengan berbagai gosip tentang mereka. Terserah lah, pikir ku...

Monday, July 24, 2017

Lazimnya Presiden Jokowi, ada saja agenda yang tiba-tiba. Mungkin kalau dibahasakan, ada kegentingan yang memaksa. Yang genting tentunya wartawan Istana Kepresidenan. Banyak cerita, salah satunya pada Senin 24 Juli 2017.

Agenda resmi Kepresidenan pada Senin itu hanya dua, yakni sidang kabinet paripurna yang digelar di Istana Negara. Lalu siang, pukul 14.00 WIB, memberi pembekalan kepada 729 Calon Perwira Remaja (Capraja) TNI-Polri di Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur. Mereka kemudian dilantik di Istana Merdeka, Selasa 25 Juli 2017.

Berangkat dan pulang ke Mabes TNI Cilangkap, kami ikut dalam iring-iringan RI-1. Jadi agak lebih cepat pulangnya. Namun, mobil yang membawa kami baru memasuki halaman belakang Istana, tiba-tiba sejumlah politisi yang beberapa diantaranya akrab kami kenal, berjalan dan hendak masuk ke Istana melalui sekdor atau pintu belakang.

Turun dari mobil, kami langsung berlari kecil mendekat. Walau awalnya cita-cita kami adalah makan siang (walau terlambat karena sudah lebih pukul 16.00 WIB).

 
Beberapa politisi senayan seperti Jhonny G Plate (Nasdem), Agus Gumiwang (Golkar), Robert Kardinal (Golkar), Reni Melinawati (PPP), Utut Adianto (PDIP), Nurdin Tampubolon (Hanura), maupun Sekjen Golkar Idrus Marham dan sejumlah politisi lainnya.

Tentu pertanyaannya, kenapa meraka ke sini? Ada konsolidasi soal apa? Dan hanya Jhonny G Plate yang sedikit memberi bocoran, yakni soal Perppu Nomor 1 dan Nomor 2. Sementara lainnya, termasuk Idrus yang biasanya bercuap-cuap serius kala ditanya wartawan, hanya mengajak bercanda saja.

Utut juga demikian. Si jago catur itu singkat menjawab hanya silaturahim. Nurdin Tampubolon, yang sedikit terlambat, mengaku memang baru mendapatkan undangan dari Istana hari itu juga.

Oke lah, kami tunggu. Seperti biasa, nongkrong di pilar, tempat kami memunggu para menteri maupun tamu-tamu Presiden. Satu jam lebih kurang, tidak kunjung kelihatan juga. Yang ada, malah kami mendapat informasi kalau mereka sudah keluar melalui pintu samping, melalui Wisma Negara.

FYI (for your information), pintu Wisma Negara biasanya digunakan oleh sejumlah pejabat yang enggan menyampaikan ke publik hasil pertemuan dengan Presiden. Mungkin karena menyangkut kerahasiaan negara. Atau mungkin juga ini cukup sebagai konsumsi internal mereka. Entahlah...

Usut punya usut, sebenarnya konsolidasi itu harusnya berlangsung tertutup. Artinya tidak menjadi konsumsi media. Tapi menjadi santapan media, lantaran mereka salah jalan.

"Emang harusnya masuk dari depan tadi (pintu Wisma Negara), salah masuk, masuk dari situ (sekdor samping Istana Negara)," kata Jhonny G Plate ketika dihubungi usai pertemuan.

Ya, mungkin maksud Pak Jokowi ingin agar pertemuan politik ini tidak dipublis, tapi apa daya karena memilih jalan yang salah maka keinginan itu sirna. Malah, semakin memperuncing 'konflik' antara partai pendukung dengan PAN. PAN tidak diundang dalam pertemuan itu.

Tapi saya tidak bahas soal itu di tulisan ini. Terlalu politis... Ha..ha...ha...

Monday, June 5, 2017

"Harus diingat bahwa kodrat bangsa Indonesia adalah kodrat keberagaman. Takdir Tuhan untuk kita adalah keberagaman. Dari Sabang sampai Merauke adalah keberagaman. Dari Miangas sampai Rote adalah keberagaman".

Kutipan kalimat itu disadur dari pidato Presiden Joko Widodo, pada upacara peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2017, di halaman Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri.
Masjid dan Gereja berdampingan di Bali (koleksi pribadi)
Pidato ini, menurut cendikiawan Prof Azyumardi Azra, sangat bagus. Bahwa memang bangsa Indonesia heterogen, tidak bisa dipaksakan menjadi homogen. Saya kira itu final.

Makna kata "keberagaman" dalam kutipan pidato Presiden Jokowi itu juga berarti perbedaan. Untuk lingkup Indonesia, akan terpampang banyak perbedaan, baik itu agama, bahasa, suku, warna kulit, hingga budaya yang berbeda-beda. Logat antara kampung satu dengan kampung sebelahnya pun, berbeda. Sehingga kita bisa mengenali lawan bicara kita hanya dengan mendengar logatnya saja.

Entah dimulai sejak kapan, sadar atau tidak, kita justru mulai menghakimi orang yang berbeda dengan kita. Terutama dalam konteks pemikiran, pilihan politik, hingga ide-ide. Cenderung terlihat, kita gampang menghakimi orang yang berseberangan dengan kita dalam konteks itu.

Ketika seseorang melontarkan pikiran kritisnya terhadap pemerintah/person tertentu/lembaga tertentu atau yang lain, kemudian bermunculan penghakiman itu tadi. Hampir jarang terlihat, kritikan itu dibalas dengan jawaban yang ilmiah. Bahkan sering terjadi, muncul pikiran "Ah orang ini kan oposisi", atau "Memang dia benci kok sama pak ini".

Budaya nyinyir (mungkin semacam mencemooh), mengejek, kini justru sering digunakan. Seperti saat seseorang menyampaikan pokok pikirannya yang berbeda dengan kita, atau mengkritik orang yang kita 'puja', maka yang lebih banyak dilakukan adalah mengedepankan budaya nyinyir dan mengejek itu tadi.

Padahal harus dipahami juga, gaya setiap orang mengkritik itu berbeda-beda. Ada yang dengan lugas tanpa tedeng alih, atau ada juga yang berputar-putar memberi penjelasan, atau ada yang menggunakan sindiran halus. Keberagaman cara mengkritik ini sebenarnya indah, dan kembali lagi pada pidato Pak Jokowi "...kodrat bangsa Indonesia adalah kodrat keberagaman".

Ketika kita memahami keberagaman agama, bahasa, suku, adat dan budaya dari Sabang sampai Merauke seperti dalam pidato Presiden Jokowi, harusnya kita juga bisa menerapkan itu dalam konteks perbedaan pandangan politik maupun pemikiran. Tapi rasanya sekarang belum.

Gampang sekali menghakimi terhadap orang yang berbeda sikap politiknya. Apalagi, partai politik itu mendukung seseorang yang kita tidak suka, terlepas dari persoalan pribadi orang tersebut.

Kita seolah melupakan, bahwa sebenarnya sikap itu tidak mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Bagaimana bisa mengklaim dirinya #SayaPancasila tapi tindakan dan cara kita memperlakukan perbedaan itu justru berlawanan dengan nilai-nilai Pancasila?!

Kita cenderung melihat, perdebatan yang keras dan alot sebagai sebuah permusuhan. Padahal, bagaimana misalnya dulu Bung Karno berdebat dengan Syahrir atau Hatta sekalipun. Atau sebut saja tokoh-tokoh lainnya.

Bagaimana sikap Buya Hamka saat diperlakukan tidak adil oleh Soekarno dan Pramodya Ananta Toer. Buya dipenjara 2 tahun era Bung Karno, dituduh plagiat oleh Pramodya. Tentu ada pembelaan, walau akhirnya Buya Hamka mendekam juga di balik jeruji.

Tapi saat Bung Karno wafat, Buya Hamka lah yang mensholatinya. Saat kekasih anak Pramodya minta di Islamkan, Buya Hamka juga yang membimbingnya. Bagi saya, itulah sikap Pancasila sejati.

Thursday, June 1, 2017

Dalam sebuah pemberitaan media massa, nama mantan Ketum PAN dan MPR Amien Rais, disebut oleh Jaksa Penuntut Umum KPK mendapatkan aliran dana dugaan korupsi Alat Kesehatan (Alkes), dengan tersangka mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari.

Amien Rais saat konferensi pers di kediamannya. Foto: Ipul VIVA.co.id
Disebutkan ada Rp600 juta, dana mengalir ke rekening Amien Rais melalui Yayasan Sutrinso Bachir Foundation.

Seperti dikutip dalam laman VIVA.co.id, menurut jaksa, rekening Amien Rais sudah enam kali menerima transfer uang. Setiap sekali transfer, Amien menerima uang Rp100 juta. Rekening Amien tercatat menerima pertama kali pada 15 Januari 2007 dan terakhir pada 2 November 2007.

Dalam persidangan, jaksa menilai, Siti Fadilah terbukti menyalahgunakan wewenang dalam kegiatan pengadaan alat kesehatan untuk mengantisipasi kejadian luar biasa (KLB) tahun 2005, pada Pusat Penanggulangan Masalah Kesehatan (PPMK) Departemen Kesehatan.

Adapun Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menilai perbuatan Siti Fadila Supari menyebabkan kerugian keuangan negara sekira Rp6,1 miliar.

Mendapat tudingan itu, Amien Rais pada Jumat 2 Juni 2017 pagi di kediamannya, Komplek Gandaria Blok C Nomor 1 Jakarta Selatan, menyampaikan jawaban atas itu. Berikut jawaban lengkap Amien Rais, yang tertuang dalam surat:

Assalamu’alaikum WR.WB.

Terima kasih atas kedatangan saudara-saudara para wartawan yang saya hormati.

Kasus aliran dana dari Yayasan Soetrisno Bachir sejumlah 600 juta rupiah antara 15 Januari 2007 sampai 13 Agustus 2007, seperti dikatakan jaksa Ali Fikri di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu 31/05/2017, yang dikirim ke rekening saya, langsung saya follow-up dengan menanyakan pada sekretaris saya tentang kebenarannya, berdasarkan rekening bank yang saya miliki.

Karena itu terjadi sudah 10 tahun lalu, saya segera merefresh memori saya. Pada waktu itu Sutrisno Bachir mengatakan akan memberikan bantuan keuangan untuk tugas operasional saya untuk semua kegiatan, sehingga tidak membebani pihak lain.

Persahabatan saya dengan Sutrisno Bachir sudah terjalin lama sebelum PAN lahir pada 1998. Seingat saya, sebagai entrepreneur sukses waktu itu, dia selalu memberi bantuan pada berbagai kegiatan saya, baik kegiatan sosial maupun keagamaan.

Mas Tris adalah tokoh yang sangat baik dan dermawan, sering membantu banyak pihak. Bahkan siapa saja yang mendapat bantuan dana dari SB, saya tidak tahu. Saya pernah menanyakan pada SB, mengapa Anda membantu berbagai kegiatan saya. Jawabnya: “Saya disuruh Ibunda saya untuk membantu Anda”.

Jadi ketika dia menawarkan bantuan tiap bulan buat kegiatan operasional saya, saya anggap sebagai hal wajar.

Nah, kalau kejadian sepuluh tahun lalu kini diungkap dengan bumbu-bumbu dramatisasi di media massa dan sosial, tentu akan saya hadapi dengan jujur, tegas, apa adanya.

Di tahun 2007, saya sudah 3 tahun tidak lagi menjadi pejabat (waktu itu Ketua MPR). Namun rupanya bantuan SB untuk kegiatan operasional saya yang berlangsung selama 6 bulan itu pada tahun 2007 itu kini menjadi salah satu topik berita yang sangat menarik dan harus saya ikuti secara tegas dan berani.

Karena itu pada Senin mendatang saya akan berkunjung ke Kantor KPK, untuk menjelaskan duduk persoalannya, sebelum saya berangakat umroh pada 8 Juni ini.
Kalau saya dipanggil KPK padahal saya masih umroh, saya khawatir dianggap lari dari tanggung jawab.


Sekian dulu, sampai ketemu lagi insya Allah di kantor KPK besok Senin, 5 Juni 2017. 
Wassalam

Friday, May 26, 2017

Ketika itu, sekitar tahun 1998, dan saya masih duduk di kelas 2 SMP. Entah kebetulan atau tidak, memang sedang musim sakit karena beberapa tetangga juga terkena. Yakni panas badan yang tinggi. Demam berdarah, menjadi momok saat itu.

Walau badan panas, saya masih bisa bergerak dari kamar ke ruang tamu, untuk sekedar menonton tayangan televisi. Kabar soal kondisi krisis, aksi-aksi demo, santapan ku di depan layar 21 ince saat itu.

Karena saran dari beberapa tetangga, saya di bawa ke RS di kecamatan, tepatnya kecamatan Bolo Babupaten Bima, NTB. Setelah pemeriksaan darah yang lumayan mendebarkan, akhirnya saya divonis terkena demam berdarah. Rawat inap juga akhirnya.

Ketika itu, bulan Ramadhan. Entah berapa hari saat itu dirawat. Kondisi saya semakin parah, sehari sebelum lebaran. Hanya bisa mendengarkan kumandang takbir, tahlil dan tahmid dari ruang perawatan.

Ilustrasi
Saat itu, saya ditempatkan di ruang kelas III. Jadi campur baur dengan pasien lain yang dirawat inap.

Banyak pengunjung yang datang. Namun saat itu, saya merasakan keanehan. Tiba-tiba, saya merasa dingin yang luar biasa, dari ujung kaki hingga kepala. Saya sampai menggigil, seperti berada di himpitan salju.

Tak kuasa menahan kedinginan, saya merintih dan meminta beberapa potong sarung. Begitu ditutupi dengan dua hingga tiga sarung, tapi ternyata masih dingin juga. Saking dinginnya yang tak terkira, membuat saya berontak.

Beberapa keluarga termasuk kedua orang tua memijit-mijit seluruh badan saya. Rasanya tidak mempan, aku tambah merasa dingin yang luar biasa. Aku teriak-teriak, yang menurut keluarga setelah saya sembuh teriakannya kencang sekali. Tak ayal, semua yang ada di ruangan terutama keluarga, takut dan sedih. "Mungkin, kini saatnya aku menghadap-Nya", begitu kira-kira pikiran mereka.

Saya membuka mata. Astagfirullah, yang saya lihat adalah orang-orang disekeliling sudah tidak berwajah manusia lagi, tapi seperti hantu. Yang jelas, muka mereka menyeramkan.

Melihat itu, saya semakin meronta. Bukan karena tubuh ini yang sedari tadi kedinginan, tapi juga takut dengan muka mereka. Ketakutan yang semakin menjadi-jadi melihat wajah mereka seperti itu, membuat saya meludahinya, meminta pergi. Entah apa yang terjadi setelah itu, saya sudah tidak sadarkan diri.

Dalam ingatan saya kala itu, sempat muntah. Kata mama, yang saya muntah itu adalah darah, dan sangat banyak. Saat itu, mama mengaku sudah tidak ada harapan lagi bagiku untuk hidup. Orang-orang meminta ibu untuk bersabar. Sementara aku terus meronta-ronta.

Malam itu juga, saya diputuskan untuk dibawa ke RSUD Kabupaten. Jaraknya lumayan jauh.

Ambulance sudah menunggu, dan saya dipindahkan dari kamar perawatan itu menuju ke mobil. Di sini kisah yang membuat saya bertanya-tanya apakah aku mati suri atau tidak?

Dalam perjalanan dari ruangan menuju ambulans, tentu saya sadar. Mata saya rasakan terbuka, walau terlihat gelap. Namun, saya merasa berada di bawah tanah dan berusaha hendak naik ke atas.

Antara sadar dan tidak sadar, saya merasakan dikejar-kejar seekor ular kobra besar. Dari perangai si kobra itu, binatang mematikan itu hendak mematuk.

Kobra itu terasa sangat cepat. Saya mencoba menghindar, tentu dengan teriakan-teriakan. Terus menghindar dan menghindar, dan sekuat tenaga untuk secepatnya bisa naik ke permukaan tanah.

Rasanya sangat lelah, habis energi. Hanya pasrah kala itu yang saya lakukan. Si kobra semakin dekat, dekat dan benar-benar berada di depan mata. Tinggal dia mematok saja. Hingga saat kobra itu ingin mematok, saya merasakan ditarik ke atas. Sedikit cahaya terlihat, ternyata saya sudah diangkut ke dalam ambulans.

Agak lega, karena selamat dari racun kobra yang mematikan. Ambulans melaju, namun saya merasa tetap berada di bawah tanah, gelap, itu yang saya rasakan.

Di dalam ambulance itu, saya muntah darah lagi. Kali ini jauh lebih banyak. Saya bisa merasakan sisa-sisa darah menempel di bibir.

Dalam perjalanan itu, yang saya alami antara nyata dan tidak, tapi saya merasa masih sadar. Tiba-tiba, saya ditahan oleh sekelompok pasukan. Tidak terlihat jelas muka mereka.

Ada lebih dari 10 orang yang ditawan, diikat tangannya. Termasuk saya. Dalam keadaan seperti itu, datang seorang pasukan yang ternyata berperan sebagai eksekutor. Kami yang diikat itu, dipersiapkan untuk dibunuh. Saya bisa menyaksikan mereka, yang deretannya di awal dari saya, dibunuh.

Spontan, saya teriak-teriak. Entah saya orang ke berapa untuk selanjutnya mendapat giliran eksekusi. Saya teriak sejadi-jadinya agar tidak dibunuh.
“jangan bunuh aku,” begitu kira-kira saya berteriak kala itu. Seorang yang mendampingi eksekutor, meminta saya di langkahi dulu, untuk selanjutnya beralih ke orang yang di samping saya.

Lega rasanya, Saat itu, saya berusaha meloloskan diri dan bisa. Saya lari sejadi-jadinya, kencang dan semakin kencang, menghindar dari tempat eksekusi itu.

Ketika berlari, saya temui sebuah sungai. Saya merasa, ada di pinggir sungai yang ada di kampung, Desa Dena. Namun ini lebih besar, dan rindang pepohonannya. Saya berlari dipinggirnya sembari melihat-lihat ke seberang sungai.

Beberapa orang terlihat di seberang. Hanya tidak bisa saya jangkau, tidak ada jembatan. Dari pelarian ini juga, saya melihat secercah sinar yang kilau. Dalam beberapa kisah orang mati suri, ada beberapa juga yang melihat sinar seperti itu.

Sinar yang kilau itu, saya lihat ada di seberang sana. Terus saya telusuri pinggir sungai, berharap ada jembatan.

Saat itu, saya merasa ada suara yang memanggil-manggil. Betul, ternyata itu sesosok yang saya kenal. Dia tetangga rumah, yang berdiri di dekat sinar itu.

Sembari terus melihat ke seberang, aku juga terus berjalan mencari jembatan. Rasa takut, masih terus berkecamuk. Hingga kemudian, beberapa suara kembali muncul.

Kali ini, saya melihat muka mereka, orang-orang yang ada di seberang sana, tidak lagi menakutkan. Tidak lagi seperti hantu yang menyeramkan, yang terlihat diawal cerita ini. Walau belum terlalu sempurna, saya sudah bisa mengenali wajah-wajah itu.

Dalam kebingungan itu, saya membaca ayat-ayat pendek AlQuran. Bahkan, dengan lancar, surah Yasin yang panjang itu, tiba-tiba terhafal kan. Padahal, saat masih sehat rasanya tidak pernah saya bisa menghafal surah itu.

Begitu tiba di RSUD Bima, tubuh rasanya mulai normal, dari pengalaman-pengalaman aneh sepanjang jalan itu. Lebih kurang seminggu saya dirawat.

Keluar RSUD pagi hari, tiba-tiba sorenya terlihat berita kalau di Bima juga terjadi kerusuhan dan penjarahan, hal sama terjadi di Ibukota dan beberapa daerah lainnya jelang Reformasi 1998 itu.

Tuesday, May 16, 2017

Selasa 16 Mei 2017 pagi, awalnya sudah kepikiran liputannya lebih santai. Pak Jokowi dari Tiongkok, langsung ke Palu Sulawesi Tengah untuk membuka Kongres PMII.

Kepikiran 'paling Pak Jokowi ke Jakarta sore atau malam, lalu istrahat'. Walau kita juga sangsi, melihat cara kerja orang nomor 1 di Indonesia itu yang hard worker banget.

Ternyata benar. Pak Jokowi ketemu ulama lagi, begitu info yang masuk. Hingga siang sekitar pukul 12.00 WIB, Kabiro Pers Pak Bey men-share agenda dadakan bahwa Pak Jokowi ketemu tokoh lintas agama.

Oke, bergegas sebelum siang bergerak menuju Istana. Setidaknya harus lebih cepat, agar bisa mencegat tamu-tamu itu, mewawancarai mereka, atau sekedar mengetahui diawal siapa saja tokoh-tokoh itu.

Pukul 13.30 WIB, staf Biro Pers Istana menghampiri ke bioskop (sebutan untuk presroom Istana) yang baru direnovasi (cie cie).

Dua tokoh yang familiar bagi kami, terlihat sudah tiba. Yakni Sekjen PBNU Hilmy Faisal Zaini dan Ketua MUI KH Ma'ruf Amin. Lebih kurang pukul 14.35 WIB, kami yang sudah menunggu di depan pintu belakang Istana Merdeka, dipersilahkan untuk masuk.

Seperti biasa, mengambil foto dan video, merekam percakapan pembukaan, dan mencari tahu siapa-siapa saja yang datang. Sempat terkaget, Presiden Jokowi didampingi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Pak Gatot dan Pak Tito mendampingi Presiden Jokowi. Foto: Biro Pers Istana
Jarang sekali atau bahkan tidak pernah, dalam pertemuan-pertemuan seperti ini didampingi oleh beliau berdua. Paling tidak, ada Mensesneg atau Seskab atau menteri terkait. Belakangan baru tahu, Menteri Agama sedang di luar kota.

Oke, fokus pada Pak Gatot dan Pak Tito. Kedua jenderal ini, dikenal irit bicara dan cenderung 'menghindari' pers. Beliau berdua, biasanya keluar Istana melalui pintu depan dekat masjid, atau yang biasa kami sebut 'lewat wisma' (karena memang dekat Wisma Negara), sehingga tidak harus melalui kerumunan wartawan kalau keluar melalui pintu belakang Istana Negara.

Kesempatan ini ditunggu-tunggu. Hingga akhirnya, saat kami turun dari tangga Istana Merdeka, berpas-pasan dengan keduanya. Seperti prediksi, beliau berdua menolak diwawancara. Keduanya memotong jalan, menuju Masjid Baiturrahim yang ada di sisi barat Istana Merdeka. Waktu memang sudah masuk Ashar, sekitar pukul 16.00 WIB.

Pak Tito dan Pak Gatot hendak sholat ashar. Foto: koleksi pribadi
Tripod kamera televisi langsung standby. "Kita jaga aja lah ya, siapa tahu mau diwawancara," celoteh seorang teman, berharap. Pak Tito dan Pak Gatot, nampak sambil berbincang ketika melepas sepatu untuk wudhu.

"Siapa kira-kira imamnya?" tanya seorang teman.
"Pak Tito kayaknya," jawab seorang lagi.

Ini karena dalam beberapa kesempatan lalu, juga beredar foto mereka berjamaah, tapi yang imam adalah Pak Tito. Hanya bedanya, kini kami tidak bisa mendekat, hanya dari luar masjid.

"Kalau secara umur sih Pak Gatot yang imam," kata seorang merujuk tahun angkatan beliau berdua.

"Tapi kalau Pak Tito lebih fasih, seperti di Muhammadiyah juga nggak harus yang tua yang jadi imam," seorang lagi berkomentar.

Hingga prediksi 'Pak Tito Dan Pak Gatot, Siapa Jadi Imam?' ini buyar saat seorang anggota Paspampres mempersilahkan kami semua untuk tidak berada di tempat itu. Kami pun bergegas.

Lalu, siapa yang jadi imam-nya, Pak Gatot atau Pak Tito? #TungguFotonyaBeredar

Monday, May 15, 2017


Entah apa yang dipikirkan oleh dua perempuan, hingga mereka berkelahi dan saling jambak rambut di kereta listrik atau KRL.

Dari video yang beredar, nampak dua orang perempuan saling jambak rambut saat KRL berjalan. Aksi ini, membuat suasana di gerbong itu riuh. Ada yang berteriak menyorak dan mengejek keduanya, ada juga yang minta berhenti.

"Udah udah," kata seorang perempuan sembari berusaha merelai keduanya.

"Udah, malu tahu," kata seorang lagi.

Sementara yang lainnya, terdengar mengejek dengan "huuuu,". Video berdurasi 41 detik itu, tidak diketahui kapal persis kejadiannya. Termasuk, masalah apa yang membuat keduanya saling jambak.

Dalam video itu juga memperlihatkan, kejadian itu diperkirakan di gerbong khusus perempuan. Karena tidak terlihat laki-laki.

Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi kapan video ini diambil. Termasuk siapa kedua perempuan itu.

Saturday, May 6, 2017

Judul ini 100 persen persis dengan tulisan Ketum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak. Bercerita tentang ratusan petani di Kabupaten Karawang, yang akrab dikenal Teluk Jembung, yang terusir dari tanah yang sudah mereka tempati puluhan tahun, oleh sebuah perusahaan.

Sempat ramai kisah mereka mempertahankan kehiduapnnya di Karawang. Mereka tidak berdaya, karena mereka hanya orang kecil. Bingung mengadu karena aparat dan pemerintah cenderung tidak berpihak, hingga terdampar di Jakarta berharap secercah harapan.

Hingga pada Rabu 3 Mei, perwakilan para petani yang sudah lebih kurang dua bulan ditampung di Panti Asuhan Muhammadiyah Tanah Abang Jakarta Pusat, dipanggil Presiden Joko Widodo.

Ada segenggam harapan mereka, untuk kembali ke tanah, tempat mereka menggantungkan hidup dan membiayai hidup selama ini.

"Beliau (Presiden Jokowi) siap menyelesaikan konflik agraria yang ada di Karawang. Tapi tidak bisa disebutkan, dia butuh tiga hari," kata Ketua Umum Serikat Tani Teluk Jambe Bersatu Maman Nuryawan.

Ketua Umum Serikat Tani Teluk Jambe Bersatu, Maman Nuryawan.
Mengadu ke Jokowi, rasanya menjadi jalan pamungkas untuk menggantungkan harapan. Saking bingungnya mereka akan nasib sendiri, pun mereka lebih memilih untuk dibom saja.

"Harapan kami mending ditaroin bom dikumpulin gitu, biar jelas (kalau tiga hari tidak ada kejelasan). Hidup enggak, mati enggak kalau kayak begini. Masa jadi pengemis di Jakarta kayak gini. Kami ini warga negara mbok ya dilayakkan seperti yang lain," kata salah satu warga bernama Budiono.

"Harapan kami sudah ada keputusan lah Insya Allah. Kami yakin Pak Jokowi ada kebijaksanaan untuk rakyat,".

Budiono, salah satu warga Teluk Jambe Karawang usai ketemu Jokowi

Berikut cerita Dahnil Anzar Simanjuntak, usai melepas para petani menuju Karawang, tanah kelahiran dan hidup mereka:


Petani Karawang, Muhammadiyah dan Presiden

Perjalanan Garut-Jakarta melelahkan. Macet. 
Getar Telpon Genggam mengganggu ridur dalam laju mobil kendaraan.
Oh Panggilan masuk Dari aktivis LBH Jakarta.

"Mas Dahnil, bisa bantu 220 petani karawang yang butuh tempat penampungan Mas? Kami berharap bisa ditampung Muhammadiyah"

Nah lho. Saya terdiam. Memandangi si Kholis, Bendum PP IPM yang jadi Supir kami saat itu, dan si Putra, Bendum PPPM yang lagi makan Dodol Garut di kursi belakang. Abrar, Ketua PPPM yang terdengar mendengkur dalam tidur pendeknya. Bujang lapuk yang sekarang tak lapuk lagi.

"Tunggu ya, Saya coba". Jawab ku.

Saya berdiskusi dengan Kholis, abrar, Putra dalam laju mobil menuju Jakarta. "Tampung aja bang, kata Putra". "Tampung di PP Muhammadiyah?" Lanjut ku. "Emang punya kita?. Kita ndak punya wewenang mengizinkan atau tidak". Sedangkan ini harus cepat.

Getar Telpon genggam lagi. Ternyata dari Farid, Salah satu Sekretaris PPPM. Farid intens mendampingi petani Karawang bersama istrinya sejak lama. "Bang, petani Karawang ini butuh tempat, mereka gak tahu mau kemana lagi. Bagaimana bang?"

Akhirnya Saya jawab " Mas Farid, ya Sudah di Gedung dakwah Ada Cak Faisal, Ajak dia pimpin 220 petani itu ke Gedung dakwah Muhammadiyah, kan ini waktu shalat maghrib, jadi Masuk saja ke gedung dakwah kemudian menuju masjid, Bilang saja mau shalat Maghrib berjamaah, setelah itu istirahat sambil menunggu shalat Isya, kemudian istirahat lagi Sambil menunggu shalat shubuh dan seterusnya, sampai gak mau shalat di masjid itu lagi. Paham ya maksud Saya". "Paham bang" kata Farid. " Tapi bang, mereka lapar semua, belum makan sejak pagi" "Ok, kita atur" kata ku.

Jadilah, petani dipimpin Cak Faisal, Farid dan kawan2 LBH serta relawan-relawan lainnya menuju Gedung Dakwah Muhammadiyah. Ternyata diperjalanan mereka diberhentikan oleh Polisi, tidak boleh menuju ke Muhammadiyah, akhirnya Cak Faisal bernegoisasi, dan perjalanan dilanjutkan. 

Tiba di depan gerbang Muhammadiyah, Menteng Raya 62. Ternyata di Gedung Dakwah Sudah dipenuhi dengan Polisi. Usut punya usut, ternyata sedang Ada acara Maarif Institute yang meminjam Gedung Dakwah Muhammadiyah dengan Mengundang Menko Kemaritiman menyampaikan Pidato bersama Buya Syafii Maarif, tentang Kebhinekaan stai keberagaman mungkin.

Akhirnya, para petani yang dipimpin Mas Farid dan Cak Faisal, dilarang Masuk. Cak Faisal, Ketua Bidang Hukum PPPM Hasil ressuflle ini, bersitegang dengan Polisi, yang akhirnya petani boleh Masuk menuju Masjid, namun bertahap.

Pemuda Muhammadiyah mau Masuk ke Rumah sendiri kok diatur oleh tamu dan penjaganya.:.hehehehe. Tapi, Wes lah ora opo-opo.

Selanjutnya, dalam perjalanan, Saya menelpon Mas Fuji, Kepala Kantor PPPM untuk membelikan makanan sebanyak 250 bungkus. "Bang, uang kas lagi gak ada" nah lho. Putra, bendahara umum PPPM, mengatakan. Iya bang, belum dicairkan yang untuk petty cash. Aduuuh. Terus bagaimana?. "Saya Suruh Fuji pesan aja ya bang?". Nanti kita bayar. "Ok" pungkas ku.

Kami Tiba di Gedung Dakwah Muhammadiyah, wow, banyak Polisi ternyata. Tapi, dalam Rangka mengawal Menko Maritim yang Sedang ceramah tentang Kbhinekaan, di acara Maarif Institute bersama Buya Maarif. Pasti diskusi yang menarik. Gumam ku. 

Namun, Saya dan kawan-kawan memilih berjalan ke masjid menemui 250 petani Karawang yang Sudah menumpuk di Masjid. Dan, ternyata makanan yang dibeli Fuji belum Tiba. Akhirnya, kami kebetulan membawa banyak Dodol garut, buah tangan yang diberikan Pak Atok, pemilik pabrik Dodol picnic Garut. Semua Dodol itu kami serahkan kepada petani sebagai pengganjal lambung, sampai Tiba nasi bungkus.

Singkat cerita. PP Muhammadiyah, mengizinkan Petani Karawang untuk tinggal sementara di Gedung Dakwah Muhammadiyah, dan kemudian memindahkan penampungan mereka ke Panti Asuhan Muhammadiyah Tanah Abang. 

Kurang lebih 2 Bulan mereka menetap disana dengan bantuan banyak relawan, baik dari Ortom Muhammadiyah, Rumah Sakit Muhammadiyah, sampai organisasi diluar Muhammadiyah. Banyak relawan yang tidak bisa Saya sebutkan satu-satu namanya. Ruhut Ikhlas dan Jihad selalu hadir dihati mereka.

Dua hari jelang Pillada DKI Jakarta, Saya bersama beberapa Tokoh Islam di Undang Bapak Presiden Joko Widodo di Istana Presiden. Pada Pertemuan tersebut, salah satu Hal yang disampaikan Pak Presiden adalah terkait dengan Redistribusi Lahan. Nah, Tiba Saya berbicara, Saya menyampaikan kepada pak Presiden.

"Pak Presiden, program redistribusi Lahan adalah program yang bagus sekali, pro mustadafin, dan kami mendukung penuh. Termasuk keinginan Pak Presiden meminta ormas bisa juga memamfaatkan program ini untuk kepentingan jamaah Masing-masing. Namun, Pak Presiden Izinkan Saya menyampaikan, Muhammadiyah sejak Awal berdiri ingin memastikan menghadirkan Islam yang menjadi solusi bagi kehidupan, Islam untuk orang hidup bukan Islam untuk orang mati. Sekarang ada 250 petani Karawang yang kami tampung kehilangan tanah mereka, maka mohon dahulukan mereka, Muhammadiyah tidak juga tidak Apa. Asal mohon selesaikan masalah petani Karawang ini"

Beberapa hari kemudian, Pak Mensesneg Pratikno bertemu dengan Saya dan menyampaikan bahwa Presiden Akan menuntaskan masalah Petani Karawang tersebut.

Kemarin, tepat 6 Mei, Pak Pratikno mengirimkan pesan WA Singkat kepada Saya, " Mas, masalah petani Karawang Sudah diselesaikan Pak Presiden dengan maksimal ya".

Betul, Pak Presiden memerintahkan Menteri Pertanahan dan Menteri Sosial untuk menyelesaikan segera. Petani dijanjikan Menteri Pertanahan Akan kembali ke Lahannya dan Akan di buat kan sertifikat dalam jangka waktu 2 Bulan ke depan. mensos Khofifah pun berjanji selama waktu menunggu lahan dan sertifikat tersebut para petani Akan diberikan uang bantuan perbulan.

Para petani menolak kembali ke Karawang, Bila ditampung di Rumah Susun yang pernah mereka tempati dan akhirnya diaabaikan oleh Pemkab Karawang. Akhirnya, Menteri meminta Bupati, agar petani ditampung sementara di Rumah Dinas Bupati.

Alhamdullilah, Akhirnya Siang ini Petani Karawang Akan kembali ke penampungan sementara mereka di Rumah Dinas Bupati sessuai janji. Mudah-Mudahan ditepati oleh pemerintah seperti yang mereka sampaikan kepada kami.

Tadi malam, para petani Karawang datang ke pengajian rutin PP Muhammadiyah dan berpamitan langsung ke Pak Haedar dan PP Muhammadiyah.

Tengah malam tadi, mereka juga berpamitan dengan Saya untuk kembali ke Karawang, bahagia dan haru bercampur Aduk. Ditambah lagi yang lebih mengharukan, Kang Maman dan petani Karawang mengatakan kepada Saya. 

" Bang Dahnil, Nanti klo kami Sudah kembali dapat lahan, kami Akan undang Bang Dahnil untuk meresmikan Ranting Muhammadiyah Teluk Jambe yang Akan kami dirikan bersamaan dengan tanah wakaf untuk Masjid Muhammadiyah di Teluk Jambe nanti". 

Saya tidak bisa Menahan haru untuk bagian ini. Bagi Saya tidak ada yang lebih membahagiakan selain, semangat baru menggembirakan Dakwah Muhammadiyah melalui lahirnya Ranting Muhammadiyah dari petani-petani yang Ketika pertama kali datang ke Saya dituduh PKI itu.

Terimakasih Pak Presiden Atas kepekaannya, semoga Pak Presiden sehat selalu, dan bisa berpihak kepada Rakyat miskin Pada semua kebijakan yang bapak buat, dan menolak tunduk dengan para bandit yang rakus.

Salam
Dahnil Anzar Simanjuntak (Anin)
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah

Tuesday, May 2, 2017

Ada saja beberapa teman yang menghendaki saya untuk menyudutkan, atau tepatnya memburuk-burukkan Indonesia, karena hasil pilkada Jakarta dan berbagai hiruk pikuk yang terkait dengannya. Teman-teman saya itu menginginkan saya untuk mempropagandakan jika Indonesia saat ini berada di jurang radikalisme, yang boleh saja akan berakhir tragis seperti Irak dan Suriah.

Imam Shamsi Ali
Propaganda tentang Indonesia krisis radikalisme saya dengar di mana-mana. Persis ketika saya berada di Indonesia mendengar di mana-mana jika Amerika itu adalah musuh utama Islam. Saya berkali-kali mendengarkan hal seperti itu di berbagai diskusi, bahkan diskusi yang layaknya cendekia seperti di think tank, universitas, dan kelompok cendekia lainnya.

Sejak zaman presiden Bush Jr, presiden yang memulai "so called war on terror" dengan menyerang Afghanistan lalu Irak. Presiden yang memporak porandakan negara lain karena nafsu perangnya. Saya sejak itu juga selalu membela Amerika sebagai negara toleran.

Gesekan-gesekan sosial yang terjadi itu adalah fenomena wajar dalam perjalanan sebuah bangsa. Bahkan saya pernah dicurigai oleh sebagian teman-teman Muslim jika saya punya kepentingan membela Amerika. Karena di mana saja di dunia ini saya ditanya tentang Amerika, saya tetap membela jika Amerika adalah negara yang toleran. Sempurnahkah? Tentu tidak!

Lalu apa alasan saya membela Amerika sebagai negaa toleran? Alasannya sederhana. Karena Amerika masih menjadikan hukum sebagai "acuan kehidupan publik".

Tapi apakah dengan itu tidak ada diskriminasi-diskriminasi terhadap minoritas? Jawabannya pasti banyak.
Lalu kenapa saya masih bersikukuh mempertahankan jika Amarika adalah negara toleran? Jawabannya karena kasus-kasus itu bukan representasi dari negara atau institusi kenegaraan. Pelakunya masih kemungkinan besar mendapatkan ganjarannya. 

Sebaliknya korban diskriminasi-diskriminasi itu masih merasakan pembelaan hukum.

Bahkan di saat diskiriminasi itu sekalipun datang dari Gedung Putih, saya belum mebgatakan Amerika itu anti Islam selama hukum masih berada di atas kepala presidennya. Itulah yang menjadikan beberapa kali executive order Donald Trump dibatalkan oleh Hakim Tinggi di Amerika. Artinya hukum masih hidup dan berfungsi seperti yang diharapkan.

Mungkin suatu ketika saya bisa berubah pandangan di saat hukum menjadi impoten alias tidak bisa tegak lagi. Kalau hukum sudah lumpuh maka baik penguasa maupun rakyat akan melakukan apa saja sesuai dorongan hawa nafsunya. Dan kalau ini terjadi di Amerika saya tidak akan ragu mendeklarasikannya sebagai negara yang diskriminatif dan anti Islam.

Toleransi Indonesia
Toleransi di Indonesia bukan barang baru. Indonesia dengan segala kekurangannya memiliki sejarah panjang toleransi. Memang diakui bahwa dalam perjalanannya sekali-sekali mengalami pasang surut, bahkan pada titik nadir yang terendah. 

Tapi jangan lupa,  toleransi itu tidak hanya diperlukan di saat mayoritas kuat. Beberapa kali juga justeru intoleransi terjadi di saat minoritas di atas angin. Ini bukan sesuatu yang memerlukan penjabaran karena memang itulah fakta sejarah panjang perjalanan bangsa ini, khususnya dalam dekade pertengahan orde baru.

Sebagaimana berulang-ulang disebutkan bahwa toleransi itu adalah "darah daging" bahkan "nafas" kehidupan Nusantara. Jika karena satu dan lain hal, terjadi sikap intoleran, maka itu bukan wajah Nusantara yang sejati. Itu adalah "deviasi" dari kehidupan Nusantara yang sesungguhnya.

Kenyataan bahwa hingga kini Indonesia masih utuh dalam kesatuan di tengah kebhinnekaan hampir dalam segala aspek kehidupan, menunjukkan bahwa tabiat  kebangsaan Indonesia ini memang mendukung itu. Salah satu tabiat yang mendukung penuh kesatuan itu adalah karakter toleransi yang tinggi.

Sejak awal perjuangan memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajah asing, termasuk Belanda, Portugis, dan Jepang, bangsa Indonesia berjuang, walau dengan semangat keberagamaan dengan pekik "Allahu Akbar" misalnya, namun kita kenal bahwa perjuangan mereka bukan untuk kepentingan kelompok. 

Bung Tomo dengan arek-arek Suroboyo, atau panglima Sudirman yang sangat taat beribadah, diangkut dari hutan ke hutan, menaruh hidup bukan untuk umat Islam semata. Tapi demi kemerdekaan bangsa dan negera Indonesia dari sabang sampai marauke dengan segala ragam manusianya.

Dalam persiapan membentuk institusi negara, yang kita tahu bersama sebagai bentuk negara Indonesia ke depan dan selamanya, tokoh-tokoh Islam juga mengedepankan toleransi dengan mengakomodir realita bangsa Indonesia yang ragam. Bahwa pada akhirnya lahirlah Pancasila dan UUD 45 menunjukkan toleransi tinggi dari bangsa Indonesia itu. Dan sejak itu pula bangsa Indonesia hidup dalam NKRI secara damai dan rukun.

Dalam perjalanannya pilar berbangsa dan bernegara itu tetap menjadi pijakan kehidupan masyarakat. Kehidupan berbangsa didasarkan kepada kedua pijakan itu (Pancasila dan UUD 45), dan diterjemahkan tentunya berdasarkan kepada pemahaman masing-masing kelompok dalam rumah Indonesia tanpa mengganggu, apalagi mencabut pilar yang telah disepakati bersama itu.

Komitmen terhadap pilar kebangsaan dan bernegara itu, walau dipahami berdasarkan ragam kelompok yang ada, itu sesungguh dimungkinkan oleh karakter toleran itu. Maka umat Islam bisa memahami sila Ketuhanan Yang Maha Esa dengan konsep tauhid agama Islam. Sebaliknya Pasal yang sama memungkinkan untuk dipahami berdasarkan konsep iman saudara-saudara sebangsa kita yang beragama lain.

Demikianlah perjalanan bangsa ini dari masa ke masa. Ada dinamika sosial yang terjadi. Hubungan horizonal kebangsaan mengalami pasang surut, kadang sangat harmoni dan kadang pula sebaliknya. Tidak jarang terjadi gesekan-gesekan, bahkan pada tingkatan yang cukup menegangkan.

Salah satu masa-masa yang menegangkan itu adalah ditahun 80-an di mana umat Islam mengalami represi yang cukup kuat. Secara ekonomi mereka dianak tirikan, secara sosial keagamaan juga mereka ditekan. Ada pelarangan berjilbab bagi wanita-wanita di sekolah umum. Bahkan ceramah para ustadz juga dimonitor oleh rezim orde baru. Dan bukan rahasia umum lagi bahwa kekuatan di balik dari kebijakan represi itu adalah kelompok tertentu.

Barulah kemudian di awal tahun 90-an umat kembali mendapat angin segar. Dimulai dari berdirinya ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) di bawah kepemimpinan Prof. Dr. BJ Habibie, mulai tumbuh dedaunan menyambut semi kebangkitan umat Islam. Istilah penghijauan pun menjadi trend saat itu.

Singkat kata, berbicara tentang toleransi di Indonesia bukan barang baru. Tapi darah perjalanan sejarah bangsa dan sekaligus nafas kehidupannya. Yang terjadi adalah kadang karena udara, atau karena faktor lainnya, darah itu menjadi kotor dan nafas menjadi terganggu. 

Tapi apapun itu, Indonesia hidup karena karakternya yang toleran. Dan ini harus menjadi harga mati. Bahwa toleransi bag Indonesia adalah kehidupan dan karenanya mutlak dipertahankan untuk menjaga hidup Indonesia itu sendiri.

Masalahnya kemudian, dan semoga saya salah, ketika toleransi dipahami sebagai landasan kepentingan tertentu. Ketika sebuah aksi atau reaksi terjadi dan menguntungkan kelompok kita, kita bangga dan di mana-mana berkoar dengan kebanggaan itu. Tapi di saat ada aksi atau reaksi itu dianggap kurang menguntungkan kelompok kita maka bangsa dan negara ini tidak tanggung-tanggung dan enteng kita rusak, minimal merusak nama baiknya di dunia internasional.

Tidak jarang pula ketika kelompok kita melakukan tindakan anarkis dan separatis, walau itu jelas merusak tatanan NKRI, kita diam seribu bahasa. Dan di saat pemerintah Indonesia melakukan reaksi demi menjaga NKRI, tidak sungkan-sungkan pula kita promosikan Indonesia sebagai negara pelanggar HAM.

Di sinilah saya yang selama ini berusaha membangun hubungan dan dialog dengan semua orang, bahkan dengan kelompok yang sebagian umat Islam dianggap musuh abadi, saya menjadi curiga. Jangan-jangan kata toleransi itu memang hanya dimaksudkan untuk kelompok tertentu? Wallahu a'lam!

Imam Shamsi Ali*
* Presiden Nusantara Foundation.

Wednesday, March 29, 2017

Suasana sedikit berbeda di lingkungan Istana (Istana Merdeka dan Istana Negara), Rabu 29 Maret 2017. Pemerintah sedang ada gawean menerima tamu kenegaraan Presiden Prancis Francois Hollande. Namun memang sedikit lebih ketat dibandingkan sebelum-sebelumnya. Entah pertimbangannya apa.

Kunjungan kepala negara ke Istana Merdeka, sudah pasti imbasnya adalah kemacetan. Sebab, akses jalan menuju Medan Merdeka Utara dan sekitarnya, atau tepat di depan Istana Merdeka, ditutup.

Ternyata, yang kena imbas dari penutupan akses jalan itu adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti. Ia terlambat bahkan hampir 30 menit.

Sekitar pukul 11.22 WIB, sebuah motor patwal kepolisian merapat ke pintu belakang Istana. Tempat ini biasanya menjadi jalur utama para tamu yang ingin ke Kantor Presiden atau Istana Merdeka, termasuk para menteri dan pejabat lainnya.

Dengan laju kencang, motor itu merapat. Namun terhalang pintu pagar yang ditutup pada bagian tengahnya. Dari dalam, sejumlah jurnalis belum diizinkan masuk karena ada sterilisasi di bagian dalam kompleks Istana, sempat dikagetkan.

Canda seorang jurnalis ke salah satu anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), "Ndan, suruh masuk aja sekalian itu motor,". Beberapa detik kemudian, masuk sesosok perempuan yang tidak asing lagi. Ya, Bu Susi Menteri KKP, dengan tergesa-gesa berjalan menuju pintu x-ray.

Menteri Susi terburu-buru karena telat

Menteri Susi akhirnya turun lagi dari golf car karena area dalam Istana harus steril
Blezzer hitam yang ia bawa, dipakainya sambil berjalan. Para wartawan yang melihat itu, tentu tidak ingin kehilangan momentum telatnya si menteri yang dikenal punya banyak tato di tubuhnya, berlalu begitu saja.

Pertanyaan demi pertanyaan seperti kenapa telat, dan dimana kena macet, dilayangkan. Sambil tergesa-gesa menuju golf car yang biasa mengantar para tamu pejabat ke dalam Istana Merdeka, Susi mengatakan terjebak macet di dekat Istana. Tepatnya dimana, tidak dijelaskan karena terburu-buru itu.

Duduk di golf car, ternyata Susi tidak diperkenankan masuk menggunakan kendaraan itu. Mengingat areal dalam sedang sterilisasi. Dia dan seorang staf perempuan, akhirnya jalan kaki menuju Istana Merdeka, tempat bilateral metting berlangsung.

Saat join statement Presiden Jokowi dan Presiden Hollande, Susi sudah di dalam. Ia berdiri di deretan para menteri, tepat di sebelah Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.



Sunday, February 26, 2017

Senin 27 Februari 2017 pagi, Kota Bandung dihebohkan aksi bom oleh seseorang. Sekitar pukul 08.00 WIB pelaku meledakkan bom di Taman Pandawa, Kota Bandung.

Di taman itu, banyak pelajar SMA. Aksi pelaku itu, kemudian mendapat perhatian siswa tersebut hingga dilempari. Pelaku berlari menuju Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo. Jaraknya hanya sekitar 200 meter dari taman tempat ia meledakkan bom itu.

Pelaku yang menggunakan ransel dan bersenjata tajam, masuk ke kantor kelurahan. Setelah kepolisian dari Mapolda Jawa Barat datang, kantor kelurahan itu dikepung. Lebih dua jam, upaya aparat kepolisian melumpuhkan pelaku, hingga berhasil.


 Namun, di tengah-tengah aksi itu beberapa nitizen nampaknya salah fokus. Ya, bukan soal aksi polisi melumpukan pelaku saja. Tapi aksi polisi yang lain.

Seorang polisi wanita atau polwan, dengan paras yang cantik, tertangkap kamera. Polwan cantik itu, berkulit putih. Rambutnya hanya sebahu. Masker menempel di bawah mulutnya.


Di tengah riuh aparat maupun warga yang masih berada di sekitar lokasi, sang polwan cantik itu juga terlihat sibuk. Sebuah camera foto terselip di lehernya. Sesekali, ia juga asyik memainkan smartphone miliknya.

Belakangan diketahui, polwan cantik itu bernama Bribda Ismi Aisyah, dari Humas Polda Jawa Barat.

Sunday, February 19, 2017

Sehari jelang pilkada serentak 15 Februari 2017, tentu menjadi momentum bagi media untuk mengulas dalam-dalam soal pemilihan kepala daerah yang digelar sekali dalam lima tahun.

Tentu kami sebagai wartawan Istana Kepresidenan, yang sehari-hari meliput aktivitas dan melakukan wawancara dengan orang nomor satu di Indonesia itu, statemen dari Presiden menjadi sangat penting.

Jokowi memberi keterangan pers di gudang Bulog, Sunter (Foto: Biro Pers Istana)

Selasa 14 Oktober 2017, agenda Presiden Joko Widodo adalah melepas lima ribu matrik ton beras ke Sri Lanka. Bantuan itu, dalam rangka kemanusiaan. Presiden memutuskan memberi bantuan itu, setelah menerima permintaan langsung dari Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena.

Dua komuter -- mobil yang disiapkan Biro Pers Istana -- sudah siap menunggu kami, rombongan wartawan, yang ingin menuju lokasi acara. Letaknya, ada di pergudangan Bulog di kawasan Sunter Jakarta Utara. Pukul 07.00 WIB pagi, dijadwalkan komuter ini sudah berangkat.

Tentu, wartawan yang rumahnya jauh seperti saya di Depok, harus bertolak dari rumah pagi-pagi buta. Saat itu, saya memilih berangkat sebelum Sholat Subuh, sekitar pukul 04.30 WIB sudah berada di kereta KRL dari Stasiun Citayam.

Beruntung, mengingat sepanjang jalan hujan turun dengan derasnya. Hingga tiba di Stasiun Manggarai, menyempatkan sholat subuh dan menunggu hujan reda. Pukul 06.30 WIB saya sudah tiba di bioskop Istana. Bioskop adalah sebutan untuk pressroom. Karena dulu, ruangan yang kini digunakan untuk pers itu, adalah tempat Presiden Soeharto menonton.

Sebenarnya sedikit lelah harus berangkat sepagi ini. Cuaca juga tidak mendukung, sedikit kurang enak badan. Namun momentumnya tepat. Karena, sejak Jokowi jadi Presiden, kami bisa wawancara langsung dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar banyak hal kepada Presiden. Hal yang tidak pernah kami dapatkan sebelumnya.

Momentup pilkada serentak 2017 yang digelar di 101 wilayah, bukan sekedar masalah pilkada. Karena ini kedua kalinya serentak, setelah Desember 2015 lalu. Namun di balik itu, karena DKI Jakarta juga melakukan pilkada serentak.

Ya, ini masalah Jokowi, Basuki Tjahja Purnama (Ahok), Agus Harimurti Yudhoyono maupun Anies Baswedan. Kenapa dengan orang-orang itu?

Tentu semua orang tahu bagaimana kedekatan Jokowi dengan Ahok. Ahok adalah pasangan Jokowi di pilkada DKI 2012, mengalahkan petahana Fauzi Bowo. Ahok menjadi gubernur DKI setelah Jokowi menjadi Presiden RI 2014-2019. Dan Ahok dilantik di Istana oleh Jokowi, pada 19 November 2017.

Anies Baswedan, juga punya kedekatan dengan Jokowi. Mantan Rektor Universitas Paramadina itu adalah juru bicara Jokowi-Jusuf Kalla pada pilpres 2014. Banyak yang menilai, Jokowi menang juga karena faktor Anies yang saat itu juga digandrungi sebagai pemimpin muda yang prospektif.

Tentu elektabilitas Anies dianggap memperkuat elektabilitas Jokowi. Selain kecakapan Anies saat menjadi juru bicara. Hingga Anies menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, walau pada akhir April 2016, direshuffle dan digantikan oleh Muhadjir Effendy.

Agus Harimurti Yudhoyono, adalah orang baru. Pensiun muda dari TNI. Tidak ada kedekatan Agus dengan Jokowi. Namun yang menarik, sosok di balik Agus, yakni Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-6 RI selama dua periode.

Kehadiran Agus dikancah pilkada DKI, dianggap upaya mengembalikan generasi Cikeas (SBY) di kancah politik. SBY dan Jokowi tidak bermusuhan, namun dalam hal politik, tentu tetap menjadi rival selain Prabowo Subianto.

Maka banyak yang melihat, pilkada DKI adalah rasa pilpres. Pilkada 2017 di DKI, disebut sebagai pemanasan untuk pilpres 2019. Tentu tidak salah, karena sudah ada presedennya, yurisprudensinya kalau bahasa hukumnya, itu sudah ada.

Kembali ke laptop (gaya Tukul di bukan 4 mata, hehehe)... Usai melepas puluhan kontainer untuk mengangkut beras kiriman ke Sri Lanka, Jokowi sempat menengok stok beras di gudang Bulog.

"Ada dorstop kan pak," tanya kami para wartawan, kepada Biro Pers.

Jokowi Didampingi Meneg BUMN Rini Soemarno, Menko PMK Puan Maharani. Membelakangi, wartawan mewawancarai Menlu Retno Marsudi. (Foto: Biro Pers Istana)

Pihak Biro Pers memastikan ada. Sehingga kami bersiap. Awalnya, disiapkan tempat di depan. Namun berubah, di dalam area gudang. Rebutan posisi, sudah menjadi kewajaran bagi kami. Sehingga gaduh dan riuh kami, adalah santapan sehari-hari.

Pasukan Pengamanan Presiden alias Paspampres, sudah faham dengan itu. Dan kami sudah terbiasa juga kala Paspampres mengatur kami. Ya kadang-kadang terjadi salah paham, maklum dalam koridor menjalankan tugas masing-masing.

Saya mengambil posisi di barisan depan, setelah mewawancarai Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengenai bantuan ini. Rutinitas biasanya, Kabiro Pak Bey, akan menghadap Jokowi untuk memberi tahu seputar apa saja pertanyaan wartawan, sebelum sesi dorstop dilakukan. Saat itu, Pak Jokowi sedang berdiskusi ringan dengan Menko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri BUMN Rini Soemarno, Seskab Pramono Anung, Kepala Staf Presiden Teten Masduki.

Namun kali ini sikap tak lazim Pak Jokowi terlihat. Pak Bey yang ada di sebelah saya, dan baru melangkah meuju ke arah Presiden, tiba-tiba dengan tangannya mengisyaratkan menolak diwawancara. Ia seakan tahu Pak Bey hendak menghampirinya untuk memberi tahu materi dorstop.

Tangan Jokowi langsung mengisyaratkan tidak ingin diwawancarai. Belum juga Pak Bey ke Jokowi, sudah langsung ditolak dari jarak jauh. Bagi saya, ini sikap tak lazim dari Pak Jokowi. Melihat tanda penolakan itu, Pak Bey berbelok menuju ke lokasi puluhan wartawan yang sudah siap.

"Nggak ada wawancara," kata Pak Bey disambut kekecewaan.

"Soal ini (bantuan kemanusiaan) saja pak," kta seorang wartawan beralasan. Ya, dengan alasan itu kami berharap Jokowi mau didorstop. Dan memang beliau akhirnya bersedia.

Pertanyaan pertama, tentu soal bantuan ini. Pak Jokowi menjelaskan dengan rinci. Namun pertanyaan kedua, diselipkan soal pilkada. Ya berusaha agar Jokowi berbicara pada H-1 pilkada serentak ini.

"Udah soal ini saja," elak Jokowi tersenyum.

Setelah itu, Jokowi kembali menjelaskan masalah bantuan pangan, dan termasuk program lainnya. Hingga berakhir, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Presiden mengenai pilkada serentak.

Jokowi menghindar dari pilkada. Apa karena Pak Jokowi selalu dikait-kaitkan dengan dukungan pada salah satu calon? Entahlah, hanya Pak Jokowi dan Tuhan yang tahu. Wallahualam

Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler