Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Friday, December 2, 2016

Banyak hal-hal menarik dan unik, di balik aksi super damai Bela Islam III, Jumat 2 Desember 2016 pagi hingga siang tadi, di Monumen Nasional (Monas).

Mulai dari hal-hal yang unik, di luar kebiasaan, hingga suatu yang menakjubkan yang mungkin hampir tidak pernah terjadi di era modern.

1. People of Power yang Super Damai
Sejumlah media menyebut, massa Aksi Bela Islam III yang menuntut tersangka dugaan penistaan agama, Basuki Tjahja Purnama ditangkap, berjumlah ratusan ribu. Angka 250 ribu hingga 300 ribu disebutkan. Tapi saya lebih percaya, massa itu melebihi aksi 4 November atau 411, jutaan umat.

Berbagai foto diambil, terutama dari sisi atas, memperlihatkan kalau di dalam Monas saja sudah tidak tertampungi. Hingga meluber ke jalan Thamrin.

Berkaca people power di Filipina yang melengserkan kursi Ferdinan Markos, atau Reformasi di Indonesia pada 1997-1998, pengerahan massa dalam jumlah besar cenderung mengarah ke pergantian rezim. Tapi, aksi 411 dan 212, jelas jauh dari itu. Sesuai namanya, Aksi Super Damai!
Massa Aksi Bela Islam III dilihat dari atas

Di Jalan Thamrin dari atas

2. Sholat Menggunakan Sepatu
Untuk di Indonesia, sholat biasa dilakukan di masjid atau hamparan lapangan luas. Di masjid, tentu tidak boleh mengenakan sepatu atau alas kaki lainnya.

Sementara di hamparan lapangan, alas kaki sejatinya tetap harus dilepas dan disimpan di sebelah kiri atau kanan. Tak jarang juga diselipkan di depan.

Namun dalam Aksi Bela Islam III, beberapa terpaksa sholat dengan tidak melepas sepatu. Beberapa jurnalis Istana, yang mengikuti Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla sholat berjemaah di Monas, sholat tanpa melepas sepatu. Itu dilakukan, karena dalam kondisi hujan.

Sholat tanpa melepas sepatu. Foto mbak Nita 

3. Cara Unik Lindungi Anak Dari Hujan
Jelang puncak sholat Jumat, dalam Aksi Bela Islam III yang super damai itu, hujan deras mengguyur kawasan Monas, lokasi aksi.

Hingga sholat dilakukan, hujan terus mengguyur. Tapi jutaan jemaah yang sudah hadir sejak pagi, tidak bergeser untuk berteduh.

Diantara jutaan jemaah itu, ada diantaranya anak-anak yang tentu mengikuti orangtua mereka. Tanpa mempersiapkan akan terjadi hujan sehingga tidak menyediakan payung, tapi banyak cara melindungi si buah hati ini agar tidak terkena hujan.

Salah satunya dengan cara ini. Bantal dijadikan tempat berteduh si kecil. Orangtua hebat!
Seorang bapak melindungi dua buah hatinya dari hujan yang mengguyur kawasan Monas
Foto bang Chaidir Rahman.

4. Peras Sajadah
Lazimnya, sepulang sholat jumat, sajadah juga berfungsi ganda. Setelah digunakan sebagai alas ketika sholat, biasanya juga digunakan untuk melindungi kepala dari panas atau hujan.

Tapi di Aksi Bela Islam III yang super damai ini, sajadah sudah seperti direndam. Sehingga usai sholat, bukan dijadikan alas kepala untuk melindungi dari terik atau hujan, tapi diperas biar kering.
Sajadah basah, harus diperas. Foto Bang Chaidir
5. Rumput dan Taman Terjaga
Pada Aksi Bela Islam I di depan Balaikota, persoalan taman menjadi sorotan. Sebab, ada beberapa tanaman yang rusak dan harus diganti setelah aksi itu.

Beberapa media menyorotnya. Ada sebagian pihak menyesalkan. Namun ada juga yang menganggap media terlalu over dengan hanya mengangkat taman rusak, bukan substansi soal penistaan agama.

Namun pada Aksi Bela Islam II pada 4 November atau 411, masalah injak rumput dan taman, menjadi ramai. Hasilnya, massa 411 tidak menginjak taman dan bahkan menjaga kebersihan dengan baik.

Begitu juga saat aksi 212, Jumat 2 Desember ini. Menginjak taman menjadi topik hangat yang harus dijaga. Patut disyukuri, karena aksi massa selama ini diidentikkan dengan kerusakan fasilitas. Namun dua kali aksi umat yakni 411 dan 212, itu terpatahkan.



Monday, November 28, 2016

Jakarta - Presiden Joko Widodo, kembali melakukan konsolidasi politik. Giliran Ketum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar, yang diundang ke Istana Merdeka Jakarta.

Cak Imin, begitu biasa Muhaimin dipanggil, masuk ke Istana Merdeka sekitar pukul 12.54 WIB. Langsung disambut Presiden Jokowi, dan mengajaknya ke dalam, ruang makan siang Selasa 29 November 2016 siang ini.


Presiden Jokowi dan Ketum PKB MMuhaimin Iskandar (foto doc pribadi)

Keduanya terlihat akrab. Semenjak di depan, baik Jokowi dan Muhaimin sempat berkelakar, entah apa yang dibicarakan. Di dalam, saat sejumlah media mengabadikan jamuan makan itu, Jokowi san Muhaimin juga sempat bercanda dengan wartawan sembari mengambil hidangan di meja yang telah disediakan.

Presiden Jokowi dan Ketum PKB Muhaimin Iskandar makan siang di Istana Merdeka (doc pribadi)

Cara seperti ini, juga sudah dilakukan terhadap Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketum PDIP yang juga Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri, dan Ketum Partai Nasdem Surya Paloh.

Sunday, November 27, 2016

Tuban, Jatim - Rekor dunia penanaman pohon serentak, akan tercipta di Kabupaten Tuban Jawa Timur, Senin 28 November 2016. Presiden Jokowi akan membukanya.
Lahan penanaman pohon di Tuban Jawa Timur

Pencapaian ini, sekaligus dalam peringatan 9 tahun Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI), yang dipusatkan di Tuban.

Berdasarkan Keputusan Presiden RI Bo.24 tahun 2008 ditetapkan tanggal 28 November sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Desember sebagai Bulan Menanam Nasional (BMN).

Adapun tema peringatan ke-9 ini adalah "Pohon dan Hutan Rakyat, untuk Kehidupan, Kesejahteraan, dan Sumber Devisa Negara".

Penanaman sebanyak 250.000 batang tanaman. Perum Perhutani menanam 12 ribu batang dengan jenis bibit jati pada lahannya seluas 18,2 hektare.

Penanaman serentak ditanam 238.000 bibit pohon dengan jenis tanaman seperti jati dan kaliandra oleh petani yang bekerjasama dengan Koperasi Produsen Anugerah Bumi Hijau atau Koprabuh seluas 23 hektare.

"Penanaman serentak ini juga dimaksudkan sebagai ajang pemecahan rekor dunia sebagai penanaman pohon serentak pada satu lokasi dengan jumlah penanaman pohon terbanyak dan tercatat dalam Guinness Book of World Record,".

Nantinya juga akan ada penganugerahan dan pencatatan Rekor Dunia kepada Koprabuh oleh Tim Penilai Guinness Book World, serta penyerahan penghargaan kepada Gubernur, Bupati dan Walikota sebagai pemenang lomba penanaman dan pemeliharaan pohon tahun 2015 dan penyerahan bantuan oleh Presiden Jokowi. (Mbojo)


Thursday, November 24, 2016


Pagi ini, 25 November, bagi saya penuh kejutan. Pertama, turun dari Stasiun Juanda dan berjalan menuju Istana, tiba-tiba melihat puluhan polisi sudah standby, lengkap dengan tameng mereka. Jadi demo 2511 kah? Bukannya aksi 212? (2 Desember).

Ah, tapi bukan itu yang dibahas. Membuka medsos, tiba-tiba banyak ucapan selamat Hari Guru, dengan berbagai kalimat yang manis dan penuh falsafah.

Sedikit bercerita tentang guru, di keluarga hingga tradisi masyarakat Bima (dou Mbojo). Dari garis bapak, hampir semua berprofesi sebagai guru. Kalau tidak guru, ya petani. Sementara dari garis ibu, lebih bhineka. Ada yang guru, petani, swasta hingga pengacara.

Tetapi, bapak dan ibu adalah seorang guru. Sehingga saya dan kedua adik saya, dibesarkan dalam lingkungan guru. Makanya, sebenarnya orangtua terutama Ibu, saat akan selesai SMA sangat berharap saya menjadi guru.
Keluarga guru, semakin diperkuat dengan lingkungan yang menjunjung tinggi guru. Pelajaran berharga yang saya dapat saat di Bima (tepatnya Desa Dena Kecamatan Madapangga), bagaimana falsafah guru itu luar biasa penghargaannya dan dijunjung sangat tinggi.

Ada falsafah begini "Dahulu nemba guru kemudian nemba ruma" yang terjemahan langsungnya, "Lebih dulu menyembah guru baru menyembah Tuhan". Tentu menyembah di sini bukan bermakna seperti menyembah dalam sholat atau keyakinan keberagamaan.

Tetapi, guru menjadi pionir bagi masyarakat, guru menjadi pintu bagi setiap orang untuk mengenal dan memahami Tuhan, Allah SWT. Falsafah itu wajib kami ucapkan usai belajar mengaji, di kampung kala itu.

Penghargaan terhadap guru, juga terlihat dari struktur sosial masyarakatnya. Dalam istilah Ilmu Komunikasi, ada yang namanya pemimpin opini. Dalam pemahaman klasik, untuk merangkul suara mayoritas di suatu masyarakat, rangkul lah pemimpin opininya. Dengan begitu, ia akan mendapat dukungan banyak. Ini masih sering digunakan di beberapa tempat, termasuk dalam hal pemilu.

Pemimpin opini ini biasanya yang dianggap memiliki kharisma tinggi. Sehingga ujarannya, maklumatnya, hingga petuahnya, didengar. Ia bahkan sering menjadi pemutus akhir dalam sebuah perselisihan di wilayahnya tersebut.

Begitu juga dengan struktur masyarakat di Bima, terutama di kampung saya. Walau tidak semua guru bisa menjadi pemimpin opini, namun yang menjadi pemimpin opini sudah pasti adalah guru. Sementara pemuka masyarakat/agama disematkan kepada para alim ulama.

Guru di kampung kami, termasuk memiliki strata sosial yang tinggi. Walau untuk bicara soal penghasilan, jaraknya langit dan bumi. Ia diberi strata sosial yang tinggi, tapi penghasilan yang minim, begitu maksudnya.

Maka ketika kami kecil, tak jarang banyak guru yang berhalangan atau tidak efektif memberi pengajaran karena musim panen atau tanam. Biasanya, terutama saat SD, sepulang sekolah kami diminta membantu guru di sawah, walau saya sendiri jarang ikut hehehehe...

Sehingga, guru bukan menjadi profesi tunggal untuk mencari nafkah agar asap di dapur tetap ngepul. Bahkan bisa dibilang, waktu mereka habis untuk di sawah daripada mempersiapkan materi untuk mengajar.

Untuk itu juga, ketika itu saya enggan memilih ikut kemauan orangtua untuk menjadi guru. Pikirku, sudah gaji kecil, peluang kecil (kalau jadi guru di kampung), masa seketurunan menjadi guru?!. Walau akhirnya, sempat juga memberi pengajaran soal jurnalistik di sekolah kejuruan Muhammadiyah di Malang, jelang-jelang akhir kuliah, meski hanya sebentar.

Tentu karakter guru di setiap wilayah, akan berbeda. Apalagi membandingkan antara kota dan desa. Guru di kota, skill atau keahlian adalah utama. Sementara di desa, seorang guru harus bisa menjadi kharisma.

Guru di desa bukan sekedar mengajar ilmu sebagai syarat naik tingkat. Tetapi, juga mengajarkan tentang etika, perilaku, dan nilai-nilai keluhuran yang kental.
Teringat saat SMP. Ada seorang guru matematika, namanya Pak Abdul Wahab (Semoga beliau selalu dalam lindungan Allah SWT). Beliau guru senior, dengan janggut putih khasnya. Ketika kami jenuh dengan pelajaran matematika, ilmu-ilmu agama dan etika beliau ajarkan ke kami. Itu di luar tupoksi Pak Wahab. Tetapi, itulah guru, menginginkan anak didiknya tidak sekedar pintar ilmu, tapi baik akhlaknya, baik budipekertinya.

Ada lagi seorang guru kami ketika SMP, bernama Pak Khalik, kami memanggilnya Pak Helo (kalau di Bima nama seperti Said dipanggil Seo, Yunus dipanggil Yanu atau Neo, dll).

Sosok Pak Helo ini terkenal keras, terkadang main fisik. Tentu dengan alasan yang kuat kenapa harus fisik.

Pernah suatu kali, kami sedikit gaduh saat beliau sedang introgasi beberapa rekan mengenai materi yang pernah ia ajarkan. Ada enam murid kena tampar beliau, termasuk saya dan seorang teman yang sebenarnya tidak ikut dalam kegaduhan itu tetapi karena bangku di depan dan belakang yang gaduh, akhirnya kena imbasnya.

Tamparan beliau termasuk adil, merata. Tidak hanya laki-laki, tapi perempuan juga pernah kena tampar. Apalagi kalau sudah berbuat onar, tamparan beliau pasti akan melayang ke siapapun dia.

Tidak ada yang protes, apalagi melapor ke polisi. Karena bagi kami, guru adalah orang yang wajib dihormati. Mereka tidak hanya memberi ilmu, tapi memberi pelajaran hidup, dalam sisi-sisi tertentu ada tauladan dari mereka yang mungkin tidak bisa mereka ucapkan tapi ingin mereka tunjukkan.

Karena didikan keras Pak Helo, kami menjadi giat belajar kalau akan masuk materi beliau. Bagi saya, itulah guru. Guru bukan sekedar pemberi ilmu, tapi juga pemberi tauladan hidup, untuk kita meniti kehidupan yang lebih kompleks ke depannya.

Saya tidak bisa membuat kata mutiara menggambarkan Hari Guru. Karena mereka tidak butuh itu. Hargai mereka, makmurkan mereka, dan tinggikan martabat mereka, itu sudah!!!!

Fastabiqul khairat

Saturday, November 12, 2016

Seiring dengan pernyataan Buya Syafi'i terkait dengan Ahok, sudah cukup banyak yang menulis sisi pemikiran Buya Syafi'i dan cenderung arogan dan tanpa sopan santun.

Saya hanya coba melihat sisi lain yang melekat pada Buya Syafi'i: Kesederhanaan.
Ma'mun Murod Al-Barbasy

Sengaja saya tak masuk pada wilayah pemikiran politik keagamaan Buya. Sederhana saja, dalam hal pemikiran saya sering tak sependapat dengan Buya Syafi'i, terutama dalam konteks relasi Islam dan negara. Positioning pemikiran Buya Syafi'i adalah "tengah-sekular", untuk menyebut pemikiran yang wasathiyah tapi cenderung ke arah sekular.

Sementara saya mencoba memposisikan diri pada posisi "tengah-formalis", untuk menyebut pemikiran wasathiyah tapi berharap ada aturan-aturan formal keagamaan. Karena negara Pancasila sejatinya tidak dan tak boleh menafikan nilai-nilai agama. Wong Sila Pertamanya saja Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.

Dalam konteks kasus Ahok misalnya jelas saya berbeda pendapat dengan Buya Syafi'i. Buya menyebut tak ada penistaan, tapi saya tegas menyatakan ada unsur yang cukup kuat bahwa Ahok menista Al-Qur'an dan para ulama.

Saya sangat dan sangat menghargai pemikiran Buya sebagaimana saya menghargai pemikiran Gus Dur. Dan saya sangat yakin pula itu semata pemikiran Buya. Tak ada unsur "pesanan" dan apalagi "pelacuran" diri Buya untuk sekedar mendapatkan pundi-pundi materi, sebagaimana dituduhkan beberapa orang di medsos.

Buya bukan tipe agamawan yang suka "jualan" agama untuk kepentingan pribadi. Tak ada dalam rumus hidup Buya kelakuan yang menjijikan itu.

Bandingkan dengan tokoh agamawan lain yang karena jabatan keagamaan yang melekat pada dirinya bisa mendatangkan banyak kemewahan duniawi, dengan mobil yang berjejer dan rumah yang megah. Insya Allah Buya bukan tipe agamawan yang punya penyakit WAHN.

Buya orang yang sangat sederhana dan berintegritas tinggi.
Kesederhanaan Buya inilah yang saat ini hilang di lingkup sebagian elit agamawan dan terlebih lagi di lingkup elit politik.

Terlalu banyak agamawan kita yang sepertinya tanpa malu mempertontonkan kemewahan duniawi, tampilan yang tentu cukup kontras dengan apa yang kerap dipidatokan, diceramahkan, ditausiyahkan, yang kerap tanpa malu bercerita soal kesederhanaan Rasul Muhammad saw, cerita betapa kayanya seorang Utsman bin Affan tapi ketika menjabat sebagai Khalifah untuk sekadar makan pun diambilkan dari bait al-maal, karena hartanya habis untuk kepentingan dakwah Islam, tapi tak bisa meneladaninya.

Buya berbeda dalam hal kesederhanaan dengan kebanyakan agamawan lainnya. Sebagai mantan Ketua PP Muhammadiyah, Buya tak malu naik bajaj sambil memakai tas rangsel di lengannya.

Buya tak gengsi naik Mobil Xenia, Buya tak malu memakai baju seharga di bawah Rp100 ribu. Baju Buya bukan produk tailor yang biasa jadi langganan para menteri dan anggota DPR.

Kesederhanaan inilah yang hilang dari bangsa ini. Coba perhatikan polah dari kebanyakan para politisi kita yang penampilannya jauh dari kesan sederhana. Politisi-politisi yang dulunya aktivis (Islam) pun nggak jauh beda.

Bahkan kadang tampilannya lebih norak. Bagaimana tidak norak, biasa hidup miskin, tidurnya di kantor organisasi, makan dari para seniornya, lalu berubah kaya, kan biasanya noraknya keliatan.

Anda semua boleh berbeda pemikiran dengan Buya dan itu sah dan lazim saja, sebagaimana sah dan lazimnya perbedaan pemikiran yang terjadi jelang kemerdekaan.

Namun dalam hal kesederhanaan, Buya layak jadi uswah bagi siapapun, bagi kita semua, terutama uswah buat para agamawan dan politisi kita.


*Ma'mun Murod Al-Barbasy adalah Wakil Dekan FISIP UMJ Bidang Kemahasiswaan, aktivis muda Muhammadiyah.
(opini pribadi penulis, disadur dari laman facebook)

Tuesday, November 8, 2016

Kopi dan aktvis, dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Bukan hanya saat bersantai, bahkan saat serius menekuni profesi keaktivisannya, kopi akan selalu menemani.

Maka setiap hendak melakukan konsolidasi, koordinasi, rapat di luar, atau apalah namanya hingga sekedar nongkrong, kalimat yang biasanya pasti disebut adalah "Ayo ngopi diluar (menunjuk tempat)".

Semenjak aktif dalam keaktivisan di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Malang, kopi memang menjadi bagian penting. Seperti saat kami menghadapi sebuah persoalan rumit, untuk membahasnya kadang tidak dilakukan di komisariat tapi di tempat ngopi. Termasuk curhat. Bahkan, saya sempat disidang di warung kopi menyangkut suatu masalah (hahahaha colek yang ngerasa).

Hampir setiap konsolidasi yang dilakukan Renaissance di luar komisariat, kopi tetap harus ada. Selain rokok bagi 'ahli hisab' tentunya.

Walau menikmati kopi di warung kopi memang asyik, tapi tahukah immawan/immawati sekalian bahwa pernah ada sesosok immawan yang memiliki keahlian di bidang racik meracik kopi.

Kalau kopi sachet, tinggal tuang air panas. Hampir tidak ada seni meraciknya. Tapi ini kopi hitam, yang bubuk dan gulanya terpisah sehingga harus bersinergi untuk menghasilkan aroma dan rasa yang tentu ciamik. Istilahnya kopi banget gitu lhooo...

Tidak semua orang bisa meracik bubuk kopi hitam dan gula dengan baik. Terkadang, bubuk kopinya terlalu banyak sehingga pahit. Bahkan bukan pahit kopi lagi yang terasa.

Ada juga, yang bubuk kopinya terlalu sedikit, sementara gulanya banyak. Jadinya, air gula berwarna hitam karena tidak ada rasa kopinya.

Di Renaissance (menyebut komisariat IMM Renaissance FISIP UMM), ada sosok immawan bernama Supriono. Namanya Jawa banget. Tapi sebenarnya, dia sangat fasih bahasa Madura. Mungkin karena ia berasal dari Jember.

Supriono alias Bobi alias Sueb alias Supri yang celana merah dan topi (Dok: IMM Renaissance FISIP UMM)
Sedikit memperkenalkan sosok Supriono ini. Ia seangkatan dengan saya, masuk UMM tahun 2003 dan DAD (Darul Arqom Dasar) tahun yang sama. Bedanya, dia langsung aktif di komisariat sejak itu, sementara saya sempat satu tahun vakum dan tidak aktif di Renaissance.

Sebagai kader baru, penampilannya sudah memperlihatkan kalau ia sangat humoris. Rambutnya sedikit panjang, tapi dipaksa lurus dengan direbonding. Hingga akhirnya rambutnya dipotong pendek, dan nampaklah kebotakannya. Rambut rebonding panjang hanya modus dia menutupi kebotakannya itu.

Sampai Supriono ini sempat menjadi Ketua KPRF (Komisi Pemilu Raya Fakultas) FISIP. Seorang anggota KPRF kala itu, asal Papua bernama Tobias, bahkan selalu terpingkal-pingkal kalau sudah mendengar Supriono ini ngelawak.

Supriono alias Bobi alias Sueb alias Supri, duduk paling depan. Foto usai Musykom yang mengukuhkan Joko Pitoyo Ketum IMM Renaissance
periode 2005-2006.
Immawan Supriono ini, punya banyak nama samaran. Supriono lebih sering dipanggil bobi atau sueb atau supri dan beberapa nama lain yang saya sendiri lupa.

Satu lagi yang teringat, immawan ini termasuk yang gaptek. Baik soal mengetik, hingga soal internet. Yang ia paham hanya main FM (Football Manager). Pernah satu kali, bersama saya mencari bahan untuk skripsi di warnet daerah Jetis lebih dari satu jam. Saya sudah penuh flasdish, sementara dia untuk membuka google saja tidak bisa.

"Terus lebih dari sejam kamu ngapain aja Eb (Sueb)?" tanyaku

"Nonton," jawab seenaknya sembari ikut keluar. Praktis, tidak ada bahan yang ia dapatkan selain hanya menonton.

Tapi itu tadi, kelebihan dia adalah Supriono alias Sueb alias Bobi ini, adalah seorang peracik kopi hitam yang handal, yang pernah dimiliki IMM Renaissance FISIP UMM.

Kami termasuk Supriono alias Bobi alias Sueb alias Supri dan beberapa teman, sempat numpang hidup di kontrakan Immawan Zul Fadly dan Fahd Hamka, di Sengkaling. Sebagai 'penumpang gelap', menyajikan kopi di pagi hari adalah salah satu cara Supriono alias Bobi alias Sueb alias Supri, untuk menjamu siempunya kontrakan.

Agenda outbond IMM Cabang Malang, IMM Renaissance FISIP kompak mengenakan seragam bola.
Kiri-Kanan: Revo, Mujib, Supriono, Joko Pitoyo, Melki Siregar, Rudi Handoko, Farida, (Alm) Rustam
Depan: Ajeng Galih, Cucuk Ida Puspita, Junaidin
Pihak rumah, tinggal menyediakan bubuk kopi dan gula. Kadang, beberapa bubuk kopi Aceh juga sempat diracik oleh Supriono alias Bobi alias Sueb alias Supri.

Kopi racikan Supriono alias Bobi alias Sueb alias Supri, harus diakui sangat enak. Sebelum berangkat ke kampus, seruput kopi yang ia sajikan itu nikmat sekali.

Supriono alias Bobi alias Sueb alias Supri, sebenarnya penikmat kopi. Setiap pagi, harus ada kopi. Pernah suatu kali ia memilih tidak ke kampus karena tidak ada kopi.

Wednesday, November 2, 2016

Pembangunan suatu bangsa, tentu harus terintegrasi. Bukan hanya berbicara fisik infrastrukturnya. Tapi pembangunan juga harus menyentuh sisi manusia. Apakah itu pemberdayaan manusia dari sisi ekonomi atau bahkan dari sisi kesejahteraannya.

Sering yang menjadi dilema pembangunan adalah siapa yang menikmatinya. Pembangunan dengan megah-megahan, pariwisata yang dipromosikan hingga mendunia, infrastruktur moderen dan canggih, tapi siapa yang menikmatinya. Bahkan lebih sering, rakyat kecil yang harusnya menikmati
itu justru tidak demikian.

Mereka tersingkir dari pembangunan-pembangunan bangsanya, yang justru tidak bisa dinikmati. Kemiskinan dan kesulitan ekonomi, justru semakin menjadi. Sementara di satu sisi, pemerintah membanggakan dengan menyebut sudah membangun sekian infrastruktur, pelancong meningkat, dan seterusnya. Tapi rakyatnya tidak diberi ruang untuk ikut dalam proses pembangunan itu.

Pada akhirnya, muncul persoalan kalau pembangunan hanya dinikmati oleh elit-elit saja, dan rakyat tetaplah penonton dari jarak jauh. Tanpa bisa menikmati hasil pembangunan, yang menurut Sila ke-5 Pancasila sebagai "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia".

Lalu, adakah model pembangunan yang mengintegrasikan kesejahteraan rakyat dengan giat pembangunan infrastruktur? Sedikit cerita mungkin bisa membuka diskusi kita bagaimana pembangunan yang terintegrasi itu.

Pada Kamis 6 Oktober 2016 pagi pukul 07.00 WIB, kami berkesempatan ikut rombongan Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo, serta sejumlah menteri untuk melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

Presiden Jokowi didampingi Ibu Negara Iriana, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, saat meninjau lokasi pembangunan Armada TNI AL di Selat Lampa, Natuna (Foto: Biro Pers Istana)
 Natuna, seperti diketahui adalah pulau terdepan Indonesia. Bahkan berhadapan langsung dengan Laut China Selatan. Istilahnya Natuna sebagai gerbang Indonesia. Lalu bagaimana kondisi masyarakatnya?

Sebagai wilayah terdepan, tentu tidak bisa dibilang sudah cukup. Buktinya, infrastruktur penunjang seperti transportasi dan kegiatan ekonomi mereka, masih jauh dari harapan. Padahal, mereka adalah pintu gerbang Indonesia. Intinya, pembangunan kemaritiman belum menyentuh pada persoalan pokok.

Karena kepulauan, tentu nelayan adalah mata pencaharian kebanyakan warga. Potensi sumber daya laut, sebut saja ikan, sangat besar. Kalau dikelola dengan baik, moderen, ternyata bisa menciptakan perputaran ekonomi yang dahsyat. Perputaran ekonominya bahkan diprediksi ratusan miliar rupiah. Sebuah angka yang fantastis untuk menuju kesejahteraan rakyat.

Kita lihat lagi, bagaimana negara hadir untuk membela rakyatnya dan menjaga harga diri Negara. Sebelumnya, persoalan di Natuna adalah praktik illegal fishing. Baik itu dari Thailand, Vietnam bahkan China yang beberapa waktu akhir ini memicu ketegangan setelah kapal-kapal mereka ditangkap.

"Jadi dua tahun ini kita telah melakukan sebuah tindakan-tindakan penegakan hukum untuk IUU (illegal Unreported Unregulated) yang terus menerus kita lakukan dalam jangka dua tahun dan kita tahu semuanya lebih dari 7 ribu kapal yang biasanya menguras kekayaan sumber daya laut kita, sekarang ini dapat dibilang berhenti," jelas Presiden Jokowi saat itu.

Presiden Jokowi nampak serius mendengarkan penjelasan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, tentang pembangunan cold storage di Selat Lampa, Natuna (Foto: Biro Pers Istana)
Tentu negara harus hadir di tengah-tengah masyarakat. Sebab banyak nelayan di Natuna yang tangkapannya menurun akibat praktik illegal fishing. Mereka juga kalah dalam peralatan kapal tangkap, dimana negara-negara lain seperti China, sudah menggunakan kapal dengan kapasitas besar dan tentu jumlah tangkapannya jauh lebih banyak.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat itu juga mengatakan, penegakan hukum dengan menenggelamkan kapal yang melakukan illegal fishing, adalah termasuk cara untuk melakukan recovery laut di Natuna.

"Karena sebetulnya saat sekarang Natuna sudah membaik 200-an persen lebih di banding sebelumnya tangkapan nelayan. Tetapi dibanding dengan kesuburan masih belum. Jadi kita harapkan dalam 2 tahun ini kita jaga, kita tangkap dengan betul ikannya akan tambah banyak. Kita harapkan potensi 400 ribu ton yang diharapkan itu paling tidak kita bisa ambil 100-200 ribunya kita boleh tangkap 50 persennya. Jadi saya harapkan dalam 2-3 tahun," kata Susi.

Dengan realitas kondisi seperti ini, sebenarnya terlihat pembangunan itu menyentuh rakyat dan dinikmati hasilnya juga oleh rakyat. Lalu, bagaimana dengan infrastrukturnya?

Dalam kesempatan kunjungan kerja ke Natuna, kami juga diberi kesempatan untuk melihat pembangunan cold storage dan pangkalan militer di Selat Lampa. Perjalanan dari Bandara Rinai menggunakan helikopter, memakan waktu sekitar 20 menit. Sementara kalau lewat darat, diperkirakan lebih dari dua jam.

Indonesia, memang saatnya harus menjadi produsen dari produk-produk yang dihasilkan sendiri. Presiden Jokowi dalam berbagai kesempatan, selalu menceritakan saat Indonesia mengalami boming kayu dan minyak era 1980-an.

Tanpa sadar, kita hanya mengekspor bahan-bahan mentah. Sementara barang jadi, kembali masuk ke Indonesia dengan harga yang jauh lebih mahal.

Tanpa disadari, eksploitasi itu mengakibatkan kita kehabisan bahan mentah, eksploitasi besar-besaran tapi sebenarnya tidak banyak yang diuntungkan.

Keberadaan cold storage, yang nantinya akan langsung mengolah hasil laut dari perairan Natuna, memang menjadi suatu kebutuhan. Dengan begitu, nelayan di daerah tersebut diberdayakan dengan baik.

Di tengah-tengah aktivitas masyarakat, khususnya yang berada di kepulauan terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti Natuna ini, negara juga harus hadir.

Maka sudah sangat tepat, ketika pemerintah membangun kekuatan militer yang lebih kuat di Natuna. Di satu sisi, sebagai gerbang depan, maka penjagaan harus ada ketat.

Tetapi di sisi lain, negara hadir di tengah-tengah masyarakat yang aktivitasnya rawan diserobot negara lain. Sementara rakyat tidak kuasa dan tidak punya kekuatan untuk melawan. Maka sudah tepat, di dekat cold storage tersebut dibangun armada laut TNI. Sinergisitas seperti ini yang harus dilakukan.

Bukan menjadi rahasia lagi, dimana saat nelayan Natuna mencari ikan, nelayan dari negara-negara lain juga ada. Bahkan beberapa diketahui masuk ke perairan Indonesia dan melakukan aktivitas penangkapan ikan.

Dengan adanya TNI dan armada-armada pendukungnya, para nelayan menjadi tenang karena ada yang mengawal mereka. Potensi laut, bisa dikembangkan dan dimanfaatkan untuk rakyat Indonesia sendiri.

Natuna yang awalnya terkesan tanpa pengawasan, sehingga banyak kapal-kapal besar dari luar negeri yang melakukan illegal fishing, kini dalam dua tahun belakangan, mulai ditertibkan.

Ini semua, sebagai langkah awal untuk mengembalikan perairan Natuan pada fungsi sebenarnya. Terkadang juga, kita sering mengatakan Indonesia adalah negara maritim, dengan dua pertiga dari wilahnya adalah laut, potensi lautnya sangat besar, tapi fakta di lapangan tidak seperti itu. Jargon lama itu, harus dikembalikan bahwa memang negara maritim

Indonesia, harus bisa memanfaatkan potensi itu untuk kemakmuran rakyatnya. Kini, illegal fishing di Natuna sendiri menurun drastis, bahkan mungkin tidak ada lagi.

"Berhenti (ilegal fishing) itu akan menyebabkan kembalinya ekosistem laut kita pulih normal sehingga apa, kalau dilihat dari citra satelit, klorofilnya menjadi lebih hijau lagi. Ini nanti kalau pada posisi yang normal kembali, pulih kembali, nanti produksi ikan kita akan meningkat melipat. Ini arahnya ke sana. kalau ini sudah, artinya apa, kita menata kembali industri perikanan kita baik yang tingkat nelayan, yang tingkat di atasnya, pengusaha kecil, yang tingkat industri, akan kita tata kembali," papar Presiden Jokowi.

Monday, October 24, 2016

Usai santap siang dan menjalankan sholat Dzuhur, bergegas mengambil smpartphone yang jumlahnya lebih dari satu, yang terletak di atas meja. Laptop dengan Notepad di layar yang bertuliskan beberapa transkrip dan berita, dibiarkan begitu saja.

Sementara di atas meja, ada sejumlah gelas plastik tempat air minum dan kopi, bekas bungkusan makanan dan colokan yang agak semrawut.

Senin 24 Oktober 2016 pukul 14.00 WIB Presiden Jokowi akan melakukan rapat koordinasi dengan para Pangdam dan Kapolda seluruh Indonesia di Istana Negara.

Foto: Biro Pers Istana
"Sudah disuruh masuk ya," bergegas kami menuju pilar, tempat biasanya menunggu narasumber. Lokasinya di belakang Istana Negara, tidak jauh dari pintu masuk para tamu yang hendak ke Istana.



Bergegas berlari, takut tidak bisa masuk. Dalam protokoler kepresidenan, apabila Presiden sudah berada di ruangan atau lokasi acara, maka susah kita untuk bisa masuk.

Beberapa menit di dalam dengan recorder yang sudah menumpuk dekat mulut speaker, akhirnya Presiden datang. Speaker ibarat nyawa bagi jurnalis. Dalam banyak acara, speaker yang pertama dicari. Atau kalau dorstop (todong narasumber), maka siapa yang paling dekat maka dia yang bisa merekam suara itu.

Jokowi kali ini datang bersama Wapres Jusuf Kalla. Seperti biasanya, keduanya selalu begitu. Hanya kali ini, tidak didampingi kedua istri, Ibu Negara dan Ibu Wakil Presiden yang juga berkegiatan di luar Jakarta.

Deretan kursi bagian depan yang berhadapan dengan kursi-kursi tempat para Pangdam dan Kapolda seluruh Indonesia duduk, ditempati oleh Presiden dan Wapres.

Foto: Biro Pers Istana
Ada juga kementerian terkait yakni Menkopolhukam Wiranto, Menko PMK Puan Maharani, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menhan Ryamizard Ryacudu, Mendagri Tjahjo Kumolo. Ada juga Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Kepala BIN Jenderal Budi Gunawan, dan Kepala BNPT Komjen Suhardi Aliyus.

Perempuan yang membawakan acara, langsung membacakan arahan Presiden. Dia langsung to the point. Tidak ada basa-basi dulu dari menteri-menteri terkait atau bahkan dari Wapres sekalipun. "Arahan Bapak Presiden," baca sang MC.

Presiden Jokowi langsung menuju mimbar, tepat berada di depannya. Ia pun menyampaikan salam terbuka kepada seluruh Pangdam dan Kapolda seluruh Indonesia, serta para perwira tinggi TNI dan Polri.

"Siang hari ini saya hanya berbicara 2 hal. Yang berkaitan dengan pungutan liar, dan yang kedua yang berkaitan dengan pilkada. Hanya itu saja sebagai pengantar di awal," singkat Jokowi, yang langsung kembali duduk dan berbincang dengan Wapres JK.

Dia sempat tersenyum, hanya memberi sambutan sepanjang 57 detik, yang saking pendeknya bisa dicatat dalam MURI atau bahkan Guinness world Records. Itu saja, dalam menyambung dari kalimat satu ke yang lain, Jokowi banyak berhentinya. Kalau tanpa terbata, mungkin hanya 20-an detik Jokowi berpidato.

Wednesday, October 5, 2016

Pertemuan tertutup berlangsung di kantor Menteri Sekretaris Negara, Rabu 5 Oktober siang itu. Satu yang ditunggu, kehadiran Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Memang ada beberapa menteri yang terlihat, seperti Menkominfo Rudiantara, Jubir Johan Budi, Kepala Staf Presiden Teten Masduki, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf. Namun kabarnya, pertemuan itu beda lokasi dengan pertemuan bersama Kapolri.

Belakangan ini, dalam banyak acara terutama di Istana Kepresidenan (Istana Negara dan Istana Merdeka), Kapolri sering menggunakan pintu samping, yakni dekat Wisma Negara. Berbeda dengan pintu keluar pejabat lainnya, di sebelah Istana Negara. Tempat di mana para wartawan Istana biasa menunggu.

Sehingga walau Kapolri sering ke Istana, hampir tidak ada kesempatan untuk mewawancarai mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) itu.

Lebih 30 menit, kami menunggu di pintu kiri. Lokasi dimana mobil Kapolri, terparkir. Panasnya cuaca siang Jakarta, sudah menjadi hal biasa dirasakan demi bisa mendapatkan pernyataan Kapolri.

Seorang pihak keamanan dalam gedung Sekretariat Negara, menghampiri. Ia menanyakan, apa maksud kami menunggu. Menurut dia, tidak seharusnya kami berada di situ karena tidak ada undangan.

Entah apa yang dimaksud undangan itu. Tapi yang jelas, kami bekerja bukan hanya karena undangan, tapi karena ada sumber berita yakni Kapolri.

Ujaran 'pengusiran' itu kami abaikan. Mungkin itu tugas dia, yang tentu akan bertentangan dengan tugas kami. Lebih baik diam, daripada dilawan.

Tak lama berselang, tiba-tiba mobil Toyota Land Cruiser yang digunakan Kapolri, bergerak menuju pintu paling belakang. Hanya beberapa meter dari tempat awal. (Tonton videonya: https://www.youtube.com/watch?v=AtBcAriVybc&feature=youtu.be)

Kami merespon, dengan berlari kecil menuju lokasi mobil itu. Hingga kendaraan itu terparkir beberapa saat. Kami pun kembali menunggu.

Hanya dua hingga tiga menit, mobil kembali bergerak cepat menuju tempat yang pertama. Disusul dua motor pengawal lalulintas dan motor pengawal bersenjata, ikut bergerak cepat.

Sekonyong-konyong kami, langsung bangkit dan kembali bergerak menuju lokasi pertama. Kali ini, bukan lagi lari kecil melainkan lari sekuat-kuatnya.

Di pintu sana, Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang didampingi Mensesneg Pratikno, sudah berdiri di depan pintu. Akhirnya, kesampaian juga wawancara, walau dengan cara lari-lari.

Perjuangan setelah berlari-lari mengejar Kapolri. Sedikit ngos-ngosan, akhirnya bisa diwawancara juga. Doc:pribadi


Wednesday, September 14, 2016

Menjadi wartawan Istana Kepresidenan, yang harus mem-backup setiap agenda Presiden, terutama Presiden Jokowi, bukan perkara mudah.

Ritme kerja Jokowi yang tinggi, tentu harus kami ikuti. Apalagi wartawan online. Kenapa saya bilang ritme kerja Pak Jokowi tinggi? Setidaknya, sedikit membandingkan saat era Pak SBY (dua tahun terakhir periode SBY-Boediono liputan di Istana juga), ritme kerja Pak Jokowi sangat mobile.

Agenda Presiden, biasanya di share oleh Biro Pers, Media dan Informasi (BPMI) malam hari atau paling telat sepertiga malam (sholat tahajjud dulu mungkin).

Tapi, agenda itu bagi kami sangat tentatif. Artinya, bisa berubah last minute, ditambah, atau bahkan dibatalkan. Contohnya pada Jumat 9 September 2016. Agenda hari itu langsung padat, setelah ia melakoni agenda luar negeri dari KTT G-20 di China hingga KTT ASEAN ke-28 dan 29 di Laos, sepekan lamanya.

Jokowi mendarat di Halim Perdana Kusuma, Kamis sekitar jam 9 malam lebih. Tapi langsung tancap gas pada jumat. Agenda pagi, jam 09.00 langsung rapat kabinet. Siangnya, Jokowi mengajak Presiden Filipina Rodrigo Duterte ke Pasar Tanah Abang. Jam 16.00, upacara kenegaraan dan pertemuan bilateral dengan Duterte.

Namun di sela-sela itu, masih disisipkan agenda dadakan, pelantikan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) yang baru, Jenderal Budi Gunawan menggantikan Sutiyoso. Pelantikan berlangsung di Istana Negara, jam 17.30 WIB, di ruang yang bukan lazimnya dilakukan prosesi pelantikan (ini akan dibahas pada tulisan selanjutnya). Dan tentu agenda malam, adalah jamuan kenegaraan Jokowi untuk Duterte.

Awalnya susah bagi kami menerima itu. Tapi lama kelamaan, seakan menjadi hal lumrah dan bisa dimaklumi. Untuk ritme kerja di Istana misalnya, Jokowi bahkan bisa menggelar dua hingga tiga kali rapat kabinet dalam sehari. Rapat ini kebanyakan digelar siang hari, hingga sore bahkan malam.

Paginya, biasanya menerima tamu, atau bahkan memanggil menteri. Kalau Jokowi sudah di Istana, tidak pernah ada waktu sela. Biasanya, Presiden ke-7 RI ini sudah di Istana Merdeka Jakarta, lebih kurang pukul 07.00 atau lebih, dari kediamannya di Istana Bogor. Dan agenda pertama yang biasanya ada, dimulai jam 09.00.

Bagi kami wartawan, tentu harus hadir mendahului agenda itu. Agar kami tahu, siapa yang datang dan tentu ritual dorstop, wawancara todong narasumber.

Kadang agenda yang diberikan juga tertera 'intern' atau hanya untuk konsumsi internal, tidak untuk diliput alias rahasia. Lalu, apakah kami kemudian tidak ke Istana? Apakah rahasia berarti kami tidak boleh tahu? Tentu tidak! Semakin agenda itu internal, apalagi di hari-hari aktif (senin-jumat), justru kami harus lebih siaga lagi. Mata, telinga, dan rasa pesimisme kami harus ditambah.

"Pak Jokowi itu sering buat kejutan," kata seorang wartawan.

Agenda internal, sebenarnya membuat banyak diantara kami menjadi tidak tenang. Karena terkadang (bahkan lebih sering), persoalan-persoalan sensitif atau politis, dibahas.

Dan, pihak-pihak yang dipanggil Jokowi ke Istana, masuk tidak melalui pintu belakang Istana, tempat kami biasanya menunggu. Tetapi, lewat pintu samping atau Wisma Negara. Kalau sudah lewat di situ, susah bagi kami untuk bisa dorstop.

Seperti yang terjadi pada Senin 15 Agustus 2016. Sore itu, kabar berhembus soal nasib Menteri ESDM saat itu Arcandra Tahar. Sebuah mobil berplat belakang RFS, yang artinya pejabat negara, terparkir di dalam Wisma Negara.

Kami tidak bisa mendekat melalui pintu dalam. Sehingga, kami bergerak melalui gedung Sekretariat Negara mengarah ke depan, tidak jauh dari Istana Merdeka. Itupun, hanya bisa di luar pagar. Saat itu, masih kabar kalau Arcandra dicopot.

Hingga jelang maghrib, belum ada kejelasan. Dugaan makin kuat, karena ada Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly. Praktis, sore itu, jelang peringatan 17 Agustus, kami berjaga-jaga di dekat Wisma Negara. Apa yang terjadi? Tidak tahu.

Menunggu di seberang Wisma Negara
Hingga akhirnya, sekitar pukul 19.00 WIB, kami diberi tahu akan ada keterangan pers di Kantor Presiden pada pukul 21.00 malam itu juga. Tentu ini penting.

Dan yang pasti, di luar agenda resmi. Benar saja, Arcandra dicopot. Tapi satu hal yang penting, bagaimana kerja wartawan Istana, yang dituntut tingkat pesimisnya lebih tinggi, lebih tajam dan harus tetap siaga ada atau tidak ada agenda Jokowi.

Jokowi juga, secara tiba-tiba bisa mengunjungi suatu tempat tertentu atau blusukan. Membagi-bagikan buku hingga seragam sekolah atau kaos, sudah sering dilakukan. Atau, beberapa kali mengajak wartawan Istana makan siang bersama (ini juga akan ditulis di tema tersendiri).

Lalu, bagaimana kalau Jokowi ke luar kota atau ke luar negeri? Apakah kami yang tidak diajak juga tidak hadir di Istana?

Suasana bioskop/pressroom sementara Istana saat Jokowi kunker ke luar kota. Foto diambil Rabu 14 September 2016

Memang banyak rekan wartawan lain yang memilih liputan di tempat lain. Ada yang liputan agenda Wakil Presiden, ke DPR, kementerian-kementerian, atau agenda diskusi dan keterangan pers lainnya.

Beberapa juga, masih tetap standby di Istana. Termasuk saya dan beberapa rekan lainnya, biasanya mengisi kanal berita sesuai tugas masing-masing. Saya lebih sering mengisi kanal politik, telepon narasumber baik anggota DPR atau pengamat.

Kadang di Istana juga, kami meminta waktu Sekretaris Kabinet Pramono Anung atau Jubir Presiden Johan Budi Sapto Pribowo. Lebih sering mereka menerima kami di kantornya. Keduanya juga paham, bahwa kami tetap harus ada berita di Istana walau tidak ada Jokowi.

Bagi wartawan online dan cetak, masih bisa mendapatkan berita dari kunjungan Jokowi melalui siaran pers oleh Biro Pers Media dan Informasi (BPMI). Ini terobosan baru yang dilakukan. Sehingga, setiap agenda Jokowi, tetap ada berita. Bahkan, termasuk foto dan video.

Kadang muncul lelucon, teman-teman wartawan yang ikut kunjungan kerja Jokowi ke daerah-daerah, tidak akan bisa tenang. Karena, mereka harus adu cepat dengan rilis berita dari BPMI. Terutama wartawan media online.

Di luar itu semua, saat Jokowi ke luar kota atau luar negeri, tentu ritme kerja kami menjadi lebih rileks. "Pagi masih bisa berenang dulu, siang baru ke Istana," kata seorang wartawan.

Di Bioskop Istana (istilah bioskop adalah pressroom), teman-teman menghabiskan waktu hingga sore atau malam tiba.

Main PS saat senggang
Ada beberapa teman yang main PS. Dari beberapa unit komputer yang disediakan, satu unit diinstal PS untuk hiburan kala senggang.

Oh ya, dinamakan bioskop, karena ruang pressroom Istana (yang kini masih direnovasi), awalnya merupakan bioskop benaran saat Soeharto masih menjadi Presiden. Di ruang itu, Presiden Soeharto menghabiskan waktunya kala ia ingin menonton. Kini, ruangan itu digunakna untuk pressroom, dan nama bioskop tetap digunakan hingga kini.


Rileks sambil nonton film online
Fasilitas wifi di bioskop yang kencang, memang sangat memudahkan kami. Bayangkan, di sini selain wartawan online dan cetak, juga wartawan televisi dan wartawan foto.

Bayangkan kalau secara bersamaan menggunakan fasilitas wifi untuk mengirim foto, mengirim video dan berita tapi wifi-nya lemot.

Sehingga kendala itu, bisa teratasi meski kadang-kadang bioskop sangat krodit, penuh dengan wartawan.

Live streaming, hingga menonton film via layanan portal khusus film, mengisi waktu kami ketika Jokowi tidak berada di Istana.

"Era Jokowi, kalau lagi padat maka padat banget. Tapi kalau santai, ya kayak begini,".

Tuesday, July 26, 2016

#firibook - Seorang kawan lama, teman kecil saat SMP di kampung Akhyar Anis menulis status di akun FB nya yang mengklarifikasi asal dan usul dari dua istri sosok (yang disebut teroris oleh aparat keamanan) Santoso dan Basri.

Kalau bukan karena status kawan yang telah menjadi kepala penyuluh pertanian di kecamatan kami tersebut, rasanya saya tak terlalu peduli dengan hiruk pikuk pemberitaan soal teroris.

Kawan yang tergolong pejabat "muspida" di tingkat kecamatan tersebut menuturkan bahwa DUA ISTRI TERDUGA TERORIS ITU SAUDARA KAMI/KITA DARI WORO DAN CAMPA. Woro dan Campa merupakan dua desa di sudut kecamatan kami. Desa yang berada di ujung jalan yang melewati Desa saya.

Duh... ingin bertutur panjang tentang kampung dengan panorama khas sebuah pedesaan ini.

Bahwa kata Akhyar Anis, JUMIATUN MUSLIMATUN/UMI DELIMA istri terduga teroris Almarhum Santoso perempuan dari desa Campa Kecamatan Madapangga, sekampung sekaligus kerabat dekat almarhum ayahnya

"Dan NURMI USMAN istri terduga teroris BASRI adalah saudara kami juga, ibunya asli Desa Woro, sedangkan ayahnya asal Desa Dena Kecamatan Madapangga, sebelum menikah dengan Basri, Nurmi tingal bersama ibu dan saudara-saudaranya di Dena." urainya.

Nah.... Desa Dena merupakan asal saya, desa tempat saya dilahirkan tanah tumpah darah. Kemudian Nurmi adalah anak dari suami kedua tante saya Kk Yo... Usman bapak dari Nurmi kami menyapanya dengan Moa Woro.

Nurmi kakak kelas saya di SMP pembawaan cenderung pendiam dengan rambut hitam panjang berkulit hitam manis.

Perawakan Nurmi merupakan sosok fantasi kami para bocah saat itu yang baru tumbuh hormon kejantanan. Kecantikan khas gadis desalah... begitu ringkasnya.

Uwalaaa... terbayang kebiasaan kecil saya main dan mandi-mandi di sungai depan rumah Nurmi. Ele gantu namanya. Lebih seru mandi saat banjir. Rumahnya orang tua Nurmi tempat persinggahan kami. Kakaknya yang kelola bengkel tempat gank sepeda saya (mone wera Boy Sila, Farid habe si mensent dll) memperbaiki sepeda BMX kami.

Mengetahui persis bahwa istri para syuhada Poso itu orang sekampung, tetangga dan masih ada hubungan kekerabatan dengan saya, saya spontan berkata "Oh pantas... " sergahku.

Pantas betapa sabarnya para wanita ini bergirlya tahunan mendampingi suami mereka di hutan Poso. Ya... tulisan ini ingin bertutur seputar karakter perempuan Bima (siwe mbojo) bukan soal Santoso dan jaringannya.

Ini juga termotivasi oleh pertanyaan redaktur ahli Harian Amanah, ust Rappung Samuddin kepada seorang reporter saya, "Kenapa jauh-jauh balik ke Bima untuk menikah dengan perempuan di sana..?"

Lalu dengan sigap saya membantu menjawabnya, perempuan Bima itu enak untuk diajak menderita. Mereka ... ya kami orang Bima terbiasa survivel. Bisa bertahan hidup dengan segala keadaan kesulitan hidup.

Kami cukup menanam pohon Kelor di halaman gubuk maka kami akan hidup. Tak perlu ikan dengan segala macam masakan atau lauk yang menyemarakkan menu santapan. Cukup semangkuk sayur bening daun kelor maka nasi sebakul akan tandas...

Wilayah Bima dengan sedikit curah hujan sedikit lebih tandus dan membuat terbatas sumber daya alam dimiliki. Maka keterbatasan ini telah melatih perempuan Bima untuk bisa tetap nyaman hidup dan mengurus keluarga.

Ah... beralasan juga kenapa Santoso dan kelompoknya bisa nyaman hidup bertahun2 ditengah gempuran dan kejaran aparat keamanan. Ternyata ada perempuan-perempuan yang melayani dengan keahlian hidup dengan segala keterbatasan.

Tentunya selain karena militansi dan doktrin yang mereka pahami.

Ya... itulah siwe mbojo dengan kemandirian dan keahlian survivel.(Firmansyah/fir)

*Penulis adalah Pimpinan Redaksi Koran Amanah


Tuesday, June 28, 2016

Membayangkan Tambora, ingatan kita langsung tertuju pada tragedi ratusan tahun silam, April 1815 saat gunung itu meletus.

Iklim dunia berubah. Akibat abu vulkanik jutaan kubik melambung ke angkasa. Tiga kerajaan saat itu yakni Kerajaan Pekat, Kerajaan Tambora dan Kerajaan Sanggar, seketika lenyap.

Kini, setelah ratusan tahun lalu, Tambora kembali menyapa dunia. Bukan meletus lagi, tapi sekedar mengingat dahsyatnya letusan itu.

Jauh soal sejarah itu, Tambora menyisihkan keindahan alam yang luar biasa. Tentu, bisa menghasilkan roda ekonomi rakyat dan pemerintah yang juga tidak sedikit.

Tapi sayang, surga Tambora itu kini belum terjamah. Baik oleh siempunya yakni pemerintah daerah maupun dalam skala nasional.



Monday, June 27, 2016

Ini sekedar cerita dari pengalaman, pengalaman yang selintas teringat. Bukan karena motifasi mendukung dalam pilkada, yang ramai kini dibahas di jagad nyata hingga maya.

Sekitar tahun 2012, sebagai jurnalis, saya ditugaskan untuk menempati pos liputan di DPR/MPR/DPD. Setelah setahun lebih, ditugaskan di Balaikota DKI yang kala itu Fauzi Bowo sebagai Gubernur.

Sumber; www.thejakartapost.com 
Bertugas di DPR, tentu banyak anggota yang bisa menjadi sumber berita. Apalagi di tengah-tengah perkembangan teknologi yang terus semakin canggih, komunikasi dengan narasumber menjadi hampir tidak ada batasnya.

BlacBerry Massenger atau BBM, saat itu menjadi alat komunikasi yang sangat efektif bagi jurnalis. Selain untuk mengetik berita, juga bisa berkomunikasi via BBM dengan narasumber yang kita miliki kontak pin BB nya.

Untuk semakin memudahkan, beberapa kawan juga membuat grup BBM. Di dalamnya tentu ada juga anggota dewan, dan kami para jurnalis. Dari situlah, informasi, pernyataan-pernyataan pers yang menjadi bahan berita, di-share. Intinya, bahan berita begitu mudah dan cepat.

Dalam salah satu grup BBM kami saat itu, selain nama-nama tenar lainnya seperti Nurul Arifin (Golkar) dan M.Nasir Jamil (PKS), ada juga nama Basuki Tjahja Purnama atau Ahok.

Saat itu, seingat saya Ahok duduk di Komisi II DPR, membidangi pemerintahan dalam negeri. Dalam diskusi di grup itu, Ahok memang tidak terlalu aktif.

Hanya beberapa kali ia mengirimkan pesan broadcast BBM, yang menginfokan kapasitas BBM ia tidak cukup sehingga meminta yang lain untuk meng-invite ia di kontak yang lainnya.

Hanya sesekali Ahok muncul di diskusi group itu. Seperti, saat seorang teman meng-share gambar kawan jurnalis lain yang sakit parah, dan membutuhkan bantuan dana untuk berobat. Ahok saat itu, bertanya ke mana ia harus menyumbang.

Dalam beberapa kesempatan, saat itu memang jelang pilkada DKI 2012. Ahok seingat saya, beberapa kali mengirimkan broadcast BBM hingga ke group, yang meminta bantuan dan dukungan untuk maju di pilgub melalui jalur independen. Tentu yang dibutuhkan, adalah fotocopy KTP.

Pilihan Ahok ini, tentu realistis saat itu. Sebab, Golkar sendiri jangankan meliriknya, membicarakan ia untuk dijadikan kandidat calon saja, rasanya tidak akan diperhatikan. Saat itu tiga nama dari Golkar yang mencuat, dan sudah mengkampanyekan diri yakni Azis Syamsuddin, Tantowi Yahya dan Alex Noordin.

Beberapa minggu berselang, Ahok tidak bisa memenuhi ekspektasi untuk batas minimal KTP itu. Seingat saya, ia sempat 'mendeklarasikan' diri menyerah, mengingat syarat KTP tidak cukup untuk maju lewat jalur independen tersebut.

Dalam beberapa kali acara Partai Golkar di DPR, saya sempat menjumpai Ahok ikut nimbrung. Duduk di belakang, sendirian, bukan di bagian depan yang diisi kader-kader yang katanya elit dan punya potensi menjadi kandidat.

Seingat saya kala itu, Ahok duduk di belakang dan sisi kiri. Tidak ada rekan yang menemani, atau sekedar mengajak ngobrol. Hingga akhirnya acara selesai, dan sang ketua partai itu pulang dan kebetulan melewati jalan yang dekat Ahok duduk.

Ahok sempat menyalami sang ketua itu. Namun tidak ada respon hangat, hanya sekedar 'say hallo'.

Saat itu, muncul pemikiran saya kalau Ahok memang bukan siapa-siapa di Partai Golkar ini. Tapi beberapa kali saya menerima email dari Ahok, soal laporan keuangan ia per bulan sebagai anggota DPR.

Itu sekelumit yang saya ingat, 4-5 tahun lalu, soal Ahok. Kini, rasanya berbeda. Walau sudah mendeklarasikan diri sebagai calon dari jalur independen, partai-partai masih tertarik mengusungnya.

Tak terkecuali Golkar, yang kini dikomandani oleh Setya Novanto.

Dulu, Ahok bagaikan orang asing, tak diperhitungkan di Golkar. Kini, Golkar yang justru mendekat ke Ahok. Bak dia adalah 'kader yang kembali'. Bagi saya, Golkar lah yang mencampakkan Ahok saat itu.

Namun perlu diambil hikmahnya bagi kita, dalam kehidupan demokrasi. Tidak bisa kita mengklaim seseorang itu tidak bisa menjadi pemimpin, hanya karena ia belum diberi kesempatan.

Orang yang belum diberi kesempatan, bukan berarti ia tak bisa. Hanya kesempatan itu belum ada sehingga belum bisa dibuktikan kapabilitasnya.

Seharusnya partai politik bisa memberikan formula baru, bagaimana melahirkan kader-kader yang siap mengemban amanah jadi pemimpin. Tidak hanya pada rutinitas politik elit, politik dukung mendukung, tanpa ada kaderisasi yang baik. Wallahualam...

Tuesday, June 21, 2016

Tanggal 21 Juni 1961, seorang pria dari keluarga sederhana di Surakarta, terlahir dari pasangan Noto Mihardjo dan Sudjiatmi. Oleh kedua orangtuanya, kemudian diberi nama Joko Widodo.

Menghabiskan masa kecil di kota kelahirannya, Joko Widodo menjadi anak satu-satunya yang laki-laki. Ada tiga adik perempuan Joko Widodo.

Tumbuh dalam keluarga sederhana, bahkan beberapa kali kediamannya digusur oleh pemerintah kota setempat, Joko Widodo tetap menekuni dunia pendidikan. Hingga pada 1985, Joko Widodo menamatkan di Fakultas Kehutana Universitas Gajah Mada.

Kini, pria yang pada 2005 lalu mengawali karir politiknya sebagai Wali Kota Solo melalui PDI Perjuangan, lalu 2012 menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan 20 Oktober 2014 diambil sumpahnya menjadi Presiden RI ke-7, pria yang akrab disapa Jokowi itu melejit namanya.

Kini, 21 Juni 2016 adalah ulang tahunnya yang ke-55. Tepat hari ulang tahun ini juga, sebagai Presiden, Jokowi tetap menjalankan aktivitasnya.

Selasa 21 Juni, agenda Jokowi adalah meninjau sejumlah proyek mangkrak yang sudah bertahun-tahun tidak digarap. Termasuk, meninjau penggemukan sapi di daerah Cibodas, Rumpin Kabupaten Bogor Jawa Barat.

Sebagai jurnalis, kami diminta untuk berkumpul di Istana Negara pukul 06.30 pagi. Kendaraan melaju tepat waktu, hingga tiba di lokasi. Tentu harus tiba, sebelum RI-1 tiba. Jokowi baru tiba sekitar pukul 8.45.

Namun di perjalanan, memang sempat menjadi perhatian mengenai ucapan ultah buat sang Presiden. Tentu saja, kantor menginginkan adanya berita soal itu. Bagaimana reaksi, ucapan dan cerita Jokowi soal ultahnya tepat hari ini. Namun samar-samar juga terdengar informasi, kami tidak dilarang mengucapkan itu. Walau pagi-pagi di mobil menuju lokasi, saya juga lattah mengucapkan via twitter.

Saat tiba di lokasi, informasi samar-samar itu menemukan kebenarannya. Kami diminta, agar tidak menanyakan soal ulang tahun beliau. Entah apa alasannya, tidak dipaparkan. "Bapak (Jokowi) tidak mau,".

Oke, kami manut perintah. Bukan karena apa, agar menjaga mood Presiden agar tetap bisa di doorstop, mengingat agenda masih panjang hingga jam 5 sore (17.00 WIB). Rencana kami, meminta tanggapan itu saat nanti, di akhir tinjauan proyeknya di proyek jalan tol Becakayu (Bekasi-Cawang-Kampung Melayu), kawasan Kalimalang.

Lihat videonya:

Kunjungan ke kunjungan yang lain, dilalui tanpa bertanya soal ultahnya. Walau terdengar juga, teman-teman dari jurnalis televisi yang terus ditanya oleh redaktur di kantor soal ucapan ultah itu.

Hingga akhirnya, di penghujung kunjungan proyek, Jokowi masih ingin meladeni pertanyaan wartawan. Di sela-sela menjelaskan soal Tol Becakayu, seorang jurnalis berujar,

"Pak Jokowi selamat ulang tahun pak," ujar jurnalis televisi.

Mendengar itu, sontak Pak Jokowi seperti tidak konsentrasi. Seperti konsentrasi beliau soal proyek ini hilang. Jokowi tidak menjawab ucapan jurnalis itu, dia hanya mengalihkan pandangan, lalu mengangkat tangan tanda tidak ingin menjawab pertanyaan itu.

Lalu Jokowi menoleh ke sisi kiri, tetapi tetap tersenyum. Sejumlah wartawan juga terdengar tertawa kecil, setelah mendengar ucapan itu.

Reaksi Jokowi yang tidak ingin disinggung soal ultahnya itu, membuat pertanyaan kembali soal proyek. Hingga beberapa menit memaparkan kembali, Jokowi langsung buru-buru meninggalkan lokasi. Sepertinya, menghindari pertanyaan soal ultahnya.

Di luar lokasi itu, sudah menunggu ratusan masyarakat yang dijadwalkan mendapatkan bantuan berupa sembako dari Presiden.

Wednesday, June 15, 2016

JAKARTA - Presiden Joko Widodo, mengajukan nama Komjen Pol Tito Karnavian, sebagai calon tunggal Kapolri ke DPR.

Tito merupakan angkatan 1987 Akademi Kepolisian atau Akpol. Terbilang masih sangat muda, sehingga sempat menjadi perbincangan publik. Sebab, masih ada senior-senior Tito diangkatan 83,84 maupun 85 yang dinilai secara kelembagaan lebih pas.

Namun, itulah hak preogratif dari Presiden. Berikut video dan transkrip penjelasan Jokowi:





Memang benar kemarin 15 juni 2016 saya telah menyerahkan menyampaikan surat permohonan persetujuan caon kapolri ke dpr. Dan saya mengajukan calon tunggal, yaitu komjen polisi tito karnavian. Sebelum mengajukan ini saya telah mendapatkan masukan baik dari Polri, kompolnas, dan juga masukan-masukan dari masyarakat. Dan proses pergantian kapolri ini kita merujuk pada UU Nomor 2 tahun 2002 tentang kepolisian RI. 

Saya berharap tito nantinya dpat meningkatkan profesionalisme, mengayomi masyarakat, juga memperbaiki kualitas penegakan hukum. Terutama pada kejahatan narkoba, terorisme, dan korupsi. Saya meyakini beliau mempunyai kemampuan, cerdas, punya kompetensi yang baik, dan kita berharap dpr juga bisa memproses ini. Terima kasih

#Alasan memilih tito apa, kan masih muda?
Tadi sudah saya sampaikan kan.

#Mengenai dia masih junior?
Tadi udah saya sampaikan. kemampuan, kompetensi, kecerdasan, emmbangun jaringan dengan rekan2 penegak hukum lainnya, saya kira banyak lah.

#Berarti Tito memang yang terbaik?
Semua kan sudah tahu dia meraih adhi makayasa.

Regenerasi Polri gimana pak?
Ya nanti itu urusannya kapolri.

Tuesday, May 24, 2016

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), tentu tidak bisa lepas dari Persyarikatan Muhammadiyah. Ya, sebagai organisasi otonom yang dibentuk 14 Maret 1964, IMM menjadi salah satu kaki dan tangan rekrutmen kader persyarikatan.

Namun, ber-IMM terutama di tingkat komisariat (fakultas), tidak akan sama. Kultur kampusnya, kultur universitasnya, hingga kultur daerahnya sangat mempengaruhi bagaimana cara kita ber-IMM.

Mungkin ini pengalaman pribadi, sebagai orang yang pernah 'terjerumus' ke dalam IMM. Saya di-bai'at menjadi kader IMM, secara formal dengan mengikuti pengkaderan tingkat pertama yakni Darul Arqom Dasar (DAD) pada tahun 2003. Komisariat saat itu dinamai 'Renaissance' FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.

Bakti sosial
Konon, penggunaan kata 'Renaissance' ini karena era 1990-an IMM FISIP sangat tidak berdaya dengan organisasi ekstra lainnya seperti HMI, PMII dan organisasi pergerakan lainnya.

Sehingga semangat Renaissance atau abad pencerahan, ini yang ingin diambil. Dan terbukti, dengan pergulatan panjang di intra FISIP hingga universitas, sejumlah kader IMM Renaissance berhasil menjadi ketua BEM Fakultas hingga BEM Universitas dan Senat Universitas.

Berbicara FISIP UMM, tidak bisa dipisahkan dengan Jurusan Ilmu Komunikasi, yang memang menjadi jurusan favorit. Saat saya masuk, ada 6 kelas di Komunikasi. Sementara lainnya seperti Ilmu Pemerintahan hanya 2, dan fakultas-fakultas lainnya di bawah itu.

Tetapi, mahasiswa yang masuk di FISIP bukan berarti semuanya berjilbab. Ada yang berjilbab tapi mungkin ketat. Sementara prianya, tidak semuanya berlatar belakang Muhammadiyah.

Naik gunung di sela-sela aktivitas komisariat
Maka tak heran, saat pertama aktiv di IMM Renaissance saat itu, banyak kader terutama immawati (sebutan untuk kader perempuan), tidak berjilbab dan cenderung berpakaian kurang longgar.

Terkadang, situasi itu juga banyak mendapat kritikan. Baik sesama IMM maupun dari organisasi lainnya yang mereka punya latarbelakang Muhammadiyah. Saya hanya bisa bilang, beginilah SDM yang ada di FISIP. Kalau calon kader yang hendak direkrut hanya berdasarkan fisik yang berjilbab, pakaian longgar dan lainnya, saya yakin IMM Renaissance FISIP hanyalah sebuah nama.

Begitu juga dengan immawan (kader pria) yang direkrut. Tidak semuanya mereka adalah orang yang paham agama. Bahkan, dari pengalaman pribadi saya juga, ada beberapa kader yang masih menjadi alkoholic.

Banyak penilaian, kader-kader IMM Renaissance ini tidak mencerminkan Islam, tidak mencerminkan sebagai kader persyarikatan. Bagi saya, penilaian itu benar. Karena mereka dan saya masuk ke IMM Renaissance tanpa pernah mengecap sebelumnya apa itu ber-Muhammadiyah atau mungkin ber-Islam. Sehingga, masuknya mereka dan saya, bukan lagi menjadi orang yang langsung fasih tentang persyarikatan dan Islam, tapi sebenarnya kami belajar.

Kader Renaissance di acara IMM Malang
Beberapa kader di fakultas atau komisariat lain, banyak diantara mereka berlatar belakang pesantren. Sehingga, membentuk karakter religi, sudah kuat. Sementara di Renaissance, alumnus pesantren atau dengan basis agama yang kuat sebelum di Renaissance, bisa dihitung jari.

Di sinilah perlu strategi kami, yang kebetulan berada di pengurus harian. Tidak bisa kita langsung mendakwah dengan kaku, mereka pasti lari. Tidak bisa juga kita membiarkan begitu saja, karena ini adalah IMM.

Akhirnya, pendekatan pribadi yang digunakan. Mulai dari kebersamaan di komisariat, dari hal-hal kecil seperti futsal bersama, main PS bersama, hingga sekedar ngopi dan ngobrol ringan. Saya termasuk salah seorang kader yang senang, karena ternyata mereka yang tadinya berpakaian ketat, kini berjilbab. Kader yang dulunya alkoholic, kini sudah meninggalkan itu dan terbebas dari minuman serupa. Memang butuh waktu yang tidak sebentar.

Kultur di Renaissance FISIP, memang beragam. Ada yang lebih suka hal-hal ringan seperti ngopi-ngopi, jalan-jalan, futsal, hingga ngobrol tak jelas atau yang kami sebut saat itu 6 SKS.

Jalan-jalan selalu menyenangkan
Tapi ada juga yang lebih suka diskusi ilmiah, kajian-kajian kontemporer, maupun aktivitas keagamaan. Maka tak jarang, banyak kader yang memilih 'mundur' dari IMM Renaissance FISIP dan memilih aktivitas lainnya yang menurut mereka lebih cocok.

Bagi mereka, IMM Renaissance tidak senafas layaknya organisasi mahasiswa Islam di bawah naungan persyarikatan. Bahkan ada yang menyebut IMM Renaissance tidak sejalan dengan Tri Kompetensi Dasar Ikatan (Itelektualitas, Religiusitas, dan Humanitas). Ya penilaian itu muncul tiap tahun. Sehingga, rekrutan kader yang mencapai 70-100 mahasiswa, yang aktif tidak lebih dari 50 persen nya. Ini yang menjadi masalah dan selalu dipersoalkan ketika Musyawarah Komisariat atau Musykom, dengan pertanyaan besar "KADER HILANG!!".

Ber-IMM di Renaissance FISIP, dengan kultur dan SDM seperti itu tetap lah harus berpatokan pada Tri Kompetensi Dasar. Lalu, bagiamana menerjemahkan dalam bentuk aksi nyata? Bagi saya, membangun religiusitas memang bukan hal mudah. Di sini memang banyak lemahnya.

Serah terima jabatan ketua umum. Itu menangis bahagia lho
Untuk intelektualitas, bagi saya kader-kader IMM Renaissance FISIP tidak bisa diragukan lagi. Di internal IMM Malang, kader-kader banyak yang tampil dalam mengutarakan ide dan gagasan bahkan konsep. Bahkan tak jarang, seperti dalam arena Musyawarah Koordinator Komisariat atau Musykorkom UMM, kader-kader Renaissance bahkan saling berdebat dalam mengajukan konsep dan gagasan mereka.

Di tataran Malang juga demikian. Apalagi di intra kampus. Mendelegasikan kader ke lembaga intra seperti HMJ, Senat Fakultas hingga Presiden Mahasiswa atau Presma, keberadaan kader IMM Renaissance FISIP selalu diperhatikan baik internal IMM hingga kawan-kawan di organisasi lainnya.

Bahkan untuk organisasi intra di fakultas, IMM Renaissance FISIP pernah mengukir sejarah dengan sapu rata lembaga intra. Termasuk merebut Presma dan Senat Universitas.

Nuansa lain saat Musykom
Tapi itulah Renaissance FISIP. Saya bisa membahasakan, tidak akan ada pernah ketua umum yang 'berhasil' di Renaissance. Boleh lah komisariat lain bilang hebat Renaissance merebut seluruh lembaga intra. Tetapi bagi kader Renaissance, itu berarti melepas kader-kader. Mereka akhirnya sibuk di intra. Bahkan hilang dan tidak kembali lagi ke komisariat saat diberi kepercayaan menjabat di intra.

Bagi saya, itulah uniknya Renaissane FISIP. Selalu ada diskursus dari sebuah hasil yang dicapai. Boleh pengurus bilang 'kami sukses dan kami berhasil'. Tapi tidak bagi kebanyakan kader. Tak jarang, saat LPJ bagi IMM Renaissance, adalah momen yang paling ditunggu dan melelahkan. "Ajang pembantaian," begitu ujar seorang kader dulu.

LPJ IMM Renaissance sangat lama, biasanya dari Jumat sekitar pukul 08.00 WIB, dan baru berakhir subuh esok harinya. Itupun bukan karena persoalan waktu. Alot, keras dan penuh emosi bahkan ricuh dan air mata, itu yang terjadi ketika LPJ berlangsung.

"Iya saya gagal membawa IMM," teriak salah satu Ketum Renaissance saat LPJ yang diwarnai tangis para kader dan pengurus.

"Saya siap jadi ketua umum lagi," teriaknya lagi sembari meneteskan air mata, saat seorang kader menantang para kader yang berani menjadi ketua umum Renaissance.

Disela-sela acara Renaissance di Batu
LPJ itu juga sering diwarnai emosi-emosi tingkat tinggi. Tensi ketegangan meningkat. Bahkan beberapa kali meja terbanting, saat emosi dan tangis mencapai puncaknya.

Tapi setelah itu semua tuntas, pelukan air mata dan permintaan maaf mengalir begitu saja. Semua kembali seperti sedia kalanya. Tidak akan ada yang sakit hati, karena bagi kami diskursus di LPJ memang harus diungkap semua walau itu dengan kritikan tajam. "MENCINTAI TIDAK HARUS MEMUJI, TAPI MENGKRITIK ADALAH BAGIAN DARI MENCINTAI".

Kultur lain yang selalu identik dalam ber-IMM di Renaissance FISIP adalah diskusi dan menulis. Renaissance termasuk banyak menelorkan para penulis yang menghiasi media-media di Jawa Timur, baik lokal maupun nasional seperti Jawa Pos maupun Kompas edisi Jawa Timur. Koran lokal mungkin tidak terhitung lagi.

Butuh piknik juga
Masih ingat saking 'lakunya' kami di beberapa media, diberlakukan sistem setor kas. Yakni, saat tulisan dimuat di media dan kami mendapatkan honor dari kampus (lokal biasanya Rp50 ribu), sebagian disisikan untuk kas. Sehingga, diskusi saat itu juga ada gorengannya. Selain nama IMM Renaissance, kami juga mengibarkan bendera Renaissance Political Research and Studies (RePORT) sebagai lembaga kajian politik.

Di bidang olah raga, kami termasuk yang maniak. Di parkiran kampus, setiap sore selalu ramai digunakan untuk futsal. Bahkan kadang juga bermain futsal saat malam hari. Kami pernah merebut piala futsal Korkom UMM Cup tahun 2006. Walau di final, pertandingan berlangsung panas dan terjadi perkelahian antara Renaissance dengan teman-teman komisariat Ekonomi.

Immawan dapat immawati lho
Kader-kader IMM Renaissance, bukan lah kader yang terlalu organisatoris. Jarang, yang mau mengambil posisi ketua umum IMM Cabang Malang hingga DPD Jawa Timur. Mentok, hanya sebagai ketua bidang.

Inilah cara kami belajar ber-IMM. Kita tentu punya cara masing-masing.
Billahi fii sabilil haq fastabiqul khairat


Jakarta, 25 Mei 2016
Agus Rahmat


JAKARTA - Masih ingat kasus 'Papa Minta Saham'? Ya, kasus yang melibatkan Ketua DPR saat itu Setya Novanto, yang menghebohkan perpolitikan tanah air.

Kasus itu, setelah adanya rekaman antara Dirut PT Freeport Indonesia saat itu Ma'ruf Sjamsoedin dengan pengusaha inisial R dan Setya Novanto, diduga mencatut nama Presiden Jokowi untuk meminta jatah saham. Kasus ini sempat membuat Presiden Jokowi marah, karena namanya dicatut untuk meminta jatah saham.

Itu kasus sejak 2015, yang membuat Setya Novanto dilaporkan oleh Menteri ESDM Sudirman Said ke Majelis Kehormatan Dewan (MKD). Sebelum diputus, Novanto mundur dari ketua DPR, dan oleh Aburizal Bakrie diangkat sebagai ketua Fraksi Golkar.

Namun, sekarang berbeda. Novanto, saat Munaslub Partai Golkar 14-17 Mei 2016 lalu, berhasil meraih posisi ketua umum untuk 3,5 tahun ke depan.

Nah, pasca kasus 'Papa Minta Saham' itu, Setya Novanto kembali bertemu Presiden Jokowi. Dalam kapasitas ia sebagai Ketum Golkar.

Pertemuan berlangsung di Istana Merdeka, pada Selasa 24 Mei 2016.

JAKARTA - Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, mendapat kritikan pedas ketika muncul pemberitaan kalau ia ingin menghapus Peraturan Daerah (Perda) tentang minuman keras atau miras.

Sontak, publik marah dengan sikap itu. Berbagai aktivis kemanusiaan hingga tokoh agama, mengecam kebijakan oleh Menteri Tjahjo tersebut.

Seperti di media sosial, ramai menyayangkan keputusan pencabutan Perda Miras itu. Apalagi, disebutkan kalau pencabutan itu untuk menyelaraskan dengan pengembangan sektor wisata.

Menyikapi itu, Mendagri Tjahjo Kumolo saat berada di Istana Negara Jakarta membantah keras pemberitaan itu. Bahkan, mantan Sekjen DPP PDI Perjuangan itu mengaku mendorong agar setiap daerah membuat Perda miras. Walau, harus diselaraskan dengan aturan di atasnya.

Berikut pernyataan Mendagri Tjahjo Kumolo, di Istana Negara, Jakarta, Selasa 24 Mei 2016:





Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler