Hoax Adalah Musuh Bersama. Mari Kita Melawan Bersama. Follow @agusmbojo

Thursday, September 14, 2017

Badan Narkotika Nasional (BNN) menemukan 53 siswa Sekolah Dasar (SD) dan SMP kejang-kejang karena menelan obat berupa pil, dengan tulisan PCC (Paracetamol Cafein Carisoprodol). Bahkan satu orang dikonfirmasi meninggal dunia.

Diduga, penggunaan pil PCC itu adalah penyalahgunaan. Sebab PCC juga disebutkan sebagai obat penenang.

Penyalahgunaan obat-obatan yang terlarang, yang kita kenal selama ini adalah shabu, ganja, ekstasi, heroin, atau obat-obatan terlarang lainnya yang biasa dikenal narkoba.

Namun belakangan, bayak jenis-jenis yang baru. Termasuk PCC ini, yang membuat seorang siswa itu tewas. "53 orang. Kemudian satu di antaranya meninggal," ujar Deputi Pemberantasan BNN Inspektur Jenderal Arman Depari, di Kantor BNN, Kamis 14 September 2017.

(Baca: http://www.tribunnews.com/nasional/2017/09/14/53-pelajar-di-kendari-kejang-kejang-1-tewas-akibat-telan-pil-pcc)

Mengenai PCC yang ditenggak oleh anak-anak SD dan SMP, membuat pikiran saya kembali teringat pada situasi di Bima NTB.

Lama tidak pulang ke kampung halaman, pada Idul Fitri 2017 lalu, akhirnya menyempatkan waktu ke sana. Walau tidak lama, tetapi sejumlah cerita yang menurut saya miris, kini terjadi.

Dari penyalahgunaan obat-obatan, hingga kasus pencurian kendaraan bermotor yang semakin tinggi. Bahkan motor hilang terjadi di rumah saya sendiri, yang terparkir di dalam rumah, penghuninya pun di dalam. Senekad itu pelakunya.

Terkait obat-obatan. Salah satu cerita dari seorang teman di kampung kami, adalah penyalahgunaan tramadol. Saya sendiri baru mendengar obat ini, tapi perbincangan di kampung kami dan sekitarnya itu, sudah bukan hal baru lagi.

Bahkan kata teman ini, penggunaan obat tramadol ini sudah pada tahap kecanduan. Efeknya? Infonya sampai pada taraf gangguan pada kejiwaan.

Dari laman www.aladokter.com dijelaskan panjang lebar mengenai tramadol ini. Tentu banyak efeknya. Namun obat ini untuk rasa nyeri, tetapi tetap dalam dosis dokter. Disebutkan juga, tidak boleh konsumsinya lebih dari 400 mg perhari. Selengkapnya silahkan cek di link-nya.

(Baca juga: http://www.viva.co.id/gaya-hidup/kesehatan-intim/956752-efek-mengerikan-overdosis-obat-pcc)

Selidik-selidik, obat ini sangat mahal untuk pemasarannya di Bima. Entah dijual bebas atau tidak, saya belum mendapat informasinya.

Mungkin karena lagi 'digemari' sehingga nilai jualnya pun mahal. Seberapa banyak yang mengkonsumsi? Biasanya, semakin banyak 'peminat' obat itu maka berbanding lurus dengan tingkat kemahalannya. Jadi, asumsi saya, penggunanya sudah banyak.

Karena saya orangnya kepo (mungkin faktor sebagia seorang jurnalis hehehe), saya terus mencari informasi. Ada yang menyebutkan, pecandu ini masih berumuran produktif. Kalau umur produktif dilihat dari taraf pendidikan, mungkin antara SMP-SMA atau di atasnya.

"Kan mahal? Mereka dapat uang dari mana untuk membeli obatnya?" Seorang teman mengatakan, dari hasil mencuri motor.

Sontak saya kaget. Apakah benar ada hubungannya, tentu perlu pembuktian. Tetapi kalau dilihat alurnya, rasanya bisa ditemukan benang merah itu.

Tapi yang jelas, pola pengrusakan generasi muda, pasti berdampak sistemik. Penyalahgunaan obatan seperti tramadol ini, mengakibatkan tingkat kejahatan tinggi. Nilai-nilai budaya dana Mbojo/Bima yang kental dengan agama, akan menjadi luntur.

Apa yang bisa kita banggakan dengan jargon seperti Bima Beriman dan lainnya, sementara generasi yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan justri tidak mencerminkan keberimanan itu?

Saya pikir, pemangku kepentingan dalam hal ini pemerintah dan tokoh masyarakat termasuk media, perlu untuk memikirkan hal ini. Tidak lagi melihat suatu masalah dari sudut pandang kacamata kuda.

Tetapi melihat secara menyeluruh, bahwa ada peristiwa yang merusak tatanan budaya Mbojo dan menimbulkan kerusakan tatanan yang lain dan bahkan mengarah pada penghancuran identitas lokal.

Rusaknya budaya di masyarakat, memang tidak terlihat kasat mata walau sebenarnya nampak jelas. Tetapi sifat kerusakan itu hingga berkeping-keping. Tentu kita tidak ingin budaya Mbojo hanya sebatas pelajaran di kelas, hanya sebatas tulisan di buku-buku, tanpa ada internalisasi dalam diri dan kehidupan nyata masyarakat.

Arsip Tulisan

Total Pageviews

Terpopuler